Wanita itu, bernama Nina Dragundala. Dia hanyalah anak yatim piatu yang di besarkan oleh nenek dia ketika masih kecil hingga besar.
Kesehariannya hanyalah mencari pasir ketika air sungai bah tiba dan di kumpulkan sehingga di jual.
Ketika Nina sedang mengeruk pasir tiba-tiba ada cahaya Batu bertuah berwarna merah darah yang memasuki ke dalam tubuhnya.
Karena peristiwa batu yang memasuki kedalam tubuh nya dia akhirnya terseret dunia para dukun, santet dan sihir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nori Fai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungguh Judes
Bab 24 Sungguh Judes
”Nek, aku mencuri itu urusan ku, jadi tidak perlu repot-repot membuang keringat kepada ku,” Nina berkata sangat kesal, bagai mana pun kata-kata Marsinah sungguh di luar nalar.
“Huh! Uang segitu sudah bangga!” Marsinah tidak suka karena perkataanya di jawab trs oleh Nina.
”Iya dong, aku mempunyai uang sungguh bangga dan itu terserah ku, mungkin nenek itu sama aku, bahan iri tandanya tidak mampu!” Nina terkekeh menghina.
Di ejek Nina, Marsinah langsung menggunakan sapunya untuk memukul kepala Nina.
“Dasar anak tidak berbakti selalu melawan kepada orang tua!” Marsinah sangat muak dan sangat tidak senang ketika Nina mendapatkan uang dan bahagia.
Pada saat ini, Kusmiyati hendak memegang pukulan sapu dari Marsinah, tapi tanpa sepengetahuan beberapa orang yang di sekitarnya tiba-tiba, sosok anak kecil langsung memegang kaki Masrsinah sehingga langsung kram.
”Ahh kakiku sakit..!”
Marsinah langsung menunduk memegang kaki bagian kanan karena merasakan rasa kram yang luar biasa, menurut pemandangan Nina dan lainya adalah kaki Marsinah tidak ada yang memegang, namun sebenarnya ada anak kecil yang penuh manakah sedang memegang kaki Marsinah sehingga kesakitan.
”Aduh.. ini sungguh sangat sakit tolong!” pekik Marsinah.
Otomatis Nina dan Kusmiyati bingung dan saling melirik bahkan Ibu Novi menolong dan mencoba menuntun ke teras tapi terasa sangat berat dan tidak berdaya.
“Nina ini aneh, nenek Marsinah sungguh berat!” Bahkan aku tidak bisa mengangkatnya!” teriak Kusmiyati.
Nina karena bingung, langsung mendekati Marsinah dan berjongkok. Setelah itu hanya menepuk kaki secara ringan tiba-tiba rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba langung pulih.
"Puk!"
"Puk!"
"Puk!"
Setelah tepukan ketiga, rasa kesemutan yang amat luar biasa tiba-tiba hilang dan teriakan Marsinah juga seketika berhenti dan Kusmiyati langung terpana di tempat.
Hanya beberapa tepukan, tiba-tiba sakit Marsinah seketika sembuh, apakah ini sungguh ajaib? Apakah Nina memiliki kelebihan?
“Nina kamu sungguh sangat keren, apakah kamu sakti!” Kusmiyati berseru sambil ada senyuman menyringai bercanda.
“Hahah tidak kok, Bu.. aku hanya merasa ada bisikin suruh tepuk kakinya beberapa kali, heheh?” Nina menggaruk kepalanya sangat canggung, mungkin alasan ini sungguh absurd, namun hanya alasan itulah yang sedikit masuk akal.
Karena ketika kaki Marsinah kesemutan, tiba-tiba ada bisikan suara berat berkata bahwa anak kecil peliharaannya sedang mencekam kaki Masrsinah karena tidak suka dirinya akan di pukul.
Kusmiyati yang mendengarkan penjelasan dari Nina hanya mengangguk setuju dan ketika dia melihat Nina menepuk kaki Marsinah hanya sebuah kebetulan dan tidak ada keajaiban yang di lakukan oleh Nina.
Sementara itu, Masrsinah setelah kakinya sembuh langsung pergi tanpa berterima kasih kepada Nina, bahka tanpa sadari dia menganggap bahwa berdekatan dengan Nina hanya membawa sial.
Nina tentu saja tidak suka dan berceletuk: ”Judes banget si dia! Bukanya berterimakasih, malahan pergi tanpa pamit..”
Kusmiyati hanya tersenyum: “Biarkan lah, Na... namanya juga orang tua ya seperti itu.”
“Tapi hanya dia di kampung ini yang sepertinya tidak suka melihat tetangga bahagia!” Nina marah.
“Sudah, sudah, sifat orang berbeda-beda, bahkan kamu harus waspada kepada orang yang diam-diam menyerang dari belakang, untung saja nenek Marsinah orangnya blak-blakan, coba jika orangnya diam tapi dalam hatinya mengutuk kamu, dan orang seperti itu lebih berbahaya,"
Nina hanya mengangguk dan tidak berkata lagi. Sekarang hanya perlu membeli minyak goreng untuk keperluan besok berjualan tempe goreng.
Nina berkata: “Benar Bu mungkin perkataan mu ada benarnya juga. Kita harus berhati-hati kepada semua orang, karena sifat berbeda. Ohh iya, aku pamit untuk pergi untuk membeli minyak dan tempe,”
“Baik, Nin.. semoga jualan mu berhasil..!"