Ini hanyalah kehaluan dan kegabutan author saja. Dan sedang belajar menulis cerita. Semoga kalian suka dengan ceritanya. Mohon maaf bila masih banyak kekurangannya🙏
🌹🌹🌹
Fatmawati biasa di panggil Wati gadis cantik, dengan hidung mancung, bibir mungil dan berkulit putih. Berusia dua puluh enam tahun adalah gadis sebatang kara yang telah di tinggal selamanya oleh kedua orang tuanya. Wati mempunyai kekasih yang bernama Reno pria berusia dua puluh sembilan tahun yang bekerja di tempat yang sama dengannya. Mereka berdua sudah lama menjalin kasih.
Hingga suatu hari tempatnya bekerja kedatangan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun yang gagah, tampan dan rupawan bak pahatan patung dewa Yunani idaman kaum wanita.
Siapakah gerangan pria berusia tiga puluh lima tahun yang gagah, tampan dan rupawan itu?.
Adakah yang akan terjadi antara Wati dan Reno kekasihnya?.
Simak ceritanya di sini. Jangan lupa tinggalkan jejak Like,Vote,Comment & Hadiah.
Follow ig : srilestarikolopaking
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MKA 24
Di kecupnya kedua mata Wati, hidung dan bibirnya dengan lembut. “Aku merindukanmu, Sayang,” ucap Tuan Jaka sambil membaringkan tubuh Wati pelan-pelan tanpa melepaskan ciumannya.
Lambat laun Wati mengikuti irama yang diberikan suaminya dan mengalungkan tangannya di leher Tuan Jaka. Entah mengapa ia juga merindukan belaian dari suaminya. Hingga tak terasa keduanya sudah dalam keadaan telanjang bulat dan terjadilah penyatuan mereka di malam itu saling melepas rindu.
Esok paginya Wati terbangun, ia menolehkan kepalanya ke samping.
“Selamat pagi Sayang,” ucap Tuan Jaka sambil tersenyum dan mengecup bibir Wati sekilas.
Mendapat ucapan dan kecupan selamat pagi dari Tuan Jaka, pipi Wati merona merah. Ia tidak mengira Tuan Jaka sudah bangun lebih dahulu. Melihat pipi istrinya yang merona merah, Tuan Jaka merengkuh Wati ke dalam pelukannya sambil terkekeh. Masih saja istrinya malu-malu padanya.
Sejak malam itu hubungan Tuan Jaka dan Wati mulai membaik. Tuan Jaka kembali memperhatikan istrinya dan Wati pun kembali dengan rutinitasnya melayani suaminya di meja makan mau pun di atas ranjang. Perlahan-lahan ia mulai bisa melupakan sosok Reno dari dalam pikirannya.
Terkadang ia suka ikut dengan Tuan Jaka bertemu dengan koleganya di hotel ataupun di Cafe lain untuk membicarakan bisnis kerja sama antara mereka. Dan ia merasa tidak suka jika melihat Tuan Jaka terlihat akrab dengan wanita lain.
Apalagi wanita itu terlihat sangat cantik dan seksi dengan penampilannya yang menggoda kaum adam. Di bandingkan dengan dirinya yang tubuhnya terlihat mulai berisi dengan perut mulai membuncit.
Hingga suatu hari di restoran sebuah hotel.
Wati menemani Tuan Jaka untuk bertemu dengan kolega bisnisnya. Berdirilah di hadapannya seorang wanita berparas cantik jelita, tubuh seksi bagaikan gitar Spanyol dengan memakai pakaian yang mengundang hasrat para kaum pria yang melihatnya. Wanita itu bernama Jelita yang mempunyai nama yang sama dengan kecantikannya, wanita berusia tiga puluh tahun.
“Selamat siang Tuan Jaka. Maaf saya datang terlambat,” salam Jelita sambil menjabat tangan dan mencium pipi kanan kiri Tuan Jaka.
“Selamat siang Nona Jelita. Tidak apa-apa, mari silakan duduk. O ya kenalkan ini istri saya,” ujar Tuan Jaka memperkenalkan Wati pada Jelita.
“Hallo ... Jelita,” ucap Jelita memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan Wati.
“Wati,” sahut Wati sambil tersenyum. Dan mereka pun duduk bersama. Tak lama seorang pelayan restoran datang menghampiri mereka dengan membawa daftar menu. Setelah masing-masing memesan menu makan siang, mereka terlibat obrolan ringan sambil menunggu pesanannya datang.
Tak lama pesanan makan siang mereka pun datang dan mereka menyantap makan siangnya. Sekali-kali Tuan Jaka membersihkan bibir istrinya yang terlihat ada noda yang menempel dengan tisu. Perhatian Tuan Jaka terhadap Wati menarik perhatian Jelita. Ia menatap diam-diam dengan tatapan tidak suka ke arah Wati.
Selesai mereka menghabiskan makan siangnya, Tuan Jaka terlibat pembicaraan yang serius dengan Jelita. Sesekali Jelita menyentuh tangan Tuan Jaka saat pembicaraan mereka di selingi dengan candaan.
Melihat keakraban antara Tuan Jaka dan Jelita, Wati merasa cemburu. Dari pada menjadi obat nyamuk di antara mereka dan terbakar cemburu, ia bangun dari duduknya dan berpamitan untuk melihat-lihat hotel.
Selama setengah jam ia berjalan melihat-lihat hotel. Ia akhirnya menghempaskan diri duduk di kursi dekat kolam renang sambil memandang air kolam yang berwarna biru menenangkan. Saat hanyut dalam kesendiriannya, ia di kagetkan ada tangan yang melingkari pinggangnya dari belakang.
Saat ia menolehkan kepalanya ke belakang, ia mendapati suaminya di sana.
“Maaf sudah mengagetkan mu. Mas panggil-panggil dari tadi tapi kamu tidak mendengarnya, rupanya istri Mas yang cantik ini sedang melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan, Sayang?. Kenapa kamu pergi meninggalkan Mas?.”
“Maaf Mas, aku tidak mendengar suara panggilanmu. Dan maaf aku meninggalkanmu karna aku tidak mau mengganggu pembicaraanmu dengan Nona Jelita. Apa ia masih ada di sana?.”
“Siapa bilang kamu mengganggu, kamu adalah istriku dan kamu berhak berada di sisiku.”
“Rekan bisnis tapi pakai cium pipi segala,” ucap Wati dengan nada tidak sukanya.
“Hai ... Apa kamu cemburu, Sayang?,” tanya Tuan Jaka sambil membalikkan tubuh Wati dan menatap wajahnya.
“Huh ... Ngapain aku cemburu,” jawab Wati sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah lain menghindari tatapan mata Tuan Jaka karna salah tingkah.
“Cup,” Tuan Jaka mencium pipi Wati karna gemas melihat istrinya yang salah tingkah.
“Mas ...,” Pekik Wati karna malu Tuan Jaka mencium pipinya di depan umum. Tuan Jaka menggandeng tangan Wati dan mereka pun beranjak pulang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kandungan Wati memasuki usia enam bulan. Hari ini Tuan Jaka membawa Wati kontrol ke dokter kandungan. Setelah mendaftar dan menunggu gilirannya di panggil akhirnya giliran mereka pun tiba. Mereka masuk ke dalam ruang praktik dokter Sherly.
“Selamat sore dokter Sherly,” salam mereka ketika masuk ke dalam ruang praktik dokter.
“Selamat sore Tuan dan Nyonya. Apa ada yang di keluhkan, Nyonya?.”
“Alhamdulillah tidak ada dok.”
“Baiklah kalau begitu silakan Nyonya naik ke tempat biasa ya. Nanti akan di bantu oleh suster Emma.”
Wati pun naik ke atas tempat periksa dan di bantu suster Emma menaikkan sedikit bajunya ke atas. Suster Emma pun mengoleskan gel ke perut Wati. Dokter Sherly pun datang dan melakukan pemeriksaan. Wati dan Tuan Jaka menunggu dengan jantung berdebar.
“Nah ini Baby Twin’s nya. Pertumbuhannya bagus dan mereka kelihatan sehat. Jenis kelaminnya ternyata laki-laki dan perempuan. Wah selamat ya Tuan—Nyonya kalian langsung mendapatkan anak sepasang,” ujar Dokter Sherly.
Mata Wati dan Tuan Jaka berkaca-kaca saat mendengar perkataan Dokter Sherly. Mereka merasa bahagia akan mendapatkan anak laki-laki dan perempuan. Rasanya mereka sudah tidak sabar menantikan kehadiran mereka ke dunia.
Selesai suster Emma membersihkan sisa gel di perut Wati. Tuan Jaka dan Wati duduk di depan meja dokter Sherly.
“Ini resep vitaminnya ya, masih sama seperti biasa yang saya kasih.”
“Baik dokter, terima kasih. O ya Dok, apa kami tidak masalah melakukan hubungan intim saat perut istri saya sudah membesar seperti ini?,” ujar Tuan Jaka pada dokter Sherly.
“Mas,” sentak Wati dengan wajah merah karena malu mendengar pertanyaan Tuan Jaka seputar hubungan intim pada dokter Sherly.
“Kenapa Sayang?. Mas tidak salahkan bertanya,” sahut Tuan Jaka sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Wati.
Dokter Sherly dan suster Emma tertawa kecil saat melihat tingkah pasangan suami istri di depan mereka.
“Tidak apa-apa Tuan. Kalian bisa tetap melakukan hubungan suami-istri dengan catatan harus berhati-hati dan Nyonya harus merasa nyaman. Karna seperti kita tahu dengan perut yang semakin membesar, istri Tuan semakin terbatas gerakannya. Jadi sebagai suami wajib bertanya pada istri apakah ia merasa nyaman atau tidak."