Ini adalah kelanjutan kisah dari novel Author yang sebelumnya.
----- ----- «» ----- -----
“Om, papa tidak merestui kita, ayo bawa aku pergi,” isak Ayara, sebelum kemudian ia terkejut melihat wajah pria yang di cintainya itu seperti habis kena pukul.
Ya, siapa lagi yang melakukannya, jika bukan Bara, ia memukuli sahabatnya itu tanpa ampun, karena telah mencintai putrinya.
“Apa sakit?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa.” Adit merasakan tangan halus Aya mengusap wajahnya yang habis kena bogem mentah dari Bara.
Ia sangat mencintai gadis kecil itu, tapi keadaan membuat ia harus menjauh!
Novel ini hanyalah hasil dari kegabutan Author!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Jutex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-Benar Emosi
Rumah mewah itu sudah tampak sepi, hanya menyisakan beberapa pelayan yang terlihat bersih-bersih.
Ayara pergi ke kamarnya, ia menghampiri tumpukan hadiah yang di berikan para tamu untuknya.
Setelah beberapa saat membongkar tumpukan hadiah, akhirnya ia menemukan juga hadiah yang telah di berikan Adit untuknya.
Ayara menuju ke tempat tidurnya. Dengan tidak sabar ia membuka kotak hadiah itu. Bibirnya tersenyum saat melihat benda di dalam kotak itu.
Sebuah kalung dengan liontin berbentuk kupu-kupu, terlihat sangat indah.
Baginya hadiah itu sangat spesial. Bukan karena harganya, tapi karena yang memberikan hadiah itu adalah orang yang spesial di hatinya. Walau orang tersebut sudah membuatnya patah hati.
Ayara berjalan menuju laci meja riasnya, lalu menyimpan kalung itu disana.
Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, Ayara merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Besok ntah apa lagi yang akan di rencanakan sahabatnya untuk menolongnya.
“Bagaimana pestanya om?” tanya Elang, saat melihat Adit baru pulang.
Elang tidak ikut hadir di acara ulang tahun Ayara, karena ia sedang terkena flu. Saat Adit datang, kebetulan habis dari dapur mengambil air minum.
“Ya, begitulah.” Mendengar jawaban om nya yang ambigu, Elang pun melanjutkan langkahnya masuk ke kamarnya.
Adit menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya. Perasaan sialan apa yang ada di hatinya. Ia masih ingat bagaimana Ayara menangis di hadapannya. Gadis itu menyatakan perasaannya.
Dengan sadar, ia sendiri yang menginginkan agar gadis itu mendapatkan laki-laki yang baik sebagai teman dekatnya.
Adit merasa keputusannya sudah benar, lalu kenapa ia merasa terusik saat melihat kedekatan Ayara dengan laki-laki lain.
*Kenapa harus secepat itu ia dekat dengan laki-laki lain?
Apa perasaannya saat itu memang hanya sesaat?
-
-
-
Ayara kini mulai membuka dirinya. Ia berusaha untuk tidak jadi gadis penghuni kamar lagi.
Liburan pagi ia habiskan waktu dengan berolahraga. Siang hingga sore ia pergi keluar untuk sekedar nonton atau jalan-jalan.
Sore itu Adit baru keluar dari rumah Bara, ia dan juga Ricky menghabiskan waktu bersama dari sejak tadi siang. Makan dan minum bersama mengulang masa muda mereka.
Bara juga berada di depan rumah saat Ricky dan Adit akan pergi.
Adit melihat ke arah mobil yang baru datang memasuki halaman rumah Bara. Matanya memindai seseorang yang baru keluar dari mobil itu.
Ayara tersenyum saat keluar dari mobil. Ada beberapa barang belanjaan juga yang ia bawa, untuk keperluan sekolahnya.
Tidak lama seseorang juga keluar dari arah kursi kemudi. Tidak kalah cerianya, laki-laki itu juga tersenyum. Senyum yang terlihat manis dengan ginsul di bagian kiri bibirnya.
Arie menyapa semua orang yang ada di depan rumah saat itu.
“Kalau begitu, saya pamit pulang dulu om. Terimakasih udah izinin saya ngajak Ayara jalan-jalan hari ini.” Bara mengangguk seraya tersenyum.
Setelah berpamitan, Arie pun pergi meninggalkan halaman rumah mewah itu dengan mobilnya.
“Wah, belanjaannya kamu banyak juga.”
“Iya pa, ini alat-alat kebutuhan sekolah. Ada tugas kerajinan buat besok,” sahut Ayara sembari mengangkat tas belanjaannya.
“Ehm! Sekarang ada yang lupa sama kakaknya.” Ayara berjalan menghampiri Ricky lalu memeluk lengan kakaknya itu.
“Bukan kah kakak senang, sekarang Aya udah ga ngerepotin kakak lagi. Aya udah ga ganggu waktu liburan kakak lagi,kan?” ucap Ayara, matanya melirik pada orang yang berdiri di dekat kakaknya itu.
“Tetap harus sekolah yang benar! Awas aja kalau sampai macam-macam!” nasehat Ricky, sekaligus mengancam.
“Siapp! Kalau begitu begitu Aya masuk dulu ke dalam.” Ayara masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Adit sedikit pun.
Bukan ini yang Adit inginkan. Ia pikir, walau walau tidak ada lagi yang namanya hubungan kencan diantara mereka, ia dan Ayara tetap bertegur sapa seperti biasanya. Ia merasa sakit di abaikan oleh gadis itu.
Selama beberapa minggu Ayara terus bersikap sama. Sedangkan Adit merasa benar-benar tidak berdaya. Ia merasa kalau ia telah menghukum dirinya sendiri dengan kata-katanya waktu itu.
Ia tidak menyangka kalau Ayara bisa bersikap seacuh itu padanya.
Ayara meraih ponselnya yang berbunyi. Diva yang menelepon.
“Iya, ada apa Div?” Ayara merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
“Bagaimana?” Ayara merubah posisinya dengan tengkurap seraya mendekap bantalnya.
Karena tidak ada jawaban, Diva bisa menebak, kalau rencana mereka belum kelihatan hasilnya. Kemudian ia pun mengusulkan ide selanjutnya.
“Aku jadi kurang yakin. Apa sebaiknya kita sudahi aja rencana konyol kita ini?” Ayara terdengar putus asa.
“Kita coba dulu rencana kita kali ini, bagaimana?”
Ayara diam sejenak, memikirkan usulan Diva. “Terserah kamu aja,” ucapnya kemudian.
“Jangan lemes gitu dong! Ayo semangat!”
Ayara sudah meminta izin pada mama dan papanya. Malam ini, ia akan pergi ke pesta ulang tahun temannya.
Arie sudah dalam perjalanan menuju ke rumah Ayara. Ia sempat mengirim pesan kalau kemungkinan ia agak sedikit terlambat karena kondisi jalan yang lumayan macet.
Setelah lolos dari kemacetan, Arie pun sampai di depan rumah Ayara.
“Maaf,” ucap Arie, ia menghampiri Ayara yang terlihat menunggunya.
“Ngga apa-apa, aku juga baru selesai siap-siapnya,” sahut Ayara.
“Mama sama papa kamu mana?” tanya Arie, seraya melihat ke dalam.
“Mama sama papa lagi ada acara sama teman-temannya. Lagian aku juga udah bilang kalau perginya sama kamu.” Ayara langsung menggandeng lengan Arie untuk berjalan menuju ke mobil.
Arie membukakan pintu mobil untuk Ayara. Setelah memastikan gadis itu sudah duduk dengan nyaman, ia pun menyusul dengan duduk di kursi kemudi.
Adit mengurungkan niatnya ketika melihat mobil yang di tumpangi Ayara meninggalkan halaman rumah. Ia lebih memilih untuk mengikuti mobil tersebut.
Ntah kenapa ia sangat ingin tau kemana Ayara dan teman laki-lakinya itu pergi. Ia juga tidak habis fikir, kenapa Bara dan Raisa dengan mudah mengizinkan Ayara untuk pergi keluar di malam hari. Tidak biasanya.
Arie menyetopkan mobilnya di depan sebuah rumah. Mereka menunggu Diva keluar dari rumah itu.
Adit memperhatikan dari jarak beberapa meter dari dalam mobilnya. Ia mulai menduga-duga ketika mobil yang di tumpangi Ayara tadi tidak bergerak samasekali.
Di dalam mobil, Ayara mencoba menghubungi Diva, bahwa ia dan Arie sudah menunggu depan.
“Yah, kuota aku abis.” Ayara memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu ia meminta Arie untuk menghubungi Diva.
Arie pun mencoba mengambil ponsel yang ada di kantong celananya, lalu menghubungi Diva. Saat ia ingin menyimpan kembali ponsel itu, ia tak sengaja menjatuhkannya.
Adit turun dari mobilnya, lalu menghampiri mobil yang tadi di tumpangi Ayara. Emosinya semakin memuncak saat melihat pemandangan di dalam mobil.
semangat up ya Thor 😘