Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 Pelukan yang Berbahaya
Kegelapan menyelimuti seluruh gedung.
Alarm masih berbunyi tanpa henti.
BEEP!
BEEP!
BEEP!
Suara langkah kaki terdengar dari berbagai arah.
Teriakan para penjaga memenuhi koridor.
Sementara di ruang rapat...
Semua orang langsung berdiri.
Naluri bertahan hidup mengambil alih.
"Cadangan listrik!"
teriak Ravian.
Namun sebelum siapa pun bergerak...
Suara Victor kembali terdengar melalui pengeras suara.
Tenang.
Sangat tenang.
Seolah ia sedang menikmati semuanya.
"Aku harap kalian menyukai kejutan kecil ini."
Suara itu menggema ke seluruh bangunan.
Dan setiap kata terasa seperti ejekan.
Kael langsung bergerak menuju pintu.
"Amankan Elena."
ucapnya singkat.
Arda menoleh.
Dan saat itulah ia menyadari sesuatu.
Elena.
Entah kenapa.
Nama gadis itu langsung muncul di pikirannya.
Bukan ruang rapat.
Bukan dokumen.
Bukan Marco.
Melainkan Elena.
Karena jauh di dalam dirinya...
Ada firasat buruk.
Sangat buruk.
Lampu darurat akhirnya menyala.
Cahaya merah redup memenuhi koridor.
Menciptakan bayangan panjang di setiap sudut.
Gedung terasa seperti labirin.
Gelap.
Sunyi.
Dan mengancam.
Arda segera berlari keluar.
Ia tidak tahu ke mana.
Namun nalurinya mengatakan satu hal.
Cari Elena.
Sekarang.
Di sisi lain gedung.
Elena sedang berada di ruang medis.
Ia baru saja membantu beberapa penjaga yang terluka ringan ketika listrik padam.
Ruangan langsung gelap.
Kemudian lampu darurat menyala.
Merah.
Membuat suasana terasa tidak nyaman.
"Ada apa?"
tanya salah satu penjaga.
Elena menggeleng.
"Aku tidak tahu."
Namun jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Karena sesuatu terasa salah.
Sangat salah.
Kemudian pintu ruang medis terbuka.
Seorang pria masuk.
Mengenakan seragam penjaga Valdarez.
Wajahnya tidak asing.
Namun Elena tidak langsung mengenalinya.
"Anda harus ikut saya."
ucap pria itu.
"Perintah Kael."
Biasanya Elena akan langsung menurut.
Namun entah kenapa...
Ada sesuatu yang mengganggunya.
Mungkin caranya berbicara.
Mungkin tatapannya.
Mungkin insting.
"Aku tunggu Kael sendiri."
jawab Elena.
Pria itu tersenyum.
Dan saat itulah Elena tahu.
Ada yang salah.
Sangat salah.
Karena senyum itu bukan senyum seorang penjaga.
Melainkan senyum seorang pemburu.
"Terlambat."
ucap pria itu.
Detik berikutnya.
Ia mengeluarkan pistol.
Sementara itu.
Arda berlari melewati koridor.
Napasnya memburu.
Langkahnya semakin cepat.
Di belakangnya beberapa penjaga ikut bergerak.
Namun Arda tidak peduli.
Firasat buruk itu semakin kuat.
Dan ia membencinya.
Karena firasat seperti ini jarang salah.
Kemudian suara tembakan terdengar.
DOR!
Tubuh Arda langsung membeku.
Karena arah suara itu berasal dari ruang medis.
Tanpa berpikir lagi...
Ia berlari lebih cepat.
Lebih cepat.
Lebih cepat.
Di ruang medis.
Salah satu penjaga sudah jatuh.
Terluka di bahu.
Pria penyusup itu bergerak cepat.
Terlalu cepat.
Jelas bukan orang biasa.
Elena mundur beberapa langkah.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia bukan petarung.
Ia bukan anggota lapangan.
Ia bukan pembunuh.
Namun ia juga bukan orang yang mudah menyerah.
Saat pria itu mendekat.
Elena langsung melempar baki logam ke arahnya.
CLANG!
Penyusup itu menghindar.
Namun cukup untuk menciptakan jarak.
Elena berlari menuju pintu.
Namun pria itu lebih cepat.
Sangat cepat.
Tangannya menangkap lengan Elena.
Dan menariknya kembali.
Elena kehilangan keseimbangan.
Hampir jatuh.
Namun sebelum penyusup itu bisa melakukan apa pun...
Pintu ruang medis meledak terbuka.
BRAK!
Arda masuk.
Dan untuk pertama kalinya...
Elena melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Kemarahan murni.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada kebingungan.
Hanya kemarahan.
Penyusup itu sempat mengangkat pistol.
Namun Arda sudah bergerak lebih dulu.
BRAK!
Pukulan pertama menghantam rahangnya.
Penyusup itu terhuyung.
Namun belum jatuh.
Ia mencoba melawan.
Namun Arda tidak memberinya kesempatan.
Pukulan kedua.
Tendangan.
Benturan ke dinding.
Semua terjadi begitu cepat.
Begitu brutal.
Sampai akhirnya dua penjaga datang membantu.
Dan penyusup itu berhasil dilumpuhkan.
Ruangan kembali sunyi.
Hanya suara napas berat yang tersisa.
Arda langsung menoleh ke Elena.
"Kau terluka?"
Suaranya terdengar lebih keras dari biasanya.
Lebih emosional.
Elena menggeleng.
"Aku baik-baik saja."
Namun Arda tetap mendekat.
Memastikan.
Benar-benar memastikan.
Dan saat itulah.
Untuk pertama kalinya.
Ia menyadari betapa takutnya dirinya.
Bukan takut mati.
Bukan takut kalah perang.
Melainkan takut kehilangan Elena.
Perasaan itu datang begitu saja.
Tiba-tiba.
Kuat.
Mustahil diabaikan.
Elena juga menyadarinya.
Melihat tatapan Arda.
Melihat kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.
Dan untuk sesaat...
Tidak ada yang berbicara.
Karena keduanya memahami sesuatu.
Sesuatu yang selama ini hanya berada di antara kata-kata.
Di antara tatapan.
Di antara keheningan.
Namun sebelum momen itu berlangsung lebih lama...
Kael dan Ravian masuk.
"Kalian baik-baik saja?"
tanya Kael.
Arda mengangguk.
Namun Ravian langsung memperhatikan sesuatu.
Tatapan Arda.
Tatapan Elena.
Jarak mereka.
Senyum kecil muncul di wajah Ravian.
"Oh."
gumamnya.
Kael menoleh.
"Apa?"
"Tak ada."
Jawaban itu justru membuat Kael semakin curiga.
Beberapa jam kemudian.
Penyusup yang tertangkap akhirnya diperiksa.
Dan hasilnya membuat suasana kembali membeku.
Karena pria itu bukan anggota Victor.
Bukan juga tentara bayaran.
Ia adalah mantan anggota Valdarez.
Seseorang yang menghilang bertahun-tahun lalu.
Dan kini kembali.
Sebagai bagian dari jaringan Victor.
Saat diinterogasi.
Ia hanya mengatakan satu hal.
Satu kalimat.
Satu pesan.
"Victor menyampaikan salam."
"Tidak ada tempat aman untuk kalian."
Kemudian pria itu tertawa.
Tertawa seperti orang gila.
Dan untuk pertama kalinya...
Semua orang menyadari sesuatu.
Victor tidak hanya mengincar wilayah.
Tidak hanya mengincar kekuasaan.
Ia mengincar mereka.
Secara pribadi.
Satu per satu.
Malam itu.
Arda berdiri sendirian di balkon.
Memandang kota.
Namun pikirannya berada di tempat lain.
Ia masih mengingat saat Elena hampir diculik.
Masih mengingat rasa takut yang muncul.
Masih mengingat betapa cepat dirinya kehilangan kendali.
Langkah kaki terdengar.
Elena muncul.
Seperti biasa.
"Kau masih terjaga."
ucapnya.
Arda tersenyum kecil.
"Aku bisa bilang hal yang sama."
Keheningan muncul.
Nyaman.
Hangat.
Kemudian Elena berkata pelan.
"Terima kasih."
Arda menoleh.
"Untuk apa?"
Elena tersenyum.
Senyum kecil yang selalu berhasil membuat dunia terasa lebih tenang.
"Karena datang."
Dan entah kenapa.
Kalimat sederhana itu membuat jantung Arda berdetak lebih cepat daripada suara tembakan mana pun.
Namun jauh di luar sana...
Victor sedang menatap sebuah foto lama.
Foto yang baru saja diperolehnya.
Foto Marcus.
Leon.
Kael.
Dan satu orang lainnya.
Victor tersenyum.
Perlahan.
Dingin.
Mengancam.
Karena tahap berikutnya dari rencananya akhirnya siap dimulai.
Dan tahap itu akan membawa masa lalu yang terkubur kembali ke permukaan.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪