NovelToon NovelToon
Villain & Villainess

Villain & Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.

Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.

Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.

Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23: Perfect Couple

Suasana di ruang makan malam berlangsung tenang dan sopan, aroma hidangan lezat memenuhi udara namun tidak ada percakapan hangat yang mengalir di antara mereka. Raja Julius duduk di ujung meja dengan wajah tenang, sesekali mengajukan pertanyaan ringan mengenai kegiatan hari ini. Di sebelahnya, Ratu Mirelle hanya diam dengan senyum kaku, sementara Elarise duduk di seberang Amorette, matanya sesekali melirik tajam namun berusaha menutupinya dengan sikap manis dan polos yang biasa ia peragakan.

Namun, ketenangan itu sedikit terganggu oleh interaksi di antara dua orang di ujung meja lainnya. Amorette dan Algernon duduk berdekatan, dan sepanjang makan malam itu, mereka diam-diam saling bertukar pandang, berbisik pelan, atau melempar candaan kecil yang hanya mereka berdua yang mengerti. Suasana akrab dan santai itu sangat kontras dengan kebekuan di sisi lain meja. Kadang Amorette akan tersenyum menahan tawa mendengar bisikan Algernon, atau Algernon akan mengangkat alisnya dengan jenaka saat Amorette membalas dengan sindiran halus.

Pemandangan itu semakin membuat Elarise tidak nyaman dan gatal sekujur tubuhnya. Ia merasa kehadirannya seolah tidak ada, seolah dunia ini hanya berisi Amorette dan Algernon. Rasa iri dan benci itu kembali merayap naik ke dadanya. Ia tidak bisa berteriak atau marah-marah, karena citranya sebagai gadis polos, lembut, dan penurut harus tetap terjaga di depan ayahnya. Maka, ia memilih cara lain.

Dengan senyum manis yang dibuat-buat namun bernada sumbang, Elarise angkat bicara sambil menatap ke arah mereka berdua bergantian.

"Kalian berdua sepertinya sangat akrab sekali ya. Bahkan makan malam pun tidak lepas dari mengobrol berdua saja. Sampai-sampai aku jadi merasa iri, sepertinya ada banyak rahasia menyenangkan yang hanya kalian berdua yang tahu. Tapi... bukankah sebaiknya sedikit menjaga jarak? Kan belum ada ikatan resmi apa pun, takutnya nanti ada pembicaraan buruk dari orang lain..." ucap Elarise pelan, nadanya terdengar seperti perhatian namun penuh duri.

Amorette baru saja hendak menjawab, namun Algernon lebih dulu menyahut dengan santai sambil menyuap makanannya dengan tenang.

"Ah, Putri Elarise terlalu khawatir. Kami hanya membahas hal-hal ringan, mengenai latihan sihir dan buku-buku yang kami baca hari ini. Lagipula, persahabatan dan kerja sama yang baik memang harus dibangun dengan komunikasi yang lancar, bukan? Kalau kami diam saja, nanti malah dikatakan tidak rukun atau tidak saling menghargai kerja sama."

Algernon berbicara dengan nada datar namun tajam, lalu melirik sekilas ke arah Raja Julius yang sedang menatap mereka dengan ekspresi tak terbaca.

Raja Julius meletakkan garpunya perlahan, lalu berbicara dengan suara berat dan tegas.

"Elarise, kau terlalu berlebihan. Tidak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan. Bercanda ringan, mengobrol akrab, itu hal yang wajar di antara teman atau rekan kerja. Selama masih berada di batas wajar dan sopan, Ayah justru senang melihatnya. Amorette jarang sekali terlihat seceria dan sehangat ini bersama orang lain selain Algernon. Itu tanda bahwa hubungan mereka baik dan kerja sama mereka berjalan mulus. Ayah tidak masalah dengan hal itu."

Pembelaan terbuka itu dari sang Raja membuat wajah Elarise memerah menahan amarah dan rasa malu. Ia menunduk dalam, menggenggam serbet kain di pangkuannya hingga kusut.

Lagi-lagi dia... lagi-lagi dia yang dibela. Kenapa Ayah selalu saja memihaknya?! gerutu hati Elarise, namun bibirnya tetap menyunggingkan senyum palsu.

"Baiklah, Ayahanda. Maafkan saya jika salah bicara," jawabnya lirih dan manja, berusaha kembali berperan sebagai anak yang baik.

Pembicaraan sempat terhenti sejenak, hingga Algernon kembali membuka suara dengan nada santai, seolah baru teringat sesuatu.

"Ngomong-ngomong, Baginda... saya tidak melihat Pangeran Cornelius hadir di meja makan malam ini. Apakah beliau sedang tidak enak badan atau ada urusan lain?"

Raja Julius menghela napas pendek, raut wajahnya sedikit berubah menjadi suram.

"Cornelius masih dalam masa hukuman karena kelakuannya tempo hari. Dia harus tinggal di kamarnya dan merenungi kesalahannya sampai aku memutuskan dia boleh keluar kembali. Dia masih terlalu keras kepala dan kurang bijaksana."

Mendengar itu, Algernon segera menundukkan kepalanya dengan sopan dan penuh rasa hormat.

"Maafkan saya, Baginda. Saya tidak tahu, jadi menyinggung hal yang tidak menyenangkan. Saya memohon maaf atas ketidaktahuan saya."

"Tidak apa-apa, Algernon. Kau bertanya karena peduli, itu hal yang baik," jawab Raja Julius lembut.

Setelah percakapan itu, suasana meja makan kembali hening. Tidak ada lagi yang berani membuka mulut. Yang terdengar hanyalah suara denting sendok dan garpu yang bertemu dengan piring porselen, serta suara kunyahan yang tertahan. Suasana menjadi canggung, namun bagi Amorette dan Algernon, keheningan ini justru lebih nyaman daripada harus mendengar sindiran-sindiran halus dari Elarise atau tatapan dingin Ratu Mirelle.

Tak lama kemudian, makan malam pun selesai. Raja Julius berdiri dari kursinya, meregangkan tubuh sedikit setelah duduk cukup lama. Ia menoleh ke arah Algernon yang juga bersiap untuk berpamitan.

"Sudah cukup larut malam, Algernon. Jangan kembali ke kediamanmu sekarang, jalanan sudah sepi dan berbahaya. Menginaplah di sini malam ini saja. Aku sudah perintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar tamu terbaik untukmu," tawar Raja Julius dengan ramah.

Algernon langsung menyetujui tawaran itu dengan antusias, bahkan jawabannya terlintas sedikit jenaka namun tulus.

"Terima kasih banyak atas kebaikan Baginda. Saya memang berniat menginap jika diizinkan, karena sejujurnya... saya dan Amorette berencana kembali berlatih sihir sebentar lagi setelah makan malam. Kami belum selesai mempelajari materi hari ini, dan rasanya sayang jika berhenti di tengah jalan."

Raja Julius tertawa lebar mendengar jawaban itu, matanya berbinar-binar senang.

"Bagus! Sungguh bagus! Kalian berdua benar-benar memiliki semangat dan ketekunan yang luar biasa. Belum pernah aku melihat pemuda dan pemudi secepat ini dalam belajar dan berjuang. Kalian memang pasangan yang sangat serasi, sama-sama cerdas, sama-sama pekerja keras, dan sama-sama hebat. Sungguh pasangan yang diciptakan satu sama lain."

Amorette dan Algernon saling melempar pandang. Di mata mereka berdua terpancar sinyal yang sama: rasa bosan dan ingin tertawa mendengar kata-kata "serasi" dan "pasangan" itu untuk kesekian kalinya hari ini.

Bagi Amorette, hubungan mereka murni strategi, kerja sama, dan rasa saling menghargai. Ada rasa hangat dan nyaman saat bersama Algernon, ada rasa percaya yang besar, tapi itu semua hanyalah perasaan persahabatan dan kemitraan. Tidak ada sedikit pun benih-benih asmara atau rasa cinta romantis di hatinya. Ia menganggap Algernon sebagai teman baik, sekutu terpercaya, dan rekan setimnya.

Namun, hal itu sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Algernon. Pria itu diam-diam menatap wajah Amorette saat sang Putri menunduk menahan senyum. Semakin lama ia mengenal wanita ini, semakin ia melihat sisi-sisi baru yang mengejutkan. Kecerdasannya, keberaniannya, kebaikannya pada rakyat, ketenangannya dalam bahaya.

"Kamar tamu untukmu ada di lantai empat, ujung koridor kanan," jelas Raja Julius, memecah lamunan mereka berdua. Ia lalu menoleh ke arah putrinya. "Amorette, antarkan Ayah kembali ke ruang kerja sebentar. Ada sedikit hal yang ingin dibicarakan sebelum kau mengantar Algernon ke kamarnya."

"Baik, Ayahanda," jawab Amorette patuh.

Setelah mengantar Raja Julius ke ruang kerja dan mendengarkan pesan singkat ayahnya agar terus berhati-hati dan semangat belajar, Amorette kembali menuruni tangga menuju lantai satu, tempat Algernon sudah menunggunya bersandar santai di dinding.

Begitu melihat Amorette datang, Algernon langsung tersenyum jahil.

"Wah, penjaga kamarku akhirnya datang juga. Ayo antarkan aku ke kamar tamu itu, Putriku. Dan ingat... aku menginginkan kamar yang paling bagus, paling nyaman, dan paling mewah di sana. Jangan berikan aku kamar sempit yang berdebu," canda Algernon dengan nada berlebihan.

Amorette hanya mendengus pelan sambil berjalan melewati pria itu, melangkah menuju tangga utama. "Pemilih sekali. Padahal kamu tamu, tapi tingkahmu seperti tuan tanah. Sudah ayo ikut, tidak ada kamar buruk di istana ini."

Mereka berdua mulai menaiki tangga dari lantai satu menuju lantai empat, mengobrol dengan suara yang sangat pelan, hampir berbisik agar tidak terdengar siapa pun. Topik mereka beralih dari hal-hal remeh hingga sedikit membahas perkembangan sihir mereka, tertawa dan saling menyindir dengan akrab. Mereka berdua begitu asyik mengobrol hingga tidak sadar bahwa ada sosok lain yang berjalan di belakang mereka, menaiki tangga dengan langkah-langkah kecil dan pelan agar tidak menimbulkan suara.

Itu adalah Elarise.

Setelah makan malam selesai, ia pura-pura masuk ke kamarnya, tapi diam-diam ia mengikuti gerak-gerik mereka berdua dari kejauhan. Ia berjalan agak jauh di belakang, cukup jauh hingga tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, namun cukup dekat untuk melihat bagaimana mereka berjalan beriringan, melihat bagaimana senyum Amorette mekar, dan melihat bagaimana tatapan Algernon begitu lembut saat menatap kakaknya.

Darah Elarise mendidih melihat pemandangan itu. Dulu, Algernon adalah sosok yang dingin, kaku, tertutup, dan tidak pernah mau berbicara panjang lebar dengan siapa pun, apalagi bercanda dan tertawa renyah seperti itu. Dulu, hanya Theodore yang ceria dan pandai bicara. Tapi sekarang... melihat Algernon yang dulu kaku kini begitu luwes dan akrab dengan Amorette, membuat hatinya panas terbakar rasa iri yang tak tertahankan.

Kenapa dia? Kenapa semua pria hebat selalu jatuh ke pelukannya? batin Elarise menggerutu. Ia masih menolak untuk percaya, masih bersikeras dalam benaknya bahwa Theodore jauh lebih tampan, lebih berkuasa, dan lebih hebat daripada Algernon yang hanya anak pertama dan tidak punya hak takhta. Namun, suara kecil di hatinya mulai berbisik: Jika memang benar... jika memang Algernon ternyata lebih hebat, lebih cerdas, dan lebih berkuasa dari Theodore seperti kata orang-orang... maka aku tidak akan membiarkannya tetap milik Amorette.

Senyum licik perlahan tersungging di bibir Elarise yang tersembunyi di balik bayangan koridor. Aku bisa merebut Theodore dari Amorette dengan mudah dulu, kan? Waktu dia yang gila-gilaan mengejar Theodore, aku tinggal maju sedikit saja, dan pria itu langsung jatuh ke pelukanku. Kalau Algernon ternyata lebih berharga... maka aku akan melakukan hal yang sama persis. Aku akan merebutnya dari Amorette. Biar kakakku itu tahu, apa pun yang dia miliki, aku bisa mengambilnya.

Sementara itu, di lantai empat, Amorette dan Algernon baru saja sampai di depan deretan pintu kamar tamu. Tanpa melihat nomor atau nama ruangan, Amorette asal saja memutar kenop pintu yang paling dekat dengan ujung tangga.

"Nah, ini kamarmu. Masuk sana, dan jangan berisik ya, nanti digelandang penjaga malam," ucap Amorette santai sambil mendorong pintu itu terbuka.

Ternyata, pintu yang ia buka itu adalah kamar tamu kehormatan, ruangan terbesar dan termegah di sana. Langit-langitnya tinggi, perabotannya berukir indah dengan emas, jendela kacanya besar menghadap ke taman istana, dan tempat tidurnya luas dengan tirai beludru tebal.

Algernon bersiul pelan sambil melangkah masuk, menatap sekeliling dengan senyum menggoda.

"Lihat kan? Aku bilang juga apa. Kau sengaja membuka pintu yang ini, bukan? Kau tahu ini kamar paling bagus, dan kau memilihkannya untukku. Hmm... jangan menyangkal deh. Pasti karena kau menyukaiku, makanya kau berusaha memberiku yang terbaik," goda Algernon sambil menyandarkan punggungnya ke kusen pintu, menatap Amorette dengan pandangan jahil.

Wajah Amorette seketika memerah padam karena malu dan kesal. Ia langsung memukul lengan Algernon pelan lalu mendengus kasar.

"Jangan berhalusinasi! Aku asal buka saja! Siapa juga yang suka padamu? Dasar pria yang terlalu percaya diri! Sudah istirahat sana, aku mau kembali ke kamarku!" ketusnya cepat, lalu berbalik hendak pergi.

Di ujung koridor yang gelap, di balik bayangan tiang penyangga, Elarise meremas tangannya sendiri dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit. Ia melihat wajah merah Amorette dan senyum bahagia Algernon. Pemandangan itu baginya adalah bukti cinta mereka. Dan itu semakin menguatkan tekad jahat di hatinya.

Tunggu saja, Kakakku sayang... batin Elarise penuh kebencian. Sebentar lagi, semua yang kau banggakan itu akan menjadi milikku. Termasuk dia.

1
Agus Hidayat
rambutnya Amorette sebenarnya warna pirang apa hitam kok selalu berubah?
cynth: Kayaknya lupa kuubah deh. Seharusnya itu pirang (walau rencana awalnya hitam biar senada sama warna matanya). Terima kasih ralatnya ya, Kak (^-^)/
total 1 replies
kitty ❤
seru thor, lanjutkan 😍🔥
cynth: Thank you Kak (*^^*)
total 1 replies
MayAyunda
keren👍👍
cynth: Terima kasih udah mampir <3!
total 1 replies
cila_aa
baguss banget kak next nunggu chapter selanjutnyaa
cynth: Makasih udah mampir, Kak <3
total 1 replies
Sahabat Oleng
Keren 👍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
lidiaaa
semangat Kaa, ceritanya seru
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
Davina Aurora
menarik ceritanya😍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
4revenge
hanssssss
4revenge
ini ni 😍
4revenge
seru padahal baru baca awal awal.
NonaMudaDesi
Kayaknya bagus nih cerita, konspenya kuereennn, tetep semangat kakk, aku mau nabung episode duku
cynth: Hai! Makasih banyak udah mampir <3
total 1 replies
Cattygril
semangat thor
Cattygril: sama-sama👌☺
total 2 replies
T28J
anggur sianida
T28J
kutu kupret juga si hans nih /Angry/
T28J
main catur saja biar akur kak 😂
MayAyunda
keren 👍👍
cynth: Terima kasih <3
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!