Bosan dengan kehidupan bagaikan seorang putri membuat Kimora Candy Anastasya harus membuat perjanjian dengan sang ayah agar bisa terbebas dari semua peraturan Keluarga Besar Park.
Ayah Kimora, Baek Hyeon sangat protektif terhadap putrinya itu hingga semuanya harus sesuai dengan peraturan keluarganya. Semenjak istrinya meninggal Baek Hyun sangat over protektif hingga membuat Kimora tidak betah.
Hingga ia memilih menjadi artis dan bertemu dengan Abigail seorang vampire yang juga bekerja di dunia entertainment sebagai artis figuran. Tertarik dengan kehidupan Abigail membuatnya banyak berubah dari seorang gadis manja menjadi mandiri. Hanya saja Abigail sangat anti terhadap wanita.
Lalu bagaimanakah cara Kimora menaklukan hati Abigail? Akankah keluarga besar mereka memberikan restu dan berakhir bahagia? Atau penuh dengan rintangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24. KENAPA
Kini kedua pemuda-pemudi berbeda ras dan usia itu tertinggal di balkon kastil. Sementara pihak yang lain sudah pergi meninggalkan mereka berdua menyusul kepergian Tuan Xavier. Bahkan ibunya pun meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa memangnya kalau kita berbeda, bukankah semua ini sudah menjadi suratan takdir?" ucap Kimora tanpa beban.
Abigail kembali menoleh ke arah Kimora.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan semua ini, padahal kamu sudah tahu resikonya jika berdekatan denganku!" ucapnya dengan nada garang.
Tatapan menyalang tampak jelas terpancar dari kedua mata Abigail. Ia sama sekali tidak bisa mengatakan kekhawatirannya secara langsung. Akan tetapi justru hal itu terlihat di sana hingga Kimora menyadari jika Abigail juga khawatir pada keselamatan hidupnya.
Melihatnya bersikap seperti itu justru membuat Kimora tersenyum. Baginya teguran dari Abigail adalah sebuah bentuk kasih sayang.
"Terima kasih, Sayang. Sepertinya kau begitu khawatir padaku, aku sungguh tersentuh," ucap Kimora di dalam hati sambil tersenyum lebar.
"Dasar Kimora manusia aneh!" gumam Abigail sambil geleng-geleng.
Kimora tidak pernah merasakan takut pada Abigail. Lain lagi kalau ia melihat ke arah anggota keluarganya.
Kebencian dan rasa haus darah begitu terlihat pada bola mata mereka. Saat lengah mungkin saja, Kimora akan dijadikan santapan lezat bagi mereka.
Ada banyak hal yang kini menghantui perasaan Kimora. Seolah tahu jika Abigail sedang resah, maka Kimora berniat mendekatinya. Menyentuh bahunya untuk sekedar menyapa.
Setelah sambutan yang diberikan oleh kakeknya beberapa waktu yang lalu, kini keduanya sedang berada di dalam kamar tamu. Tekad Abigail untuk mengirimkan kembali Kimora ke Seoul sudah bulat.
Jika terus bersama takutnya nyawa Kimora justru terancam. Abigail tampak menoleh ke arah Kimora, menatapnya dalam-dalam.
"Aku memang merasakan ada hal lain yang mengganggu pikiranku, akan tetapi aku tidak akan pernah rela jika dirimu terluka."
Ucapan lirih dari bibir Abigail mampu membuat
senyum Kimora tampak mengembang, ada banyak hal yang bisa membuatnya tersenyum dan berbunga-bunga. Terlebih lagi kesempatan yang diberikan agar dirinya bisa berdua dengan Abigail sungguh membuatnya bahagia.
Abigail merasa jika keputusannya membawa Kimora pulang adalah sebuah kesalahan. Bisikan dari kedua orang tuanya agar membawa Kimora ke hadapan kakeknya ternyata membahayakan nyawa Kimora.
"Harusnya aku tidak membawa kamu pulang!"
Kimora memandangi Abigail dengan penuh cinta. Merasa tahu jika orang di hadapannya ini mulai menaruh asa kepadanya. Ia pun mulai bergerak dan bersikap.
Dipegangnya kedua tangan Abigail dengan penuh cinta dan kelembutan. Menyalurkan ada pada hasrat yang terpendam rapi di dalam dada.
"Percayalah padaku, aku akan membuat mereka menerima kehadiran diriku. Selama itu pula tidak mungkin ada yang berani melukaiku, apalagi saat ini ada kamu yang selalu melindungiku, bukankah begitu, Sayang?" tanya Kimora sambil bergelayut manja di lengan Abigail.
Abigail tampak membeku. Ia dibuat tidak berdaya ketika bersama Kimora. Gadis remaja itu telah mampu membuat pertahanan hatinya kepada manusia menjadi goyah dan terusik.
Jujur saja hati dan jantung Abigail sudah membatu dan mati sejak ia lahir, sehingga ketika bersanding dengan manusia selama ratusan tahun ia tetap bisa bertahan dan tegak berdiri.
Kimora sudah menguatkan hatinya, meskipun anggota keluarga Abigail melakukan penolakan terhadap dirinya. Sikap optimisnya mampu membuat Kimora jauh terlihat lebih dewasa saat ini.
"Percayalah padaku, Abigail. Semua akan bisa kita lewati asalkan kita bersama."
Abigail tidak bisa berkata-kata lagi, terlebih lagi saat ini Kimora mendekatkan wajahnya ke arahnya. Hembusan nafas keduanya saling tertukar. Ada gelenyer aneh yang bergerak di dalam hati, membuat Kimora semakin jatuh cinta. Sementara Abigail tidak tahu apakah itu cinta, peduli atau sebuah rasa kesepian.
Di iringi detak jantung yang berdetak sangat kencang, Kimora memberanikan diri untuk mengecup bibir ranum milik Abigail. Tubuhnya terpaksa berjinjit karena perbedaan tinggi dari keduanya. Abigail mempunyai tinggi lebih dari seratus tujuh puluh centi, sementara itu Kimora hanya mempunyai tinggi badan sekitar seratus enam puluh centi.
Perbedaan itu membuat Abigail mengangkat tubuh Kimora agar sepadan dengannya.
Tanpa disadari, salah satu tangan Abigail memeluk tubuh Kimora. Mendekapnya semakin dalam dan juga memperdalam ciuman yang terjadi di antara keduanya.
Decapan demi decapan terdengar mengalun indah di ruangan itu. Hingga mampu membuat hewan-hewan kecil yang berbaris di dinding seolah malu dengan luapan cinta di antara keduanya.
Pertukaran saliva di antara keduanya terasa sangat manis dan penuh cinta. Mampu membakar gelora asmara yang sedang bertumbuh di dalam hati Abigail.
"Apakah jatuh cinta seindah ini?" gumam Abigail.
Semakin lama bergulat, maka semakin pula terasa jika darah Abigail memanas. Ciuman itu kini mulai turun ke leher jenjang milik Kimora. Merasa jika gigi taringnya muncul, kini Abigail mendorong tubuh Kimora.
Beruntung kesadaran Abigail segera kembali kalau tidak sudah pasti leher Kimora akan menjadi santapannya. Salah satu tangan Kimora mengusap lehernya, memeriksa apakah Abigail sudah menggigitnya atau belum.
Abigail tampak masih membuang muka karena hal itu, ditambah lagi gigi dan sorot matanya belum kembali.
"Kenapa rasa itu begitu membelenggu," ucapnya sambil merutuki pikirannya.
Kimora coba bangkit lalu mulai mendekati Abigail. Namun, ternyata Abigail menghempas tangan Kimora saat hendak menyentuhnya.
"Jangan mendekat aku juga berbahaya untukmu saat ini!"
Tanpa mengucap kata lagi Abigail segera pergi meninggalkan kamar Kimora. Sementara itu Kimora menarik kembali tangannya lalu memejamkan mata untuk sesaat.
"Meskipun kamu mau menggigitku aku pun rela. tidak ada hal yang lebih indah kecuali bisa bersanding bersamamu Abigail. Aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadamu."
Abigail tampak terdiam. Ia sama sekali tidak siap untuk jatuh cinta.
"Aku siap menerima setiap kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu. Tidak bisakah kau melihat rasa cinta itu dalam kelopak mataku?"
Merasa jika Abigail tidak menginginkannya. Tubuh Kimora luruh ke lantai. Wajahnya tertunduk lesu. Salah satu tangannya mengusap bibirnya, mencoba merasakan sesuatu hal yang baru saja terjadi di antara mereka.
Sementara itu Abigail mendaratkan kakinya di ujung menara kastil. Salah satu kakinya dibiarkan menjuntai ke bawah. Sorot matanya menatap tajam ke hamparan lautan biru di hadapannya.
"Apa yang barusan aku lakukan pada Kimora. Kenapa perasaan itu muncul lagi?"
Beberapa hari ini di dalam mimpinya Abigail sering bermimpi didatangi seorang wanita cantik. Namun wajahnya pucat dan wanita itu mirip sekali dengan Kimora.
Perutnya buncit dengan tubuh kering kerontang, dan salah satu tangannya terulur kepadanya seolah meminta tolong agar ia dibebaskan dari tempat tersebut.
"Apa sebenarnya arti dari mimpi itu?"
Tangannya mengusap gusar wajahnya. Ketakutan Abigail semakin menjadi, takut jika mimpinya menjadi kenyataan membuat Abigail semakin terlihat lemah.