Dikhianati pasangan yang telah lama bersama sejak sekolah & bahkan nyaris menikah membuat Reza memilih meninggalkan apartemen yang sebelumnya ia beli untuk nantinya bisa ditinggali bersama kekasihnya.
Pindah ke tempat baru dengan harapan akan memiliki takdir baru nyatanya memang terjadi pada diri Reza.
Ia bertemu dengan gadis ayu namun misterius.
Yuk, kita temani Reza mencari tahu siapa sosok gadis misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Pinjam Sebentar
Dea melayang-layang menembus malam yang dingin menuju rumah Reza, menembus banyak mobil, gedung, pohon, warung kopi, bahkan menembus gerobak nasi goreng,
Aku harus menyelamatkan Dila secepatnya, aku tak akan membiarkan Dila dan Ayah dibawa ke Thailand lalu entah akan bagaimana nasibnya nanti. Begitulah tekad bulat Dea.
Ya tekad bulat sebulat onde-onde bertabur wijen.
Dea terus melayang, sampai kemudian ia memasuki komplek perumahan yang terlihat sepi, sunyi, senyap,
Hantu itu tanpa ijin dulu pada satpam langsung menuju rumah Reza di blok A,
Ia tak mau buang energi dan buang waktu lagi, visi misinya saat ini hanyalah ingin menemukan hantu gadis yang mengikuti Reza,
Dan, benar saja, saat Dea sampai di rumah Reza, tampak gadis hantu berambut panjang sedikit bergelombang ada di sana,
Gadis hantu itu tampak duduk termangu di atas pagar rumah Reza, wajahnya sedih, menghadap bangunan rumah Reza, terutama ke lantai dua di mana di sana kamar Reza berada,
"Melamun?"
Tanya Dea mengagetkan gadis hantu yang tak lain dan tak bukan adalah Maura,
Mendengar suara Dea, terlihat Maura seketika menoleh ke arah Dea,
Wajah Maura terlihat sedikit takut, ia tahu jika Dea energinya jauh di atasnya,
Dendam, amarah serta kesedihan membuat Dea menjadi hantu yang berenergi tanpa perlu di ces lagi,
"Ja... Jangan ganggu aku,"
Kata Maura melayang turun dari pagar rumah Reza,
Dea menyeringai,
"Kau terus menerus di sini, apa maumu sebetulnya dengan Bang Reza?"
Tanya Dea mendekati Maura yang terlihat begitu waspada macam status gunung berapi yang baru akan bergejolak,
"Kau punya hutang?"
"Atau Bang Reza yang punya hutang?"
"Atau kau sebetulnya penguntit?"
Dea terus mendekati Maura yang menatapnya sambil ketakutan,
"A... A... Aku,"
Maura tak mampu berkata dengan jelas, berada di dekat Dea membuat energinya seperti terserap dan terkuras,
"Aku akan membantumu jika memang ada yang ingin kau lakukan di sini,"
Kata Dea kemudian,
Ia terlihat berdiri mengambang,
Angin berhembus pelahan, tepat ketika sebuah motor dari seorang satpam komplek terlihat melintas untuk keliling perumahan guna memastikan semua aman dan nyaman,
Untunglah saat melintas, ia tak menyadari ada dua gadis hantu yang kini tengah berada di depan rumah Reza,
"Apa maksudmu?"
Tanya Maura pada Dea,
"Aku akan membantumu, apa yang ingin kamu dapatkan sebetulnya dari Bang Reza, aku akan membantumu,"
Ujar Dea mengulang kata-katanya agar lebih jelas,
"Memangnya kau tahu apa yang kumau?"
Tanya Maura lagi,
Dea kembali menyeringai, sambil menunjukkan botol minuman soda merk ternama,
Haiiish...
Maura menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Aku ingin mendapatkan maaf dari Bang Reza, benar-benar maaf dari hatinya yang paling dalam,"
Kata Maura akhirnya,
Dea menatap Maura dengan kedua matanya yang membulat,
"Maaf? Kau punya salah apa padanya?"
Tanya Dea kepo,
Maura tertunduk,
"Apa harus kamu tanyakan hal itu?"
Tanya Maura pada Dea,
"Ya, tentu saja, karena aku harus tahu, seberapa banyak kemungkinan kamu bisa dimaafkan, siapa tahu kesalahanmu sangat besar, mungkin menendang kaleng kosong dan mengenai mukanya,"
"Aku tidak sekonyol itu,"
Kata Maura,
"Hmm, kalau melihat wajahmu, sepertinya aku tahu,"
Ujar Dea kemudian,
Maura menatap Dea,
"A... Apa?"
Maura tergagap,
"Kau berkhianat, kalian dulu pasangan dan kau mengkhianati Bang Reza, benar kan?"
Dea memberi tekanan pada kata-katanya, membuat Maura menjadi semakin gugup,
"Wajahmu kelihatan bukan gadis setia, ada bagusnya kamu berkhianat sebelum Bang Reza menikahimu,"
Tandas Dea, membuat Maura semakin tenggelam dalam perasaannya yang sudah sejak awal kacau balau,
"Tapi, sudahlah, aku akan membantumu, jika memang hanya untuk maaf Bang Reza saja, aku akan membantu. Tapi, jika kamu berharap kalian bisa bersama lagi, aku bahkan tak akan membiarkan itu,"
Kata Dea kemudian,
Maura menatap Dea,
"Kenapa begitu?"
Tanya Maura,
Dea mendekati Maura hingga jarak mereka hanya sekian centimeter saja,
"Karena kamu telah berkhianat, itu adalah kesalahan yang tak bisa kamu perbaiki pada orang yang sama,"
Ujar Dea.
Maura meneteskan air mata mendengar kalimat Dea,
"Mendapat maaf itu sudah sangat baik, itu sudah cukup menjadi alasan untukmu banyak bersyukur nantinya,"
Kata Dea pula,
Maura menangis tersedu,
"Penyesalan nyatanya selalu datang terlambat bukan?"
Tanya Dea, yang kali ini membuat Maura semakin tertunduk lalu mengangguk pelan,
"Sama sepertiku, yang menyesal tak lebih hati-hati dan waspada, hingga harus meninggalkan adikku sendirian,"
Kata Dea dengan ekspresi yang kali ini menjadi sedih,
Maura belum sempat bertanya pada Dea soal apa yang terjadi padanya, ketika kemudian Dea tiba-tiba menarik Maura,
"Di mana tubuhmu?"
Tanya Dea tiba-tiba,
Maura menatap Dea yang kali ini wajahnya terlihat menakutkan,
"Ke... kenapa dengan tubuhku?"
Tanya Maura ketakutan,
"Katakan saja, aku membutuhkannya agar adikku selamat,"
"Hah? Apa maksudmu? untuk apa?"
Maura semakin ketakutan,
"Jangan cerewet, katakan saja, setelah urusanku selesai, aku pasti akan memenuhi janjiku membantumu mendapatkan maaf dari Bang Reza,"
"Tapi..."
Maura tampak ragu,
Dea yang benar-benar tak mau membuang waktu lantas mencengkram kepala Maura,
Cengkramannya semakin lama semakin keras hingga membuat Maura kesakitan,
Gadis hantu itu pun menjerit, suara jeritannya seolah menggema di tengah malam yang sepi,
Dea dan Maura kemudian seperti berputar-putar, sebelum kemudian kedua hantu gadis itu menghilang dari depan rumah Reza,
Dan...
"Jangan apa-apakan tubuhku, aku mohon,"
Rintih Maura ketika keduanya kemudian berada di sebuah kamar rawat inap di salah satu rumah sakit paling besar di Jakarta,
Tampak di kamar itu terbaring lemah seorang gadis yang wajahnya persis dengan hantu Maura,
"Aku hanya pinjam sebentar, karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan adik dan ayahku,"
Kata Dea yang langsung melayang ke arah tubuh Maura di atas tempat tidur kamar rawat inap rumah sakit itu,
"Bagaimana jika nanti kau membuatnya mati? Bagaimana jika nanti ada hal yang bisa membahayakannya? Sementara aku masih ingin hidup, aku belum ingin benar-benar mati,"
Rintih Maura mendekati tubuhnya yang kini Dea berada di sana juga,
"Jangan cengeng, semua yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi, maka diamlah, aku pinjam sebentar tubuhmu,"
Kata Dea yang kemudian tanpa menunggu lama langsung saja masuk ke dalam tubuh Maura,
Tampak seketika Maura pun tercengang luar biasa, ia sungguh tak menyangka jika Dea sungguh-sungguh masuk ke dalam tubuhnya,
Bagaimana bisa?
Kenapa hantu itu bisa masuk ke dalam tubuhku sedangkan aku pemilik tubuh itu justeru tidak bisa?
Apa yang terjadi sebetulnya?
Kenapa ini?
Maura tampak begitu panik, ditatapnya tubuh miliknya yang terbaring di tempat tidur di depannya,
Yang tak butuh waktu lama, tiba-tiba saja kedua mata tubuh Maura terbuka,
Mata itu kemudian memandang Maura yang terlihat ternganga,
"Aku hidup,"
Kata Dea di dalam tubuh Maura, yang kemudian menyeringai ke arah hantu Maura.
...****************...