Pernikahan yang tak pernah kuharapkan tapi harus kulakukan sebagai bentuk baktiku pada kedua orang tua ku.
Aku tak pernah berfikir akan menikah di depan jenazah.
Di masjid itu jenazah mami terbujur diselimuti kain dan siap diberangkatkan setelah sebelumnya di mandikan, di kafani dan disolati.
Di depan jenazah mami, abah Fani dan Pak Basofi duduk bersila saling berhadapan dan siap melaksanakan ijab qobul.
"Sah...."
Air mataku jatuh lagi, resmi sudah aku menjadi seorang istri dari Basofi sudirman. Pria yang dijodohkan denganku yang juga merupakan atasanku.
-******-----****-***---***
Cerita ini sebagiannya adalah cerita nyata yang terjadi di keluarga jauh ku dan khusus untuk pembaca yang sudah menikah saja ya!
So... kalau yang ada yang terdampar dan sampai membaca tulisan ini aku ucapkan banyak terimakasih semoga ada yang bisa dipetik dan di ambil pelajarannya. Kalau ada yang mau like apalagi komen makasih banget.....
Thx all
😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon en green, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sofiyah
Rasanya hanya tinggal aku dan dia yang sedang lembur di kantor sebesar ini. Bahkan pak Mikail yang notabene adalah asistennya sudah disuruhnya pulang sejak jam lima sore.
Mungkin kami bertiga harus duduk bersama untuk membicarakan kesepakatan tentang pekerjaan yang harus kami lakukan. Kalau tidak dia akan semena-mena padaku dan akan melakukan semuanya semaunya saja.
Aku tidak mau diperbudak lelaki mata keranjang itu.
Saat maghrib tiba aku harus turun ke bawah dilantai dasar untuk ke musholla dan solat disana. Sepi, hanya ada beberapa orang yang masih terlihat duduk berkutat dengan layar di depannya di beberapa divisi. Aku jadi merinding, takut sendiri.
Ini salahku sendiri karena tidak membawa mukena dari rumah tadi. Besok aku harus membawanya jadi sewaktu-waktu aku lembur dengan bos gila itu aku bisa solat diatas tanpa harus turun naik. Kalau dia tak solat itu urusannya sendiri.
Menunggu lift sendiri, di dalam lift juga sendiri. "Whua.....aaa aku takut..... Dasar Babas gila.... !!!" Teriakku di dalam lift.
Kejadian saat makan siang tadi berkelebatan di kepalaku lagi. Sungguh mengusik sanubari ku. Bagaimanapun aku mencoba menata hatiku agar tak memikirkannya, menyukainya bahkan jangan sampai aku mencemburuinya tapi nyatanya tadi siang dadaku terasa sesak saat melihatnya bersama gadis cantik itu.
Saat dia datang bersama gadis yang tadi, aku dan pak Mike sedang saling ingin bertukar makanan. Dia berdehem dan aku sontak melihat ke arahnya dan aku melihat gadis itu sedang menautkan lengannya pada lelaki gila itu. Aku mengamati keduanya sekilas dan mendapati di sekitar bibir si playboy itu ada bekas lipstiknya sedangkan bibir gadis itu lipstiknya nampak berantakan.
Aku langsung mengedarkan pandanganku ke seluruh kantin karena dadaku terasa sakit sekali. Mereka pasti baru saja berciuman dan kenapa dengan diriku yang merasa tak terima dengan semua ini. Ini bukan perselingkuhan atau penghianatan. Dari awal dia sudah mengatakan jika kami hanya akan bersandiwara saja. Sekuat hati aku menahan agar air mataku tak jatuh di depan mereka.
Begitu duduk dia langsung mengambil piringku dan memakan nasi sisaku tanpa permisi atau apa. Entah apa maunya. Tapi menurutku itu menjijikkan. Apa menurutnya aku begitu murahan sehingga bisa ia permalukan seperti itu di depan pak Mike dan teman kencan atau teman ranjangnya itu.
Rumor yang mengatakan kalau dia pemain wanita itu ternyata benar adanya bukan hanya isapan jempol belaka.
Karena tak tahan, saat ada pegawai kantin yang menawarkan makanan dan si playboy itu bertanya padaku aku mau pesan apa sambil beranjak berdiri kujawab saja," Saya sudah selesai makan. Saya mau permisi dulu!" .
Aku segera berdiri ingin segera pergi menjauhi mereka dan menangis sebisanya, dadaku seperti mau meledak rasanya.
Tapi dia.... dia malah menggertakku di depan semua orang.
"Duduk di situ! Tidak boleh ada yang beranjak dari sini sebelum aku selesai!" Katanya dengan suara yang ditekannya dan jelas itu adalah perintah bos yang tak bisa ditolak.
Aku pun duduk kembali meski rasanya sakit hati dan malu sekali. Maka aku mengalihkannya dengan melihat-lihat sekeliling kantin yang luas ini agar tak mendengar apapun yang mereka katakan.
"Bawa ke sini semua yang paling enak!" Katanya sambil tetap sibuk mengunyah makanan sisaku.
"Aku mau es jeruk..!" Kata gadis cantik yang duduk di sebelah si Babas itu.
"Lipstikmu kenapa berantakan?" Tanya pak Mike pada gadis yang bernama Mala itu.
"Eh benarkah? Hone..y...!" Dari ujung mataku terlihat dia menggoyang-nggoyangkan lengan si Babas meminta perhatian dari lelaki itu.
Amboi... bahkan suara manjanya saja terdengar mendayu-dayu di telingaku apalagi di telinga laki-laki macam Babas itu.
Si playboy itu menoleh pada gadis cantik yang duduk disampingnya kemudian segera mengambil tisu dan membersihkan bibir kekasihnya itu. Nurmala tersenyum kemudian melakukan hal yang sama pada Babas, "Lipstiku menempel di bibirmu han...", katanya dengan manja.
Oh Ya Alloh.... sakit sekali dadaku.... seperti terkena sembilu, rasanya aku ingin kabur dari suasana seperti ini.
"Pak Mike.... boleh cobain minumnya nggak?" Tanyaku pada pak Mike untuk mengalihkan hatiku agar air mataku tak sampai jatuh.
"Ini minuman favoritku, Lemon tea. Cobain deh, kamu bakalan ketagihan!" Katanya sambil mengangsurkan gelasnya padaku.
Aku menerima gelasnya dan segera meminumnya langsung tanpa sedotan. Kurasakan sedikit lalu ku acungkan jempolku sambil berkata," Enak banget, seger manisnya pas, ada asem-asemnya juga". Seperti kebanyakan lemon tea, batinku.
Pak Mike merasa senang sekali. Dia menggelengkan kepalanya seperti orang India yang berkata "nehi-nehi acha acha".
Tak menunggu lama makanan pun segera datang dan disajikan diatas meja kami.
Nurmala mengambil minumannya kemudian mengaduknya dengan sedotan dan meminumnya sedikit. Tanpa berkata apa-apa Nurmala menyodorkan sedotannya pada si playboy yang langsung menyeruputnya tanpa berpikir lagi.
Aku tadi berbuat seperti itu bukan karena ingin membuatnya cemburu hanya ingin mengalihkan hatiku agar air mataku tak sampai jatuh di depan mereka tapi sekarang bagaimanapun aku menyangkalnya aku tahu bahwa aku sedang cemburu.
Makanan yang terhidang di depanku kebetulan adalah nasi ayam kalasan dengan sambal khasnya dan aku akan memanfaatkannya.
"Boleh minta sambalnya nggak pak Mike..",pikiranku sudah buntu.
Aku hanya ingin menangis dan menjauh pergi dari sana.
"Its spesial for you...!", katanya sambil memberikan piring berisi sambal padaku dengan kedua tangannya.
"Thank you...", jawabku sambil mengulas senyum lalu segera mengambilnya dan mulai mencocolnya dengan secuil ayam kemudian melahapnya.
"Kamu tidak bisa lihat yang pedas-pedas ya Sof?", tanya pak Mike dengan menopang kepalanya.
"Tahu..... aja!" Kuambil secuil ayam lagi dan kucelupkan dalam sambal banyak-banyak sampai aku merasa kepedasan. Aku merasa keringatku mulai keluar di kepala dan keningku.
Mulutku sudah ah uh ah uh mendesis tak karuan karena rasa pedasnya sudah masuk kepala dan hidungku. Telapak tangan kupakai sebagai kipas untuk mukaku. Hidungku berkali-kali ku usap dengan tisu.
Secara bersamaan pak Mike dan Babas memberikan air minum padaku dan aku langsung mengambil milik pak Mike yang tadi sudah kuminum dan segera kuteguk sampai habis.
"Maaf saya permisi," Kataku tanpa takut lagi. "Huh. hhhhhahhh......huuuhh. hhhhhhhah... hah hah hah....."
Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku segera berlari menuju ke toilet. Kejadian itu sedikit melupakanku akan kecemburuanku. Tapi saat sudah sampai di toilet tak urung aku pun menangis sejadi-jadinya. Bukan hanya air mata yang berkali-kali ku usap tapi juga ingus yang terus keluar karena rasa pedas yang mematikan yang nggak hilang-hilang plus rasa sakit akibat cemburu yang menderu sesak dalam hatiku.
.
.
.
"Hiks.... bodoh sekali kau Sofiyah...! Sudah tahu dia itu lelaki hidung belang lelaki sialan kenapa ..... kenapa harus cemburu padanya..." Di dalam lift badanku jatuh luruh ke bawah. Dalam posisi berjongkok kutumpukan kepalaku diatas lengan dan kukeluarkan semua air mataku agar ketika melihatnya lagi aku tak berharap apapun lagi.
Ting
Pintu lift terbuka dan aku segera mengusap air mataku dengan ujung jilbabku. Membersihkan wajah agar tak terlihat kalau aku baru saja menangis. Aku segera berdiri dan keluar dari situ.
Ketakutan mulai menyergapku lagi, apa dia masih di ruangannya atau mungkin dia sudah pergi meninggalkanku sendirian di sini?. Aku tidak bisa melihatnya dari tempatku tapi dia bisa melihatku. Ini sangat tidak adil.
Ting
Bunyi lift itu membuatku kaget setengah mati dan langsung menoleh ke arah lift sambil memegangi dadaku.
"Ya Alloh pak.. bikin kaget..." Kataku saat melihat sosok security yang keluar dari lift.
"Maaf bu, ini mau mengantar pesanan pak CEO..." Katanya sambil menunjukkan bungkusan makanan kepadaku.
"Oooh....iya silahkan langsung ke ruangan beliau pak...!"
"Iya bu terima kasih..."
"Jangan bu, mbak saja pak!"
"Iya baik non..."
"Malah non..." Gumamku karena dia juga sudah jauh dari tempatku.
aku jg gak ngerti,kadang aku nemu novel yg ngelike sampai ribuan eh setelah ku baca biasa saja dan kadang halunya kebangetan.
Tp ada novel bagus,penulisannya bagus,tp terlalu realistis malah àpembacanya sepi.
hidup di dunia nyata itu berat makanya kita menghalu.
mungkin dlm dunia real kita2 ini
pemeran utama wanita mengaku salah, menyesal, sujud minta maaf, dan berjuang dapat kesempatan
kesalahan sofiyah dia pada basofi udah sangat banyak
* dia memandang hina basofi tapi diri sendiri lebih hina (munafik)
* udah punya calon suami tapi berhubungan dengan pria lain, bahkan jalan dan sampi pergi ke hotel
* tidak jujur dia wanita bekas
* merasa paling baik tapi dirinya juga penzina
* berkali dia menyakiti basofi dan buat basofi menjatuhkan air mata
tapi tidak adalah kata maaf dan perjuangan dari sofiyah
ini yang susah dari novel karya wanita mereka akan mengentengkan semua kesalahan pemeran utama wanita da akan menganggap serius kesalahan pemeran utama pria