"Lo lebih milih nikah sama pilihan mamah yang bukan tipe lo, atau nikah sama pilihan papah yang dadakan ini?" -Annisa Safira Anggraini.
jadi apa yang akan dipilih nisa? kepo? ayo baca aja!
....
fyi : autor ga pernah copas/menyalin karya orang lain! semua karya yang autor buat murni dari khayalan+kisah nyata yang di alamin oleh teman-teman autor.
kalau tidak menyukai karya ini atau karya ini terlalu kaku, tolong beri saran bukan makian. tks.
langsung baca aja ya! biar nggak penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Setelah bian meminum obat, dia kembali merebahkan tubuh nya dengan hidung yang masih mampet.
"Nis bagi tisu dong" ucap bian menunjuk sebungkus tisu yang berada di atas lemari.
Goblokk, gw mana bisa ngambil setinggi itu
"Ambil aja sendiri" balas nisa dengan santai, bian menatap nya datar dengan hidung yang semakin gatal.
"Ambilin napa" sahut bian membuat nisa berdecak dengan kesal, nisa melangkah mendekati lemari dan mengangkat tangan kanan sepanjang yang dia bisa, kemudian menatap balik bian dengan datar.
"Oh, hehe gw kira sampe" cengir bian sembari turun dari kasur dan mengambil tisu itu, nisa berdecak lagi dengan kesal.
"Kan kamu tau sendiri, kamu punya istri mungil kek aku" cetus nisa dengan santai kembali merapikan kotak obat yang sedikit berantakan oleh nya.
"Nyengir lo cil" seru bian melihat nisa menampilkan cengir kuda.
"Idih cil? maksud kamu apa?" tanya nisa sambil menaruh kotak obat di dalam laci tempat semula.
"Iya, bocil haha" jawab bian diakhiri tawa serak akibat sempat batuk.
Nisa mencebik tapi dia terima, karna memang badan nya mungil tapi umur yang hampir menginjak 17 tahun, seperti tidak mungkin.
"Serah kamu bi" balas nisa menatap datar bian.
..._____...
"Bi, kamu gak mau tidur?" tanya nisa mendapati bian masih terjaga hingga tengah malam.
"Hidung mampet gini mana bisa tidur nyenyak, uhuk" jawab bian dengan suara dan di akhiri batuk.
Nisa memiringkan badan menghadap bian yang bergerak gelisah, membuat nisa tak tega dan duduk dengan pelan kemudian bersandar di headboard kasur.
Tanpa berkata-kata, nisa mengusap kening bian yang tidak terlalu panas, efek obat mulai berjalan hanya saja sangat lambat.
Bian terdiam menikmati usapan kepala dari nisa, hidung nya juga sudah mulai bisa diajak kerjasama.
"Cepet sembuh ya" gumam nisa tetap mengusap kepala bian hingga bian tertidur nyenyak.
Nisa ikut membaringkan tubuh nya, dan mendekap bian yang sudah di alam bawah sadar.
Pagi sudah menyapa, tapi dua manusia yang masih berada di kasur itu tak juga kelihatan akan bangun.
Dekapan hangat dari nisa membuat bian betah dalam mimpi nya, dekapan itu tak lepas sejak semalam.
"Engh" lenguh bian seraya membuka mata pelan, dia merasakan di sekitar pipi ada yang kenyal tapi dia tidak tau apa itu.
Deg
Anjir ini apa?!
Bian berteriak dalam hati, mendapati dada yang tak terlalu besar tapi tak terlalu kecil itu ada di hadapan nya.
Mendongak untuk melihat siapa pemilik dada itu, kemudian menghela napas antara lega dan tersiksa.
Bagaimana tidak, nisa yang memakai piyama berkancing itu nampak terlihat cukup jelas bagian dada nya, ditambah dua kancing lepas bagian atas membuat bian merasakan hawa panas di sekujur tubuh nya.
Nyiksa banget ini tolong
Demam nya bian mungkin sudah tidak ada, tapi badan nya masih panas akibat keadaan nya dengan nisa yang seperti ini.
Jadi siapa yang meluk duluan ini, gw kah? agh masa iya gw nyiksa diri gw sendiri
Bian mengoceh dalam batin, tapi bukan nya melepas dekapan dia tetap setia pada posisi di depan dada nisa yang tertutup baju piyama.
Nisa melenguh karna merasakan napas yang hangat menerpa bagian dada nya, membuat dekapan itu semakin erat.
Wajah bian tepat bagian hidung yang langsung mengenai kulit nisa membuat nya menahan napas seketika.
Kuatkan hamba mu ini ya allah
Jerit bian dengan perlahan memundurkan kepala nya agar bisa bernapas.
"Nis" panggil bian dengan suara serak.
"Hm?" tanya nisa berdehem karna kesadaran nya belum pulih sepenuhnya, dia melepas dekapan itu untuk mengucek mata nya.
"Em gak, gak apa-apa" jawab bian dengan gugup, mata nya tak sengaja melirik bagian dada nisa yang sedikit menyembul ke atas.
Heh mata ian mata lo di jaga, aduh otak lo kalo pagi jangan kayak yang dibawah dong
"Bangun" ucap bian sembari duduk bersandar, menunggu nisa bangun, pilek nya sepertinya sudah tak ada.
"Efek obat atau efek di peluk?" gumam bian sembari mengusap hidung nya yang tidak gatal lagi.
"Efek apa?" tanya nisa dengan suara serak sehabis bangun tidur, merenggangkan kedua tangan nya sembari duduk mengumpulkan kesadaran.
"Eh gak tau" jawab bian dengan gugup.
"Udah sembuh kah?" tanya nisa berbalik menatap bian dan berniat menempelkan punggung tangan nya di kening bian.
"Udah gak panas, manjur juga saran kakek" gumam nisa setelah menempelkan tangan nya dan menarik tangan nya kembali.
"Saran apa?" tanya bian mendengar gumaman nisa dengan penasaran.
"Saran buat manjain kamu" jawab nisa dengan santai, turun dari kasur untuk keluar dari kamar, dia sudah ingin buang air kecil, kebiasaan tiap bangun tidur.
...____...
...kok aku iri sendiri ya sama bian, bisa di peluk, lah aku? huhu sedihh pengen juga tapi sadar belum lulus sekolah....
...Jangan lupa jejak nya kak😉...
suka sama ceritanya tp gk ngerti kalo Sunda makeknya🙏.
lanjut kak