Arsel, pria tampan yang kini menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan sukses milik keluarganya. Ia adalah pria yang memiliki 1 anak, eits walau pun begitu Arsel bukan duda loh.
Seperti alasan umum, ia terjerumus dalam ruang pertemanan yang salah.
Namun, hidupnya benar benar berubah kala ia dijodohkan oleh sang papa dengan alasan cukup umur. Betapa tidak percayanya, ternyata dirinya dijodohkan oleh wanita yang ditemuinya di toko kue miliknya dengan nama anaknya.
***
Dalam masa perevisian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Beberapa hari kemudian setelah kejadian saat disupermarket yang bagi Arin adalah sebuah kenangan indah yang mungkin sulit untuk dilupakan. Hei. Wanita sederhana ini akan luluh dengan hal hal kecil yang mungkin bagi beberapa orang biasa saja bahkan tidak berarti dan akan menjadi angin lalu yang akan dilupakan begitu cepat, namun sekali lagi tidak dengan Arin.
Sekarang Arin berada dikamar, mengajari anaknya belajar sholat dan mengaji dengan sabar. Untungnya Aris, anak itu mudah untuk diajari dan malahan dengan waktu yang singkat dia telah mengerti apa yang Mamanya ajarkan.
"Ma Alis udah bisa." Lapor anak itu antusias. Arin terkekeh melihat kelakuan anaknya.
"Ayo Mama mau lihat." Ujar Arin menantang. Aris dengan fasih melakukan apa yang telah dia pelajari dan itu membuat Arin senang, dia senang karena hasil jerih payah dirinya dalam mengajar Aris membuahkan hasil yang bagus.
"Waah Aris kok pinter sih? Mama kagum nieh lo sama Aris. Sekarang kita belajar cara berwudhu. Ok." Pinta Arin dengan jari yang dibentuk dan membuatnya menjadi berbentuk huruf O.
...***...
Malam hari, Arsel baru saja pulang dari kantor setelah menandatangani berkas berkas yang membuatnya pusing tujuh keliling. Dia merebahkan tubuhnya ke sofa dan menunggu siapa saja datang menyapanya. Namun hanya kekosongan yang didapat, tidak ada yang menghampiri.
Pria itu bingung dengan keadaan rumah seperti tidak ada penghuni disini. Arsel beranjak menuju kamar ingin rasanya dia mandi air dingin setelah melakukan pekerjaan yg memeras otak. Dia ingin santai didalam bath up.
Ceklek
Arsel terdiam, dia melihat disana ada dua orang yang sedang melakukan sholat. Dia adalah Arin dan Aris, istri juga anaknya.
Sejak kapan Aris belajar sholat? Bagaimana Arin bisa mengajari Aris dengan waktu yang... begitu singkat. Dan... kenapa dengan jantungku.
Arsel seperti merasakan jantungnya yang berdetak sangat kencang seakan jantung itu akan berhenti berdetak lagi. Arsel merasa sedikit terhunyuk sekaligus tertusuk dan dia tidak tau kenapa.
Kenapa dengan aku? Kenapa wanita yang sudah jadi istriku ini selalu membuat diriku kacau.... argh sialan.
Pikiran Arsel beradu satu sama lain yang menanyakan tentang dirinya yang aneh belakangan ini. Arsel menarik nafas dalam lalu menghembuskan kasar .Dia masuk kedalam, mengambil handuk dan langsung memasuki kamar mandi untuk berendam air dingin.
Padahal dikantor pikirannya sudah kacau dan sekarang ditambah hal yang seperti ini pikirannya tambah rumit. Sialnya dia tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya sendiri.
...***...
Arsel keluar dari kamar mandi setelah berendam cukup lama. Pikirannya sekarang sudah jernih. Arsel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya saja.
Arsel memakai kaus oblong berwarna putih dengan bawahan celana selutut berwarna coklat. Arsel melihat diatas nakas ada Al-Qur'an yang mungkin Arin lupa menaruhnya. Dia mendekat dan mengambil Al-Qur'an itu setelah melempar handuk yang dia pakai untuk mengeringkan rambut keatas kasur.
Arsel yang penasaran membuka sampul dengan tulisan arab disana. Dia sekarang sudah merasa asing dengan tulisan itu. Bagaimana tidak, sudah bertahun tahun lamanya Arsel tidak pernah menyetuh Al-Qur'an dan air wudhu. Dia juga tidak mengerjakan sholat setelah terjerumus kedalam lubang neraka yang sekarang telah menghasilkan Aris, anak yang lahir dengan hubungan orangtua tanpa status yang sah.
Arsel berusaha membaca tulisan disana namun dia benar benar lupa, bagi Arsel lebih rumit membaca Al-Qur'an daripada berkas berkas yang isinya sangat kacau.Arsel kembali penasaran. Ingin rasanya meminta Arin mengajarkan dia membaca ayat suci ini, namun seorang Arsel akan malu dengan dirinya. Arsel adalah orang yang memiliki ego tinggi untuk masalah meminta tolong.