Hi ☺️
Tuan Anas Mikail adalah laki-laki tua yang belum memiliki istri. Dalam hidupnya perempuan hanyalah benalu baginya. Hingga suatu hari datanglah seorang gadis menghampirinya dan membuat jatuh cinta kepadanya.
Siapakah gadis yang sudah membuat jatuh cinta seorang Tuan Anas Mikail?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Setelah kepergiannya dari tempat acara pernikahan Syuhada. Lukman kembali pergi menuju ke restoran Ranum. Lukman yang selama ini dirinya baru mengetahui kalau laki-laki tersebut bernama Tuan Anas dan anak dari Bu Anna. Bos yang selama ini memberikannya pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Kini Lukman merelakan untuk meninggalkan pekerjaannya saat ini di karenakan kekecewaannya terhadap Bu Anna.
Lukman memberikan surat pengunduran dirinya kepada Ritika yang tidak lain adalah Koki terhebat di restoran Ranum.
"Hei... Apa ini?" Tanya Ritika saat Lukman memberikan sebuah amplop yang berisikan surat pengunduran diri
"Berikan itu kepada Bu Anna" Jawab Lukman segera pergi
"Man... Kau akan pergi ke mana?" Tanya Ritika yang tidak mengerti. Lukman baru saja datang dan langsung pergi begitu saja
"Apa yang kau pegangan?" Tanya Edwin dari arah berlawanan
"Ini amplop dari Lukman untuk Bu Anna" Jawab Ritika dengan tersenyum
"Apa isinya?" Tanya Edwin yang penasaran
"Entahlah" Jawab Ritika dengan mengangkat pundaknya
"Astaga Ritika. Apa kau tidak bisa membukanya?" Tanya Edwin merampas amplop tersebut dari tangan Ritika
"Apa yang akan kau lakukan dengan amplop itu" Ucap Ritika dengan memelototkan kedua bola matanya kepada Edwin
"Membukanya" Jawab Edwin dengan santai segera membuka amplop tersebut dan langsung membacanya
"Ada apa?" Tanya Ritika yang melihat wajah Edwin berubah seketika
"Astaga anak ini konyol sekali! Kenapa tiba-tiba mengundurkan diri. Tidak ada angin tidak ada hujan dia pergi begitu saja meninggalkan restoran Ranum ini" Jawab Edwin dengan sedikit tertawa
"Mengundurkan diri. Maksud mu?" Tanya Ritika terkejut segera mengambil surat tersebut dari tangan Edwin dan membacanya
"Aneh sekali" Ucap Edwin dengan melipat kedua tangan miliknya
"Apa Lukman habis kena marah oleh Bu Anna?" Tanya Ritika
"Entahlah" Jawab Edwin
"Baiklah aku akan menghubungi Lukman saat aku sedang tidak sibuk" Ucap Ritika
"Iya itu ide bagus" Jawab Edwin
"Kau pergilah dan layani mereka. Aku akan kembali ke dapur!" Perintah Ritika segera pergi
"Iya Tuan Putri Ritika" Ucap Edwin dengan tersenyum
.
.
Di tempat lain
Setelah kepergian Lukman dari tempat itu. Para tamu undangan segera menempati tempat duduknya masing-masing yang sudah di atur. Begitu pula dengan pengantinnya mereka sudah siap melaksanakan ijab qobul. Dalam balutan kebaya pengantin modern berwarna putih Syuhada nampak sangatlah anggun dan cantik. Membuat pandangan Tuan Anas selalu fokus tertuju pada paras Syuhada.
Pagi ini Tuan Anas sudah memegang bukti yang di berikan oleh orang kepercayaannya. Terlihat jelas latar belakang Syuhada yang merupakan gadis baik-baik. Meskipun hal itu sangat bertenaga dengan sikap Pak Adam sebagai orang tuanya. Bahkan Tuan Anas mendapatkan bukti yang lainnya kalau Syuhada ternyata benar masih perawan. Dengan tanda noda darah yang terlihat jelas di sprei tempat tidur milik Tuan Anas yang berwarna putih. Saat itu Tuan Anas berhasil melakukan hubungan badan bersama dengan Syuhada.
Tuan Anas beruntung sekali bisa menjadikan Syuhada sebagai seorang Istri. Meskipun di jaman sekarang banyak sekali perempuan yang sudah tidak perawan akibat pergaulan bebas. Yang di mana mereka rela memberikan keperawanannya secara cuma-cuma atas dasar cinta.
Entahlah apa yang membuat Tuan Anas merasa bersalah atas sikap dirinya selama ini kepada Syuhada. Seolah-olah dirinya ingin sekali menguasai tubuh Syuhada dalam arti tidak ingin melepaskan Syuhada. Atau bahkan meninggalkan Syuhada begitu saja.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Bu Anna yang duduk di samping Tuan Anas dan berbisik di telinga Tuan Anas
Tidak ada jawaban dari Tuan Anas, malah Tuan Anas tersenyum dengan sendirinya.
"Anas" Teriak Bu Anna dengan sangat keras yang membuat Tuan Anas terkejut. Bahkan tidak Tuan Anas saja yang di buat terkejut oleh teriakan Bu Anna. Melainkan Syuhada dan para tamu undangan di buat melongo oleh Bu Anna
"Ibu ada apa?" Tanya Tuan Anas dengan lirih
"Hi... Maaf semuanya" Ucap Bu Anna dengan melihat wajah para tamu undangan yang pandangannya masih fokus kepada dirinya saat ini
"Kenapa kau melihat Syuhada dengan tatapan yang sangat tajam?" Tanya Bu Anna yang masih penasaran
"Syuhada cantik, anggun, dan seksi, Bu" Jawab Tuan Anas menjelaskannya dan pandangannya masih fokus kepada Syuhada
"Kau baru menyadarinya sekarang kalau Syuhada cantik, anggun, dan seksi" Ucap Bu Anna dengan memelototkan kedua bola matanya
"Hm" Jawab Tuan Anas menganggukkan kepalanya
"Seksi..." Jawab Bu Anna dengan mencubit pinggang Tuan Anas
"Aw..." Teriaknya kesakitan
Syuhada yang melihat tingkah laku di antara keduanya hanya menundukkan kepalanya saja.
"Hm" Suara Pak penghulu berdehem yang membuat Bu Anna dan Tuan Anas melihat wajah Pak penghulu
"Apakah bisa kita mulai?" Tanya Pak Penghulu dengan tersenyum
"Bisa Pak" Jawab Tuan Anas langsung mengulurkan tangan miliknya
"Bismillahirrahmanirrahim. Saudari Anas Mikail bin Mikail. Saya nikahkan dan kawinkan kau dengan saudari Janna Riskati Syuhada binti Adam. Dengan maskawin seperangkat alat sholat di bayar tunai" Ucap Pak Penghulu
"Saya terima nikah dan kawinnya Janna Riskati Syuhada binti Adam. Dengan maskawin tersebut, di bayar tunai" Jawab Tuan Anas
"Bagaimana para saksi?" Tanya Pak Penghulu
"Sah..." Jawab Para tamu undangan
"Alhamdulillah" Ucap Pak penghulu
"Yes... Akhirnya sah juga! Sekarang aku mendapatkan menantu orang kaya dan aku akan segera menyusul menjadi orang kaya" Teriak Pak Adam segera berdiri dari tempat duduknya dengan sangat gembira
"Astaga orang tua itu. Memalukan sekali" Umpat Tuan Anas dengan melihat wajah Pak Adam dengan sangat kesal dan mengepalkan kedua tangan miliknya
"Sabar" Ucap Bu Anna tersenyum manis kepada Tuan Anas agar mengontrol emosinya
"Pak. Waktu Bapak sudah habis dan sebagainya Bapak ikut kembali bersama dengan kita" Ucap Pak Polisi segera memborgol tangan Pak Adam
"Hei... Kalian. Ada apa dengan kalian? Aku belum menikmati hidangan makanannya dan bahan kau juga. Ayolah lepaskan borgol ini dan kita bersantai-santai menikmati makanannya terlebih dahulu!" Ajak Pak Adam kepada Pak Polisi
"Maaf Pak waktu anda sudah habis" Ucap Pak Polisi segera menarik lengan Pak Adam
"Tunggulah sebentar Pak. Aku belum memberikan ucapan selamat kepada anakku yang baru Saja melangsungkan ijab qobul" Jawab Pak Adam dengan memberontak
Syuhada yang melihat sikap Pak Adam hanya bisa menundukkan kepalanya dengan perasaan yang sangat malu.
"Pak cepat bawa dia pergi!" Perintah Tuan Anas kepada Pak Polisi
"Menantuku apa yang kau ucapkan kepada Polisi itu" Ucap Pak Adam segera menghampiri Tuan Anas dan tersenyum
"Bukankah yang aku ucapkan ini benar?" Tanya Tuan Anas dengan berkacak pinggang di hadapan Pak Adam
"Kau seharusnya membebaskan ku menantuku. Kau itu orang kaya! Ayolah berikan mereka sedikit uang dengan begitu mereka akan membebaskan ku" Jawab Pak Adam dengan sangat lembut kepada Tuan Anas dan tidak tau malu
"Ck. Laki-laki tua ini menyusahkan diri ku saja" Umpat Tuan Anas dengan memalingkan wajahnya
"Ayo, Pak cepat ikut kami kembali ke kantor Polisi!" Perintah Pak Polisi
"Syu. Bapak harus pergi sekarang! Kau ingat kau harus datang ke kantor Polisi untuk membebaskan Bapakmu ini!" Pamit Pak Adam segera berjalan dengan sangat perlahan melihat wajah Syuhada
"Pak..." Panggil Syuhada dengan lirih
"Sudahlah biarkan dia menebus kesalahannya dengan mendekam di penjara" Sambung Tuan Anas mencegah Syuhada yang akan berlari menuju ke arah Pak Adam
"Syu... Maafkan Bapak" Ucap Pak Adam dengan memohon. Namun dengan segera Pak Polisi tersebut membawa pergi Pak Adam dari tempat tersebut
"Aduh duh duh... Kok bisa iya Bu Anna memiliki besan seorang tahanan" Bisik para tamu undangan
"Iya Jeng. Kok bisa gitu iya? Aku jadi kasihan lihat mereka" Jawabannya
"Maklumlah Anas itu kan laki-laki tua jadi wajar kalau dia segera menikah dengan begitu tidak ada lagi yang mengatainya bujang lapuk. Tapi kasihan juga sih dapat perempuan dari kalangan orang miskin" Bisik para tamu undangan
"Ngomong-ngomong perempuan itu lulusan apa iya?" Tanyanya
"Entahlah Jeng" Jawabannya mengakhiri pembicaraannya karena sedari tadi Bu Anna pun mendengarkan ucapan mereka
Bersambung... ✍️
ihh gudeg jadinua