Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Tamu Tak Diundang
Adi sampai di rumah saat hari telah senja. sehabis mengantar Cita pulang, Adi menyempatkan diri mampir ke toko sepatu untuk membeli sepatu baru.
"Di, sore sekali pulangnya."
Ibu Adi yang baru saja dari dapur bertanya begitu melihat Adi muncul dari pintu samping rumah lalu akan ngeloyor ke kamarnya.
Adi yang ketahuan Ibu, akhirnya berbalik dan menyalami Ibu nya lebih dulu.
"Besok Adi lomba basket wakilin sekolah Bu, jadi Adi beli sepatu dulu."
Ujar Adi.
"Oo, memangnya ada uangnya buat beli sepatu baru? Kok tidak minta Ibu tadi pagi?"
Tanya Ibu.
Adi tersenyum.
"Kan ada lebihan uang jajan Bu tiap bulan."
Ujar Adi.
Mendengarnya Ibu Adi sampai terharu.
Adi memang begitu, sejak kecil jarang sekali meminta ini itu pada orangtuanya. Apa saja dia dapatkan dari warisan Abangnya.
Entah itu sepatu, tas, kaos, jaket, sampai topi.
Berbeda dengan Angga yang cukup gila belanja, Adi tak seperti itu.
Uang jajan yang diberikan orangtua, selalu ada lebih setiap bulan yang ia tabung untuk sesekali ia ingin membeli apa yang dibutuhkan tanpa harus minta lagi.
"Sudah makan belum?"
Tanya Ibu.
"Sudah Bu, tadi sama Cita."
Jawab Adi.
"Ooh bagaimana kabar Cita?"
Tanya Ibu sambil kemudian mengajak Adi untuk duduk sebentar di ruang makan rumah mereka yang tak seberapa besar namun sangat nyaman.
"Tadi pagi Cita udah berangkat sekolah Bu, ada masalah sedikit dengan Desi, tapi Cita bisa menyelesaikannya dengan baik."
Ujar Adi.
"Masalah dengan Desi? Maksud kamu Desi pacar kamu?"
Tanya Ibu.
Adi menggeleng.
"Mantan Bu, Desi mantan Adi sudah sejak lama."
Ujar Adi kemudian.
Ibu mengerutkan kening.
"Bukannya baru kemarin-kemarin kamu mengenalkan Desi ke Ibu?"
Ibu nya Adi geleng-geleng kepala, niru siapa sebetulnya Adi playboy begitu, ganti-ganti pacar melulu.
Adi jadi tertawa kecil, meski sebetulnya ia jadi malu sendiri menyadari bolak balik mengenalkan Ibunya dengan pacar barunya.
"Namanya juga nyari yang sreg Bu."
Kata Adi akhirnya.
Meski sebetulnya alasannya berulangkali ganti pacar adalah untuk melihat reaksi Cita, namun nyatanya Cita selalu santai saja setiap kali tahu Adi jadian dengan gadis lain.
Cita sungguh tak peduli, seolah memang ia tak punya rasa pada Adi sama sekali.
Namun...
Hari ini...
Siapa sangka, saat Cita tanpa diduga justeru mencium pipi Adi lebih dulu.
Adi benar-benar merasa seperti mimpi di siang bolong.
Ibu nya Adi menghela nafasnya yang berat, lalu...
"Kamu bolak-balik ganti pacar begitu, jangan sampai pacaran dengan Cita juga Di."
Kata Ibu nya Adi.
Tampak Adi membelalakkan matanya.
"Ke... Kenapa Bu?"
Tanya Adi yang seketika wajahnya tampak begitu sedih.
Jelas kalimat Ibu itu seperti belum apa-apa sudah tidak direstui.
"Bukannya Ibu selama ini sangat dekat dan baik pada Cita."
Lirih Adi.
Ibu nya Adi tersenyum.
"Bukan masalah Cita nya Di, tapi kamu nya. Kasihan dia jika nanti merasa hanya buat main-main saja."
Adi menghela nafas.
"Ibu, aku ngga akan main-main sama Cita Bu."
"Ya, Ibu yang penting pesan itu saja. Jangan sampe main-main dengan Cita. Hidupnya sudah cukup berat, kasihan jika dia sampai harus ada masalah dengan kamu juga."
"Iya Bu... Adi akan berusaha ingat ini."
.
Ibu nya Adi tersenyum.
**---------**
Cita masih asik rebahan di atas tempat tidur kamarnya. Sementara Manda adiknya juga masih tampak sibuk main game di tablet milik Cita.
Saat kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar, dan tak lama setelah suara ketukan terdengar, tampak Bi Lastri yang membuka pintu dan kemudian melongok di pintu utama rumah.
"Non Cita, Ayah pulang."
Kata Bi Lastri memberi kabar.
Cita segera duduk.
"Apa? Ayah sudah pulang? Tumben."
Kata Cita.
Bi Lastri hanya tersenyum. Lalu...
"Ayah pulang dengan perempuan Non, Ayah minta saya memanggilkan Non Cita dan Non Manda sebentar untuk di kenalkan."
Kata Bi Lastri pula.
Perempuan?
Dikenalkan?
Untuk apa?
Batin Cita.
Cita menatap Manda yang tak peduli dengan semua yang sedang terjadi.
Bagi Manda setelah bermain game di tablet, semua akan terasa tak berguna.
"Ya nanti Cita datang, Cita mandi dulu."
Kata Cita akhirnya sambil bergegas meraih handuk untuk pergi ke kamar mandi.
Bi Lastri menghela nafas.
"Jangan-jangan nanti begitu tahu Ayahnya datang untuk mengenalkan perempuan yang untuk jadi Ibu tiri kedua anaknya itu, Nona Cita kabur dari rumah lagi."
Gumam Bi Lastri.
Tapi ....
Yah sudahlah, toh itu Ayah Non Cita dan Non Manda sendiri.
Lagipula rumah ini memang aslinya butuh Ratu rumah tangga, yang bukan hanya bisa merawat rumah. Tapi juga bisa menjadi penengah saat Cita dan Ayah ribut.
**---------**