Zia, gadis cantik paling populer di sekolah terpaksa harus menikah dengan Reynan, teman sekolahnya karena sebuah insiden.
Mereka harus terpaksa terpisah karena dendam masa lalu antar kedua keluarganya.
Lima tahun menghilang dan meninggalkan Reynand, Zia kembali bersama seorang anak lelaki yang sangat tampan.
Mereka bertemu kembali dan hampir bersama. Namun lagi-lagi sebuah kejadian terpaksa memisahkan mereka lagi.
Bagaimana akhirnya? Akankah mereka bersama atau justru takdir berkata lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Aniska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi menginap
"Mita!!!", cicit Zia saat pintu terbuka menampakkan Mita di dalam rumah.
"Zia udah datang nak, yuk masuk ada Mita juga. Kita mulai acara makam malamnya", sahut Marinka yang melihat keterkejutan menantunya.
"I iya mi eh tante", ucap Zia gugup.
"Mami?", cicit Mita mendengar Zia memanggil Marinka mami.
"Iya, tante emang minta Zia panggil mami sama kayak Reynand. Kamu juga kan dulu tante pinta buat panggil mami, tapi kamunya nggak mau", tutur mami Marinka menanggapi pertanyaan Mita.
"Yuk duduk sini, biar mami panggil papi dulu ya", ucap Marinka lagi lalu berjalan menaiki tangga.
"Sejak kapan lo deket sama keluarga ini Zi?", tanya Mita penasaran.
"E eemmm_"
"Sejak gue dapat bimbingan belajar dari Zia", potong Reynand yang mengetahui kegugupan istrinya.
"Ooo", Mita hanya menanggapi dengan o.
Di lantai atas, mami Marinka sedang mengajak kerja sama suaminya agar status Zia dan Reynand tak diketahui Mita.
"Pi, Rey sama Zia udah dateng. Tapi ada Mita juga di bawah", ucapnya.
"Terus?", tanya papi Adhiyasta tanpa menoleh karena sedang fokus pada layar laptopnya.
"Ya kita harus sandiwara kalau Zia itu cuma tamu. Mami ada ide, kita seolah ngundang Zia makam malam karena dia udah ngasih bimbingan belajar buat Rey", tutur mami Marinka.
"Iya terserah mami aja, papi ikut", jawab papi Adhiyasta singkat.
"Iya ikut, tapi awas sampai keceplosan", ancam istrinya.
"Emang papi gitu?", tanya papi Reynand itu sambil tersenyum menggoda istrinya.
"Bukan lagi, papi kan pelupa kalau soal ginian", sahut mami Marinka mencoba mengingatkan suaminya.
"Iya iya, papi akan ingat. Yuk turun, udah laper", sahutnya kemudian.
Mami Marinka dan papi Adhiyasta terlihat menuruni tangga. Di ruang makan tak ada percakapan lagi setelah Reynand menjawab pertanyaan terakhir Mita.
Sesekali Zia melirik ke arah Reynand, begitu pula sebaliknya.
"Maaf ya nunggu lama", ucap mami Marinka saat sampai di meja makan.
"Zia, Mita apa kabar?", sapa papi Adhiyasta menyapa Zia dan Mita.
"Baik om", jawab Mita dan Zia bersamaan.
"Ya udah yuk mulai makannya", ajak mami Marinka ketika melihat kecanggungan di antara mereka.
Mami Marinka mengambilkan makanan untuk suaminya, kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Reynand mengambil makanannya sendiri karena tak memungkinkan Zia melayaninya di depan Mita.
Mereka semua makan dalam diam. Tak ada percakapan dan hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Seusai makan malam, Zia membantu membereskan meja makan bersama Mita. Sedikit canggung suasananya karena Mita tak bersikap ramah pada Zia.
Zia membawa piring kotor ke tempat cucian piring lalu mencucinya. Mami Marinka yang melihat itu langsung melarang.
"Zia, udah biar bibi aja yang cuci piringnya, kamu ikut aja yuk ngobrol di ruang keluarga", ucap mami Marinka.
"Nggak apa-apa kok mi, cuma dikit kok", tolak Zia yang memang telah terbiasa mencuci peralatan seusai makan.
Mami Marinka tersenyum lalu berucap, "ya udah, ntar kalau udah selesai gabung aja ya ke depan tv".
Zia tersenyum dan mengangguk, "iya mi".
Di ruang keluarga, Reynand sedang ngobrol bersama papinya. Mita masih asyik mengotak atik gawainya.
Mami Marinka menghampiri ketiga orang tersebut. Duduk di sebelah Mita dan memulai perbincangan dengannya.
"Mit, mama kamu masih belum mau pulang ya?", tanyanya.
"Belum tan, nggak tau akan pulang kapan. Katanya masih pengen nenangin diri di sana", jawab Mita.
"Kalau kamu kesepian, kamu tinggal di sini aja. Kan bisa jadi temen ngobrol tante juga", pinta Marinka.
"Emm, Mita di rumah aja deh tan, kan ada bibi juga. Nanti Mita sering-sering deh main ke sini", tolak Mita atas permintaan tantenya.
"Iya udah kalau kamu maunya gitu. Pokoknya kalau ada apa-apa langsung kabari tante ya".
"Iya tante, pasti kok".
Tak selang lama, Zia datang membawa sebuah nampan berisi beberapa cangkir minuman.
Masing-masing satu cangkir teh untuk papi, mami, dan juga Reynand. Satu gelas jus jeruk kesukaan Mita dan segelas lagi jus alpukat untuk dirinya sendiri.
"Makasih ya nak Zia", ucap papi Adhiyasta menerima teh dari Zia.
"Thanks ya", sahut Reynand ketika disodori cangkir berisi teh oleh istrinya.
"Makasih lo sayang kamu repot-repot bikinin minuman", ucap mami Marinka tersenyum ke arah Zia.
"Nggak repot kok mi, maaf ya Zia lancang langsung bikin aja", cicit Zia merasa nggak enak di depan Miat.
"Eehh nggak apa-apa lo, mami seneng malah".
Mita tersenyum lalu menyerahkan segelas jus jeruk pada Mita, "nih Mit buat lo".
"Thanks", jawab Mita singkat.
Obrolan ringan pun berlanjut hingga malam beranjak. Mita yang menyadari hari telah cukup larut lalu berpamitan hendak pulang. Namun karena terlalu malam, Marinka tak memberi ijin.
"Nggak usah pulang lah Mit ini udah malem banget lo", larang mami Marinka.
"Kamu nginep aja, sama Zia juga. Nanti kan kalian bisa tidur di satu kamar", ucapnya lagi yang membuat Reynand seketika melototkan mata ke arah maminya.
"Lain kali aja deh tan, lagian besok kan harus sekolah", tolak Mita.
"I iya mi, Zia juga kan besok harus sekolah",sahut Zia nampak gugup.
Reynand menatap sekilas ke arah Zia. Zia tersenyum kikuk mendapat tatapan horor dari suaminya.
"Ya udah deh, kalau gitu kamu diantar aja ya sama supir. Tante nggak tega kamu pulang sendiri, ini udah terlalu malem", ucap Marinka membelai rambut Mita lalu dijawab anggukan oleh Mita.
"Zia, kamu sama Reynand aja ya, kan tadi yang bawa kamu ke sini Rey jadi kalau pulang ya sama Rey", ucapnya berganti menatap Zia sambil mengedipkan sebelah matanya.
Zia yang mengerti dengan kode yang diberikan oleh mertuanya itu lalu mengangguk mengiyakan.
"Ya udah kalau gitu, gue anter sekarang aja ya", ucap Reynand sambil berdiri.
Zia mengangguk lalu berpamitan pada kedua orang tua Reynand yang juga mertuanya itu.
Reynand dan Zia berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di depan pintu.
Tak lama, Mita pun keluar diantar mami Marinka sampai teras rumah.
Ia menaiki mobil yang telah disiapakan supir keluarga Adhiyasta.
Sementara Zia dan Reynand yang berada dalam mobil yang diparkirkan tak jauh dari rumah orang tuanya, berharap Mita segera pulang.
Saat menunggu mobil yang ditumpangi Mita keluar dari gerbang rumah, Zia melihat ada penjual martabak. Ia merasa sangat ngiler melihatnya.
"Rey", panggil Zia pada suaminya yang asyik memainkan game.
"Hem", jawab Reynand.
"Pengen itu", ucap Zia sambil menunjuk kedai martabak.
"Ya udah beli", sahut Reynand setelah melirik sebentar ke arah telunjuk Zia.
"Beliin", rengek Zia manja.
"Manja", sahut suami tak beranjak.
"Iiihhh, ya udah mana uangnya?", sewot Zia mengulurkan tangannya meminta uang pada suaminya.
Reynand tak menjawab. Satu tangannya tetap mengendalikan game dan satu tangannya lagi meraih dompet di sakunya.
Ia kemudian menyerahkan dompet itu pada istrinya.
"Gue minta duit, bukan dompet", ucap Zia saat Reynand menyerahkan dompetnya.
"Ya duitnya ada di dalem lah", jawab Reynand tanpa beban.
"Tapi_", ucapan Zia terpotong.
"Udah buruan, keburu malem banget nih", Reynand memotong aksi protes Zia.
Bukan apa-apa Zia enggan membawa dompet Reynand. Ia hanya tak terbiasa membuka dompet orang lain. Meskipun kini Reynand adalah suaminya, tetap saja ia belum terbiasa.
Namun Zia tetap membuka dompet Reynand mengambil uang untuk membeli martabak itu karena ia sama sekali tak membawa uang.
Itulah Zia, jarang sekali membawa uang tunai. Ceroboh memang. Tapi kali ini karena ia pikir ia sedang pergi bersama suaminya.
Zia kembali ke dalam mobil membawa dua kresek berisi martabak.
Satu kresek berisi tiga box martabak manis dan kresek lainnya berisi tiga box martabak telur.
"Udah yuk pulang, kayaknya tadi gue udah lihat mobil yang nganter Mita udah keluar", ajak Zia sambil duduk di kursi samping Reynand.
"Lo udah belinya?", tanya Reynand masih belum menoleh.
"Udah, nih dompet lo", jawab Zia menyodorkan kembali dompet suaminya.
"Astaga Zi, lo beli makanan segini banyak buat apa?", ucap Reynand terkejut dengan bawaan Zia.
"Heheee, pengen semua", jawab Zia cengengesan.
"Yakin habis?", tanya Reynand lalu melajukan mobilnya menuju rumah kembali.
"Nggak tau ntar, kan ada mami sama papi juga", elak Zia agar tak diomeli Reynand.
Tak lama mobil masuk pekarangan. Zia dan Reynand langsung masuk ke rumah.
Zia menenteng dua kresek itu dengan semangat.
"Kalian tadi ngumpet dimana?", suara mami Marinka sedikit mengagetkan Zia.
"Eh mami, nggak jauh kok cuma di dekat tikungan situ", jawab Zia.
"Itu apa sayang kok banyak banget?", tanya mami Marinka melihat tentengan menantunya.
"Hehe, martabak mi, Zia pengen rasain semua mi. Mami mau?", jawab Zia malu-malu lalu menawari mertuanya.
"Nggak deh sayang mami kenyang. Ya udah kamu istirahat gih, susul Rey di kamar. Tuh no dua sebelah kiri" jawab mami Marinka menunjukkan kamar putranya.
"Iya mi, Zia ke kamar dulu ya", pamit Zia dan dijawab anggukan oleh mertuanya.
"Ah jadi juga gue nginep di sini, gue pikir gagal", gumamnya sambil menaiki tangga.
Zia menyusul Reynand ke kamar. Reynand sudah membaringkan badannya di atas kasur. Zia masih ingin menyantap makanan yang tadi ia beli.
Entah mengapa ia sudah sangat lapar padahal baru saja menyantap makan malam.
Zia menghabiskan hampir semua bungkusannya. Hanya tersisa beberapa potong saja. Setelah kenyang ia segera menggosok gigi dan menyusul suaminya tidur.
2 likes mendarat dariSAHABAT TAK KASAT MATA😍