"Saat ini aku sedang mengandung anak, Zian. Dan aku tidak ingin menikah denganmu!!"
"Gugurkan anak itu, atau ku bunuh kau?!"
"Memang lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan orang sepertimu!!'
-
Sherly Garcia Davis adalah putri tunggal dalam keluarga Davis. Dara cantik keturunan Korea-Amerika ini di paksa oleh kedua orang tuanya untuk menikah dengan putra sulung keluarga Lu.
Sherly yang tidak ingin mempermalukan keluarga dan nama baik ayahnya terpaksa menerima perjodohan itu. Sherly yakin jika cinta bisa tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Satu tahun mereka bertunangan, namun tidak ada cinta di hati Sherly untuk Marcell. Sherly tidak bisa melupakan pemuda itu, Sahabat yang merangkap menjadi cinta pertamanya. Pemuda yang tiba-tiba menghilang setelah mendengar ia akan bertunangan dengan orang lain.
Satu tahun kemudian mereka kembali di pertemukan. Dan siapa yang menduga jika brandalan tampan nan cantik yang telah mencuri hatinya adalah adik kandung dari pria yang menjadi tunangannya.
Mampukan Sherly mengendalikan perasaannya? Dan apakah kali ini takdir akan berpihak pada cinta mereka? Dan apakah Marcell akan melepaskan Sherly untuk adiknya dan merelakan mereka hidup bahagia??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Mengharukan
Langit baru saja menghentikan tangisnya.
Halaman rumah berwarna putih itu masih dipenuhi tetes-tetes air pada tiap pucuk rumputnya. Sementara tanah kecokelatan basah di bawah hijau rumput menguarkan aroma petrichor yang terlalu pekat hingga membumbung ke udara, menciptakan samar kabut putih yang nyaris tak tertangkap netra manusia.
Hujan malam ini memang tak menyisakan apa-apa, kecuali aroma petrichor yang terbawa angin dan menyapa ventilasi, sebelum akhirnya terhirup oleh organ respirasi.
"Ken," Suara sosok lain yang terbawa udara mendadak menggetarkan organ auditorinya, memaksanya dengan rela untuk melepas atensinya dari pemandangan setelah hujan di luar jendela.
Ken menoleh dan membiarkan binernya menyusur dan berhenti di sepasang netra cerah milik sosok yang saat ini tengah berjalan menghampirinya. "Kau belum tidur" tanya Ken pada sosok itu yang pastinya adalah Sherly.
"Aku tidak bisa tidur. Begitu banyak hal yang mengganggu pikiranku. Lalu kenapa kau sendiri belum tidur?" ucap Sherly balik bertanya. Mata mereka saling bersirobok. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya Sherly lagi.
"Kakak kandungku. Aku memikirkan bagaimana kehidupannya selama ini, dia yang seharusnya hidup dalam kemewahan malah harus menjalani hidup yang sulit. Dan hal itu membuatku gila,"
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan bajingan itu!! Bagaimana bisa dia memisahkan seorang anak dari keluarganya hanya demi kepentingan pribadinya. Rasanya aku ingin meledakkan kepalanya." Ujar Ken lalu memukul tembok di sampingnya dengan kepalan tangannya.
"Ken, tahan emosimu." Pinta Sherly mencoba menenangkan kekasihnya itu. "Kita tidak boleh emosi di saat seperti ini. Kita harus berpikir dengan jernih. Aku akan mencoba mengundur pernikahanku dengan bajingan itu sampai kita menemukan kakak kandungmu."
"Sebaiknya batalkan saja pernikahan itu,"
"Dan mengacaukan semua rencana yang telah kita susun dengan matang?!" Sherly menyela cepat.
Gadis itu menggeleng. "Tidak, Zian. Kita harus melanjutkan rencana ini, kita harus memberikan imbalan yang setimpal pada mereka berdua." Ujar Sherly sambil menakup wajah Zian dan mengunci mata coklatnya.
Zian menurunkan tangan Sherly dari wajahnya lalu beranjak dan meninggalkan gadis itu beberapa langkah di belakangnya.
"Tapi tetap saja aku tidak bisa merasa tenang. Hal ini terlalu beresiko untukmu. Aku mengenal bajingan itu dengan baik, Sher. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika hal buruk sampai terjadi padamu."
Sherly mendekati Zian lalu menakup wajahnya. Matanya mengunci mata milik Zian yang juga menatap padanya. "Percayalah padaku, aku pasti bisa menjaga diriku dengan baik. Dan aku tidak akan tinggal diam apalagi membiarkan bajingan itu menyentuhku."
Zian membawa Sherly ke dalam pelukannya. Kedua tangannya memeluk tubuh Sherly dengan erat. Sherly tersenyum, dengan senang hati dia membalas pelukan Zian.
-
Zian, Lu Nam, Shelry dan Maria baru saja menginjakkan kakinya di kampung nelayan di Cheongsapo, Busan. Mereka langsung menuju lokasi yang di duga sebagai tempat kakak kandung Zian berada.
Sebelumnya Sammy dan Sean telah menyelidikinya terlebih dulu. Dan mereka menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Jika ternyata ayah kandung Sherly masih hidup, dan dia adalah orang yang telah menyelamatkan kakak kandung Zian ketika dia hendak di buang oleh orang-orang suruhan Benny dan yang merawatnya selama ini.
Begitu banyak misteri yang masih belum terpecahkan namun mulai menemui titik terang. Tapi itu tidaklah penting sekarang, yang paling penting adalah menemui mereka terlebih dulu.
Ketukan pada pintu menyita perhatian dua orang yang sedang menyantap makan siangnya. Seorang pria muda bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung ke rumah sederhananya.
Jantung Lu Nam berdetak kencang dan matanya terlihat berkaca-kaca melihat sosok pria berkulit putih yang berdiri dihadapannya. Pria itu menatap mereka satu persatu. "Maaf, kalian siapa dan ada keperluan apa kalian datang ke mari?" tanya pria itu penasaran.
"Devan, memangnya siapa tamunya kenapa tidak di ajak masuk." Seru seseorang dari arah belakang.
Mendengar suara yang begitu familiar itu membuat Maria terpaku. Apakah Maria mengenali suara itu? Tentu saja, meskipun 24 tahun telah berlalu, namun ia masih mengingat betul suara pria yang ia cintai hingga detik ini.
Maria melewati pemuda bernama Devan itu dan masuk ke dalam rumah sederhana tersebut. Maria dan pria itu sama-sama terkejut ketika mata mereka saling bersirobok dan memandang dalam diam. Air mata Maria sudah tidak bisa terbendung lagi.
Dengan langkah tertatih, Maria menghampiri pria itu yang pastinya adalah ayah kandung Sherly. "Daniel," ucap Maria dengan lirih. Maria menghampiri pria itu dan langsung memeluknya.
Sementara itu, Sherly yang melihat pertemuan itu tak bereaksi sama sekali. Dia bingung harus bagaimana, dia hadapannya berdiri seorang pria yang dia ketahui sebagai ayah kandungnya. Orang yang selama ini telah diyakini telah tiada.
Dan yang tak bisa Sherly mengerti, jika dia memang masih hidup. Lalu kenapa Ayahnya itu tidak pernah datang menemuinya. Dan memilih bersembunyi.
Di saat Sherly masih terlarut dalam pikirannya. Zian dan tuan Lu justru memfokuskan pandangannya pada sosok Devan yang tampak kebingungan karena mereka berdua terus menatapnya. Dan hal itu membuat Devan merasa tak nyaman dan juga gugup.
Devan mempersilahkan mereka untuk masuk. Baru saja Devan hendak membuat minum untuk para tamunya, namun langkahnya di hentikan oleh Zian.
"Hyung, tunggu." Serunya. Devan pun berhenti kemudian berbalik dan tersenyum tipis.
"Ada apa ya?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Devan, Zian malah langsung memeluknya. Membuat Devan kebingungan. Namun ada dorongan dalam hatinya untuk membalas pelukan itu.
Hangat dan nyaman... Dua hal yang Devan rasakan ketika Zian memeluknya. "Aku senang karena akhirnya bisa bertemu denganmu."
"Maaf, tapi apa yang kau katakan? Aku sungguh tidak mengerti." Ucapnya polos.
Zian melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar. Senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain selain pada Sherly dan papanya.
Tuan Lu bergabung bersama kedua putranya. Ayah dua anak itu tersenyum lebar pada Devan, senyuman yang membuat hati Devan menghangat. "Mungkin kau merasa bingung, Nak. Intinya kita adalah keluarga," Devan hanya mengangguk, menyikapi ucapan tuan Lu.
Tanpa mengatakan apapun. Sherly beranjak dari sana dan pergi begitu saja. Tapi sepertinya Daniel tidak membiarkannya. Pria itu segera menyusul putrinya.
"Sherly, tunggu..."
.
.
.
Daniel memeluk putrinya dengan begitu erat. Setelah 23 tahun akhirnya dia bisa memeluk Sherly setelah selama ini hanya bisa menatapnya dan memperhatikannya dari kejauhan.
Daniel sudah menjelaskan semuanya pada Sherly mengenai alasannya tak tak pernah muncul di hadapannya secara langsung dan terang-terangan. Tapi dia selalu datang ketika Sherly ulang tahun dan melihatnya dari jauh.
"Papa sungguh-sungguh minta maaf, Nak. Bukan maksud Papa tidak ingin bertemu denganmu, tapi keadaanlah yang tidak memungkinkan. Kau sudah memiliki kehidupan yang sangat baik, jadi bagaimana Papa bisa merusaknya dengan masuk ke dalam kehidupanmu."
"Itu bukan alasan, Pa. Seharusnya Papa mengatakannya dan menemuiku lebih awal. Jujur saja aku sangat kecewa pada Papa. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Papa, Papa..Aku menyayangimu." Tangis Sherly semakin pecah ketika dia memeluk ayahnya.
Daniel membalas pelukan Sherly dan ikut menangis juga. Mengatakan jika dia juga sangat menyayangi Sherly. Maria yang melihat dari kejauhan tak bisa menahan rasa harunya melihat pertemuan mengharukan antara Sherly dan ayah kandungnya.
Maria menyeka air matanya dan bergabung bersama mereka. Maria seperti mendapatkan kembali hidupnya setelah dia mengetahui jika Daniel ternyata masih hidup.
Maria tidak ingin berpisah lagi dengannya. Keluarga kecilnya akhirnya utuh kembali. Dan itu adalah hal yang sangat membahagiakan untuknya.
-
Bersambung.