NovelToon NovelToon
Trauma

Trauma

Status: tamat
Genre:Teen / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Pyrus

Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.

Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.

Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.

Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.

Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktu tambahan

"Sini dek, kalian para cewek siapin aja ya buat makan malam nanti. Ini biar abang yang masang." Ucap Deni yang melihat Lana, Nisa dan Sintya kesusahan merakit tenda mereka.

"Makasih sayang," elus-elus manja tangan Deni. Sintya begitu bersyukur dia mempunyai pacar yang perhatian walaupun kadang suka menjahilinya sampai dia ngambek sudah keterlaluan.

"Makasih doang nih?" cengir Deni pada Sintya.

"Ihhh apa sih yang, malu kali dilihat yang lainnya," jawab sintya malu-malu, memutarkan matanya pada yang lainnya dan mencium pipi Deni.

"Yaelah abang. Masih aja mesra-mesraan. Kan Lana jadi pengen.hahaha," celetuk Lana yang melihat adegan abangnya dengan sang pacar.

"Kamu ngga boleh. Kalo mau sini abang yang cium." Pelotot Deni pada adeknya.

"Ogah jijik banget." Timpal Lana.

Deni tak jadi melanjukan merakit tenda, ia malah sekarang main kejar-kejaran dengan Lana.

Nisa berinisiatif untuk melanjutkannya. Tangannya dipegang Faiz sebelum dia menyentuh tenda yang belum berdiri itu.

"Sini biar gue aja. Lo bantu Sintya aja," kata Faiz cuek.

Matanya tertuju pada tangannya yang masih dipegang Faiz, yang kemudian Faiz lepas saat sadar telah dilihat Nisa "Eh maaf" kata faiz kikuk.

"Kalo gitu Nisa bantuin Kak Sintya ya kak" ucap Nisa merusah kecanggungan.

Faiz hanya mengangguk merespon Nisa.

Tenda laki-laki sudah jadi dirakit oleh Aldi. Setelah itu, Aldi menghampiri Nisa dan Sintya, "Mau gue bantuin ngga?" tanyanya pada Nisa dan Sintya yang masih mempersiapkan peralatan masak.

"Lo bantuin buat api unggunnya deh Al, buat bakaran nanti." Jawab Sintya yang kesusahan membuatnya, padahal sudah dengan Nisa.

Aldi bejongkok di samping Nisa yang berusaha untuk membuat api unggun. Dia ketawa sendiri karena Nisa yang bingung sendiri dengan apa yang disusunya, dia tak pernah membuatnya sebelumnya.

Sintya yang tahu akan kedekatan Aldi dan Nisa berpamitan untuk mengambil peralatan lain yang masih ada di motor mereka. Sebagai alasan karena dia hanya tak mau mengganggu Nisa dan Aldi.

"Kak Aldi tega nih ngetawain Nisa." Nisa hampir menyerah menyusun kayu-kayu di depannya.

"Habisnya kamu lucu. hehh." ketawa Aldi berubah menjadi senyum. "Biar aku aja sini, kamu tinggal lihat aku aja," godanya pada Nisa.

Nisa melihat Aldi, menahan merah di pipinya.

Akhirnya semua siap.

Hari sudah sore, terlihat awan pantai yang sudah berwarna jingga di bagian barat. Matahari sudah begitu lelah dan ingin beristirahat dari tugasnya hari ini.

Awalnya mereka mengagendakan untuk menyusuri pantai kali ini. Namun kakak beradik yang sudah lapar akibat kejar-kejaran tadi, akhirnya membuat makanan dahulu untuk mengisi perut mereka.

Deni membacalan puisi yang dibuatnya untuk Sintya dengan spontanitas tanpa harus persiapan terlebih dahulu. Hal itu wajar karena memang Deni dari kelas bahasa, apalagi dia juga suka dengan hal-hal yang berbau romantis. Hehehe

Biarkan aku menjadi langit.

Yang senantiasa menyambut kehangatanmu dengan fajar.

Dan menikmati keindahanmu saat senja.

Matahariku...

Semuanya bertepuk tangan dengan puisi yang dibawakan Deni, ya walaupun tahu puisi itu hanya untuk kekasihnya Sintya. Namun semuanya menikmatinya dan membuat Sintya senyum-senyum sendiri.

Setelah Deni selesai, Faiz memainkan gitar yang sudah dipangkuannya saat ini. Memetik senarnya sehingga menimbulkan nada yang sekarang sedang populer. Sementara yang lainnya antusias untuk menyanyikan liriknya dengan gembira. Mereka semua tahu lagu itu, apalagi Lana yanh sudah bergaya seperti penyanyi aslinya.

Berbeda dengan Nisa, walaupun dia tahu dengan lagu itu, namun dia bernyanyi hanya sewajarnya saja sambil bertepuk tangan seperti yang lainnya.

Nisa menyukai kehangatan dan keseruan saat ini. Mengapa dia tidak dari dulu dekat dengan teman-temannya jika rasanya semenyenangkan ini. Nisa agak sedikit menyesal.

Semuanya berhenti saat merasa kelelahan dan kantuk yang sekarang menyerangnya. Sintya sudah berkali-kali menguap sebagai tanda bahwa matanya sudah tak sanggup dan meminta untuk ditutup.

Begitupun dengan Lana, dia juga merasa sudah mengantuk dan mengikuti Sintya masuk ke tenda. Merebahkan tubuhnya. Diikuti oleh Nisa juga.

"Udah kalian tidur aja. Gue masih belum ngantuk." Ucap Aldi pada Faiz dan Deni.

Faiz berikan gitar yang dipegangnya pada Aldi, dan meninggalkan Aldi sendirian.

Selang beberapa menit, Nisa keluar dari tenda cewek. Aldi yang melihatnya langsung meminta Nisa untuk duduk di dekatnya.

Nisa mengambil gelas berisi kopi susu yang diberikan oleh Aldi. Dia minum dengan hati-hati agar lidahnya tidak kepanasan karena terkena suhu kopi susu yang masih panas. Lumayan untuk sedikit meredakan hawa dingin yang menyentuhnya.

"Belum bisa tidur ya?"

"Heem kak," anggukan Nisa yang masih memegang gelas dengan kedua telapak tangannya.

"Gue nyanyiin lagu ya. Tapi permainan gitarku ngga sebagus Faiz."

"Boleh kak."

Nisa mendengarkam dengan seksama melodi yang dihasilkan dari gitar itu. Aldi memainkan lagu bergenre romantis.

"Lagu ini aja dulu yang ngajarin pertama kali Faiz, hehehe.

Oh iya, aku denger kamu suka baca novel ya Nis?" Lana memang suka cerita tentang Nisa kepada Aldi tanpa sepengetahuan sahabatnya itu. Karena dia teramat mendukung jika Aldi yang sudah Lana anggap sebagai kakaknya sendiri bisa bersama Nisa, yang memang gadis yang dia suka.

"Iya kak. Aku suka baca novel ketimbang baca pelajaran, apalagi matematika" dengus napas Nisa.

"Kak, maaf ya sekali lagi Nisa belum bisa beri kakak jawaban terkait waktu itu."

"Udah jangan dipikirin terus masalah itu. Lihat kamu yang udah mulai bisa tersenyum saja sudah membuatku bahagia.

Jujur aku ngga tega lihat kamu nangis kayak kemarin Nis" kata Aldi pelan.

"Maaf ya kak, jadi buat Kak Aldi sedih lihat Nisa kemarin." Pandang Nisa ke arah Aldi.

"Janji ya jangan sedih terus. Kamu sekarang ngga sendiri Nis, ada aku, Lana, Deni, dan Faiz. Kita pasti dukung kamu untuk ngelewatin itu semua."

"Nisa bersyukur disaat Nisa sedang terpuruk, Lana datang di hidup Nisa. Lana seperti membawa kebahagiaan buat Nisa. Dia yang sabar sama cueknya Nisa.

Ada Kakak yang mau mengerti Nisa. Juga ada Kak Deni dan Kak Faiz."

"Kalau bagi Deni Sintya adalah Matahari, bagiku kamu adalah rembulan Nis. Kamu butuh waktu yang tepat untuk menampakkan purnamamu, butuh proses yang panjang untuk memaksimalkan cahayamu. Walaupun saat difase yang tidak sempurnapun, ombak lautan membutuhkanmu untuk sampai pada pantai."

Keduanya memandang bulan yang saat ini masih dalam bentuk sabit, masih belum sempurna.

Jari Aldi diarahkan ke Nisa, meminta Nisa untuk berjanji bahwa akan mengalahkan rasa sedihnya, mengalahkan pikirannya yang selalu mengingat kejadian kepergian orang tuanya yang membuatnya begitu trauma.

"Janji... " ucap Aldi.

Nisapun menautkan kelingkingnya, menampakkan senyuman dari bibir tipisnya. Mengangguk dua kali, yang mengartikan bahkan ia akan mencobanya.

Aldi tersenyum lega.

"Sampai kapanpun aku akan setia meunggu jawabanmu Nis. Entah itu akhirnya kau akan menerima ataupun menolakku, aku akan menerimanya dengan lapang. Kutahu perasaan memang tak bisa untuk dipaksakan." Batin Aldi. "Yaudah sana tidur. Apa mau ikut jaga sampai pagi?" Aldi melepaskan rangkulannya pada Nisa.

"Kakak nggapapa aku tinggal?"

"Ngapapa, nanti aku bisa bangunin Faiz sama Deni kalo udah ngantuk."

Nisa kembali ke tendanya, mencoba untuk memejamkan matanya yang lelah namun tetap saja tak bisa tidur.

Dia merasa bahwa sudah keterlaluan dengan Aldi. Aldi sudah terlalu baik padanya. Otaknya ingin menerima Aldi, tapi kenapa hatinya masih saja bimbang. Meskipun Aldi tak mempermasalahkannya, tetap saja dia merasa begitu egois dan tega pada perasaan Aldi. Entah berapa lama lagi dia akan menggantungkan perasaan Aldi.

Nisa ingin menerima, namun hatinya masih disibukkan dengan kacaunya perasaannya saat ditinggalkan kedua orang tuanya.

Lana menguap dengan lebar sambil merentangkan tangannya ke arah Nisa dan Sintya "Lo udah bangun dari kapan Nis?" melihat Nisa yang sudah membuka matanya.

"Ayo cewek-cewek kita jalan yuk mengusuri pantai." Deni membuka tenda cewek.

Mendengar suara Deni, Sintya terbangun dari mimpinya.

"Good morning sayang.. "sapa Deni.

"Yuk lah. Gue tunggu ya. Gausah dandan, ntar. kemaleman." celetuk Deni lagi.

"Buset dah bang, emang mau ngelenong dandan dari pagi sampe malem." Timpal Lana pada abangnya yanh sudah berjalan tiga langkah meninggalkan tenda.

Meraka menyusuri pantai dengan langit yang masih merah dari arah timur. Kemudian membasahi badan mereka dengan saling lempar air yang berasa asin itu. Serta membangun kerjaan pasir yang berakhir bersama-sama.

Setelah hari sudah semakin panas, mereka segera mengemasi barang-barang mereka dan meninggalkan tempat itu.

"Nisa.. Nis." Panggil Aldi yang mengetahui kalau Nisa tertidur di belakang lewat spionnya. Karena Nisa tak menjawab, Aldi memyeret tangan Nisa secara bergantian untuk berpegangan dengannya. Dia tetap menjaga tangan Nisa agar tidak lepas dari pinggangnya dengan tangan kirinya. Aldi takut kalau Nisa jatuh walaupun ia lajukan motornya dengan pelan.

Sementara Faiz yang berpasangam dengan Lana malah melajukan motornya dengan cepat sehingga memacu adrenalin keduanya. Lana tak takut, malah berteriak kegirangan melawan angin yang menerpanya. Merentangkan kedua tangannya untuk merasakan sejuk udara.

Nisa bangun saat merasakan tangannya yang berpindah. "Kak Maaf Nisa ketiduran," teriak Nisa agar Aldi dapat mendengarnya.

"Iya nggapapa, pegangan!" jawab Aldi dengan suara lantang.

Nisa mengikuti omongan Aldi, sedangkan Aldi meletakkan tangan kirinya kembali ke stang motor.

1
mama yogi
Nisa nya terlalu di buat lembek
ANAA K
Boomlike mendarat mulus ka😉👍🏾
ANAA K
Keren
ANAA K
The best👍🏾
ANAA K
Wah keren👍🏾
ANAA K
Semangat selalu👍🏾
ANAA K
Aku mendukungmu kak👍🏾
ANAA K
Semangat yah kak
ANAA K
Boomlike hadir thor👋🏾 jangan lupa mampir yah😉🙏🏿 mari kita saling mendukung👍🏾😉
ANAA K
Semangat yah🙏🏿
ANAA K
Lanjut thor👍🏾 ceritanya keren😉👍🏾
ANAA K
Semangat yah thor😉👍🏾
ANAA K
Semangat thor. Aku mendukungmu thor😉👍🏾
Fania kurnia Dewi
mampir thor
Santai Dyah
lnjut thor salam kenal dari Kabut cinta
Rini Haryati
teimakasih
Rini Haryati
bagus
Ummi Islah
sad bangettt thor😢😢😢😢
TickleStar
Ceritanya menarik, nih! Boleh kali thor dilanjut?
Daisy Louise
Ceritanya bagus, kok, thor. Jangan lupa perhatiin tanda baca ya, hehe.. Fighting fighting kakak author‾
Pyrus: Terima kasih 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!