Sebuah desa yang penduduknya paling sedikit, berpenghasilan rendah namun hampir semuanya memilki rumah yang bagus, hidup santai dan kehidupan sehari-hari pun terpenuhi.
Tetapi penduduk desa lain enggan tinggal di sana dan mereka mengaku jika memandangi desa itu awalnya tampak indah dan tenang namun semakin lama auranya semakin aneh seperti ditutupi oleh awan gelap.
Tina memilih ikut pindah bersama keluarganya untuk membuka lahan pertanian setelah menyelesaikan kuliahnya dari jurusan agribisnis. Desa itu adalah tempat neneknya dari ayahnya. Dia memliki seorang adik berumur sembilan tahun dan akan pindah sekolah di sana.
Sebagai pendatang Tina pergi ke berbagai tempat di desa itu hingga dia berhenti di sebuah gubuk yang penuh darah dan sesajen. Dengan perasaan tak tenang dia keluar dari sana namun diluar seorang pria dan wanita tua dan pendek menunggunya. Tubuh mereka yang pendek karena tulang punggung yang bungkuk hampir seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna 020, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Ritual Penyembuhan Sani
"Tempat itu pasti ada kaitannya dengan hal mistis di desa ini"
"Jelas-jelas saya melihat bayangan hitam orang-orang yang berkumpul di rumah Pak Jaya" ucap Tina di rumah Pak Iman menceritakan semua yang dia lihat kecuali tentang peta itu.
"Itu belum pernah saya dengar sama sekali dan sudah sangat beruntung kalian bisa selamat dari sana"
"Tentu aura mistis disana sangat kuat" ucap Pak Iman.
Mereka akan menemui Sani besok harinya karena hari sudah mulai gelap dan Tina untuk sementara tinggal di rumah Pak Iman.
Tina merebahkan tubuhnya karena sudah kelelahan dan kakinya yang terluka.
"Sudah berapa kali kakiku terluka di sini" ucapnya mencoba tidur.
"Kenapa kamu tidak menusuk ku dengan keris itu... Aku akan menyelamatkan desa ini... Cepat!! Atau aku juga akan musnah... "
Setumpukan air yang melayang-layang di atas kepala Tina dan dari kejauhan banyak warga tubuhnya terbakar dan seakan semuanya lenyap.
"Tolong... tolong...!!" teriak mereka ke arah Tina, sedangkan Sani Ibunya diikat di batang pisang yang sudah tak berdaya lagi.
"Ibu....!!!" teriak Tina terbangun dari tidurnya.
"Mimpi apa itu.." dia bergerak bangun dan jarum jam masih berada dipukul dua malam.
Mengambil segelas air dingin dan...
"Tok.. tok... tok... " suara dari pintu.
"Siapa jam segini datang bertamu" ucapnya bergerak ke arah pintu.
Dia membuka namun tak seorang pun ada di sana, melihat sekitar halaman dan hanya suara jangkrik yang terdengar.
Dia menoleh ke kelakang sepasang bola mata bercahaya dari semak-semak arah depan dan samping.
"Ada siapa disana? Apakah ada orang?" namun tak ada jawaban dan mata itu masih menatap ke arahnya.
"Pekk..." seekor burung menabrak kepala Tina dan jatuh ke lantai.
Burung itu persis dengan yang dia lihat di hutan, dengan cepat dia masuk ke dalam.
"Tok.. tok.. tok.. "
"Pak Iman, bangun...! Seseorang sedang berada di luar" sahutnya mengetuk pintu kamar Pak Iman.
Dino membuang bangkai burung itu dan menaburkan serbuk putih sekeliling halamannya.
Setiba mau masuk ke dalam leher Pak Iman seperti sedang ditarik ke belakang, tampak iya menahan sesuatu di lehernya.
"Pak... ada apa?" teriak Tina, dia membantu menarik Pak Iman ke dalam namun semakin tertarik ke belakang.
"Ambil.. kan..air dalam kendi.. " ucap Pak Iman berusaha bertahan.
Tina bergegas ke dalam mengambil kendi di meja yang dia tak tahu apa isinya. Pak Iman memberikan isyarat untuk menyiramnya dengan air itu.
"Blurr..... " Pak Iman terjatuh dan terlepas dari mahluk tak kasat mata itu.
Di lehernya tersamar bekas cekikan sepasang tangan berwarna abu-abu kemerahan.
"Ini peringatan buat saya.. Segera buat ramuan obat itu ke Ibumu sebelum mereka menyerang kita" ucap Pak Iman menahan rasa sakit.
Besok malamnya di rumah Pak Daus...
Keadaan Sani semakin memburuk, tubuhnya lemas bahkan menelan makanan saja sudah sangat sulit. Pengobatannya akan segera dimulai tepat pukul dua belas malam.
Semua persiapan telah dilakukan, kurban hewan kambing putih dan ramuan permandian untuk Sani telah tersedia.
"Ibu. Ibu hanya perlu percaya bahwa Ibu akan sembuh dan dapat melawan mereka semua"
"Ibu lebih kuat dari mereka dan kita akan pindah dari sini" ucap Tina memegang erat tangan Sani.
Pak Daus membacakan mantra pembuka dengan mengarahkan tongkat ke atas.
Perlahan Pak Daus seperti kerasukan, badannya kaku, gemetar dan matanya terpejam.
"Itu adalah roh nenek moyangnya yang masuk ke dalam tubuhnya"
"Dia hanya datang jika dipanggil untuk membantu menyembuhkan orang sakit" bisik Pak Iman ke Tina.
Pak Daus mendekati Sani dan menekan ujung kepalanya dan kepala Sani menghadap ke atas seakan kerasukan.
"Keluarlah... sebelum kau ku musnahkan.... !!!" teriak Pak Daus dan tak henti-hentinya membacakan mantranya.
"Ibu...!!" teriak Tina yang tak tega melihat Sani seperti bukan dirinya lagi.
"Pak Iman memaksa Sani membuka mulutnya untuk diberikan minuman darah anak kambing. Tubuh Sani menolak dan memuntahkan, lagi Pak Iman memaksa untuk diminum dan tiba-tiba Sani tertunduk seperti tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi dengan Ibuku.. !!" sahut Tina.
"Dia tidak apa-apa, darah itu hanya menyesuaikan ke tubuhnya" ucap Pak Iman menenangkannya.
Pak Daus membacakan mantra lagi dan mengambil air ramuan dan menyiram ke tubuh Sani.
"Enyalah dari tubuh ini...!! Sesungguhnya tempatmu bukanlah di daging ini....!" ucap Pak Daus.
Lagi Sani tertunduk dan terdiam, namun dia tak bergerak lebih lama dari yang sebelumnya.
"Sani.... Bangunlah, tubuhmu sudah bersih" ucap Pak Iman dan masih belum ada jawaban.
"Aku tau kamu masih di dalam.." ucap Pak Daus mendekat dan...
"Aaa.....!!"Sani seakan terbang mendorong Pak Daus dengan mencekik lehernya hingga terbentur ke dinding.
Ini bukanlah yang mereka duga sebelumnya, Tina hanya terbelanga melihat Ibunya.
"Jangan coba-coba berurusan denganku atau kamu akan mati... " ucapan keluar dari mulut Sani.
"Ibu...! Hentikan semuanya... " teriak Tina, mata menatap ke arahnya dan mendekat.
"Anak bodoh... " Sani melempar tubuh Tina dengan kuat dan dia pingsan.
Tina tak sadarkan diri, terbaring dipojokan.
"Dino sedang melakukan ritual bersama dengan Lilis selingkuhannya. Mereka menari dengan tertawa terbahak-bahak menggunakan jubah hitam mengelilingi foto Sani.
Mata air yang dia lihat di hutan ada di sana. Mengeluarkan cahaya persis dengan yang ada di keris. Seakan ingin keluar menyembur namun tertahan oleh api yang diatasnya.
Mahluk aneh itu tampak menikmati menarik arwah-arwah orang yang sudah meninggal melaui mulutnya.
"Mba Tina, ayo bangun... Mba..!!" sahut Firman membangunkan Tina.
"Dimana Ibuku? Apa yang terjadi denganku?"
"Ibumu ada di kamarnya"
Sani terbaring lemas dan semakin kacau.
"Kenapa Ibuku tidak membaik? Apa yang salah?"
"Sihir hitam itu semakin kuat, ayahmu sudah tahu kalau dia akan dilakukan penyembuhan"
"Dia seakan memberikan kita peringatan" ucap Pak Daus.
"Terus apa yang harus kita lakukan, apa Ibuku tidak terselamatkan lagi?"
"Semua kita sudah diancam, saya tak tahu dimana kelemahan mereka. Sihir ini sudah lama berada di desa Sabo dan semakin banyak tumbal maka kekuatannya akan berlipat ganda"
Tina menceritakan mimpi yang dia lihat namun tetap menyembunyikan keris yang ia punya.
"Mungkin mata air itu adalah sebuah pertanda, namun tak tahu apa hubungan air itu dengan mereka" balas Pak Daus sambil memegang tongkatnya berusaha menggunakan indra keenamnya untuk mencari apa yang terjadi.
"Pasti di hutan itu adalah kunci dari semuanya, kamu harus kembali ke sana"
"Ke sana? Nyawaku hampir melayang dari sana dan sekarang harus pergi lagi"
"Apa tak ada cara lain?"
"Saya tak yakin tapi disanalah akhir dari semuanya"
"Kalau saja Ibu tidak begini, aku sudah akan pindah dan tidak peduli dengan ayah" ucap Tina dalam hatinya memandangi wajah Sani yang masih tertidur.
Tina merebahkan tubuhnya disamping Sani dan Dion.
"Pergilah ke ayahmu dan peringatkan dia kembali sebelum semuanya terlambat" ucap Sani tiba-tiba dengan tatapan tajam ke arah Sani dan Tina tersentak bangun.
semangat kak..
jangan lupa mampir ya kak