Maaf untuk para readers jika kalian merasa bingung saat karya ku ini berganti judul. Setelah aku pikir-pikir judul Izinkan aku mencintaimu kurang pas dengan isinya jadi aku ganti dengan judul Cinta Dalam perjodohan.
Erlangga Bayu Pramuja, anak bungsu dari Egi Pramuja dan Monica Alandra Putri Pramuja, Si Playboy, pemain cinta, dan pecinta one night stand.
Dijodohkan oleh keluarganya dengan perempuan yang polos dan dari keluarga yang sederhana. Akan tetapi siapa sangka Erlangga akan jatuh hati dan dibuat jungkir balik oleh gadis yang jauh dari tipenya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persetujuan Erlangga
Erlangga dan keluarganya sudah sampai di kediaman utama Pramuja. Mereka turun dari mobil masing-masing dan masuk ke dalam rumah besar itu. Seperti biasa setiap hari libur mereka akan selalu menghabiskan waktu bersama.
Erlangga menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu. Memang tubuhnya ada di rumah, tetapi pikirannya masih berkeliaran ke mana-mana.
Erlangga duduk sambil memikirkan Alana. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Erlangga pun sudah mengambil keputusan.
Erlangga beranjak dari ruang tamu untuk menghampiri mami dan keluarganya yang berada di ruang tengah.
“Mami, ada yang mau aku bicarakan dengan mami,” ucap Erlangga.
“Bicara apa, Nak?” tanya Monica. “Sini duduk.” Monica menyuruh Erlangga untuk duduk di sampingnya.
Erlangga mengangguk lalu ia duduk tepat di samping maminya. Erlangga berdiam diri sejenak untuk menyiapkan diri dengan apa yang akan ia katakan.
“Ada apa, Nak? Kok diam,” tanya Monica.
Erlangga menatap semua anggota keluarganya. Sebelum akhirnya Erlangga mengutarakan sebuah kalimat yang membuat keluarganya terkejut.
“Mam, aku siap menikah dengan Alana,” ucap Erlangga.
Perkataan yang baru saja Erlangga katakan membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Erlangga.
“Apa katamu? Mami gak salah dengar, 'kan?” tanya Monica.
“Gak, Mam. Aku serius,” ucap Erlangga.
“Kok mendadak gini?” Monica menatap curiga pada anak bungsunya.
“Iya, ada apa?” imbuh Evelyn.
Erlangga memutar bola matanya karena merasa jengah dengan keluarganya yang menatapnya penuh curiga.
“Aku 'kan sudah kalah taruhan sama, Mami,” jawab Erlangga asal.
Akan tetapi Monica tahu jika bukan itu alasannya. Monica yakin bukan karena anaknya kalah taruhan dengannya.
“Mami gak mau ya kalau ini cuma buat main-main saja ya.” Nada bicara Monica terkesan sedang mengancam Erlangga.
“Mami maunya apa sih sebenarnya?” Kini Erlangga yang merasa gemas kepada maminya. “Aku nolak perjodohan ini, Mami marah-marah. Aku terima ... Mami curiga.”
“Ya mami kaget saja. Dari kemarin mami harus maksa kamu. Sekarang tiba-tiba kamu setuju begitu saja,” ucap Monica.
“Tapi ... ya sudahlah itu bagus. Kalau kamu sudah setuju, mami akan segera siapkan acara pertunangan kalian,” ucap Monica.
“Gak usah pake tunangan. Langsung nikah saja, Mam,” pinta Erlangga.
“Eh, kenapa?” Monica terkejut dengan permintaan Erlangga.
“Wah, kakak curiga nih,” ucap Evano.
Erlangga mendengkus melihat wajah kakak laki-lakinya yang terkesan sedang meledeknya.
“Ya gak apa-apa, Mam. Aku takut kalau nantinya aku khilaf saja,” seloroh Erlangga.
“Kamu ini ....” Evelyn menarik pipi Erlangga karena merasa gemas dengan jawaban yang adiknya berikan.
“Ya ampun anak mami yang satu ini ... kok ngeselin banget ya,” ucap Monica.
Erlangga terkekeh melihat wajah kakak dan maminya yang nampak kesal.
“Jadi boleh ya, Mam kalau Erlangga langsung nikah saja sama Alana,” pinta Erlangga seraya menaik turunkan kedua alisnya.
“Gak bisa begitu dong. Alana 'kan masih sekolah,” ucap Monica.
“Bukannya Mami juga masih sekolah waktu nikah sama papi,” balas Erlangga.
“Waktu itu situasinya berbeda, Nak,” jelas Monica.
“Gak apa-apalah aku nikah langsung nikah sama Alana,” ucap Erlangga.
“Lagian nanti-nantinya juga aku bakalan nikah sama Alana. Jadi ngapain pakai acara tunangan, buang-buang waktu saja,” ucap Erlangga.
“Iya juga sih. Tapi kita juga harus mendengarkan pendapat Alana dulu. Nanti mami berunding dulu sama Alana dan juga neneknya,” ucap Monica.
“Oke, Mami,” ucap Erlangga.
“Tapi mami kayaknya tahu deh alasan kamu mau cepet-cepet nikah sama Alana?” ucap Monica “Kamu takut kalah saing sama si Satria, 'kan?” ledek Monica.
“Isssh ... Mami, aku gak pernah takut bersaing sama siapapun. Karena aku yakin, aku pasti akan selalu memang dalam hal persaingan.” Erlangga membanggakan dirinya sendiri.
“Dasar! Percaya diri banget kamu,” ejek Evelyn.
“Itu kenyataan, Kak,” balas Erlangga.
“Tapi Erlangga bener loh, Mam. Mending langsung saja nikahkan dia sama Alana, biar dia gak keluyuran lagi.” Evelyn kembali mengejek Erlangga.
Erlangga mencibir untuk membalas ejekan kakaknya.
“Terserah kalian saja. Aku ke kamar dulu.” Erlangga beranjak dari ruang tengah. Ia melangkah dengan berlari kecil di anak tangga menuju ke kamarnya.
Tiba di dalam kamarnya, Erlangga kembali mendengar nada dering di ponselnya. Erlangga merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ada nama Dinda jelas tertera di layar ponselnya.
Erlangga menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Dinda.
“Halo,” ucap Erlangga setelah benda pilih itu menempel di dekat telinganya.
Aku menelponmu dari tadi, kenapa tidak mengangkatnya?
“Mamiku tadi sudah mengatakannya 'kan? Aku sibuk,” jawab Erlangga.
Sekarang kamu sudah tidak sibuk kan? Aku ingin bertemu denganmu.
Erlangga berpikir sejenak sebelum senyum miring terlukis di bibir Erlangga.
“Bolehlah aku main-main dulu sebelum aku menikah dengan Alana,” batin Erlangga.
“Oke kita ketemu di mana?” tanya Erlangga.
Bagaimana kalau kamu datang saja ke rumahku?
“Tidak, kita ketemu di hotel biasa saja,” ucap Erlangga.
Setelah Dinda mengatakan 'iya' Erlangga segera bersiap untuk pergi ke hotel, tempat ia selalu bertemu dengan Dinda untuk berkencan.
Erlangga pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi Erlangga mengganti pakaiannya. Spray minyak wangi ia arahkan ke pakaiannya. Erlangga kembali keluar dari kamarnya setelah dirinya siap.
“Mami aku pergi dulu.” Erlangga berucap seraya berjalan di anak tangga.
“Kamu mau ke mana, Nak?” tanya Monica.
“Mau ketemu temen?” jawab Erlangga.
“Dinda,” tebak Monica.
Eh? Maminya menebak dengan benar.
“Bukan kok, Mam. Mau bertemu dengan Zaki dan Hendri.” Nada bicara Erlangga terdengar gugup.
“Ya sudah, tapi pulangnya jangan malam-malam ya,” pesan Monica.
“Iya, Mam.” Sebelum pergi Erlangga lebih dulu mengecup pipi maminya.
“Dah ... Mami. Dah ... semua,” ucap Erlangga seraya melambaikan tangannya ke arah semua orang.
“Dah, uncle,” seru semua keponakannya.
Erlangga melangkah ke arah garasi rumahnya sebelum langkahnya kembali terhenti saat Evano memanggilnya.
“Erlangga,” panggil Evano.
Erlangga menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara.
“Iya, Kak ... ada apa?” tanya Erlangga.
“Kakak rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui mana yang salah dan mana yang benar,” ucap Evano.
Kening Erlangga mengernyit. “Maksud Kakak?”
Evano tidak langsung menjawab. Ia justru menepuk pundak adiknya. “Kamu tahu jelas maksud kakak.”
Erlangga dibuat bingung oleh ucapan kakaknya.
“Sudah sana pergi.” Setelah itu Evano kembali ke tempat keluarganya berada.
Jujur Erlangga masih merasa bingung dengan perkataan kakaknya. “Apa sih maksud kakak?”
Erlangga menaikan kedua bahunya. “Ya sudahlah.”
Erlangga sudah masuk masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju hotel. Jalanan sudah kembali padat membuat laju mobil Erlangga tersendat oleh kemacetan.
Hampir satu jam Erlangga terjebak bersama kemacetan. Sampai akhirnya ia sampai di hotel yang ia tuju dan ternyata Dinda sudah lebih dulu sampai di tempat itu.
Setelah memarkirkan mobilnya Erlangga turun dari mobil dan masuk ke dalam hotel. Erlangga melangkahkan kakinya ke kamar yang sudah Dinda pesan.
Sampai di depan kamar bernomor 106, Erlangga mengetuk pintu. Tidak lama pintu terbuka dari dalam. Muncul Dinda dari balik pintu itu dengan pakaian lingerie berwarna merah yang menampakan pakaian dalamnya.
Glek
Melihat itu Erlangga menelan air liurnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.