Halo guys! ini karya pertama aku, jadi jika masih banyak typo mohon di maklumi yah😄
Bagaimana jadinya jika kalian mempunyai saudara-saudara yang sangat menyayangi juga memanjakanmu tapi juga sangat posesif padamu. Tentu saja kalian pasti sangat senang karena selalu di sayangi dan di perhatikan tapi kalian juga pasti agak kesal karena keposesifan mereka bukan?
Itulah yang di rasakan oleh Seorang gadis cantik bernama AQUEENA PUTRI REVANO di adalah putri satu-satunya di keluarga REVANO. Dia memiliki Tiga orang Abang yang sangat menyayangi tapi juga posesif padanya. Di tambah lagi dia menikahi seorang pria tampan yang sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu dengannya, dia juga sangat mencintai dan menyayangi Queen tapi jangan lupakan keposesifannya pada Queen. Dia adalah ALVIANO DAVID DANENDRA.
Penasaran dengan ceritanya?
Silahkan buka dan baca ceritanya
Jangan lupa like dan komen yah 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyyah Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Hati Mulai Percaya
Pagi itu, Queen bangun lebih awal dari biasanya. Ia sempat duduk lama di depan cermin, memperhatikan pantulan dirinya sendiri.
Setelah menyiapkan diri, Queen mengenakan seragam kampusnya yang rapi. Kemeja putih dibalut blazer hitam tipis, rok panjang warna krem, dan tas selempang favoritnya.
Ia berjalan turun ke ruang makan.
“Pagi, Sayang,” sapa Mommy yang sedang menyusun roti dan buah.
“Pagi, Mommy.”
“Sudah tidak malas ke kampus?” tanya Mommy sambil tersenyum menggoda.
Queen tersenyum kecil. “Sudah semangat lagi.”
Clara menatap putrinya dengan lembut. Ia tahu semangat itu bukan muncul begitu saja. Ada seseorang di baliknya.
Di kampus, suasana mulai ramai.
Queen bertemu Slavina dan Sasya di tangga gedung utama. Mereka langsung menghampiri Queen begitu melihatnya.
“Queen!” seru Slavina. “Kamu kuliah juga ternyata!”
Queen tertawa. “Aku mahasiswi, Vin. Bukan pemilik rumah sakit.”
Sasya memeluk lengan Queen. “Tumben kamu semangat banget.”
Queen tersenyum malu.
Slavina melipat tangan. “Jujur. Ini pasti karena someone, kan?”
“Aku hanya merasa lebih baik,” jawab Queen singkat, lalu berjalan ke arah ruang kelas.
Slavina dan Sasya saling melirik sambil tertawa kecil. Mereka tahu... itu artinya benar.
Setelah kelas selesai, mereka duduk di kafe kecil dekat gedung perkuliahan.
“Kalau kamu udah yakin sama perasaan kamu, Queen... kamu tahu, kami pasti dukung,” ucap Slavina sambil mengaduk minumannya.
“Bukan soal yakin atau tidak, Vin,” jawab Queen. “Ini soal keberanian untuk percaya lagi.”
Sasya mengangguk. “Dan itu butuh waktu.”
Queen tersenyum. “Iya. Tapi... untuk pertama kalinya, aku ingin mencoba.”
Di sisi lain, Alviano berdiri di depan layar besar dalam ruang rapat kantor pusat Danendra Group.
Beberapa direksi memperhatikan pemaparan strategi barunya.
Namun sesekali, Alviano melirik layar ponselnya. Bukan karena urusan kerja... tapi karena sebuah pesan yang belum sempat dibalas dari Queen tadi pagi.
Sebuah foto sederhana meja belajar Queen dengan buku-buku terbuka dan secangkir teh.
"Pagi ini bukan tentang kamu, tapi tentang fokus. Tapi tetap... terima kasih karena sudah menguatkanku."
Alviano tersenyum kecil membaca pesan itu. Ia tidak membalasnya, karena Queen sudah menulis cukup jujur. Dan untuk kali ini, kehadirannya tidak harus dalam bentuk kata, tapi cukup dalam wujud ketenangan yang ia tinggalkan.
Sore harinya, Queen kembali ke restoran.
Ia duduk sendiri di dalam ruangan miliknya sendiri seperti biasa, membuka laptop untuk mengecek tugas-tugas kuliahnya.
Tak lama kemudian, suara pelan terdengar dari pintu depan.
“Boleh aku duduk di sini, meski aku bukan dosen yang akan mengoreksi tugasmu?”
Queen menoleh cepat. Di ambang pintu berdiri Alviano, mengenakan kemeja abu-abu muda dan celana panjang hitam. Rambutnya sedikit berantakan karena angin sore.
Queen tersenyum. “Kamu datang tepat waktu.”
“Memang aku tahu jadwalmu?” goda Alviano sambil berjalan mendekat.
“Kamu selalu tahu segalanya, Viano.”
Alviano duduk di hadapannya. “Aku tahu kamu sedang mencoba mempercayai sesuatu.”
Queen menatap layar laptopnya. “Bukan sesuatu. Seseorang.”
Alviano diam. Ia tak menyela.
“Aku belum sepenuhnya yakin... tapi aku tidak ingin terus lari,” lanjut Queen pelan.
Ia mengangkat wajahnya dan menatap Alviano. “Kalau kamu bersedia berjalan perlahan, aku akan coba menyusulmu.”
Alviano tidak berkata-kata. Ia hanya tersenyum, lalu menjulurkan tangannya di atas meja.
Queen ragu sebentar. Lalu perlahan, ia meletakkan tangannya di atas tangan Alviano.
Mereka tidak saling genggam. Tidak saling peluk. Hanya bersentuhan ringan.
Namun dalam sentuhan kecil itu, ada janji yang jauh lebih kuat daripada sekadar kata cinta.
Senja perlahan turun, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Queen masih duduk bersama Alviano di salah satu sudut ruangan.
Tangannya belum lepas dari tangan Alviano. Sentuhan ringan itu masih terasa, hangat dan menenangkan.
“Kamu selalu datang tanpa janji,” gumam Queen sambil tersenyum tipis.
“Aku takut kalau aku membuat janji... kamu malah menunggu dengan ekspektasi,” jawab Alviano tenang.
Queen menoleh. “Dan kalau aku menunggu?”
“Aku akan datang... lebih cepat.”
Queen tertawa pelan. Senyumnya mengembang tulus. Ini bukan tawa basa-basi, bukan senyum formal yang biasa ia berikan pada orang lain. Kali ini, tawa itu jujur. Datang dari hati yang mulai merasa tenang.
“Kalau kamu punya waktu, bantu aku sebentar?” tanya Queen sambil melepaskan tangannya perlahan.
“Aku punya waktu seumur hidup kalau itu untuk kamu.”
Queen memutar bola matanya sambil tertawa. “Gombal.”
“Tapi tidak bohong,” balas Alviano cepat.
Mereka menuju dapur. Queen membuka rak lemari bahan-bahan kue. Hari ini ada pesanan khusus dari pelanggan tetap yang harus dibuat langsung olehnya yaitu kue tar keju lemon.
“Boleh bantu aduk adonannya?” tanya Queen sambil menyerahkan mangkuk besar.
Alviano menerima mangkuk itu tanpa banyak tanya. “Tentu. Tapi kalau rasanya gagal, itu salah kamu ya.”
Queen tersenyum lebar. “Kamu ini CEO, bukan koki.”
“Salah satu keterampilan CEO adalah bertahan di dapur kekasihnya.”
Queen membeku sejenak. “Kekasih?”
Alviano sadar dirinya keceplosan. Tapi ia tidak menarik ucapannya kembali.
“Mungkin belum sekarang,” lanjutnya pelan. “Tapi... mungkin suatu hari nanti.”
Queen tidak membalas. Ia hanya menunduk, tersenyum tanpa menjawab, lalu menambahkan perasan lemon ke dalam adonan.
Beberapa jam kemudian…
Setelah kue matang dan diantar ke pelanggan. Queen berdiri di balkon atas area khusus untuk tamu VIP. Dari sana, ia bisa melihat jalanan depan restoran, lampu-lampu kota mulai menyala, dan suara kendaraan terdengar samar.
Alviano datang membawa dua gelas teh hangat. Salah satunya ia serahkan pada Queen.
“Kamu selalu tahu waktu yang tepat,” ucap Queen sambil menerima gelas itu.
“Karena aku memperhatikan,” jawab Alviano ringan.
Queen menyesap pelan. Aroma lemon dan chamomile langsung memenuhi hidungnya. Menenangkan.
“Viano,” panggilnya pelan.
“Ya?”
“Apa kamu gak capek?”
“Capek?” Alviano menoleh.
“Menunggu. Mendekatiku. Bersikap tenang bahkan saat aku dingin.”
Alviano menggeleng. “Aku tidak pernah melihat ini sebagai sesuatu yang melelahkan.”
“Lalu?”
“Aku melihat ini sebagai perjalanan. Dan setiap langkahnya... membawaku lebih dekat ke arah kamu.”
Queen menatapnya lama. Wajah Alviano tenang, matanya dalam tapi penuh ketulusan. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa.
“Aku gak tahu kapan aku bisa memberi jawaban,” gumam Queen.
“Jawaban bisa menunggu. Yang penting kamu gak menutup pintunya.”
Queen menatap langit malam. Bintang mulai bermunculan, meski samar.
“Dulu aku takut membuka hati. Sekarang aku takut kalau aku menyesal karena gak mencobanya.”
Alviano mendekat satu langkah, cukup dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.
“Kalau kamu memilih mencoba, aku akan ada untuk menangkapmu saat kamu jatuh.”
Queen tersenyum. Ia tidak menjawab dengan kata-kata.
Tapi di detik itu, Queen tahu... ia sudah mulai percaya.
Percaya bahwa tidak semua yang datang hanya untuk menyakiti.
Bahwa mungkin... seseorang bisa hadir, bukan untuk mengambil, tapi untuk tinggal.
Di tempat lain...
Seorang wanita berdiri di depan sebuah gedung kampus, memandang pintu masuk dengan tatapan kosong. Di tangannya, sebuah map cokelat berisi dokumen lama.
Ia membuka ponsel, melihat foto yang dikirim seseorang.
Foto Queen.
Wajah yang begitu dikenalnya.
Perlahan, senyum licik muncul di wajahnya.
“Jadi kamu perempuan itu…”