Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Vika masuk kedalam ruang kerja Radit. Dia membawa map untuk Radit. Di rumah, ruang kerja Radit dan Vika memang terpisah.
"Dit, besok kamu gantiin kakak meeting ya?"
"Meeting? Enggak mau ah. Itu kan tugas kakak."
"Tolonglah, Dit. Soalnya besok kakak mau..."
"Mau jalan sama kak Arya?"
Vika hanya nyengir mendengar perkataan Radit.
"Tolong ya..."
Vika menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Memang meeting nya di mana dan dengan siapa sih?"
"Dengan pak Anwar, klien dari Jogja."
"Tempatnya di mana?"
"Di kantor pak Anwar. Di Jogja."
Radit mengerenyitkan dahinya. Kalau dia ke Jogja berarti harus ninggalin Winda di Jakarta. Tiba-tiba Radit ingat sesuatu. Winda kan berasal dari Jogja, jadi... Radit tersenyum.
"Malah senyum-senyum sendiri. Gimana, mau gak Dit?"
"Oke siap laksanakan, boss."
Radit memberi hormat pada Vika, seperti tentara yang memberi hormat pada atasannya. Vika heran melihatnya.
'Lho, tadi gak mau tapi kok sekarang semangat begitu? Pasti ada apa-apa nih'. batin Vika. Vika menyerahkan berkas yang tadi dia bawa.
"Ini berkasnya. Terimakasih ya sayang. Kamu memang adik yang baik."
Vika mencubit pipi Radit dengan gemas. Radit menepis tangan kakaknya itu.
"Idih, kak Vika apaan sih. Udah sana keluar."
Radit mendorong tubuh Vika hingga sampai pintu lalu dia menutup dan mengunci pintunya. Radit duduk di sofa dan mengambil ponselnya. Dia menelfon Winda.
"Assalamualaikum, dek." sapa Gito Setelah Winda menerima telfonnya.
"Waalaikumssalam, mas."
"Lagi ngapain kamu?"
"Enggak lagi ngapa-ngapain. Lagi ngobrol sama mbak Septi. Memangnya ada apa, mas?"
"Dek, aku pamit ya. Besok aku mau balik ke kampung."
"Besok? Kok cepat banget sih. Aku kan masih kangen. Memangnya mas udah gak kangen sama aku?"
"Ya masih kangen juga. Tapi si bos di kampung udah telfon. Aku gak boleh lama-lama di Jakarta."
"Memangnya mas Gito kerja apaan sih?"
"Eng...itu. Antar barang-barang sembako."
"Oh itu. Ya udah mas hati-hati ya di jalan."
"Iya. Kamu juga hati-hati di Jakarta. Jaga mata dan hati kamu hanya untukku."
"Iya. Mas juga ya."
"Pasti. Ya sudah ya. Kamu istirahat. Kalau kerja jangan capek-capek."
"Iya. Pesan yang sama untuk mas Gito."
"Ya udah ya, sayang. Assalamualaikum, cintaku."
"Waalaikumssalam, sayangku."
Winda meletakkan ponselnya setelah Gito menutup telfonnya. Sementara itu, Septi hanya senyum-senyum di samping Winda. Dia ikut merasakan kebahagiaan yang sedang Winda rasakan.
####
Keesokan harinya, Adi dan Rafit terbang ke Jogja untuk bertemu dengan pak Anwar, sang klien. Merea meetinng di kantor pak Anwar. Meeting itu berjalan dengan lancar, sehingga di sepakati kerjasama antara perusahaan pak Anwar dengan PT. Angkasa Raya, perusahaan milik keluarga Radit. Mereka kembali ke hotel untuk beristirahat.
"Di, besok loe mau ikut gue gak?"
"Ke mana?"
"Mengunjungi seseorang."
"Siapa?"
"Ada deh. Mau ikut gak?"
"Ke rumah siapa sih?
"Ah, sudahlah. Besok aja juga loe tau. Gue mau tidur."
Radit mencuci muka dan menggosok gigi lalu segera tidur di ranjang sebelah Adi. Adi hanya menggeleng melihat kawan sekaligus atasannya itu.
Keesokan harinya. Bangun tidur, Adi melihat Radit telah berubah menjadi sosok Gito.
"Dit, loe mau ke mana?"
"Seperti yang gue bilang kemarin. Mengunjungi seseorang."
"Siapa?"
"Calon mertua gue."
"Pak Kirno maksud loe?"
"Ya siapa lagi. Loe mo ikut gak?"⁹
"Ya udah gue ikut. Tungguin. Gue mandi dulu."
Adi segera ke kamar mandi. Tak berapa lama kemudian Adi keluar kamar mandi dan berpakaian.
"Jalan, yuk." kata Gito setelah Adi rapi berpakaian.
"Gak sarapan dulu?"
"Gak usah lah. Kita sarapan di warung pak Kirno aja. Udah yuk."
Gito dan Adi segera keluar kamar dan menuju lobi hotel. Mereka ke tempat pak Kirno naik taksi. Jarak antara hotel tempat Gito menginap dengan tempat pak Kirno agak jauh, memakan waktu sekitar dua jam. Setelah dua jam perjalanan, Mereka mulai memasuki daerah tempat tinggal Winda. Warung pak Kirno pun telah terlihat. Mereka berhenti agak jauh dari warung pak Kirno.
"Kok kita turun di sini sih, Dit? Kan masih jauh?" kata Adi.
"Ih, berisik kamu. Udah turun."
Setelah membayar harga argo taksi mereka turun dan berjalan menuju warung pak Kirno.
"Assalamualaikum..."
Gito mengucapkan salam. Tak lama kemudian keluar seorang laki-laki paruh baya. Dialah pak Kirno.
"Waalaikumssalam. Cari siapa, mas?"
"Bapak lupa sama saya ya?"
"Siapa, ya?"
Pak Kirno mengerenyitkan dahinya, melihat Gito dari atas ke bawah, mencoba mengingat siapa orang yang berdiri di depannya itu. Tak lama kemudian...
"Ini nak Gito dan nak Adi ya?"
"Iya pak. Saya Gito dan ini Adi."
Gito dan Adi bergantian salim dan mencium punggung tangan pak Kirno.
"Bapak apa kabar?"
"Baik. Ayo masuk. Kita ngobrol di dalam."
Adi dan Gito mengikuti pak Kirno masuk ke dalam warung.
"Silahkan duduk. Bapak panggil ibu dulu ya."
"Terimakasih pak."
Gito dan Adi duduk di kursi yang dekat dengan jendela. Gito mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada yang berubah. Pak Kirno keluar dari rumah di ikuti oleh isterinya.
"Nak Gito, nak Adi, alhamdulilah kalian masih ingat datang ke sini." kata ibu Kirno. Gito dan Adi tersenyum dan mencium punggung tangan ibu Kirno.
"Masih, dong Bu. Apa lagi si Gito." kata Adi sambil memandang ke arah Gito. Gito hanya tertawa kecil.
"Kalian sudah sarapan?"
Gito dan Adi saling pandang dan cengengesan.
"Belum Bu. Kami memang sengaja ke sini untuk sarapan." kata Adi.
"Ya sudah tunggu ya. Ibu siapkan makanannya."
Ibu Kirno menuju ke etalase makanan, mengambil nasi dan beberapa menu makan. Tak lupa pula dengan dua gelas teh hangat. Bu Kirno menghidangkan nya untuk Gito dan Adi.
"Silahkan di makan."
"Terimakasih, Bu."
"Ibu tinggal dulu ya."
"Silahkan."
Bu Kirno kembali ke warung karena ada pelanggan yang hendak membeli lauk. Sementara itu, Gito dan Adi menikmati makan mereka. Selesai makan, pak Kirno menghasilkan mereka. Mereka berbincang-bincang santai.
"Oh iya nak Gito sudah tau kalau Winda pergi merantau ke Jakarta?" tanya pak Kirno.
"Sudah, pak. Di kasih tau sama Adi. Bahkan sudah beberapa kali saya ketemu Winda."
"Bagaimana keadaan Winda, nak Gito? Apa dia baik-baik saja? Bapak sama ibu kangen banget sama dia."
"Memangnya selama ini Winda gak pernah menghubungi bapak?"
"Mau menghubungi ke mana. Ponsel saja bapak gak punya."
Gito dan Adi saling pandang mendengar jawaban pak Kirno.
"Sebentar ya pak."
Gito mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu melakukan panggilan Videocall. Tentu saja dengan Winda. Winda yang sedang berbincang-bincang dengan Septi dan Sony di pantry terkejut mendapat panggilan Videocall dari Gito.
"Siapa, Win?" tanya Septi.
"Mas Gito, mbak. Tumbenan dia video call. Biasanya cuma telfon biasa"
"Ya udah buruan angkat."
Winda menggeser tombol hijau pada ponselnya dan tak lama muncullah wajah orang yang dia sayangi.
"Assalamualaikum, mas."
"Waalaikumssalam, dek. Lagi ngapain kamu?"
"Lagi ngobrol sama mbak Septi sama mas Sony."
"Udah selesai kerjaan kamu?"
"Udah. Eh iya tumben mas Gito Videocall. Biasanya gak mau."
"Emangnya gak boleh?"
"Boleh aja sih. Tumbenan aja."
"Aku punya surprise buat kamu."
"Apaan?"
Gito mengarahkan layar ponselnya ke pak Kirno. Melihat itu, Winda terkejut. Dia menggigit bibirnya untuk menahan tanggisnya.
"Bapaaaaaakkk...."
meluncur ke cerita lainnya