Mengisahkan tentang sebuah perjalanan cinta pada Tuhan dan cinta pada Makhluk.
Narayan, CEO dari perusahaan telekomunikasi menaruh dendam pada peristiwa di masalalunya yang mengakibatkan ayahnya menderita amnesia retrogade.
Permasalahan pelik di masa kecilnya membuat ia tidak percaya akan adanya cinta sejati, cinta setulus hati sehingga membuatnya menjadi pematah hati perempuan.
Aruna, teman semasa kecilnya datang menjadi sekertaris Narayan, menggantikan Dewi yang kala itu tengah cuti melahirkan.
Tidak ada canggung diantara keduanya. Aruna selalu menjadi garda terdepan menasehati bosnya, dan telinga Narayan begitu menikmati nasehat dari Aruna.
Bagaimanakah kisah Narayan dan Aruna selanjutnya, dan apakah yang sebenarnya terjadi di masalalu Narayan?
Yuk ikuti terus cerita selanjutnya yah.
Jangan lupa baca juga novel lainnya.
@Aku Janda Tapi Perawan
@Percayalah Aku Masih Perawan
@Kekasih Halal
@Surat cinta 2000
@Barista Cafe Jomblo
@Zara Ayyubi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepatu (Sejalan Sampai Tua)
Setelah mencobanya, Narayan menanyakan apakah Aruna menyukainya. Aruna langsung melepaskan sepatu itu dari kakinya lalu melihat harganya. Aruna takut ia tidak bisa membayarnya, anak perantauan harus tahu aturan menggunakan uang jika tidak mau makan mie instan diakhir bulan.
Narayan terkekeh, "Harganya memang tidak seberapa, tapi setidaknya surga dari anak-anakku tidak terkena goresan batu." Aruna menatap Narayan, ungkapan apa lagi ini, kenapa bosnya hari ini begitu manis, padahal tadi Aruna membuatkannya kopi pahit.
"Sultan mah bebas yah, harga segini dibilang nggak seberapa," gumam Aruna tapi Narayan hanya terkekeh mendengarnya.
"Sudah ayo..." Aruna masih saja duduk terdiam. Aruna masih berfikir dulu apakah uangnya akan cukup untuk nanti makan sampai akhir bulan, karena harganya lumayan cetar.
Narayan berlalu meninggalkan Aruna menuju kasir, memberikan satu sepatu pada kasir, yang satunya lagi masih ada di kaki Aruna.
Selesai membayar, Narayan menghampiri Aruna dan menyuruh Aruna untuk memakainya. Aruna menggeleng.
"Pak pindah toko saja yah, di sini mahal-mahal." Narayan malah tergelak, lalu memasangkan sepatu di kaki Aruna.
"Sudah saya bayar," bisik Narayan lirik di dekat telinga Aruna. Aruna membelalakan matanya.
"Jangan pak, haduh nanti saya bayarnya gimana ke bapak, potong gaji yah pak, tapi jangan 100%, 20 % saja yah pak," ucap Aruna dengan mimik muka memelas.
"Nggak perlu potong gaji, itu hadiah buat kamu untuk projek kita di Bali kemarin." Aruna tersenyum dengan ekspresi begitu bahagia.
"Bener pak?"
Narayan mengangguk, "Sepatu, sejalan sampai tua, semoga kita berdua begitu ya Run."
Aruna hanya tersenyum, tidak mengiyakan, ataupun mengelaknya, bingung, pak Nara manis banget soalnya. Aruna lalu mengucapkan terimakasih pada Narayan.
Mereka berdua akhirnya keluar dari toko sepatu, baru saja di ambang pintu, Nara dan Aruna melihat Bu Yasmin hendak masuk ke dalam toko.
Aruna langsung melirik bosnya, terlihat pancaran amarah dan kebencian dari mata Narayan. Narayan langsung pergi meninggalkan Aruna dan Bu Yasmin.
Sebelum menyusul bosnya, Aruna terlebih dahulu berpamitan pada bu Yasmin. Aruna melihat sorot mata Bu Yasmin penuh dengan penyesalan dan kesedihan.
Setelah berpamitan Aruna langsung berlari mengejar bosnya.
"Pak, tunggu, main tinggalin aja ih." Aruna berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki bosnya.
"Ngapain sih kamu ngobrol dulu sama wanita itu, nggak perlu Aruna." Aruna menggenggam tasnya lebih erat, baru pagi tadi berdamai, masa siang ini sudah bertengkar lagi dengan orang yang sama, kan tidak lucu.
"Maaf bos, tadi cuma pamit aja, nggak ngobrol kok, kan nih buktinya langsung lari nyusul bapak," Aruna mempercepat langkahnya hingga kini ia berada di depan Narayan.
Aruna memasang wajah memelas, sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada, simbol permintaan maafnya. Narayan menghentikan langkahnya lalu tersenyum, ia ingin sekali mencubit kedua pipi Aruna, tapi Nara sadar, Aruna berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini mendekatinya.
"Sudah puluhan tahun padahal, tapi rasanya masih sulit untuk memaafkan wanita itu, sakit Run," ucap Narayan. Melihat ekspresi bosnya, Aruna merasa bosnya benar-benar merasa kepedihan.
"Bapak pasti bisa." Aruna mengepalkan tangannya lalu di acungkan ke arah Bosnya sebagai tanda menyemangati.
"Sulit Run..."
"Bapak pasti bisa melewati cobaan ini..."
Narayan menggeleng.
"Bapak harus bisa, karena masih banyak cobaan yang belum kita cobain," celetuk Aruna. Narayan langsung menatap Aruna.
"Aruna...."
"Iya, pak Narayan Nugraha..." Aruna senyum-senyum lalu menujukan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Piss, damai pak," ledek Aruna. Narayan jadi ikut tersenyum melihat tingkah sekretarisnya itu.
Adzan Dzuhur berkumandang dari ponsel Aruna. Aruna mengambil ponselnya di dalam tas, lalu menonaktifkan suara ponselnya.
"Yuk pak, salat dulu aja. Sebuah payung tidak bisa menghentikan hujan, tetapi ia mampu melindungi kita dari derasnya hujan. Seperti halnya doa, doa tidak membuat kita luput dari masalah, tapi doa membuat kita tenang, meskipun kita berada di tengah-tengah masalah. Waktunya kita berdoa yuk Pak." Narayan mengangguk, keduanya kini menuju mushola Mall untuk melaksanakan salat.
☘️☘️ Bersambung ☘️☘️
(Ditunggu lagi 100 komennya, klo banyak yang komen, emak semangat nulisnya)
pke cinta pocong segala 🤣🤣🤣
Meskipun ga sering komentar...
Semangat terus ya bunda...
Selalu jaga kesehatan
jadi gak kelihatan komentar nya 😁😁😁😁
dan yg penting byk pembelajaran yg didapet ❤️
uhuuuui Nara bentar resmi jadi suami Aruna 🤭
yuks ah bentar lagi kondangan nih
batalin mak kalo Fikri gak baik buat Aruna 🥺
potek hati ini mak bacanya 😭😭
perihal jodoh emang rahasia sang Illahi. nyesek jadi Aruna & Nara 🥺