NovelToon NovelToon
Lebaran Terakhir Abah

Lebaran Terakhir Abah

Status: tamat
Genre:Contest / Tamat
Popularitas:110.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."

Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.

Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.

Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat Orang Laki-laki

"Nur mau menutup aurat?" tanya abah lagi, kali ini tatapannya mengarah pada kerudung yang aku kenakan.

"Nur tahu, seorang anak perempuan bisa menarik empat orang laki-laki ke neraka."

Aku mengernyit tidak mengerti. Mulutku masih terkatup ratap tak kunjung kubuka. Abah terbatuk sejenak, lalu menyeruput wedang buatanku lagi sebelum menjatuhkan pandangannya padaku.

Abah menatapku intens, membuatku menundukkan kepala tak berani menatapnya. Aku yang penasaran akhirnya membuka mulut bertanya.

"Empat orang laki-laki, Bah? Siapa aja?" Rasa penasaranku membuatku dengan berani menatap manik berkabut milik abah.

Seulas senyum diukirnya, sepertinya pertanyaan itu yang Abah tunggu dariku. Abah mengelus dadanya beberapa kali. Aku menunggu dengan debar tak sabar di jantungku.

"Sebelum itu, apa Nur tahu aurat perempuan dari mana ke mana?" tanya abah sebelum menjawab pertanyaanku.

Kuanggukan kepala sebagai jawaban. Aku pernah mendengar guru ngajiku berkata tentang batas aurat perempuan.

"Coba sebutkan, batas aurat perempuan!" titah abah dengan dahinya yang berlipat. Semakin menambah keriput kulit di area itu. Rambutnya yang memutih hampir tak ada lagi yang hitam.

"Dari rambut sampai kaki, apa itu artinya semua ini adalah aurat, Bah?" kujawab sekaligus bertanya sembari menunjuk seluruh tubuhku sendiri.

Abah mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban. Aku melirik tubuhku sendiri. Jika seluruh tubuh ini adalah aurat maka harus ditutupi.

Aku mengangkat kedua tangan, membolak-baliknya di depan wajah.

"Kecuali telapak tangan dan wajah," sambungku lagi sembari menatap telapak tanganku sendiri.

"Pinter anak Abah!" puji abah dengan senyumnya yang penuh bangga. Aku anak gadisnya, anak gadis yang diharapkannya. Dijaganya dengan baik, dibekali ilmu agama yang disiplin sejak kecil.

"Berarti ... selama ini Nur udah ngumbar aurat Nur, ya, Bah?" tanyaku dengan sedih. Abah terdiam melihatku berkata sendiri.

"Itu artinya, Nur berdosa," lirihku sedih dengan kepala yang menunduk dalam. Sapuan lembut di kepala dari tangan abah membuatku mendongak.

"Setelah aqil baligh, seorang wanita harus menutup auratnya. Dan menutup aurat sebaiknya dibiasakan sejak dini, Nur ngerti?" tanya abah.

Aku menggeleng, karena jujur saja aku belum benar-benar faham tentang aurat ini. Jika semua yang ada di tubuh perempuan adalah aurat, itu artinya seharusnya semua perempuan menutupnya dan hanya menyisakan bagian wajah dan tangan saja. Bukan seperti itu?

"Coba lihat apa yang Nur pake sekarang!" ucap abah menunjuk aku dari kepala hingga kaki. Ikut kulirik tubuhku sendiri, saat ini aku sedang mengenakan pakaian muslim lengkap dengan kerudung.

"Semua ... ketutup, Bah," sahutku masih menatap bagian tubuh yang hampir tertutup semua.

Abah mengangguk saat tatapan kami bertemu. "Ya ... seperti ini. Itu artinya Nur sudah belajar menutup aurat. Sabar dan pelan-pelan saja, yang namanya belajar pasti gak akan langsung pintar," ucap abah lagi.

Aku mengangguk. Sekarang aku mengerti, seperti inilah seharusnya seorang muslimah berpakaian. Tertutup dan tidak menampakkan auratnya pada yang bukan mahram.

"Dan Nur pasti gak mau 'kan Abah nanti disiksa di akhirat?" tanya abah. Aku sedikit terkejut, lalu mengangguk membenarkan. Tentu saja, anak mana yang ingin orang tuanya mendapat siksa di akhirat nanti?

"Seorang anak perempuan akan dapat menarik empat laki-laki ke dalam neraka. Sekalipun dia taat beribadah, sekalipun dia bergelar seorang kyai." Abah memulai wejangannya.

Aku terdiam mendengarkan. Ingin tahu siapa empat orang laki-laki yang dimaksud abah.

"Kenapa bisa tertarik ke neraka, Bah?" tanyaku penasaran. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa menarik empat orang laki-laki sekaligus ke dalam neraka. Bukankah dosa itu manusia akan menanggungnya sendiri-sendiri? Begitu gumamku dalam hati.

"Kenapa? Dan kok bisa?" ucap abah mengulangi pertanyaanku.

"Dengarkan Abah! Ketika seorang anak perempuan berbuat maksiat, memamerkan auratnya, maka orang pertama yang akan mendapatkan siksa atas perbuatannya adalah ... ayahnya-"

Abah menjeda ucapannya, memandangku yang sedikit merasa bersalah dengan saksama.

"Kenapa? Karena itu artinya ayah telah gagal mendidik anak perempuannya dengan benar. Mudah menyerah dalam memperingatkan, dan hanya berdiam diri saat anak perempuannya tidak menutup aurat."

"Yang kedua adalah ... suaminya. Kenapa?" Abah kembali memandangku, aku menggeleng dengan bibir yang terkatup rapat.

"Setelah anak perempuan menikah, seluruh tanggungjawab atasnya berpindah pada suaminya. Semua kebutuhannya menjadi tanggungjawab suami sepenuhnya. Baiknya istri, baiknya didikan suami. Buruknya istri, buruknya suami pula."

"Dan apa Nur tahu? Dengan menikahi seorang perempuan, itu artinya laki-laki itu siap menanggung segala dosa dan pahala dari istrinya. Saat seorang istri berbuat maksiat, maka suami yang akan menanggung dosanya, tapi jika seorang suami yang berbuat maksiat seorang istri tidak akan menanggung dosanya."

Begitu dalam penjelasan abah, aku bahkan harus benar-benar fokus mendengarkan agar bisa mencernanya.

"Begitu tinggi derajat suami untuk seorang istri. Masyarakat India bahkan mengganggap suami mereka seperti Dewa. Rasulullah Saw pernah bersabda:

Dari Abu Hurairah, dari Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Kalaulah aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.”(HR. Turmudzi )

Karena besarnya hak-hak seorang suami dari pada istrinya. Nur ...."

Aku kembali menatapnya, "Laki-laki yang ketiga adalah, saudara laki-lakinya. Saudara laki-laki Nur itu Aceng. Maka Aceng pun akan terseret bersama Abah saat Nur tidak menutup aurat. Nur ... mau Aceng ikut disiksa?"

Aku menggeleng. Tersenyum abah dengan lembutnya.

"Yang terakhir adalah ... anak laki-lakinya. Saat sudah menikah nanti dan Nur punya anak laki-laki, maka anak Nur pun akan ikut tertarik ke neraka. Sebab jika tak ada lagi suami atau saudara laki-laki perwalian seorang wanita jatuh pada anaknya."

Aku menunduk dalam-dalam, meresapi nasihat abah dan menyimpannya dalam memori otak.

"Nur ...!" Abah menyentuh pipiku dengan lembut. Aku mengangkat wajah dan menatap abah dengan diam.

"Mutiara hati Abah, permata yang berharga dalam hidup Abah. Abah harap Nur mencoba menjaga aurat dari sejak awal. Jadilah anak sholehah agar kelak bisa mendoakan Abah setelah Abah dipanggil Allah. Ringankan beban Abah di akhirat, Nak," ucap abah penuh haru.

Aku memeluk tubuhnya dan menangis. "Maafkan Nur, Bah! Ampuni semua dosa Nur. Nur belum bisa jadi anak yang sholehah untuk Abah dan Mak," ucapku sembari terisak dalam peluknya.

Abah menciumi pucuk kepalaku, semakin kubenamkam wajah di dadanya yang masih naik-turun dengan cepat demi dapat bernapas.

Abah melepas pelukannya, tangannya mengusap pipiku yang basah oleh air mata.

"Tanpa Nur minta maaf pun, Abah sudah memaafkan Nur. Semua anak-anak Abah insya Allah sholeh dan sholehah. Semuanya anak-anak yang baik," ucap abah kembali mencium dahiku.

Aku memejamkan mata menikmati setiap sentuhan jemari kasarnya di pipiku.

"Udah malam ... Nur tidur, ya. Besok sekolah, 'kan?" Aku mengangguk.

Lalu mencium tangan abah sebelum beranjak meninggalkan kamar abah. Kubaringkan tubuh setelah melepas pakaian muslim tadi. Berharap esok abah akan baik-baik saja.

1
Erni Ramadan
masya Allah cerita nya bagus ada pembelajaran ddlmnya.Terimakasih thor🙏
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Ella Rustandi
ya ampuun makan sm terasi goreng...kok thor tahu sih...aku jg dlu mkn sm terasi goreng...mengsedih rasax
Ella Rustandi
ingat aku dlu...zmn sd tasku resletingx kyk nur...pas smp sepatuku kyk nur...tiap mau dipake dijahit dlu sendiri...😔
Ella Rustandi
jadi kangen ortu yg sdh tiada
karissa 🧘🧘😑ditama
inget alm bapak😭😭😭😭
AGhanteng
Kasih syg seorg bapak ke anaknya.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Aisy Hilyah: betul. kangen Abah ....
total 1 replies
AGhanteng
Celana mambo pernah aku pake thor.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
Aisy Hilyah: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 iya lah beuh idaman banget itu dulu
total 1 replies
Mama Oya
Dulu juga punya sepatu yg nyala2 gini kayak punya Nur ..
Alfian Akbar
Sangat menginspirasi,memotivasi,dan ada banyak pelajaran yang bisa di ambil.
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗.
total 1 replies
Lilik Anah
Aku suka dgn cerita abah lanjut thor
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Retno Wijayanti
karya luar biasa...
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Retno Wijayanti
😭😭😭😭😭
Septia Yolanda
keluarga yg bahagia
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Merry Hoo
alur ceritanya bagus..
Aisy Hilyah: terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Neni Heryani
ingat masa lalu.
Aisy Hilyah: sambil mengenang Bun
total 1 replies
Cintya
ya Allah jauh kan sifat seperti itu padaku dan anak2 ku
Aisy Hilyah: aamiiinnnnn
total 1 replies
Adriana Gitsa
masyaallah keren

dan sangat bermanfaat sekali

untuk saya Thor

👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
Aisy Hilyah: aamiin terimakasih banyak 🤗
total 1 replies
Adriana Gitsa
aku malah tidak pernah ngasih uang ke BPK atau emak 😭😭😭

malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah

katanya, ini buat jajan cucu2nya
Aisy Hilyah: bener banget itu, Kak. orang tua emang selalu begitu
total 1 replies
Adriana Gitsa
😢😢😢😢😭😭😭😭😭😭

Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab

padahal anak udah 3😥
Aisy Hilyah: aamiin sama-sama
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!