NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Putih

Pendekar Elang Putih

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Kultivasi / Wuxia / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:5.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adi Kusma

Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.

Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.

Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.

Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar

Kabar Pertempuran di Sumur Batu menjadi topik hangat setiap perbincangan. Berita itu sangat cepat tersebar. Ada yang percaya, banyak pula yang meragukan kebenarannya.

Paron Geni merupakan tokoh ternama di dunia persilatan. Anggota Lima Penjahat Dari Selatan yang sulit menemukan tanding. Kabar menyebut dia hampir dibunuh oleh seorang pendekar muda yang sama sekali tidak jelas asal-usulnya. Bahkan namanya saja tidak diketahui. Pendekar Topeng Perak?? Itu bukan nama besarnya. Mereka menyebut demikian hanya karena Pendekar asing itu memakai topeng berwarna perak di wajahnya. Sementara di dunia persilatan ini, terlalu banyak pendekar yang menggunakan topeng.

Yang lebih menggemparkan, ilmu yang dimiliki Pendekar bertopeng perak adalah ilmu rahasia terhebat dari selatan. Tidak ada Padepokan yang mengajarkan Ilmu Sepuluh Tapak Penahluk Naga. Apa mungkin dia sosok Rekarnasi dari pendekar masa lalu?

"Entahlah ... Elang Putih memang memiliki ilmu Tapak Naga Terbang. Tapi Sepuluh Tapak Penahluk Naga ... Hmmm rasanya tidak mungkin."  Belibis Putih menarik nafas berulang kali.

Berdasarkan surat yang ditinggalkan, Elang Putih bersama Puspita Dewi pergi untuk menyelidiki kasus pembunuhan Tapak Wulung yang melibatkan nama baik Padepokan Rajawali. Akan tetapi, sudah hampir satu purnama mereka belum juga kembali.

Akhir-akhir ini, sudah terpecahkan bahwa pembunuh Tapak Wulung bukan Belibis Putih. Melainkan tokoh aliran sesat yang sengaja mengadu domba. Seharusnya, Belibis Putih merasa senang. Akan tetapi, kehilangan dua orang terbaik di keluarganya membuat Belibis Putih tidak bisa tidur nyenyak.

"Pimpinan, mohon maaf. Saya tidak bermaksud berprasangka buruk. Akan tetapi, kabar mengenai Pendekar Topeng Perak begitu banyak versinya. Kita tidak bisa menentukan siapa diantara mereka yang berpihak pada aliran Lurus. Saya hanya khawatir Elang Putih akan terkena masalah." Ketua Adi Guna berbicara dengan suara pelan.

Seiring santernya berita mengenai sosok Pendekar Topeng Perak yang sangat misterius, banyak tokoh aliran hitam maupun Putih memanfaatkan keadaan. Tidak sedikit yang menyamar menjadi Pendekar Topeng Perak demi untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Belum lagi, ada satu kabar mengejutkan datang dari selatan. Kelompok aliran Putih selatan menyebut bahwa Pendekar Topeng Perak hanyalah BONEKA dari Aliansi Bunga Suci. Dimana Paron Geni ada didalamnya. Dengan kata lain, kejadian Sumur Batu hanya semacam SETINGAN. Untuk menarik perhatian dunia persilatan. Aliansi Bunga Suci sengaja membuat kekacauan guna memunculkan satu Pahlawan yang sudah mereka persiapkan.

Bagaimana bisa begitu? Kelompok Aliran Putih Selatan cukup mempunyai bukti untuk memperkuat asumsi mereka. Selain Setan Darah dan kelompoknya masih hidup, Kelompok aliran hitam juga mengakui hal tersebut. Malah, mereka menciptakan beberapa Pendekar Topeng Perak lain. Hal itu membuat keadaan dunia persilatan semakin kacau. Yang pada akhirnya mereka memutuskan untuk melenyapkan Pendekar Topeng Perak. 

Memang benar, Padepokan Rajawali tidak bisa menentukan langkah. Memusuhi Pendekar Topeng Perak? Elang Putih memakai topeng yang sama. Bagaimanapun juga, Elang Putih adalah bagian penting Keluarga Belibis Putih.

"Aku yakin, Elang Putih mampu menjaga diri. Yah ... Walaupun sampai detik ini belum ada kabar darinya. Tapi hati kecilku berkata dia masih hidup." Jawab Belibis Putih menghibur diri.

"Tuan Besar, mohon izinkan saya ikut bicara." Anjani meminta untuk terlibat dalam pembicaraan. Anjani adalah kakak Puspita Dewi, setidaknya begitulah keluarga Belibis Putih menyebut.

Belibis Putih melirik Abdi setianya, kemudian mengangguk mempersilahkan.

"Saya mendapat berita bahwa Tuan Muda Elang Putih dan Puspita memang menuju arah selatan. Tidak ada kabar selanjutnya. Saya sangat khawatir terjadi sesuatu pada Tuan Muda. Terlebih, di utara saja, sudah ada puluhan Pendekar Bertopeng Perak yang dicelakai. Belum lagi di selatan. Saya ...." Anjani menghentikan kalimatnya. Dia melihat Belibis Putih mengangkat tangan, memintanya untuk tidak terus bicara.

Anjani menunduk. Matanya berkaca-kaca hampir menangis.

"Aku mengerti kerisauan hatimu. Berpikirlah dengan tenang. Jangan mengambil keputusan saat marah, jangan mudah berjanji saat senang. Karena kata-kata tidak sebercanda itu. Jangan terlalu turuti emosimu. Kita harus melihat dari banyak sudut pandang." Belibis Putih menenangkan Anjani.

Di hati Anjani, dia berniat mencari keberadaan Elang Putih dan Puspita. Tapi, Belibis Putih sudah bisa menduganya.

Suasana di kediaman Belibis Putih sangat mencekam. Tidak ada yang menyangka, semua kejadian besar di dunia persilatan akan dilimpahkan pada sosok Pendekar Topeng Perak. Dalam hal ini, Elang Putih ikut terseret.

°°

Galih, sekarang posisinya telah menempati kursi ketua. Kecerdasan yang dimiliki dan kedekatannya dengan tokoh-tokoh penting Padepokan Rajawali membuat karir wanita cantik itu bergulir sangat mulus. Hingga hari itu, Wakil Pimpinan, Kolo Ireng belum jua kembali ke padepokan. Pencarian Pusaka Legenda membuat Kolo Ireng melupakan tugas dan tanggung jawab nya di Padepokan Rajawali.

"Ketua, belum ditemukan kabar mengenai Elang Putih. Kemungkinan besar, dia sudah tiada." Lapor seorang pimpinan pasukan kepercayaan Galih.

"Apa kau bilang?? Sekali lagi kau ulangi kalimat seperti itu, jangan salahkan aku jika seumur hidupmu tidak akan mampu bicara lagi." Bentak Galih.

Raut wajah Galih berubah masam. Dia sangat sensitif jika berhubungan dengan kabar Elang Putih. Meskipun dia masih berstatus istri Wakil Pimpinan Padepokan. Jauh di dasar hatinya, Galih begitu merindukan sosok Elang Putih. Pemuda yang selalu menghindari setiap godaan yang Galih tawarkan.

"Adakah diantara kalian yang sudah memasuki wilayah selatan?" tanya Galih kemudian.

"Ampun, ketua. Bahkan beberapa orang dari kami sudah memasuki wilayah Pulau Tengkorak. Namun, Elang Putih tidak bisa ditemukan. Sementara, tidak kurang dari tiga puluh orang Pendekar Topeng Perak yang sudah menjadi mayat. Lagi pula, tidak satupun dari kami yang pernah melihat langsung wajah Elang Putih."

Galih menelan ludah mendengar jawaban anak buahnya. Dia mengibaskan tangannya. Memerintahkan anak buahnya untuk pergi.

"Elang Putih, aku tahu kau masih hidup. Tapi bagaimana caraku untuk mencari keberadaan nya?" Galih termenung.

Otaknya berputar, mencari cara tepat dan cepat untuk memecahkan misteri Pendekar Topeng Perak. Dia tahu, kelompok aliran sesat hanya memanfaatkan keadaan. Elang Putih tidak mungkin terlibat langsung dalam kekacauan. Jikalau dia benar terlibat.

 "Ah tidak. Elang Putih tidak boleh mati, sebelum aku memiliki nya. Tidak boleh." Galih mengepalkan tangannya.

Kemudian dia tersenyum.

"Yah, aku harus segera menemui mereka. Semoga mereka bisa membantu."

Galih bergegas berkemas. Dia memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan kuda. Tujuan Galih yaitu kaki Gunung Hitam. Dia berniat berkunjung ke padepokan Bukit Hitam. Ada sebuah rencana yang bakal dia jalankan.

°°°

"Ah, Tuan Tabib. Kiranya Tabib Wang telah lebih dulu tiba disini." Puspita Dewi tersipu saat kepergok Tabib Wang Yun.

"Hehehe ... Tidak usah sungkan. Saya tidak berniat ikut campur urusan Nona. Saya yakin, Nona melakukan hal yang terbaik." Tabib Wang Yun tertawa ringan. Wajahnya tidak sedang berdusta. Dia memang tidak ambil pusing atas perbuatan Puspita keluar masuk kota. Tabib Wang Yun yakin, Puspita tidak akan melakukan tindakan yang  membahayakan Tuan Muda nya.

"Masuklah, temui Tuan Muda mu. Sejak tadi dia menanyakan keberadaan Nona." Ucap Tabib Wang Yun kemudian. Sementara Tabib Wang sendiri melangkah kebelakang pondok.

Sudah dua pekan lebih Mahesa dirawat Tabib Wang Yun. Kondisinya sudah stabil. Tinggal pemulihan. Kurang dari dua hari lagi, kondisi Mahesa akan kembali prima.

Tabib Wang Yun tidak membawa Mahesa ketempat prakteknya. Alasan keamanan. Benar saja, tidak berselang satu hari, seluruh lapisan dunia persilatan mulai mencari keberadaan Pendekar Topeng Perak.

Dalam segala aspek, Pendekar Topeng Perak paling disudutkan. 

Kelompok Aliran Putih menuding Pendekar Topeng Perak merupakan kaki tangan Aliansi Bunga Suci. Sementara Kelompok aliran hitam berniat mencelakai Pendekar Topeng Perak. Karena jelas merupakan ancaman dimasa depan.

Tabib Wang Yun memang tidak terlibat dalam kelompok manapun. Dia hanya merasa bahwa Pendekar Topeng Perak yang dia tolong adalah orang baik. Maka dari itu, dia memutuskan untuk menyembunyikan keberadaan Mahesa. Walaupun keselamatannya dipertaruhkan.

Mahesa menyadari hal tersebut. Dia berusaha untuk sembuh secepatnya, agar bisa melepaskan Tabib Wang dari bahaya. Untuk kedepannya, dia belum memikirkan apapun.

"Tuan Muda, maaf. Saya pergi terlalu lama." Puspita Dewi memasuki ruangan.

Mahesa tersenyum. Dia senang, Puspita baik-baik saja. Jujur, dia sangat mencemaskan keselamatan gadis itu.

"Puspita, kemarilah." Mahesa meminta Puspita untuk duduk ditepi pembaringan.

"Tuan Muda, bagaimana keadaan Anda?" Tanya Puspita setelah duduk.

Mahesa tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Puspita.

"Saya menghawatirkan Tabib Wang Yun. Bagaimanapun, dia telah menyelamatkan nyawa saya. Saya tidak ingin dia terlibat masalah."

"Tuan Muda, mohon untuk fokus pada kesembuhan Anda." Jawab Puspita.

Mahesa menggeleng. Dia tahu, banyak hal yang Puspita sembunyikan darinya. Puspita pergi, pasti mengumpulkan berita. Tapi sedikit yang dia ceritakan.

"Puspita, terimakasih. Kau sangat baik. Saya tidak yakin bisa membalas semua kebaikan yang kau berikan. Jika Tuhan masih memberikan nafas, selama itu juga, saya janji akan menjagamu." Mahesa meraih kedua tangan Puspita. Mereka saling pandang untuk beberapa waktu. "Dengar, mulai hari ini hingga menutup mata, kau adalah satu-satunya gadis yang akan selalu saya jaga. Demi Tuhan."

Puspita hendak menjawab, tapi suaranya terhenti di tenggorokan. Bibirnya cuma bisa bergetar tanpa kata terucap.

Perlahan, setitik air bening muncul disudut matanya. Hati gadis itu sangat terharu.

1
Irwandy Kamal
𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚜𝚊𝚒 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊, 𝚕𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚔𝚞𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚖𝚋𝚞𝚗𝚢𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚠𝚊𝚓𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗𝚗
Irwandy Kamal
𝚙𝚊𝚍𝚎𝚙𝚘𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚊𝚓𝚊𝚠𝚊𝚕𝚒, 𝚓𝚞𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚌𝚊𝚔𝚊𝚛 𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 🤔
merah putih
bagusss...thor....hanya sj msh terlalu banyak ungkapan2. kurangi ungkapan2 terutama saat bertarung.
Hamka Bahri
Luwuk Banggai Parigi Moutong 🤣🤣🤣🤣
Nggenk Topan
mahesa lebay...
Nggenk Topan
galih janda bahenol
Yuniar Hadi
iya
Nggenk Topan
kok bikin bingung...?
Nggenk Topan
tambah hebohhhhh
Mely Kanzafaiz
cerita yg ga jlas
Rivan Zuhri
jadi menikah dengan siapa saja
Rivan Zuhri
Luar biasa
Rizal Sude
Biasa
Yanah Tjan
Luar biasa
Tabri Bong Plaju
ceritanya bagus,typonya gak ada,mudah di ikuti jln ceritanya.... semangat terus tor...
@ ubaydah_*😄
harus kembaran Puspita cewek aja,biar ceritanya tambah seru
Adi Kusma: Mksh kk
total 1 replies
@ ubaydah_*😄
kenapa si Puspita GA bunuhdiri aja biar siluman jahatnya ikutan mati.
Denmas
agak rumit di pahammi
Irhakim
kak permisi mau promo dulu kak tentang fantasi constelasi
Thomas Andreas
ngeri julukannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!