NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Parfum Mahal dan Darah yang Bercampur

Pintu kaca tebal ruang operasi darurat di paviliun barat tertutup rapat dengan bunyi klik mekanis yang halus, memisahkan hiruk-pikuk penanganan medis di dalam ruangan dengan keheningan lorong mansion yang mencekam. Di luar, Giovanni Alberto berdiri mematung membelakangi pintu. Dia menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah dada jas abu-abu gelap buatan penjahit terbaik Milan yang kini telah rusak total. Di sana, sebuah noda merah kecokelatan berukuran besar tercetak melebar—hasil dari rembesan darah basah di punggung Alessa yang berpindah saat Giovanni mengangkat tubuh ringkih itu dari kabin mobil.

​Detik itu, sebuah anomali sensorik yang sangat pekat menyerang indra penciumannya. Aroma parfum mahal oud dan ambergris yang menjadi ciri khas eksklusif sang penguasa dunia malam—aroma yang memancarkan kesan kemewahan, otoritas, dan jarak sosial yang tak tersentuh—kini harus bercampur secara frontal dengan bau amis darah segar yang pekat serta aroma tanah basah sisa hujan terminal dari tubuh Alessa. Perpaduan aroma itu begitu distingtif, menciptakan sebuah distorsi udara yang aneh di sekitar tubuh Giovanni; sebuah simbol fisik bahwa dunia bawah yang penuh darah dan kekerasan baru saja melakukan penetrasi paksa ke dalam hierarki tertingginya yang selama ini steril.

​Giovanni mengangkat tangan kanannya yang masih terbalut kain lengan jas, memperhatikan ibu jari dan telunjuknya yang menyisakan sedikit noda semen kering dari telapak kaki Alessa. Wajahnya tetap datar laksana pahatan marmer purba, namun sepasang matanya yang hitam kelam memancarkan kilatan dingin yang membekukan. Di dalam sejarah hidupnya sebagai pemimpin tertinggi konstelasi bisnis gelap, tidak ada satu pun manusia yang diizinkan mengotori fisiknya tanpa berakhir di dasar selokan sebagai mayat. Namun pagi ini, seorang gadis tanpa alas kaki tidak hanya mengotori kap mesin kereta kencana modernnya, melainkan juga menumpahkan darahnya langsung di atas dada sang penguasa.

​Kesedihan yang teramat mendalam dan aura kehancuran yang dibawa Alessa seolah masih tertinggal di udara lorong tersebut, melekat erat pada noda darah di jas Giovanni. Bagi orang awam, pemandangan gadis yang sekarat dengan punggung robek tumpang-tindih akan memicu rasa iba atau air mata. Namun bagi Giovanni, emosi semacam itu adalah kelemahan biologis yang tidak berguna. Yang berkecamuk di dalam otaknya saat ini adalah sebuah amarah yang mendingin—amarah pragmatis karena ada pihak luar, seorang monster domestik bernama Rian atau para preman pelabuhan kelas teri, yang telah berani merusak sebuah teka-teki psikologis menarik yang baru saja dia klaim sebagai properti pribadinya.

​"Dion," panggil Giovanni, suaranya terdengar sangat rendah, hampir berupa desisan berat yang memotong kesunyian lorong dengan otoritas mutlak.

​Dion, sang sopir pribadi yang juga merupakan salah satu eksekutor taktis kepercayaan mansion, langsung muncul dari balik pilar marmer dengan kepala tertunduk patuh. "Saya di sini, Tuan muda."

​"Ganti jas ini dengan setelan baru di ruang kerja," perintah Giovanni tanpa menoleh. "Dan setelah itu, bawa tim intelijen sektor utara. Aku ingin informasi lengkap mengenai latar belakang gadis di dalam ruangan itu sebelum matahari mencapai puncaknya. Cari tahu siapa yang bertanggung jawab atas setiap garis luka di punggungnya, dan siapa saja yang berani mengejarnya sampai ke gerbang terminal Pasar Turi semalam."

​"Baik, Tuan muda. Segera saya proses," jawab Dion dengan nada suara yang bergetar penuh ketakutan bercampur hormat. Dia tahu betul bahwa jika Giovanni sudah mengeluarkan intonasi suara sedingin ini, itu artinya sebuah badai pembersihan berskala besar akan segera menyapu bersih area pelabuhan tua dalam beberapa jam ke depan.

​Giovanni melangkah pergi menuju ruang kerja pribadinya di lantai atas menggunakan lift privat. Ketukan sepatu kulit hitamnya yang mengkilap terdengar mantap di atas lantai granit, berirama dan tanpa keraguan. Di dalam lift yang dindingnya dilapisi cermin murni, Giovanni kembali menatap pantulan dirinya. Noda darah Alessa di dadanya tampak semakin kontras, berpadu dengan aroma parfum mahalnya yang terus menguap akibat suhu tubuhnya yang mulai menghangat oleh amarah yang tertahan.

​"Aroma yang menarik," gumam Giovanni dingin pada pantulan dirinya sendiri di cermin. sebuah senyuman tipis yang sangat kejam dan tanpa riak emosi muncul di sudut bibirnya. "Campuran antara kemewahan tertinggi dan penderitaan terendah. Kamu benar-benar tahu cara meninggalkan kesan pertama yang dramatis, Gadis Sarkas."

​Sementara itu, di dalam ruang operasi darurat, atmosfer berubah menjadi sangat tegang. Dokter Bram bersama tiga perawat senior sedang berjuang melawan waktu untuk menstabilkan kondisi vital Alessa yang berada di ambang kolaps total. Setelah memotong seluruh sisa kemeja biru pudar peninggalan ayahnya, tim medis disuguhi pemandangan yang sanggup membuat perawat paling berpengalaman sekalipun menahan napas ngeri.

​"Astaga... ini bukan sekadar luka baru," bisik salah satu perawat wanita sambil memasang selang transfusi darah golongan O-negatif ke vena lengan Alessa yang pucat. "Lihat lapisan kulitnya, Dokter. Ini seperti akumulasi penyiksaan sistematik selama berbulan-bulan. Luka sabetan lama yang sudah mulai mengoreng dipaksa robek kembali oleh hantaman baru yang sangat kasar."

​Dokter Bram menggunakan pinset steril untuk memisahkan sisa-sisa serat kain gorden darurat yang telah menyatu dengan darah kering di sepanjang tulang belikat Alessa. Proses itu berjalan sangat lambat karena jika ditarik terlalu kencang, jaringan kulit Alessa akan ikut mengelupas secara masif.

​Srett...

​Meskipun berada di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi, sistem saraf Alessa yang telah mengalami trauma neurologis akut sepanjang malam kembali memberikan respons kejut. Tubuh ringkihnya menegang di atas meja operasi, jemari tangannya yang kotor mencengkeram pinggiran kain seprai steril dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

​"Sakit... Kak Rian, jangan... Mamma, perdonami (Ibu, maafkan aku)..." igau Alessa di sela-sela ketidaksadarannya. Suaranya terdengar sangat parau, bergetar oleh kombinasi antara rasa sakit fisik yang ekstrem dan rasa kehilangan yang mendalam akan pelindungnya yang telah tiada. Air mata keputusasaan kembali merembes dari sudut matanya yang bengkak, mengalir melewati pelipis yang lebam, dan jatuh ke atas meja operasi.

​Sarkasme radikal yang biasanya menjadi tameng gaib Alessa kini tidak mampu bekerja di dalam alam bawah sadarnya yang lumpuh oleh trauma. Kesedihan yang masif itu tumpah sepenuhnya di ruang steril tersebut, meninggalkan aroma amis darah yang semakin pekat menguasai ruangan, menenggelamkan sisa-sisa wangi parfum mahal milik Giovanni yang sempat menempel pada kain selimut wol cokelat tadi.

​"Tingkatkan dosis sedatifnya dua miligram lagi," perintah Dokter Bram dengan dahi yang dipenuhi keringat dingin. "Bersihkan luka telapak kakinya dengan cairan antiseptik konsentrasi tinggi. Kita harus menjahit robekan di kakinya sebelum infeksi bakteri selokan terminal menyebar ke aliran darah utamanya."

​Di lantai atas, di dalam ruang kerja pribadinya yang luas dengan dinding yang dilapisi buku-buku bersampul kulit tua dan jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah kota, Giovanni Alberto telah berganti pakaian. Dia kini mengenakan setelan jas baru berwarna hitam pekat, kontras dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Namun, aroma parfum mahal bercampur darah yang tadi menyerangnya seolah telah melekat permanen pada indra penciumannya, menolak untuk hilang meskipun jas lamanya telah dibawa pergi oleh pelayan untuk dibakar.

​Giovanni duduk di balik meja kerja kayu mahoni besarnya, menyilangkan jari-jemarinya sambil menatap dokumen-dokumen digital yang mulai dikirimkan oleh Dion melalui tablet PC di depannya. Matanya membaca dengan kecepatan tinggi, menyerap setiap informasi tentang identitas adiknya yang malang: Alessa, seorang gadis yatim piatu berdarah campuran Italia-Indonesia, bekerja sebagai buruh potong roti di "Bakery Lezat" milik seorang pria Tionghoa bernama Ko Alung, dan memiliki seorang kakak kandung bernama Rian—seorang pecandu judi kronis yang malam ini berencana menjual adiknya sendiri ke pelabuhan sebagai jaminan utang sebesar dua ratus juta rupiah.

​Setiap baris data itu dibaca oleh Giovanni dengan ketenangan yang mematikan. Silsilah penderitaan Alessa terpampang jelas di layar digital tersebut, menjelaskan secara logis mengapa gadis itu harus berlari tanpa alas kaki di bawah hujan deras semalam.

​Brak.

​Dion kembali masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu dua kali dengan tergesa-gesa. Wajahnya tampak sedikit pucat saat melaporkan perkembangan terbaru dari tim intelijen lapangan.

​"Tuan muda, informasi tambahan dari sektor pelabuhan. Tiga puluh menit yang lalu, pria bernama Rian bersama sekelompok preman penagih utang terlihat sedang memeriksa beberapa klinik 24 jam di sekitar terminal Pasar Turi. Mereka menyadari gadis itu berhasil naik ke salah satu bus malam tujuan Jakarta. Tampaknya mereka sedang mengumpulkan masa untuk melakukan pencarian di terminal-terminal kedatangan ibu kota."

​Giovanni tidak segera merespons. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja, menatap ke luar jendela arah langit Jakarta yang mulai diselimuti awan mendung siang hari. Batas kesabaran sang penguasa dunia malam tampaknya telah disentuh oleh kebodohan para preman kelas teri tersebut. Di dalam teritorinya, tidak ada satu pun tikus pelabuhan yang diizinkan melakukan perburuan tanpa izin tertulis dari aliansi Alberto.

​"Dion," kata Giovanni, suaranya terdengar begitu datar namun mengandung getaran bahaya yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. "Kirim dua unit tim taktis ke terminal-terminal kedatangan utama. Jika kamu menemukan Rian atau anak buahnya menapakkan kaki di tanah Jakarta... potong kedua kaki mereka. Berikan mereka pijat refleksi aspal yang sesungguhnya, persis seperti apa yang telah mereka lakukan pada telapak kaki gadis di bawah."

​"Baik, Tuan muda. Pelaksanaan segera," sahut Dion, membungkuk hormat lalu mundur dengan langkah cepat untuk menyebarkan perintah kematian tersebut ke seluruh jaringan eksekutor kota.

​Giovanni kembali memutar kursi kerjanya, menatap tablet digital yang memperlihatkan foto Alessa saat masih bekerja di toko roti—wajahnya yang tersenyum kaku dengan celemek cokelat, memperlihatkan sisa-sisa kecantikan garis keturunan Italia ibunya yang kini telah dirusak oleh lebam. Aroma parfum mahal dan darah yang tadi bercampur di dalam kabin mobil mewahnya seolah menjadi sebuah ikatan kontrak tak tertulis di antara mereka berdua. Gadis itu telah memilih untuk ambruk di atas kereta kencana modernnya, maka secara otomatis, seluruh utang darah dan penderitaan Alessa kini telah dialihkan menjadi piutang pribadi milik Giovanni Alberto.

​"Dua ratus juta rupiah..." bisik Giovanni dengan tawa pendek yang sangat dingin. "Nilai yang terlalu murah untuk sebuah teka-teki yang sanggup menghiburku di pagi hari. Mari kita lihat seberapa tajam sarkasmemu saat kamu mendapati dirimu terbangun di dalam sangkar emas seorang monster yang jauh lebih besar daripada kakakmu, Alessa."

​Dia bangkit berdiri, melangkah menuju balkon ruang kerjanya, membiarkan angin siang meniup ujung jas hitamnya yang wangi. Babak pelarian tanpa alas kaki Alessa telah resmi ditutup di bawah hujan deras semalam, dan kini, di dalam kediaman pribadi sang penguasa dunia, sebuah babak baru yang penuh dengan kalkulasi dingin, perawatan luka yang intim, dan pembalasan dendam yang kejam siap dimulai dengan tinta darah yang baru.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!