NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Night He Grew Jealous

Langit telah berubah jauh lebih gelap ketika mereka akhirnya meninggalkan area rumah kaca.

Lampu-lampu kota mulai menyala di sepanjang jalan utama ibu kota, memantulkan cahaya hangat di permukaan jalanan yang basah oleh sisa hujan sore.

Di dalam mobil, Lilly masih memandangi pemandangan di luar jendela dengan ekspresi yang jauh lebih ringan dibanding sebelumnya. Senyum kecil terus tersemat di wajahnya.

Ia bahkan menjadi jauh lebih banyak bicara.

Tentang dekorasi bunga.

Susunan meja.

Dan pencahayaan yang tadi mereka lihat di venue.

“Kalau lilinnya terlalu tinggi…”

Lilly menoleh sekilas ke arah Noah.

“…orang-orang di meja akan sulit saling melihat.”

Noah yang sejak tadi mendengarkan dalam diam akhirnya menjawab singkat,

“Kau memikirkan hal seperti itu juga rupanya.”

Lilly tampak sedikit salah tingkah mendengar nada datar itu.

“Saya hanya ingin suasananya nyaman.”

Keheningan kecil jatuh di antara mereka.

Mobil terus bergerak melewati pusat kota yang mulai ramai oleh cahaya malam.

Dan tepat ketika mereka melewati deretan toko kecil di sudut jalan—

Noah tiba-tiba mengangkat pandangannya.

“Morgan.”

“Ya, Yang Mulia?”

“Berhenti di depan.”

Morgan tampak sedikit terkejut sebelum mengikuti arah pandangan Noah.

Sebuah restoran kecil berdiri di sudut jalan.

Tidak terlalu mencolok.

Bahkan nyaris tenggelam di antara bangunan lain di sekitarnya.

Lilly ikut melihat ke luar jendela.

“Restoran pasta?”

“Iya.”

Tatapan Noah kembali jatuh padanya.

“Kau mau turun?”

Lilly tampak ragu sesaat sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“…Baik.”

Tak lama kemudian mereka duduk di salah satu meja kecil dekat jendela restoran.

Interiornya sederhana.

Lampu gantung hangat.

Meja kayu tua.

Serta aroma butter dan bawang putih yang memenuhi udara.

Tidak ada kesan mewah seperti restoran bangsawan di pusat ibu kota.

Namun justru itu yang membuat tempat tersebut terasa nyaman.

Lilly memperhatikan sekeliling restoran beberapa saat sebelum akhirnya menoleh pada Noah.

“Kau tahu tempat ini dari mana?”

“Beberapa kali ke sini saat masih mahasiswa.”

Jawaban itu langsung membuat Lilly berkedip kecil.

“…Yang Mulia pernah makan di tempat seperti ini?”

Noah mengangkat alis samar.

“Memangnya aku harus selalu makan di istana?”

Lilly buru-buru menggeleng.

Namun sudut bibirnya tetap terangkat kecil.

Tak lama kemudian seorang wanita tua keluar dari balik dapur kecil sambil membawa buku menu yang ujung halamannya mulai memudar dimakan usia.

Wanita itu sempat membeku beberapa detik ketika menyadari siapa tamu yang datang ke restorannya.

Namun Noah hanya berkata singkat dan tenang,

“Seperti biasa untuk dua orang.”

Wanita tua itu langsung mengangguk berkali-kali sebelum buru-buru kembali ke dapur.

Lilly memperhatikannya dengan rasa penasaran samar.

“Yang Mulia benar-benar sering ke sini dulu?”

“Tidak terlalu sering.”

Noah menyandarkan tubuhnya sedikit pada kursi kayu di belakangnya.

“Hanya ketika ingin makan dengan tenang.”

Tak lama kemudian—

dua piring pasta akhirnya diantarkan ke meja mereka.

Aglio e olio.

Dan carbonara.

Tidak dihias berlebihan.

Tidak pula disajikan seperti hidangan kerajaan.

Namun aroma bawang putih, butter, lada hitam, dan keju hangat langsung memenuhi udara begitu piring-piring itu diletakkan.

Lilly menatap makanannya sesaat sebelum memutar garpu di tangannya perlahan.

Ia mencoba suapan pertama.

Mengunyahnya pelan.

Dan sesaat kemudian—

ia benar-benar terdiam.

Mata hazelnya berkedip beberapa kali seolah tidak menyangka.

Aroma bawang putih dan olive oil terasa ringan, namun kaya rasa di lidah.

Pastanya sederhana.

Sangat sederhana.

Namun justru karena itulah rasanya terasa begitu hidup.

“…Ini enak.”

Noah yang sejak tadi sudah mulai makan menjawab tanpa banyak perubahan ekspresi,

“Tentu.”

Lilly kembali mencoba carbonara kali ini.

Sausnya lembut dan kaya tanpa terasa terlalu berat.

Ada rasa smoky tipis dari dagingnya yang tertinggal hangat di lidah.

Dan untuk beberapa detik—

ia benar-benar lupa bahwa mereka sedang berada di tengah ibu kota kerajaan.

Ia makan dengan lahap.

Nyaris terlalu bersemangat di setiap suapan.

Tatapannya bergerak sekilas mengelilingi restoran yang justru tampak cukup sepi untuk tempat dengan makanan seenak ini.

“Kenapa tidak banyak orang datang ke sini?”

Noah menyesap sedikit wine di gelasnya sebelum menjawab tenang,

“Karena pemiliknya sudah tua.”

Lilly menatapnya bingung kecil.

Noah melanjutkan tanpa banyak perubahan nada,

“Ia menolak membuka cabang.”

Tatapannya bergerak sekilas ke arah dapur kecil di belakang.

“Dan tidak pernah benar-benar peduli soal bisnis.”

Lilly ikut melihat ke arah wanita tua yang masih sibuk memasak di balik dapur terbuka itu.

Gerakannya lambat.

Namun sangat terbiasa.

Seolah ia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana.

“Jadi orang-orang perlahan melupakan tempat ini.”

Keheningan nyaman jatuh di antara mereka.

Jenis keheningan yang hanya dipenuhi aroma makanan hangat dan suara alat masak dari dapur kecil.

Lilly kembali menatap piring pastanya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Pasta ini enak.”

Tatapannya bergerak mengelilingi restoran sederhana tersebut.

“Aku suka tempat yang sepi seperti ini.”

Noah menatapnya tanpa bicara.

Dan Lilly melanjutkan ringan,

“Jadi aku tidak akan melupakannya.”

Senyumnya kali ini jauh lebih lebar dari biasanya.

Noah memperhatikannya beberapa saat lebih lama sebelum akhirnya menyesap wine di gelasnya pelan.

“Kalau begitu tempat ini cukup beruntung.”

Nada suaranya tetap datar.

Namun cukup untuk membuat Lilly kembali tersenyum kecil.

Ketika mereka selesai makan, suasana restoran sudah jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.

Kegelapan di luar semakin turun.

Lampu-lampu kecil berwarna hangat tampak semakin jelas di tengah malam musim gugur.

Morgan maju beberapa langkah menuju meja kasir sambil mengeluarkan dompet kulitnya.

Namun sebelum ia sempat berbicara—

wanita tua pemilik restoran itu langsung menggeleng pelan.

“Tidak perlu, Yang Mulia.”

Tangannya terangkat kecil menghentikan Morgan.

“Kehadiran Anda di sini saja sudah cukup menyenangkan.”

Morgan tampak ragu sesaat sebelum melirik Noah.

Sementara wanita tua itu kembali memandang Noah dengan senyum lembut yang dipenuhi garis usia.

“Sudah lama sejak terakhir kali Anda datang.”

Netra tuanya kemudian bergerak pada Lilly.

Dan senyumnya menghangat.

“Semoga persiapan pernikahan Anda berjalan lancar.”

Noah akhirnya mengangguk samar.

Sangat kecil.

Namun cukup tulus untuk membuat wanita tua itu tersenyum lebih lebar.

“Tunggu sebentar. Aku membuatkan sesuatu untuk kalian.”

Tak lama kemudian ia kembali ke dapur kecilnya sebelum membawa sebuah keranjang anyaman yang ditutup kain putih hangat.

Morgan menerimanya dengan sedikit bingung.

“Apa ini?”

Wanita tua itu terkekeh pelan.

“Aku tidak meracuni siapa pun.”

Lilly sampai harus menahan senyum kecil mendengar jawabannya.

Wanita itu membuka sedikit kain penutup keranjang tersebut.

Aroma tomat, keju, dan butter hangat langsung tercium samar.

“Lasagna.”

Tatapannya turun sekilas pada keranjang itu.

“Aku membuat terlalu banyak hari ini.”

Morgan masih tampak ragu.

Dan itu hanya membuat wanita tua itu kembali tertawa kecil.

“Bawa saja.”

Perhatiannya kembali bergerak pada Lilly.

“Musim gugur di ibu kota cukup dingin akhir-akhir ini.”

Senyumnya menghangat tipis.

“Makanan hangat biasanya membantu.”

Lilly membalas senyum itu pelan.

“Terima kasih.”

Wanita tua itu mengangguk kecil sebelum kembali berdiri di depan restorannya sambil memperhatikan mereka pergi.

Dan ketika mobil kembali bergerak meninggalkan jalan kecil tersebut—

restoran sederhana itu perlahan tertinggal di belakang bersama cahaya lampu hangatnya yang menyala di tengah malam musim gugur.

Sementara di dalam mobil—

Lilly masih memangku keranjang kecil berisi lasagna hangat itu di atas lututnya.

Aroma tomat dan keju masih tercium samar dari balik kain penutupnya.

Malam itu terasa jauh lebih tenang dibanding yang ia bayangkan sebelumnya.

Kegelapan telah turun sempurna di mansion.

Kabut tipis mulai menyelimuti hutan pinus di sekitar kediaman utama.

Hujan rintik kembali turun di luar jendela-jendela tinggi lorong mansion, sementara para pelayan bergerak lebih pelan dibanding biasanya demi menjaga suasana malam tetap nyaman.

Lilly duduk di ruang baca kecil dekat kamarnya sambil membuka beberapa katalog bunga yang tadi dibawa pulang Madam Elish.

Namun fokusnya sebenarnya tidak benar-benar berada di sana.

Pikirannya masih tertinggal pada rumah kaca.

Lampu-lampu hangat.

Meja panjang.

Dan suasana musim gugur yang terasa begitu hidup di tempat itu.

Getaran kecil dari ponselnya akhirnya memecah lamunannya.

Nama Sabrina muncul di layar.

Senyum kecil langsung terukir di wajah Lilly sebelum ia menerima panggilan tersebut.

“Halo?”

“Lilly.”

Suara Sabrina terdengar jauh lebih cepat dibanding biasanya.

“Aku baru saja menerima email aneh yang mengaku dari istana.”

Lilly langsung terkekeh kecil.

“Bagaimana mungkin aku tidak mengundangmu?”

Keheningan kecil muncul di seberang sambungan.

Lalu Sabrina berkata pelan,

“…Ini serius?”

“Tentu.”

Lilly menyandarkan tubuhnya lebih nyaman pada sofa kecil di dekat jendela.

“Undangan fisiknya mungkin baru sampai beberapa hari lagi.”

Ia berhenti sesaat sebelum tersenyum kecil.

“Jadi pastikan kau datang dengan gaun terbaikmu.”

Sabrina langsung tertawa pelan dari seberang telepon.

“Tentu.”

Nada suaranya berubah sedikit menggoda.

“Aku mungkin akan bertemu bangsawan tampan seperti Pangeran Noah di sana.”

Lilly memutar matanya kecil sambil tertawa pelan.

Namun beberapa detik kemudian Sabrina kembali bersuara,

“Tapi venue ini…”

Ia terdengar berpikir sesaat.

“…aku cukup mengenalnya?”

“Oh, pasti.”

Lilly menahan tawanya sesaat.

“Ini dekat rumahmu.”

Keheningan sepersekian detik muncul sebelum Sabrina langsung berseru,

“Jangan bilang—”

“Ya.”

Lilly akhirnya tertawa kecil kali ini.

“Tempat kita dulu menjalani kencan buta absurd itu.”

Tawa Sabrina langsung pecah dari seberang sambungan.

“Ya Tuhan, aku hampir lupa.”

Lilly sampai ikut menutup wajahnya sendiri sambil tertawa kecil mengingatnya.

“Kencan buta dengan dua pria aneh yang sibuk memamerkan hal-hal tidak penting sepanjang malam.”

“Dan bahkan tidak mampu membayar makan malam sendiri.”

Lilly menggeleng kecil sambil menahan tawa.

“Mereka memakai uang kita.”

“Dan masih cukup percaya diri meminta pertemuan kedua.”

Tawa mereka kembali bersahutan memenuhi ruang baca kecil tersebut.

Dan karena terlalu larut dalam percakapan ringan itu—

Lilly tidak menyadari seseorang telah berdiri di ambang pintu sejak beberapa saat lalu.

Noah bersandar tenang di sana.

Ia telah berganti pakaian yang jauh lebih nyaman.

Piyama sutra hitam.

Tatapannya jatuh pada Lilly yang sedang tertawa kecil sambil memegang ponselnya.

Ekspresinya tetap tenang seperti biasa.

Namun ada ketajaman samar di matanya ketika mendengar percakapan tersebut.

Beberapa menit kemudian sambungan telepon akhirnya berakhir.

“Baiklah, aku akan datang.”

Suara Sabrina terdengar ringan dari seberang.

“Dan aku akan memakai gaun terbaikku.”

Lilly tersenyum kecil.

“Aku menunggunya.”

Sambungan terputus.

Dan baru saat itulah Lilly menyadari keberadaan Noah di depan pintu.

Ia sedikit terkejut.

“Yang Mulia?”

Noah berjalan masuk perlahan ke dalam ruang baca.

Pria itu mengangkat alis samar.

“Siapa?”

“Temanku.”

Lilly meletakkan ponselnya pelan di atas meja kecil.

“Sabrina.”

Keheningan kecil jatuh sesaat.

Lalu Noah mengangguk samar.

“Sekarang aku tahu.”

Lilly mengangkat alis kecil.

“Tahu apa?”

Tatapan Noah bergerak singkat pada katalog venue yang masih terbuka di atas meja.

Lalu kembali jatuh padanya.

“Ternyata tempat itu cukup memiliki kenangan.”

Lilly langsung terdiam sepersekian detik.

Dan saat menyadari maksud ucapan itu—

ia hampir tertawa tidak percaya.

Noah mendengar percakapannya tadi.

“Yang Mulia…”

Nada suaranya terdengar campuran antara malu dan geli.

“Itu bahkan bukan kencan yang layak disebut kencan.”

Noah mendekat beberapa langkah lagi.

Tatapannya tetap tenang.

“Namun tetap ada dua pria di sana.”

Lilly menatapnya beberapa detik.

Lalu akhirnya—

ia benar-benar tertawa kecil kali ini.

Karena untuk pertama kalinya—

Noah tampak terganggu oleh sesuatu yang bahkan terjadi jauh sebelum mereka bertemu.

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!