Yogyakarta selalu menjadi saksi hubungan percintaan seorang gadis bernama Clara Audra.
Perbedaan keyakinan, restu orangtua, dan perselingkuhan mewarnai perjalanan cintanya.
Kini hatinya tertambat pada sahabatnya sendiri, seorang arsitek tampan bernama Daniel Ararya.
Namun, masa lalu Ararya yang selalu hadir di tengah hubungan mereka, membuat Clara menaruh keraguan dengan apa yang telah ia jalani selama ini.
Gagalnya rencana pernikahan Ayu (sahabat perempuannya) karena sebuah perselingkuhan, juga menjadikan Clara semakin ragu untuk melangkah maju di detik-detik menuju pernikahannya dengan Ararya.
Akankah Ararya mampu meyakinkan hati Clara untuk sepenuhnya menerima dirinya menjadi pasangan hidup?
Ataukah Ararya akan kembali kepada masa lalunya dan menorehkan luka yang sama pada hati seorang Clara Audra?
Kisah ini diangkat berdasarkan dari beberapa kisah nyata serta dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon margaretha.chi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Pagi
Clara
Sinar matahari mulai masuk melalui celah tirai jendela yang tidak menutup sempurna. Jarum jam terus berputar seakan tidak pernah mau untuk beristirahat sejenak.
Clara meregangkan tubuhnya, dengan membuka kedua tangannya, lalu meliukkan badannya ke kanan dan kiri. Ia menatap jam berwarna putih yang tertempel rapi di tembok berwarna biru, jarum jam pendeknya sedang menjukkan ke angka sembilan.
Ia mengubah posisinya untuk duduk, lalu ia kembali menguap. Tapi ia membuang rasa malasnya, lalu menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya.
Clara menuruni anak tangga dengan pelan-pelan. Rumahnya masih sangat sepi, tidak seperti tadi malam, ini pertanda para penghuni rumah lainnya masih pada bersatu dengan alam mimpinya.
Langkah kakinya menuju ke area dapur, ia membuka semua jendela dan pintu yang ada di bagian dapur.
Ia membuka kulkas lalu mengeluarkan air kaldu sapi dan iga sapi yang sudah ia pindahkan ke kulkas bawah tadi malam. Bagian crisper juga tidak luput dari tujuaanya saat ini, ia membuka crisper mengambil dua buah wortel, tiga buah kentang, bawang bombay dan tidak lupa daun bawang.
Ia mencuci daging iga mentah itu, lalu memasukannya ke dalam panci presto yang sudah terisi air, kemudian menyalakan kompornya, tanpa menutup rapat tutup panci itu.
Tangannya yang memang lihai untuk urusan dapur mulai mengupas wortel dan kentang, lalu memotong-motongnya.
Seraya menunggu air rebusannya mendidih, ia mengambil satu bungkus roti tawar, maklum saat ini ada 6 orang yang mengisi rumahnya itu.
Clara mengoles dua belas lembar roti tawar itu dengan selai coklat. Enam darinya ditaburi almond , lalu menutupnya satu per satu dengan enam lembar lainnya. Dan membawanya ke toaster sadwich. Ia memasukkan dua tangkup secara bergantian ke dalam toaster itu.
Gadis itu kembali melangkahkan kakinya ke depan kulkas dan membukanya, kemudian mengeluarkan dua kardus susu full cream dan menaruhnya di kitchen island.
Rebusan air iga sapi sudah menunjukkan gelembung udara dan mulai berubah mejadi keruh. Ia membuang air rebusan darah itu dan menggantinya dengan air kaldu sapi yang sudah ia siapkan tadi serta menambahkan air mineral isi ulang, lalu menutup pancinya rapat dan menyalakan kompornya kembali.
Ceklek..
Ia membuka pintu utama rumahnya, kemudian membuka jendela dan tirai penutupnya lebar, membiarkan semua cahaya dan udara masuk ke dalam rumahnya.
Clara melangkahkan kakinya menuju ke ruangan tv, melihat ada tiga gelas burgundy yang terletak berjauhan. Ia mengambil satu gelas yang ada di meja samping sofa, lalu berjalan menuju ke arah depan tv secara pelan-pelan, karena tiga laki-laki dewasa itu terlihat masih sangat nyenyak dengan ekspresi yang mampu membuatnya tertawa pelan.
Drrrttt..drrttt...drttt..
Seketika ia menoleh dan mencari sumber suara. Suara itu berasal dari handphone yang sangat ia kenal. Ia melihat nama yang ada di panggilan itu.
Deg..
"Dia lagi? Jadi dia masih sering hubungi Arya selama ini?" gumam Clara pelan, karena ia tidak ingin membuat para lelaki itu bangun.
Seketika jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia sangat mengenal bahkan mengerti siapa nama itu. Mengangkatnya, membiarkan, atau membangunkan pemilik handphone itu ?
Arya seketika menggeliatkan tubuhnya dan mengubah posisinya miring, berhadapan dengan dirinya. Clara langsung berpura-pura mengambil dua gelas yang daritadi memang menjadi tujuannya, walaupun mata Arya masih terpejam, tapi ia tidak mau tertangkap basah sedang memperhatikan panggilan di benda yang bukan miliknya itu.
................
Arya
Ia berpura-pura menggeliatkan tubuhnya dan mengubah posisinya miring agar ia bisa melihat reaksi yang akan dilakukan kekasihnya saat ada panggilan di handphone nya itu.
Senyum mengembang di wajahnya begitu melihat pacarnya itu memilih pergi dan kembali menuju dapur.
Arya sudah sadar dari mimpinya semenjak mendengar pintu dan jendela dapur dibuka, tapi ia mengurungkan membuka matanya beberapa menit karena ia masih merasa sangat lelah.
Namun tiba-tiba handphone nya bergetar, dan ia tahu siapa yang menghubungi dari suara Clara, yang walaupun mungkin pelan, tapi Clara tepat di sebelahnya. Ia membiarkan reaksi Clara, karena Clara adalah kekasihnya sekarang, tapi ternyata Clara lebih memilih tidak melakukan apapun.
Tapi, ia yakin pasti saat ini kekasihnya itu menyimpan sejuta pertanyaan yang nanti akan ditumpahkan padanya, atau bahkan mungkin saat ini Clara cemburu dan akan marah kepadanya.
................
Clara kembali berkutat pada dapurnya, setelah selesai mencuci gelas. Ia menata susu dan sandwich coklat almond di meja makan. Sop iga dibiarkannya tetap berada di atas kompor.
Ia memilih menikmati sarapan terlebih dahulu, karena baginya ini sudah melebihi jam sarapannya.
"Selamat pagi sayang.." ucap Arya sambil mencium puncak kepala Clara dari belakang kursi makan kekasihnya itu.
"Pagi..peluk dulu dong sini.." pinta Clara yang dikabulkan oleh Arya yang sudah berdiri di samping kursinya sekarang.
Clara memeluk pinggang Arya dengan erat, lalu kepalanya mendongak ke atas dan bersandar pada perut Arya dengan dagunya. Ditatapnya kekasihnya itu, rambut gondrongnya masih berantakan tapi tidak mengurangi satu persen pun tingkat ketampanannya.
"Pantas saja Citra masih nggak mau lepas dari dia." gumam Clara dalam hati.
"Sikat gigi dulu, bersih-bersih muka dulu sana terus sarapan." ucapnya.
"Nggak mau ikut?" goda Arya.
"Diihhh.." balas Clara.
"Ya siapa tau mau nyikatin gigi aku biar putih...hahaha.." goda Arya lagi sambil berlalu.
................
Arya dan Clara saat ini sudah menikmati sarapannya, bahkan sudah hampir habis. Tidak ada tanda-tanda aneh dari Clara setelah panggilan tadi pagi. Dan tentunya Arya pun juga berakting tidak tahu-menahu, mungkin saat ini masih ada sahabat-sahabatnya, jadi Clara mengurungkan membuat drama kesalahpahaman..mungkinnnn...
"Enak ya, bangun pagi ada kamu, terus langsung disiapin makanan gini. Cepetan nikah yukk yang.." ucap Arya sambil membawa tangan Clara ke depan bibirnya. Tapi hal itu malah hanya mendapatkan cibiran dari Clara.
Sahabatnya satu per satu sudah mulai bangun dan beranjak menuju meja makan.
"Ya ampun Ra, kamu tadi nyiapin ini semua sendirian?" tanya Ayu yang melongo saat berdiri di depan kompor dan membuka tutup panci berisi sop iga yang pastinya menggoda selera.
"Fix ! Kamu nggak salah pilih orang buat istri Ya..! Makanan udah siap, rumah udah disapu." imbuh Ayu lagi, saat melihat kumpulan kotoran di pinggir tembok, yang memang sengaja Clara kumpulin dulu di sana. Hari minggu adalah jadwal libur mbok Sarti, jadi biasanya ia , ibu, dan juga bapaknya bagi tugas untuk urusan rumah.
"Terus aku salah pilih calon suami nggak?" tanyanya pada Ayu, sambil melirik ke arah Arya.
"Nggak dong.." jawab Arya menatap gadis bermata coklat itu dengan senyuman yang lebar.
......................
suka dech
sakha putra
reno-teman sakha
ardhana- kkak angkat Clara
narendra
arya
akeh e 😅
siapa ituuuuu,,,,,
jreng jreng jreeeeeeeeengggggggg😜😜😁😁
gooodds
gue suka gaya lo mas bro arya😜