Kisah cinta sepasang anak manusia yang dijodohkan. Ternyata mereka pasangan kekasih 8 tahun yang lalu, banyak yang mengincar nyawanya, musuh dari masa lalu maupun musuh dalam bisnisnya.
Akankah mereka mampu melewati ujian cinta??
tunggu kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariez Aprileo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan pahit*
"Aurora, bagaimana keadaanmu nak."
Nyonya Riyanti tampak begitu mencemaskan keadaan putrinya yang terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan. Sejurus kemudian menatap Edward seakan meminta penjelasan.
Edward mengangguk dan meminta dua orang tua itu untuk duduk disofa tak jauh dari bed pasien. Pria itu menjelaskan kronologi kejadian secara garis besarnya tanpa menyinggung masalah Aldi dan Tuan Hardy. Pria itu tampaknya tak ingin ikut campur dengan keluarga kekasihnya.
Aldi yang mengetahui orang tua Aurora sudah tiba di rumah sakit langsung menuju ke ruang perawatan Aurora. Pria itu menerobos masuk walau didepan pintu sudah dihalangi Lukas.
BRAK
Aldi tampak mengetatkan rahangnya begitu melihat Tuan Hardy. Ingin sekali pria itu menembak kepalanya jika saja tak ingat Aurora yang menatapnya dengan tatapan sendu.
Edward yang melihat Aldi bisa masuk ke dalam langsung berdiri. Khawatir jika pria itu akan bertindak diluar nalarnya.
"Bos."
Edward memberi kode dengan isyarat untuk tak menangkap ataupun membuat kegaduhan di dalam.
Lukas mengangguk, tapi dia juga tidak keluar dari ruangan itu.
"Aurora, aku tetap dengan kesepakatan kita. Menikah denganku atau kamu melihat ayahmu tak melihat dunia lagi. Aku butuh penebusan dosa."
Aurora menatap Aldi dengan berkaca kaca. Ia tak bisa memilih salah satu diantara mereka.
"Brengsek! Apa yang kau katakan hah! Apa kamu tidak punya malu mengatakan itu! Dia sudah menyelamatkanmu dari kematian. Apa itu yang menjadi balasanmu! Ck. Harusnya kamu membiarkan dia mati Aurora. Pria tak tau diuntung!" ucap Edward geram.
Aldi tersenyum miring. "Aku tak meminta diselamatkan. Ini bukan salahku."
"Kau." Tuding Edward
"Diam. Kau hanya orang lain Tuan Edward. Kau tak berkepentingan disini. Sebaiknya anda keluar."
Demi apapun, jika disana bukan rumah sakit, mungkin saja sudah ada perkelahian. Edward begitu menahan diri agar tak menimbulkan keributan.
Tuan Hardy dan istrinya saling memandang, belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.
"Diammu aku anggap setuju menikah denganku Aurora. Terima kasih."
Aldi menemui dua orang tua Aurora. Pria itu duduk dan menatap Tuan Hardy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku ingin penebusan dosa atas kematian ayahku yang sudah anda bunuh dan atas pemerkosaan ibuku sampai beliau depresi. Nikahkan aku dengan putrimu atau kau akan meregang nyawa saat ini juga!"
Tuan Hardy terlonjak kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin pria didepannya ini adalah anak itu.
"Sebentar nak. Sebenarnya ada masalah apa. Apa yang sebenarnya kamu bicarakan. Siapa yang memperkosa? Siapa yang membunuh ayahmu? Aurora dia juga sudah milik nak Edward. Sebentar lagi mereka juga akan menikah." Ucap Nyonya Riyanti yang belum mengerti duduk masalahnya.
Aldi tersenyum miring. Pria itu lantas melemparkan dua foto diatas meja yang membuat Nyonya Riyanti mengernyit semakin tak mengerti.
"Tanyakan pada suamimu Nyonya. Dia tau benar dua orang itu."
"Pah."
"Tidak! Aku tidak tahu." Elak Tuan Hardy.
"Ah, bukan tidak tahu Nyonya. Mungkin suami anda memang lupa. Biar saya yang mengingatkan."
Nyonya Riyanti menangkap raut wajah suaminya yang gugup. Ada apa batinnya.
"Peristiwa 16 tahun yang lalu. Mungkin usiaku baru 6 tahun. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat suamimu datang kerumah kami dan memperkosa ibu sekaligus membunuh ayahku!"
Deg
"Tidak. Ini tidak mungkin." Nyonya Riyanti menggeleng tak percaya.
"Kalian tidak ingat jika kalian menikah karena perjodohan?" Aldi tersenyum miring.
"Bagaimana kamu bisa tahu!" Sentak Nyonya Riyanti.
"Tentu saja aku mencari tahu. Aku sudah tahu semuanya. Bahkan aku bersumpah untuk membalas dendam atas kejadian malam itu."
"Jangan banyak bicara jika kamu tidak tahu apapun. Ingat batasanmu. Kamu tak berhak mengusik keluarga kami." Tegas Tuan Hardy.
Aldi terkekeh mendengarnya. Sudah tertangkap basah masih saja mengelak.
"Aku akan hancurkan karir Tuan Haidar jika anda tak mengakuinya. Bukankah polisi itu juga terlibat dengan menyembunyikan dan menutup kasus ini ke publik? Ah aku jadi ingin tahu bagaimana rasanya dipecat secara tidak hormat. Kalian berdua akan mendekam dibalik jeruji."
Tuan Hardy terlihat mengeratkan gerahamnya. Pria itu terlihat marah sekali. Bagaimana bisa bangkai yang sudah ia tutup rapat rapat bisa diketahui keluarganya.
"Aku tak menyangka Papa bisa sekeji itu. Siapa perempuan itu! Apa dia kekasihmu sebelumnya! Jawab!" Seru Nyonya Riyanti marah.
"Ma! Jangan dengarkan dia. Dia pembual! Dia ingin menghancurkan keluarga kita!"
"Masih mengelak." Aldi terkekeh mendengarnya. Pria itu kemudian mengeluarkan banyak foto keintiman mereka berdua.
Nyonya Riyanti langsung memegang dadanya. Nafasnya seakan berhenti melihat kenyataan didepannya. Istri mana yang tak sakit hati saat tahu suaminya ternyata bermain dibelakangnya.
"Ma, tolong percaya. Itu hanya masa lalu."
BUGH
Satu bogeman mentah mendarat di dagunya Tuan Hardy hingga darah mengalir dari lubang hidungnya.
"Sudah cukup mengelak brengsek! Aku tak segan segan melubangi kepalamu jika masih berani mengelak!" Ujar Aldi dengan nafas memburu.
Edward langsung mencekal tangan Aldi yang hendak memukul Tuan Hardy kembali.
"Tenangkan dirimu atau aku akan membuat perhitungan denganmu. Jangan berani macam macam pada mereka atau kau akan menyesali di seumur hidupmu. Jangan pernah meremehkan aku yang diam. Aku bukan tandinganmu!"
"Brengsek! Lepaskan aku! Biarkan aku menghabisi pria itu! Dia tidak pantas hidup bahagia lagi! Biarkan dia menyusul ayahku!" Seru Aldi yang memberontak.
"Lukas! Antarkan mertuaku pulang. Aku yang akan mengurus pria ini!"
"Papa, mama. Maaf jika tidak sopan. Sebaiknya kalian istirahat dirumah. Nanti kita bicara lagi."
Aurora menitikkan air mata melihat kejadian didepannya. Ia tak tahu harus melakukan apa. Haruskah membela ayahnya?
Aldi menyentakkan tangannya hingga cekalan Edward terlepas. Pria itu kemudian duduk dikursi dekat ranjang pasien. Aldi menyentuh tangan Aurora yang tak terpasang infus lalu mengecupnya.
"Menikahlah denganku Aurora. Aku mencintaimu."
Aurora menggeleng lemah. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan seperti orang tua kita, Al. Kamu tahu sendiri bagaimana kisah percintaan mereka. Mungkin kamu bisa menikahi jasadku, tapi kamu tak akan pernah memiliki hatiku. Hatiku sudah lebih dulu tertambat pada kak Edward. Maaf Al, mungkin aku hanya bisa menganggapmu saudara atau kakakku. Aku tak bisa memberikanmu lebih dari itu."
Aldi tertunduk dengan penolakan Aurora. Ia sudah memaksakan semua usahanya, tapi hati Aurora sama sekali tak ingin berpaling. Lalu ia harus bagaimana.
"Aku mengenalmu dengan baik selama ini. Ini bukanlah kamu. Kembalilah Al, kamu sedang tersesat jalan."
Aldi menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan. Bagaimana bisa dunia sekejam itu padanya.
"Aku akan pergi. Tolong jaga dirimu. Aku akan selalu menunggumu." Aldi mengecup kening Aurora sebelum pria itu berlalu pergi.
Edward yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali menonjok bibirnya agar tak sembarangan mencium, tapi itu hanya angannya saja.
"Huh! Mengesalkan!" batinnya mengumpat.
.
.
.
#####
kalo bisa up nya jgn kelamaan jd lupa jalan ceritanya