Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Menyembunyikan
Pukul setengah 6, Rania bangun dari tidurnya. Walaupun masih mengantuk tapi dia tetap harus bangun karena sudah hampir masuk waktu maghrib. Dia keluar kamar dan saat melewati kamar bunda nya, dia melihat ruangan itu kosong.
Rania pun segera turun ke bawah untuk mengecek bundanya ada dimana. Ternyata bunda sedang memasak di dapur untuk makan malam mereka.
"Bundaa...kenapa gak banguni Raan? Kan Ran bisa bantu bunda nyiapi makanan."
"Bunda liat kamu masi tidur, bunda gak tega banguni kamu sayang. Kamu pasti capek kan." jawab bunda.
"Hemh..yaudah sekarang Ran bantu bunda dulu baru Ran mandi sebelum shalat maghrib."
Mereka pun memulai ritual memasaknya. Bunda menyiapkan ikan balado sedangkan Rania menyiapkan sayur bayam campur jagung. Dan tak lupa Rania juga menggoreng kerupuk sebagai pelengkap makan malamnya. Setelah di rasa semua siap, Rania menata makanan di atas meja makan kemudian ke kamar mandi membersihkan diri. Sedangkan bunda masuk ke kamar untuk bersiap shalat.
Di kamar mandi, dia memikirkan bagaimana cara ngomong ke bunda tentang masalah penyakitnya. Rania akan meminta bunda mulai ikut menjalani kemo. Kalau bunda menolak Rania terpaksa akan mengancam bunda sedikit. Ya hanya sedikit tidak akan sampai membuat bunda jantungan.
Setelah selesai menjalani kewajiban sebagai seorang muslim, Rania dan bunda pun turun ke bawah untuk segera menyantap makan malam yang tadi sudah mereka siapkan.
"Bunda makan yang banyak yaa, biar cepat pulih kesehatannya." dia mengambilkan nasi beserta lauk dan sayuran untuk bunda dengan porsi yang melihatnya saja perut Bu Maya sudah kenyang. Hahaha.
"Udah cukup nak. Itu udah kebanyakan buat bunda. Ngeliatnya aja perut bunda udah kenyang rasanya." bu Maya melongo melihat isi piringnya yang di sodorkan Rania.
"Iih bundaa..Ini kan biar bunda cepat sehat. Jadi mesti makan yang banyak."
"Ya tapi gak sebanyak ini juga Rania anak bunda yang cantiik. Kurangin dikit ya sayang. Bunda gak bakal sanggup ngabisinnya." Bu Maya memelas meminta Rania mengurangi porsi makanan di piringnya.
"Yaah bundaaa. Yaudah deh gak apa apa dari pada nanti bunda gak bisa ngabisin trus kebuang jadinya mubazir." ucap Rania sambil mengambil piring yang di sodorkan Bu Maya dan mengurangi isinya.
Akhirnya setelah sedikit berdebat tentang porsi makan Bu Maya, mereka pun mulai menyantap makanannya. Selesai makan, Rania membereskan piring bekas makan dan mencucinya beserta peralatan masak yang tadi di gunakan.
Setelah semua beres di dapur, Rania dan Bu Maya duduk santai di ruang tamu untuk sekedar mengobrol santai. Rania menarik nafas sebelum memulai berbicara.
"Ehem..Bundaa, Ran ada mau ngomong sama bunda."
"Mau ngomong apa sayang.?" tanya Bu Maya pada Rania.
"Ran udah tau tentang penyakit yang saat ini bunda alami. Kemaren dokter udah ngasi tau semua sama Rania, mulai dari bunda sakit sampai bunda yang memutuskan untuk tidak menjalani pengobatan yang seharusnya bunda jalani." Rania menghela nafas lagi sambil menatap wajah bu Maya yang mulai terlihat sendu.
"Yang buat Ran penasaran, kenapa bunda ngerahasiain ini semua dari Ran? Kenapa bunda gak jujur aja sama Ran tentang penyakit bunda. Ran kan anak bunda." sebenarnya Rania sedih dan sedikit kecewa karena bunda tidak jujur tentang penyakitnya.
Kecewa karena kenapa saat penyakit bunda sudah tahap lanjut dia baru tahu, dan itu orang lain yang memberi tahukan. Tapi dia tidak mau mempermasalahkan itu. Yang dia mau tau alasan sang bunda kenapa merahasiakan ini dari dirinya.
Terdengar helaan nafas berat dari bunda. Rania yang mendengar dan melihat wajah sendu Bu Maya pun tidak tega. Tapi dia tetap harus tahu alasannya.
"Maafin bunda ya nak. Maafin bunda karena udah gak jujur sama kamu. Bunda cuma gak mau jadi beban buat kamu nak, bunda gak mau kamu jadi sedih dan kepikiran sama penyakit bunda. Apalagi kamu sebentar lagi bakal ngadapin ujian akhir. Bunda gk mau karena bunda pikiran kamu jadi becabang dan akhirnya kamu gak bisa fokus untuk ujian akhirmu." bu Maya mengatakan alasannya dengan suara yang lemah dan lirih dan mulai terisak.
"Karena bunda yakin, kalau kamu udah tau tentang penyakit bunda kamu pasti bakalan sibuk ngurusin bunda sampai lupa dengan semuanya termasuk sekolah kamu. Bunda gak mau nak jadi beban buat kamu, biarlah bunda saja yang menghadapi penyakit bunda ini sampai tiba waktunya." bu Maya tidak bisa lagi menahan air matanya. Rania yang melihat pun ikut menangis dan langsung memeluk bundanya.
"Bunda gak boleh ngomong gitu.!Ran gak suka kalo bunda ngerasa bakal ngebebani Ran. Ran ini kan anak bunda buun hiks...hiks.. udah seharusnya Ran ngurus bunda saat bunda sakit. Dan Ran gak bakal pernah ngerasa terbebani karena ngurus bunda. Cuma bunda yang Ran punya sekarang, hiks..hiks..Ran gak punya siapa siapa selain bundaa...hiks..Ran mohon bunda jangan nyerah sama penyakit bunda." isak Rania sambil menatap dalam wajah bu Maya dan memegang tangannya.
"Apa bunda mikirin perasaan Ran tau hal ini dari orang lain saat semuanya udah tahap lanjut? Waktu dokter menjelaskan semua sama Ran tentang penyakit bunda, Ran cuma bisa terdiam bundaa..hiks hiks.. Rania ngerasa gak berguna jadi anak karena gak tahu apa apa tentang penyakit bunda hiks..hiks..hiks. Kenapa bunda gak jujur aja sama Ran dari awal bundaa...kenapaa? Ran takut kehilangan bundaa, Ran gak mau kehilangan bundaa...Ran belum siap bundaa..hiks..hiks.." isak Rania semakin menjadi.
"Maafin bunda nak..maafin bundaa..hiks hiks. Bunda gak mikirin perasaan kamu. Maafin bunda udah egois naak...maafin bundaa..hiks..hiks." bunda mengeratkan pelukannya pada Rania.
"Ran mau maafin bunda tapi dengan syarat." dia melepaskan pelukan sambil menatap mata Bu Maya dalam.
"Bunda bakal ngelakui apa yang kamu minta nak selama bunda sanggup."
"Bunda janji bakal ngelakuin apa yang Ran minta? apa aja.?" tanya Rania memastikan pada bu Maya.
"Iyaa sayang..Apa pun bakal bunda lakuin."
"Oke. Kalo gitu Rania mau mulai dari sekarang bunda teratur minum obatnya dan juga Ran mau bunda mulai ikut kemoterapi. Gimana, bunda mau kan.?" tanya Rania.
Bu Maya terdiam mendengar permintaan anaknya. Sebenarnya dia mau menolak karena dia tahu semua itu bakal jadi sia sia karena penyakitnya sudah masuk stadium akhir, tapi dia sudah berjanji akan mengabulkan apapun permintaan Rania. Dan dia gak mau melihat Rania kecewa lagi karena menolak permintaannya.
"Yaudah, bunda mau. Bunda janji mulai sekarang akan teratur minum obat dan menjalani kemoterapi." bu Maya mengucapkan janjinya pada Rania.
"Bener bun bunda janji bakal ngelakui itu semua?" Rania memastikan ucapan bu Maya.
"Iya sayang bunda janji. Karena bunda sayang sama kamu dan lagi pun bunda juga pengen ngeliat kamu berhasil di usaha kamu dan juga melihat kamu menikah." bu Maya menggoda Rania untuk mencairkan suasana.
"Iih bundaaa....lagi situasi gini masiih aja bisa becanda. Ran itu masih kecil bundaa, masih sekolah. Masa bunda udah mikirin Ran nikah aja sih." Rania mencebik seraya wajahnya berubah menjadi merona.
"Tapi cowok yang kemaren datang kayaknya udah dewasa deh, udah cocok buat jadi imam. Dan kamu memang masih kecil, tapi kan udah bisa ngasi bunda anak kecil. Hahaha." bu Maya senang sekali menggoda Rania.
"Astagfirullah bundaaa...Kok ngomongnya udah kesitu sih."
Bu Maya tertawa melihat anaknya yang malu malu. Terlihat jelas dari perubahan warna wajahnya.