NovelToon NovelToon
Setangkai Layu

Setangkai Layu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Romansa-Percintaan bebas / Cinta Dramatis Yang Sedih
Popularitas:128.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kurnia Setiyani

Hutang budi membawa Kinara jatuh pada rasa yang biasa disebut cinta. Namun di tengah penantiannya untuk mempersembahkan hati dan raganya hanya untuk pria yang telah banyak berkorban untuknya, dia di hadapkan dengan kemalangan yang menimpanya. Kehormatanya direnggut paksa oleh seseorang yang sama sekali tak dia lihat wajahnya.

Dirinya yang tak lagi suci, memilih menyingkir dari cintanya. Menghilang dari kehidupan Jay yang rela menggadaikan kebebasannya demi menolongnya. Merasa tak pantas bersanding dengan pria yang dia anggap luar biasa itu.


Bagaimana cerita lengkapnya...yuk ikuti terus kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tumpukan Kalimat Tanya

"Kantor nggak ada apa-apa, Angga sama sekali nggak nyiapan apapun. Keterlaluan dia," gumam Roman nampak kesal setelah mengitari seisi ruangan yang hanya ada dua set meja kantor, satu set sofa dan satu kasur di kamar tidur.

"Terus gimana?" Kinar bingung harus melakukan pekerjaan apa.

Tanpa jawaban, Roman malah menyeret tangan Kinar, berjalan cepat keluar dari ruangan itu.

"Mau kemana Pak?" tanya Kinar gugup, Roman tak juga melepaskan tangannya, terus menyeretnya.

"Kita mau beli peralatan rumah tangga," jawab Roman singkat dan jelas, tak berniat melepaskan tangan Kinar.

Sementara dari jarak tak lebih dari sepuluh meter sepasang mata memandang adegan tersebut tanpa berkedip, wajah terkejutnya tak mampu dia samarkan. Perempuan yang sekian tahun bertahta di benaknya di gandeng pria lain, teman dekatnya sendiri yang juga rekan kerjanya.

Kinar yang langkahnya terlihat gugup karena tuntunan paksa Roman, seketika tersentak. Membelalak menatap sesosok yang sangat dia kenali dan dia yakin kali ini tak salah lihat. Tatapan keduanya pun saling beradu, mengunci satu sama lain, tak berkedip sama sekali.

Bahkan saat jarak memaksa menjauhkanya, Kinar tetap menoleh menatap sendu sosok itu, yang tatapannya menyimpan banyak tanya. Hingga laju mobil benar-benar melenyapkan sosok tersebut dari pandanganya. Menyisakan lamunan dengan setumpuk perasaan bersalah bercampur dengan pahitnya masa lalu.

"Apa yang kamu lihat, sejak tadi pandangan kamu cuma tertuju ke arah sana terus," tanya Roman, menyadarkan Kinar dari lamunan masa lalunya.

"Ooh... Nggak, nggak ada apa-apa," jawaban Kinar terdengar gelagapan.

"Apa kamu sudah menikah?" pertanyaan yang sedari tadi berjejal di kepalanya, meluncur turun begitu saja.

Kinar tertegun mendengar kalimat tanya tersebut, meraba-raba jawaban yang sekiranya tepat. "I__iya...aku sudah menikah," jawabnya terbata.

Jawaban Kinar malah membuat Roman tersenyum sinis, "sudah menikah..? kenapa mau di ajak jalan sama lelaki lain? Bekerja di club malam, digoda pria-pria mesum, dimana suami kamu?"

Di luar dugaannya, jawaban Roman malah membuatnya tersudut. Kenyataan yang memang benar adanya.

"Kami sudah pisah?" menutupi kebohongan dengan kebohongan lain.

"Ooo..." Roman akhirnya percaya dengan jawaban tersebut.

Suasana kembali hening, hingga mobil memasuki pelataran parkir sebuah supermarket. Kinar beringsut turun, mencari semua kebutuhan yang ada. Saling berembug dengan Roman saat memilih setiap jenis barang. Layaknya sepasang suami istri yang tengah sibuk mencari perabot untuk rumah baru mereka.

Dan di tempat lain, Jay duduk bersandar pada dinding tembok setengah jadi menepi dari terik matahari, menghempas lelah yang mendera raganya. Menikmati bayangan wajah Kinara yang terus berkelebat di pikirannya, wajah sendu itu masih saja membuat hatinya bergetar. Hingga panggilan seseorang memaksanya bangkit, kembali menjalankan tanggungjawabnya.

Sekitar dua jam kemudian, tumpukan semua perabot yang dibutuhkan berjubel di dalam mobil. Roman mengeluarkanya satu per satu. Sementara Kinar mulai sibuk menata semuanya. Merubah ruangan yang tak luas itu sedemikian rupa, membuatnya senyaman mungkin untuk dihuni sekaligus dijadikan ruang kerja dengan tumpukan kertas yang akan memenuhi setiap meja nantinya.

Suara keriet pintu terdengar lirih oleh telinganya, "Iya tunggu sebentar...!" serunya meski tak ada yang memanggilnya. Dia pikir Roman yang datang membawa kembali barang-barang lain.

Namun saat dia keluar, dia terhenyak betapa kagetnya kembali berhadapan muka dengan pria itu. Laki-laki yang dia tinggalkan dengan luka mendalam beberapa tahun silam.

"Mas..." panggilnya lirih, dengan mata mulai memanas. Sementara Jay hanya terdiam, menatap penuh kekecewaan.

Ruangan pun hening sejenak, lidah terasa kelu, mulut tertahan rapat, begitu berat untuk sekedar mengeluarkan sebuah kata sapaan. Satu sisi dengan rasa bersalah, sementara di sisi lain memendam kekecewaan, beradu dalam pergulatan batin yang memaksa mereka memilih diam. Hanya mata mereka yang seolah saling bicara.

"Bagaimana keadaanmu?" akhirnya mengalir satu kalimat singkat itu.

"Baik.. maaf.. maafkan aku Mas," Kinar menunduk menyimpan air mata yang mulai menggenang.

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya, aku nggak bisa balas kebaikan Mas."

"Kinar...!" teriakan dari arah luar mengikis keadaan canggung diantara keduanya. Menghentikan pembicaraan yang mungkin akan mengharu biru nantinya.

"Ya..." jawab Kinar seraya menghampirinya.

"Kamu bawain itu," tunjuk Roman pada sebuah kardus berukuran sedang, bergambar rice cooker.

"Biar aku saja," Jay langsung mengambil alih kardus itu, membawanya masuk. Keluar kembali menanti Roman mengangkat lemari pendingin sedang Roman coba bawa masuk sendiri.

Setelah semuanya ditempatkan pada posisinya. Roman memilih duduk di sofa, meregangkan ototnya yang tegang setelah mengangkat banyak barang berat.

"Oya...ini Kinar yang bakalan bantu pekerjaan kita di sini."

"Kami sudah saling kenal," sahut Jay.

Roman menautkan kedua alisnya, "benarkah?" ke arah Kinar.

Kinar mengangguk pelan, "Iya."

"Sejak kapan?"

"Dulu rumah kami berdekatan," jawab Jay singkat.

"Baguslah kalau gitu," entah kenapa Roman merasa tak puas dengan jawaban tersebut. Seolah dia membaca ada sesuatu yang lebih dari sekedar istilah tetangga. Apalagi Kinar terlihat gugup menanggapinya.

"Tolong bikinin dua cangkir kopi," suruh Roman.

"Nggak usah, aku harus balik ke proyek," ujar Jay yang sebenarnya tak sanggup menata hatinya.

"Satu saja," ralatnya lagi.

Kurang dari lima menit, secangkir kopi hitam pekat dengan aroma khas menggoda Indra penciuman untuk segera meresapnya nikmat.

"Di kulkas udah ada beberapa Frozen food, Bapak tinggal menggorengnya sebentar saja. maaf aku nggak sempet masak, harus langsung pulang," kata Kinar sembari melihat jam dinding di ruangan tersebut.

"Bukanya rumah kamu jauh, kenapa nggak tinggal di sini saja. Angga udah siapkan kontrakan juga buat kamu kan?"

"Anak saya baru saya daftarkan di sebuah sekolah, nggak mungkin kalau harus di bawa pindah ke sini. Nggak tega juga jika saya tinggalkan," jawaban Kinar mbuat Roman terhenyak. Ternyata benar dia sudah memiliki anak, batinnya.

"Jadi kamu juga udah punya anak, berapa usianya?"

"Hampir empat tahun," jawab Kinar.

Empat tahun...kejadian itu lebih dari empat tahun lalu. Apa mungkin dia anakku... tidak... dia sempet nikah, punya suami...nggak mungkin dia anakku. Berusaha menyangkal kemungkinan-kmungkinan yang ada. Mengubur nalurinya, yang merasa ada sesuatu yang ganjil.

"Aku antar ke halte," ujar Roman setelah menepikan pemikiran itu.

"Nggak usah Pak."

"Aku nggak lagi nawarin kamu, tapi memaksa kamu. Sudah jam berapa sekarang, halte itu jauh. Sampai di rumah mau larut malam?" sergahnya.

Akhirnya Kinar menurut, mengekor di belakang Roman. Duduk di boncengan sepeda motor milik salah satu pekerja yang tengah lembur.

Dan kembali Jay melihat pemandangan itu, satu tanya lagi berjejal di kepalanya. Ada hubungan apa di antara mereka, batinnya bertanya-tanya. Aroma cemburu tercium menyengat.

Sementara pertanyaan lain makin menekan rasa ingin tahunya. Ingin segera mengurai satu persatu, menemukan jawabnya. Mengetahui kebenaran yang tak pernah bisa dia telisik beberapa tahun ini.

1
Ratu Tety Haryati
Assalamualaikum, Thor...🙏
Semoga kabar Kak Othor sehat selalu🤲
Adakah kelanjutan kisah dari Kinara dan Jay?
Saya setia menunggu🙏
kangbacaaiueo
udh 2023... pindah lapak atau gimana ini thor??? gak enak beut digantung 🤔
Ratu Tety Haryati
Assalamualaikum Thor...
Kisah Kinara masih lanjutkah?
watini fitrah
yg hamilin roman yg nikahin jay yg stres angga
Nuniek Nurhandayani
kapan upnya ya. pindah lapak kah thor. kasih tahu dong pindah kemana biar aku bisa mampir
Nuniek Nurhandayani
kapan ya up lagi. nggantung banget
Mamak Mamak
makin seru
Mamak Mamak
lanjut
Mamak Mamak
berkorban untuk yg berarti
Ratu Tety Haryati
Sabar menanti Jodohnya Mas Jay sama siapa

Terimakasih Upnya Thor
Wienyani
semakin aku bingung dengan cerita ini...up nya lamaaaaa bangetttssss
Novria Ervina
ya thor ampir lupo dg ceritanya, up nya sethn sekali😅
Dafaa
kapan jay bisa bahagia kak 😔
HIN Aviation
bagus banget ceeitanya dan cara menulis dan kata2nya jg bagus thor
jempolllll deh
ajenk
wiihh Jay nekat
purwahyu ningsih
cerita'y seru meski kecewa sm keputusan author yg akhir'y menyatukan Roman sm Kinara, tpi lbh kecewa lgi krn author kesan'y gk serius bikin cerita, krn up'y smpi lama bngt beda wktu awal wktu masa'y ayah dan juga kk'y Roman... sekarang kyk berasa digantung githu saking lama'y smpi lupa sm alur cerita'y...
triana 13
nyicil dulu ya kak dan tetap semangat
triana 13
like
triana 13
lanjut
triana 13
like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!