Awalnya semua begitu indah untuknya. Memiliki keluarga yang sempurna dengan ayah dan ibu yang sangat mencintai dan menyayanginya, tapi kebahagian itu hanya sementara. Cinta pertamanya di dunia ini direnggut darinya, seketika semuanya berubah menjadi duka.
Kehidupan baru mulai dijalani saat seseorang datang dan dikehidupan ibunya. Menjadi anak tiri dari seorang pengusaha yang sukses dan hidup dengan kemewahan yang dirasakannya.
Tapi..., semua tidak seindah yang dijalaninya. Hanya ada kesedihan yang dirasakannya karena penghinaan yang didapatnya dari orang yang sangat disayanginya.
Wanita itu hanya berharap mendapatkan kebahagian, memiliki sosok pelindung yang baru untuknya. Sampai akhirnya sebuah takdir kehidupan yang tak terduga, menikah dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
Tidak ada cinta,tidak ada kebahagian yang dirasakannya, hanya ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di dalam pernikahan itu.
Hanya menunggu kapan Rahasian itu terbongkar dan menjadi Bom waktu di pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Kesedihan
Hari semakin cepat berlalu dirasakan Gwen, rasanya baru kemarin hari senin dan sekarang sudah hari kamis. Hanya tinggal menunggu tiga hari lagi sampai terlaksananya pernikahannya dengan Kenichi.
Sepanjang hari dia hanya mengurung dirinya di dalam kamar, menikmati saat-saat terakhirnya didalam kamar yang hampir bertahun-tahun di tempati nya. Beberapa koper sudah tersusun rapi disudut kamarnya, semua barang- barang yang akan dibawahnya ketempat barunya sudah di siapkan nya.
Sejak pertemuan terakhirnya dengan Kenichi yang menemaninya ke butik, sampai sekarang tidak ada lagi pertemuan terjadi. Tidak ada komunikasi diantara keduanya sama sekali,dia hanya menunggu sampai Kenichi yang menghubunginya karena tidak ada alasan untuk dia menghubunginya juga.
TOK...TOK...TOK..
"Gwen, apa kamu ada didalam?"
"Kak yukari", gumam Gwen, dia langsung membuka pintu yang terkunci itu.
Dia melihat yukari yang berdiri dihadapannya, senyumnya terlihat kaku diperlihatkannya kepada Gwen.
"Boleh kakak masuk?"tanyanya.
"Tentu saja kak, masuklah", ucap Gwen.
Yukari melangkah masuk kedalam kamar Gwen, matanya langsung terarah ke sudut bagian kamarnya dan melihat beberapa koper disana.
"Kamu sudah mengemasi barang-barang mu?"tanya yukari sambil memutar badannya kearah Gwen, ekspresinya terlihat sangat datar.
"Ia kak, hanya beberapa barang yang aku butuhkan saja", jawab Gwen.
Beberapa saat mereka berhadapan tanpa saling berbicara, suasana dikamar itu terasa hening sampai akhirnya yukari membuka mulutnya. Dia menanyakan sesuatu yang ingin dia tahu, sesuatu yang selalu menggangu pikirannya.
"Bagaimana kamu bisa mengenalnya?"tanya yukari.
"Maksud kakak mengenal, kenichi?"tanya Gwen, memastikan maksud pertanyaan itu.
"Benar, bagaimana kamu bisa mengenalnya?"ulang yukari, wajahnya terlihat serius menatap Gwen.
"Pertemuan yang tidak disengaja", jawab Gwen.
"Maksudnya?"tanya yukari.
"Sulit untuk menjelaskannya kak",kata Gwen, dia mencoba tidak terlalu terbuka dengan kakak tirinya itu, bagaimana pun dia sedikit curiga melihat tiba- tiba saja sikap yukari menjadi baik dengannya.
Yukari hanya tersenyum sinis dengan tatapan mata yang terlihat sama seperti biasanya. Tatapan mata yang memandang rendah dirinya, tatapan itu selalu didapatnya bertahun-tahun dan tidak akan pernah dilupakannya. "Aku sangat iri sekali dengan keberuntungan yang kamu miliki", gumam yukari.
"Keberuntungan?"tanya gwen.
"Benar, sepertinya keberuntungan selalu mengikuti mu. Ahh, tidak hanya kamu, tapi juga ibu mu. Ibu mu bisa menikmati semua kemewahan yang ada sejak menikah dengan ayahku dan sekarang kamu telah mengikuti jejak ibu mu, menjadi seorang parasit", ucap yukari yang mendekat kearah Gwen dan memandangnya tajam.
Sontak saja,Gwen memandang yukari garang. "Jangan pernah mengatakan hal yang buruk tentang ibuku!!!"teriak gwen, tidak masalahnya untuknya jika yukari selalu menghinanya,merendahkannya, dia sudah terbiasa dengan perlakukan yang bertahun-tahun di dapatnya itu, tapi tidak dengan ibunya. Dia sama sekali tidak terima jika ibu yang telah melahirkan, merawat dan berjuang membesarkannya itu di hina.
"Apa menurutmu aku salah?"tantang yukari.
Gwen mencoba tidak terpancing dengan sikap yukari, dia tidak ingin ibunya akan mendengar keributan yang terjadi. Dia menjaga nada suaranya tetap tenang dan pelan, bahkan meski yukari berbicara sangat kuat dan kasar terhadapnya.
"Apa alasan kakak begitu membenciku?" Tidak bisakah sedikit saja untuk kakak menerima ku sebagai adikmu. Aku sangat menyayangimu kakak,bahkan aku sama sekali tidak pernah membencimu sedikit pun, meski dengan perlakuan yang selalu kamu tunjukkan untukku", ucap Gwen, dia sama sekali tidak dapat menahan kesedihan yang dirasakannya lagi, matanya terlihat berkaca-kaca menahan air matanya tak jatuh.
"Karena aku membenci mu. Sejak kehadiran mu, semua kasih sayang yang dimiliki ayah terbagi untuk mu. Kamu telah merebut kasih sayang ayah dari ku",ucap yukari, wajahnya berubah memerah dengan mata yang melotot kepada Gwen.
"Tapi itu tidak benar kak", ucap Gwen.
"Dengar, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerima mu sebagai adikku. Aku sangat membencimu, kamu telah merampas yang telah aku miliki", ucap yukari, lalu pergi meninggalkan Gwen di kamarnya.
"Kakak", gumam Gwen yang melepas kepergian yukari.
Dia masuk kedalam kamarnya, mengambil tas dan kunci mobilnya. Wajahnya benar -benar tidak berubah, dia melangkah menuruni anak tangga dengan perasaan emosinya.
"Yukari", ucap minori, dia sama sekali tidak menggubris minori dan berlalu begitu saja meninggalkan kediamannya.
"Mau kemana dia?"Bukankah dia baru saja datang?"tanya arata.
"Mungkin dia ada urusan, suamiku", ucap minori.
Mobilnya melaju dengan kecepatan penuh, dia terus menginjak gas tanpa memperdulikan pengendaraan lain yang ada disekitarnya. Beberapa pengendara mobil harum mengerem mendadak saat yukari mengendarai mobilnya seenaknya. Perasaan emosionalnya sama sekali tidak dapat dikendalikannya, hanya kemarahan yang tersisa didalam dirinya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mu menikah dengan Kenichi", gumamnya, kakinya kembali menginjak gas, melalui mobil - mobi yang ada didepannya
Aksi ugal-ugalan nya berakhir saat dia memberhentikan laju mobilnya di hotel miliki Kenichi. Dia langsung keluar dengan langkahnya yang terburu-buru menuju ruangan Kenichi, dia sama sekali tidak peduli jika kehadirannya sama sekali tidak diinginkan Kenichi. Apapun akan dilakukannya untuk membatalkan niat Kenichi yang ingin menikah dengan adik tirinya itu.
"Maaf nona, tuan Kenichi sedang tidak bisa diganggu", ucap sekertaris Kenichi, bukannya mendengar larangan yang diberikan wanita itu, yukari tetap memaksa masuk dan melewati wanita itu.
Dibukanya pintu itu, keributan langsung terdengar saat sekertaris itu tetap mencoba menghalangi yukari dan memintanya untuk keluar.
"Nona, anda tidak bisa seenaknya masuk begitu saja", ucap wanita itu yang memegangi lengan yukari.
Yukari sama sekali tidak mempedulikannya, matanya hanya tertuju kepada sosok Kenichi yang sedang memperhatikannya di balik meja kerjanya.
"Maafkan saya tuan, saya sudah melarang nona ini untuk tidak masuk, tapi nona ini menerobosnya", ucap sekertaris tersebut.
"Pergilah, biarkan dia masuk", perintah Kenichi.
Langsung saja yukari menghempaskan tangan wanita itu dari lengannya. "Jaga sikapmu, apa kamu tidak tahu siapa saya?"tanya yukari dengan sifat angkuhnya.
"Maafkan saya nona", ucapnya, tidak henti-hentinya dia menundukkan kepalanya kepada yukar.
"Hentikan, pergilah", perintah Kenichi kembali.
"Baik Tuan", ucap sekertaris itu, yang pergi sambil menutup pintu ruangan itu.
Yukari melangkah lebih dekat kearah kenichi.
"Kenapa kamu membiarkan seseorang menundukkan kepalanya kepada kamu? Bukankah seharusnya kamu yang meminta maaf untuk apa yang kamu lakukan?"tanya kenichi.
Yukari menghela napasnya, menatap marah terhadap Kenichi. "Minta maaf? untuk apa aku harus meminta maaf kepada wanita itu", gumamnya.
Kenichi hanya tersenyum, dia sama sekali tidak terkejut mendengar perkataan yukari. Dia tidak akan pernah merendahkan dirinya dihadapan orang lain, apalagi jika dia tahu orang itu adalah karyawan biasa.
"Baiklah, kalau begitu apa yang membuatmu datang kemari?" Aku sangat penasaran?"tanya Kenichi, menyandarkan badannya di kursi kerjanya, dia mengamati yukari dengan sangat saksama.
"Hentikan niat mu untuk menikah dengan Gwen", ucapnya sambil memandang Kenichi.
"Membatalkannya?", kata Kenichi, terdengar bingung dengan perkataan yukari.
"Aku tidak ingin kamu menikahi Gwen. Jangan melakukannya, bagaimana bisa kamu menikah dengan adik tiri yang sangat aku benci",katanya jujur.
"Dengar yukari aku tidak akan pernah membatalkan rencana pernikahan ku. Bukan urusanku jika kamu menyukainya atau tidak", sergah Kenichi.
"Jangan paksa aku untuk melakukannya,Kenichi", nada suaranya tajam.
"Apa yang ingin kamu lakukan, yukari?"tanya Kenichi, ekspresinya tetap tenang menatap yukari.
"Bagaimana jika Gwen tahu yang sebenarnya?" Apa kamu tidak penasaran, bagaimana respon yang akan ditunjukkannya jika dia tahu bahwa calon suaminya adalah mantan pacar kakak tirinya?"kata yukari.
"Apa yang kamu harapkan dengan mengatakannya kepada Gwen?"sergah Kenichi.
"Aku sangat tahu adik tiri ku itu kenichi", balas yukari.
"Kalau begitu katakanlah",ucap kenichi yang kembali menantang yukari.
Dia tersentak mendengar ucapan kenichi, dia sama sekali tidak menyangka bahwa Kenichi justru menantangnya untuk melakukannya, bahkan tidak ada rasa ketakutan yang terlihat dalam diri kenichi.
"Apa kamu mengira aku bercanda!!!" Emosi yukari meluap-luaap dengan tatapannya yang tajam.
"Tidak. Dengarkan aku yukari, apapun yang kamu lakukan tidak akan mengubah rencana pernikahan ku dengan Gwen. Hubungan yang kita miliki telah berakhir, itulah faktanya", gumam Kenichi.
"Kamu benar- benar menantang ku?" Akan ku pastikan dihari pernikahanmu nanti, Gwen tidak akan pernah datang menemui mu di altar pernikahan. Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi dan akan membuat kamu dan keluarga kamu malu, aku akan memastikan itu", ucapnya, hatinya yang hancur membuatnya begitu berani mengancam pria yang ada didepannya itu. Dia sangat marah hingga tanpa disadarinya air mata mulai menggenangi matanya, dia berusaha menahan air matanya agar tidak terlihat lemah didepan Kenichi yang justru wajahnya terlibat tenang dan tak tampak terusik dengan ancaman yang diberikan yukari.
"Lakukanlah", ucapnya, suaranya terdengar meremehkan yukari.
"Dengan senang hati", dia mengatakan setiap katanya dengan pelan, mencoba mengendalikan amarahnya, lalu ia berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Bersambung......
penasaran nih gmna ending nya,msa ya d cut aja smpe dsni???
kok gantung gini crtanya??