Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bila rindu kembali menyapa, Sakit itu kian terasa.
Bila rindu makin merasuk, luka itu kian menganga.
Bila rindu tak berkesudahan itu telah mendarah daging..... Maka percayalah, Tidak ada manusia yang tidak berubah lebih kejam dari sebelumnya.
Sepuluh hari sudah.....
Sepuluh hari sudah Jelita hidup tanpa Arlan dan Ariana, Hanya tinggal Kara dan putri kecilnya yang baru saja terlahir.....
Aridha praja Bekti.
Putri kecil yang paras dan gurat wajahnya begitu mirip dengan Radhi. Tak sedikitpun wajah mungil itu mewarisi gen sang ibu.
Saat ini, Radhi sudah tidak tahan lagi. Sudah banyak orang yang ia kirim untuk menembus sistem keamanan di kediaman Chandra. Namun hasilnya, tetap saja nihil. Kekuatan keluarga Adi Prama sangatlah besar. Radhi bukanlah tandingannya.
"Mas.....
Adakah yang bisa aku lakukan untuk membantumu mengambil kembali Arlan dan Ariana?"Jelita menawarkan diri.
Radhi memperhatikan istrinya. Perubahan itu semakin kentara terlihat.
Jelita yang begitu memperhatikan penampilan dan perawatan dirinya, kini tak terlihat seperti biasanya.
Kulitnya semakin pucat, tubuhnya kian kurus serta kantung mata dan yang jelas terlihat.
Namun, itu semua tidak lah mengurangi kadar cinta Radhi untuk sang istri.
"Tidak perlu, sayang....
Bila nanti suatu saat aku harus pergi dan tidak kembali.... Maka berjanjilah padaku.
Berjanjilah untuk menjaga kedua Anak kita yang masih tersisa."
deggg.....
Jantung Lita terasa berhenti saat itu juga.
Apa yang suaminya ini katakan?
"Apa maksudku, mas? Kau akan meninggalkan aku? Di saat seperti ini? Kau tega?".
Bibir ranum tanpa gincu itu terlihat bergetar. Radhi tak sampai hati melihatnya. Perlahan tangan perkasa Radhi terulur untuk membelai lembut bibir yang menjadi candunya itu.
"Pikirkan baik-baik.
Aku akan memancing Chandra keluar dan mengecohnya dengan Arman yang akan menyusup mengambil Arlan dan Ariana.
Selamat atau tidak, aku hanya ingin putra dan putri kita kembali. Bila itu tak terjadi dan aku berada dalam genggaman Chandra, hanya nasib yang akan membawaku untuk tetap hidup atau tinggal nama saja".
"Jangan bicara seperti itu!!
Aku tak peduli sekalipun Arlan dan Ariana tak dapat kita dapatkan sekarang. Tapi ingatlah mas.... Masih ada cara lain suatu saat nanti.
Aku tak mau kehilanganmu.
Aku tak mau terluka kesekian kali.
Aku tak mau kehilangan lagi.
Aku tak mau mengorbankanmu demi anak-anak.
Yang aku mau..... kita bersama hingga maut memisahkan".
Jelita kehilangan kontrol dirinya. Jelita berteriak kesetanan padahal saat ini, Aridha sedang dalam dekapannya.
Radhi meraih dan mendekap erat tubuh ringkih istrinya. Ada perih yang seketika menjalar ke seluruh sisi hatinya menyaksikan wanita pendamping hidupnya menderita.
"Terkutuklah kau Chandra telah membuat wanitaku menangis untuk yang kesekian kalinya"
Batin Radhi berteriak marah.
*****
Malam harinya......
Pukul 23.40.
Di luar terdengar suara gaduh.
Entah apa itu namun, saat Radhi keluar dengan mengenakan piyama tidurnya.
Saat hendak membuka pintu kamar, terdengar suara tembakan yang begitu nyaring. di susul suara teriakan yang begitu menyedihkan.
Radhi tak bodoh. Sudah pasti kediamannya tengah di serang.
Jelita ketakutan. Jelita tak pernah se-takut ini.
Radhi segera meraih pistol yang sudah terisi peluru di bawah ranjang.
Jelita tentu saja meraih dan membawa Aridha dalam gendongannya. Saat itu yang ada dalam pikiran mereka hanyalah Kara. Masihkah anak itu di kamarnya. Radhi benar-benar terserang tanpa persiapan.
Saat menghampiri kamar yang bersebelahan dengan kamar Radhi, beruntung kara tak terluka. Bahkan pengasuhnya membawa kara dalam dekapannya.
Dengan rasa khawatir yang membuncah memenuhi seluruh sudut hatinya, Radhi menuntun istrinya dan pengasuh kara keluar melalui pintu belakang.
Alangkah terkejutnya ketika membuka pintu belakang........
Seluruh halaman belakang telah di kepung oleh banyak pria berpakaian serba hitam lengkap dengan pistol yang masing-masing di todongkan ke arah Radhi.
"Kau berikan istrimu baik-baik atau.......? Akhir yang tragis, tuan Radhi?".
Chandra berjalan pelan diantara kerumunan para pengawal yang sengaja menyingkir perlahan, memberi jalan untuk Chandra. Semua pengawal menunduk dalam memberi hormat pada sang tuan mereka.
Jelita pucat pasi.
Bagaimana mungkin Chandra meminta Radhi menyerahkannya? Chandra sudah gila.
"Turunkan senjatamu atau tak ada yang selamat di antara kalian", imbuh Chandra lagi.
Radhi bukan menyerah.
Tapi Radhi berfikir dan bersikap realistis.
Pistol yang di genggamnya tak akan cukup untuk melawan puluhan pistol pengawal Chandra.
Baiklah.....
Sepertinya kali ini Radhi harus bertaruh.
Saling adu tak tik dan intrik.
Kekuatan saja tak cukup di butuhkan di sini.
Radhi melempar pistolnya ke arah kaki Chandra. Membuktikan bahwa ia tak akan menyerah.
Namun siapa sangka, Radhi justru menggunakan Jelita sebagai tawanan untuk mngecoh Chandra.
Secepat kilat, Radhi segera meraih leher Jelita dan mengapitnya diantara tangan dan ketiaknya.
Chandra berteriak marah atas tindakan Radhi. Bagaimana mungkin istrinya sendiri akan ia lukai?
Tidak. Chandra tak akan membiarkan.
Bagi Chandra, Lita adalah prioritas utamanya.
"Hentikan!!
Apa yang kau lakukan? Lepaskan Jelita".
Chandra emosi di buatnya. Niatnya untuk menekan Radhi hingga ke titik keputus asa'an, kini nyatanya Chandra lah yang ada dalam kendali Radhi.
Kau benar-benar hebat, Radhi.
Radhi melirik sekilas ke arah pengasuh Kara untuk mengambil Aridha dari Jelita.
Jelita terkejut dan tubuhnya terasa lemas. Kakinya seperti jelly yang tak bertulang. Hampir saja Lita meluruh ke lantai, kalau saja Radhi tak membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Tenanglah, sayang. Ikuti permainannya dan pura-puralah pingsan. Demi kita dan anak-anak"
Jelita syok, masih mencerna kalimat Radhi. Namun setelah mengerjapkan mata beberapa kali, Jelita pura-pura pingsan.
Dengan sigap, Pengasuh kara mengambil Aridha dari Jelita. Sedang kara memeluk kaki pengasuh dengan erat. Anak itu begitu paham hingga ia tak berani memancing keributan.
Semua pengawal masih mengarahkan moncong pistolnya ke arah Radhi.
"Suruh pengawalmu mundur dan letakkan senjata mereka. Atau kalau tidak......
Kau tahu kan aku tak pernah main-main dengan ucapanku".
"Kau menginginkan istriku, padahal jelas sekali bahwa istriku tak Sudi melihatmu.
Daripada kita saling menyakiti Jelita, Lebih baik ku bunuh saja wanita bertubuh molek ini. Bila aku tak dapat memilikinya, maka tak seorangpun boleh memilikinya", Ucap Radhi tenang.
Tidak ada istilah Radhi panik atau tertekan.
Radhi adalah pria yang kuat dan tak mudah terprovokasi.
Pengalaman hidup dan lingkungannya telah menempanya Hinga Radhi menjadi pria yang tangguh dan tak terkalahkan.
Radhi tak kan kalah di bawah tekanan, tak kan tumbang di bawah ancaman, dan tak kan mati di bawah siksaan.
Bertolak belakang dengan Chandra yang manja dan gegabah dalam mengambil keputusan.
"Lepaskan jelita pria sialan......!" Chandra berteriak tak terima. Kali ini, emosinya kacau hingga ke ubun-ubun.
Chandra tak kan bisa kehilangan Jelita. Tidak dan Tak akan pernah.
"Singkirkan seluruh pengawalmu dan pergilah dari sini sekarang juga. Bila tidak....
Maka kau akan mendengar dan melihat sendiri pemakaman ibu dari anak-anakmu esok hari. Atau perlukah aku membawamu serta ke neraka bersamanya??", Senyum Radhi penuh dengan ejekan.
Chandra gusar.
Tidak ada cara lain selain menyerah.
"Kali ini ku lepaskan kau. Tapi tidak untuk lain kali". Chandra pergi dengan membawa serta pengawal-pengawalnya yang bodoh itu.
Selepas kepergian Chandra, Radhi segera memeluk Istrinya yang terisak. Tubuhnya terguncang hebat. Tangisannya yang makin kuat.
Ia raih wajah istrinya dan mencium bibirnya hingga membabi buta. Penuh nafsu dan penuh gairah, seolah menyalurkan kekuatan pada tubuh ringkih tak berdaya.
Wanita yang ringkih namun memiliki tekad yang begitu kuat. Sesuatu yang sangat bertolak belakang namun hadir bersamaan pada wanita yang begitu Radhi cintai ini.
Sesuatu yang begitu unik, bukan?
"Tenanglah, sayang, tak kan terjadi apa-apa".
Jelita mengurai pelukannya setelah Radhi mengatakan kalimat itu.
"Ajari aku bela diri dan menggunakan senjata untuk melindungi diri dan membalas mereka semua yang berhutang banyak padaku".
Ungkap Jelita penuh tekad. Matanya menyala-nyala penuh amarah yang luar biasa bergejolak.
"Tentu sayang. Apapun untukmu, sweetheart"
🍁🌺🍁
Aku kok lama-lama ikutan jatuh cinta padamu, mas Radhi😍😍
Hehehe....