Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Lapangan di pinggir kota itu berubah menjadi lautan manusia sejak fajar menyingsing. Ribuan warga dari berbagai sudut wilayah pinggiran berbondong-bondong memadati area, menciptakan gemuruh suara yang bersahutan dengan deru angin pagi. Di tengah hiruk-pikuk itu, lima puluh anggota komunitas Muslimah Till Jannah bergerak dengan sigap, laksana barisan malaikat bergaun longgar dan bercadar putih yang membawa harapan di atas pundak mereka.
Hasna berdiri di garis depan koordinasi, memegang pelantang suara portabel dengan tatapan mata yang tajam namun penuh ketenangan.
"Ukhti, tolong meja sebelah sana dijaga! Kondisikan paket bansosnya. Jika ada tanda-tanda kekurangan, segera komunikasikan ke barisan belakang!" seru Hasna, mengomando dengan tangan yang terarah rapi. "Ukhti Ratih, bersama tim kamu, tolong jaga di meja nomor dua. Ukhti Nela, pimpin timmu di meja nomor empat!"
Hasna menarik napas panjang, lalu matanya tertuju pada sudut paling ujung lapangan yang berbatasan langsung dengan pembatas jalan. "Ukhti Wulan, bersama timmu, jaga meja nomor lima. Di ujung ya!"
Setiap meja diisi oleh lima orang yang bertugas membagikan paket, sementara anggota lainnya bersiaga di barisan belakang untuk mengangkut sembako tambahan yang terus diturunkan dari truk logistik. Semua diatur dengan sangat sistematis oleh tangan dingin Hasna.
Di sela-sela kesibukan itu, derap langkah sepatu laras terdengar mendekat. AKBP Ridwan hadir di sana dengan seragam lengkap, didampingi oleh satu peleton personel kepolisian yang siap melakukan pengamanan.
"Bu Hasna, ternyata ramai sekali ya. Sukses untuk acaranya hari ini," sapa Ridwan dengan senyum takzim, menghormati wanita yang kini menjadi penggerak sosial itu.
"Terima kasih banyak, Pak Ridwan, atas bantuan pengamanannya. Kehadiran bapak dan anggota sangat membantu kami menjaga ketertiban," jawab Hasna, menundukkan kepala sedikit sebagai bentuk penghormatan.
"Sama-sama, Bu. Sudah menjadi tugas kami."
Ridwan segera berbalik, melangkah dengan wibawa seorang perwira tinggi untuk memerintahkan anak buahnya agar memperketat dan merapikan barisan para penerima paket yang mulai saling dorong.
Pencarian di Tengah Kerumunan Massa
Di sudut lapangan yang lain, tiga pasang mata bergerak dengan kecemasan yang memuncak. Fatih, Lukman, dan Nadia menyebar ke beberapa titik di antara ribuan pengantre. Di tangan mereka masing-masing, tergenggam lembaran kertas tipis berisi foto ijab kabul yang telah diperbanyak semalam. Sebuah foto yang merekam sebuah momen keterpaksaan, namun kini menjadi satu-satunya jembatan hidup bagi Fatih.
Zahra dan Nadia berjalan beriringan, menyodorkan kertas itu kepada ibu-ibu yang sedang mengantre.
"Bu, maaf, apakah tahu perempuan di foto ini? Atau mungkin pernah melihatnya lewat di sekitar sini?" tanya Nadia dengan nada memelas.
"Enggak tahu, Mbak. Mirip tetangga saya, tapi bukan," jawab seorang ibu sambil menggeleng.
Sementara itu, Fatih berjalan dengan langkah yang diselimuti oleh perasaan aneh yang bergemuruh di dadanya. Sejak menginjakkan kaki di lapangan ini, detak jantungnya tidak beraturan. Ada getaran batin yang sangat kuat, seolah-olah sekat tak kasat mata berbisik bahwa Bella berada sangat dekat dengannya. Semangatnya yang sempat drop selama beberapa hari kini pulih total, didorong oleh intuisi yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata.
"Pak, tahu gadis di foto ini?" tanya Fatih kepada seorang bapak tua yang sedang berteduh di bawah pohon.
"Oh... gak pernah lihat, Nak," jawab bapak itu setelah mengamati foto lecek tersebut.
Fatih menghela napas panjang, bersiap untuk berbalik dan melanjutkan pencarian. Namun, tepat saat ia memutar tubuhnya tanpa melihat arah—
BRUAKK!
Tubuh Fatih bertabrakan cukup keras dengan seorang gadis bercadar putih yang sedang memeluk kardus berisi paket sembako tambahan. Benturan itu membuat keseimbangan mereka goyah. Kardus di pelukan gadis itu terlepas, membuat beberapa bungkus mi instan dan kantong beras tumpah ruah di atas rumput kering.
Secara bersamaan, didorong oleh rasa bersalah dan kesopanan, keduanya langsung berlutut di tanah untuk memunguti barang-barang yang berserakan. tangan mereka hampir bersentuhan saat hendak mengambil sebungkus beras yang sama.
Pada detik itulah, mata mereka saling bertemu.
Fatih terpaku. Hanya sepasang mata yang terlihat di balik celah cadar putih itu. Namun, sorot mata itu... pancaran ketakutan dan luka yang membeku di dalamnya... terasa begitu familiar di lubuk hati Fatih yang paling dalam. Tanpa sadar, bibir Fatih bergetar dan sebuah nama lolos begitu saja dari tenggorokannya.
"Bella..." gumam Fatih, nyaris berupa bisikan.
Gadis itu tersentak hebat, pupil matanya melebar sekilas sebelum ia buru-buru memalingkan wajah dan menunduk sedalam-dalamnya. Dengan tangan yang gemetar, ia menarik kain cadarnya agar lebih tertutup.
"Maaf, Mas... permisi," ucap gadis itu dengan suara yang sengaja disamarkan, terdengar dingin dan tergesa-gesa. Ia segera bangkit, menyambar sisa barang, dan menghindar masuk ke dalam kerumunan panitia di barisan belakang.
Fatih masih terpaku di atas lututnya, menatap punggung gadis itu yang menjauh dengan rasa ragu yang menyiksa. “Kenapa sorot mata itu begitu mirip dengan Bella? Tapi suara dan pakaiannya... dia adalah anggota komunitas bercadar ini,” pikir Fatih dengan kepala yang berputar hebat.
Di sisi lain, di balik tumpukan kardus sembako, jantung Wulan berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Air matanya menetes di balik kain cadar.
“Ya Allah... kenapa dia harus ada di sini?! Kenapa Engkau mempertemukan kami dalam keadaan seperti ini?” batin Wulan merana.
Saat ia merapikan sisa sembako yang berhasil ia bawa, matanya tertuju pada selembar kertas yang terselip di antara lipatan kardus. Kertas itu terjatuh dari saku Fatih saat mereka bertabrakan tadi. Wulan mengambilnya, dan seketika hatinya serasa disayat sembilu. Itu adalah foto ijab kabul mereka.
“Ini...?” batin Wulan, menatap foto dirinya yang tampak muram di hari pernikahan mereka. “Kamu mencariku, Kang? Untuk apa? Untuk menghakimiku lagi? Atau untuk memastikan bahwa aku sudah benar-benar hancur setelah kamu usir tanpa sempat menjelaskan apa pun?” Rasa cemburu dan sakit hati yang terpendam selama seminggu ini kembali membakar dadanya, membuatnya merasa sangat tidak berdaya.
Pertemuan Dua Masa Lalu dan Kerusuhan di Meja Lima
Fatih terus memandangi punggung gadis yang bertabrakkan tadi, dia mencoba menepis kebingungannya lalu Hasna yang melihatnya memanggilnya ke tenda utama. "Ustadz..ustadz.. sini..!"
Lalu Fatih melangkah menuju tenda utama, di mana ia dipanggil oleh Hasna. Sudah cukup lama mereka tidak bertatap muka secara langsung; selama ini Hasna hanya memantau dakwah Fatih lewat potongan video yang viral di media sosial.
"Ustadz Fatih... Masya Allah, apa kabar?" sapa Hasna dengan nada penuh rasa hormat dan syukur.
Fatih tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan wajah kuyunya. "Eh, Hasna... Alhamdulillah baik. Bagaimana denganmu? Sekarang Muslimah Till Jannah sudah semakin maju ya. Sukses besar untukmu dan seluruh pengurus, Hasna. Umi pasti bangga kalau melihat ini."
Wulan, yang bertugas di meja nomor lima di ujung lapangan, menyaksikan interaksi itu dari kejauhan. Dari tempatnya berdiri, kedekatan Fatih dan Hasna terlihat begitu akrab. Mengingat cerita Hasna kemarin tentang seorang "Ustadz ganteng yang menolongnya dari jembatan," hati Wulan semakin terbakar api cemburu yang hebat.
“Wajar bila dia begitu mudah mengusirku,” batin Wulan dengan rapuh. “Dia adalah ustadz kondang yang dikagumi banyak wanita sholehah seperti Kak Hasna. Dia punya banyak pilihan perempuan yang jauh lebih suci dan terhormat daripada aku. Tinggal pilih saja mana yang dia mau... sedangkan aku hanya wanita pembawa sial.”
Tiba-tiba, situasi di depan meja nomor lima berubah mencekam. Beberapa warga di barisan belakang mulai tidak sabar karena takut kehabisan paket bansos. Aksi saling dorong tak terhindarkan.
"Woy, maju dong! Jangan lama-lama!"
"Saya sudah antre dari subuh, jangan diserobot!"
BRAAKKK!
Pagar pembatas dari besi ambruk. Gelombang massa yang beringas merangsek maju, menumbruk meja nomor lima. Wulan yang berada di posisi paling depan mencoba bertahan dari dorongan tersebut, namun tubuh ringkihnya yang belum pulih total akibat tekanan batin tidak mampu menahan beban massa.
"Tolong! Tolong kondisikan barisan!" teriak salah satu ukhti panitia.
AKBP Ridwan yang berada tidak jauh dari lokasi segera berlari bersama anggotanya. "Amankan barisan! Jangan ada yang mendorong!" terak Ridwan dengan suara menggelegar, langsung memasang badannya untuk menahan desakan warga.
Namun, di tengah kekacauan itu, pandangan mata Wulan mendadak nanar. Dunianya berputar dengan hebat. Suara teriakan warga terdengar semakin samar di telinganya, berubah menjadi gema yang menakutkan. Langit pagi yang cerah perlahan berubah menjadi gelap gulita.
Bruk...
Tubuh Wulan ambruk ke atas tanah, pingsan di tengah kekacauan.
"Tolong! Tolong, Pak! Ada ukhti yang pingsan!" teriak panitia lain dengan histeris.
Tanpa membuang waktu, AKBP Ridwan menerobos kerumunan, membungkuk, dan segera membopong tubuh Wulan yang tak berdaya itu dengan kedua lengan kekarnya, membawanya dengan cepat menuju tenda ruang kesehatan yang terletak di balik panggung utama.