Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kepulangan dari mal kemarin tidak lantas membuat Arkan Mahendra berhenti menjalankan mode 'Bodyguard Super Posesif'. Justru, hari ini, pintu ruang kerjaku di Mahardika Group dibuka dengan ritme yang lebih waspada. Bukan Arkan yang masuk, melainkan Hadi, sang sekretaris yang wajahnya kini tampak lebih lelah daripada atasan-atasannya.
"Bu Naura," sapa Hadi dengan nada dramatis, meletakkan setumpuk dokumen di mejaku. "Berdasarkan instruksi langsung dari Pak Arkan—yang saya yakin Bapak sedang memantau kita dari ruangannya lewat CCTV—saya diperintahkan untuk menjadi 'pendamping tetap' Ibu sepanjang hari ini."
Aku melongo. "Pendamping tetap? Hadi, kamu ini sekretaris direksi, bukan pengawal pribadi kelas teri!"
Hadi tersenyum kecut, lalu dengan gerakan ninja yang cekatan, dia mengeluarkan sebuah *walkie-talkie* dari balik sakunya dan meletakkannya di sudut mejaku. "Sinyal ini terhubung langsung ke saluran darurat Pak Arkan. Kalau ada pria yang mendekati Ibu dengan niat yang... tidak profesional, tekan saja tombol merah ini. Dalam tiga detik, tim keamanan akan muncul."
Aku memijat pelipis. "Hadi, katakan pada Arkan bahwa kalau dia tidak segera menghentikan kegilaan ini, aku akan memblokir semua aksesnya ke dapur apartemen."
Hadi mendesah. "Bu, saya cuma menjalankan tugas demi kelangsungan hidup saya. Kalau Bapak marah, saya yang pertama kali dipecat. Tolong, kerja samanya ya, Bu."
Pagi itu berjalan dengan sangat absurd. Setiap kali ada klien pria atau rekan kerja pria yang masuk ke ruanganku, Hadi akan berdiri dengan tegak di sudut ruangan, menatap orang tersebut dengan tatapan menyelidik seolah dia adalah detektif yang sedang mencari bukti tindakan kriminal. Para pria itu pun langsung salah tingkah dan buru-buru menyelesaikan urusan mereka lalu kabur dengan wajah pucat.
Puncaknya terjadi saat jam istirahat makan siang. Aku sedang ingin makan sesuatu yang 'merakyat' setelah kemarin diganggu Arkan. Aku diam-diam menyelinap ke pantri kantor, berniat mencari sebungkus keripik pedas level 'Maut' yang kusimpan di laci bawah meja pantri.
Saat aku sedang asyik mengunyah keripik yang cabainya membuat lidah terasa terbakar, tiba-tiba pintu pantri terbuka. Arkan berdiri di sana, menatapku dengan mata elang yang menyapu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Naura," suaranya tenang, tapi aura di sekitarnya terasa sangat berbahaya. "Kamu makan apa itu?"
Aku tersedak. "E-eh, cuma keripik, Mas Arkan."
Arkan berjalan mendekat, merebut bungkusan keripik dari tanganku, lalu membacanya dengan kening berkerut. "Level Maut? Apakah kamu sedang mencoba bunuh diri dengan bahan kimiawi buatan?"
"Ini namanya kebahagiaan, Arkan! Sesekali perlu makan yang pedas biar hidup nggak hambar seperti wajahmu setiap pagi!" bantahku dengan gengsi yang tersisa.
Arkan tidak membalas. Dia justru membuang bungkusan keripik itu ke tempat sampah, lalu menarik tanganku untuk keluar dari pantri. "Makan siangmu hari ini adalah salad sehat di kantin eksekutif. Saya sudah memesankannya. Jangan pernah lagi menyentuh makanan yang warnanya lebih merah daripada amarah saya."
"Kamu itu benar-benar—!"
"Sst," Arkan meletakkan jari telunjuknya di bibirku. "Jangan berdebat di koridor. Kamu ingin semua karyawan mendengar kita beradu mulut?"
Kami berjalan menuju kantin eksekutif yang mewah. Tentu saja, di sana tidak ada kerumunan orang, hanya ada meja kayu mahoni yang rapi. Namun, saat kami baru saja duduk, aku melihat Dimas duduk di meja seberang, sendirian, sedang menatap kami dengan senyum miring yang menyebalkan.
Dimas sengaja meletakkan ponselnya di atas meja, menyalakan kamera. Dia sepertinya sedang mencoba merekam interaksi kami untuk dijadikan amunisi baru.
Arkan menyadari itu. Tanpa terlihat marah, Arkan justru mencondongkan tubuh ke arahku, lalu mengambil selembar tisu. Dengan gerakan yang sangat lembut dan manis—yang sengaja dipamerkan ke arah meja Dimas—dia mengusap sudut bibirku yang terkena remah keripik tadi.
"Kamu selalu ceroboh kalau makan," bisik Arkan dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh orang di sekitar. "Lain kali, biar saya saja yang menyuapimu agar tidak berantakan seperti ini."
Wajahku memanas. Ini bukan cemburu, ini adalah ajang pamer kemesraan untuk mempermalukan Dimas. Arkan memang tahu cara bermain kotor dengan gaya yang elegan.
Dimas tampak kesal. Dia segera mematikan ponselnya, mendengus, lalu berdiri dan pergi dari kantin dengan langkah cepat.
"Puas?" tanyaku pelan setelah Dimas hilang dari pandangan.
Arkan tersenyum puas, senyuman yang sangat langka. "Sangat puas."
"Arkan," aku menatapnya serius. "Sampai kapan kita akan melakukan ini? Kita tidak bisa terus-terusan bertindak seolah-olah kita sedang syuting drama setiap hari hanya untuk membuat Dimas kesal."
Arkan berhenti memotong daging steak di piringnya. Dia menatapku dalam-dalam. "Sebenarnya, Naura... Dimas bukan satu-satunya alasan."
"Maksudmu?"
"Saya hanya tidak suka melihat orang lain menatapmu, bahkan dalam pikiran mereka. Saya sadar, sikap saya ini posesif dan mungkin memuakkan. Tapi sejak saya sadar bahwa kamu adalah istri saya, saya merasa dunia ini tiba-tiba menjadi sangat berbahaya bagi kamu."
Aku tertegun. Gengsi yang biasanya menyelimuti Arkan kini memudar, digantikan oleh kejujuran yang membuat hatiku bergetar. "Aku bisa menjaga diriku sendiri, Arkan. Kamu tidak perlu takut."
"Saya tahu. Tapi membiarkanmu menjaga dirimu sendiri adalah kegagalan terbesar saya sebagai suami," balasnya tegas. "Jadi, mari kita buat kesepakatan."
"Kesepakatan apa?"
"Kamu berhenti mengonsumsi keripik pedas yang bisa melubangi lambung itu, dan saya akan... mengurangi sedikit porsi 'pengawasan' Hadi," tawar Arkan dengan nada kompromi yang sangat sulit diucapkan oleh pria sepertinya.
Aku tertawa. "Deal. Tapi Hadi tetap harus kembali jadi sekretaris biasa, ya?"
Arkan mendengus, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi jika saya melihat pria lain berani menggoda kamu, Hadi akan kembali menjadi pengawal pribadi dalam hitungan detik."
Siang itu, aku merasa bahwa kami baru saja melewati satu langkah maju dalam pernikahan yang aneh ini. Arkan mungkin masihlah pria yang kaku dan arogan, tapi di balik semua itu, dia mulai belajar bahwa kepercayaan itu jauh lebih penting daripada sekadar perintah.
Namun, saat kami berjalan keluar dari kantin, Hadi berlari menghampiri kami dengan napas terengah-engah.
"Pak Arkan! Bu Naura! Berita buruk!"
"Apa lagi?" tanya Arkan dengan nada malas.
"Tadi... di ruang kerja Ibu, ada paket kiriman misterius. Isinya... kalajengking mainan yang terbuat dari karet, tapi ada catatan ancamannya."
Aku dan Arkan saling pandang. Dimas. Dia benar-benar tidak ada habisnya.
Arkan menatapku, matanya kembali menyala dengan api yang berbahaya. "Hadi, panggil tim keamanan. Kita akan mendatangi kantor Dimas sekarang juga. Kali ini, tidak ada lagi diplomasi."
"Tunggu, Arkan!" aku menahan lengannya. "Kalau kita ke sana, dia justru akan merasa menang karena berhasil memancing emosimu. Itu yang dia inginkan!"
Arkan berhenti. Dia memandangku lama, lalu menghela napas panjang. "Lalu, menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
Aku tersenyum jahil. "Kita tidak perlu ke sana. Kita balas dengan cara yang lebih halus tapi lebih menyakitkan bagi egonya."
"Maksudmu?"
"Ingat proyek kolaborasi agensi kreatif yang dia inginkan? Kita terima proposal itu, tapi dengan syarat..."
Arkan menyeringai. Dia langsung paham ke mana arah pikiranku. "Syarat bahwa dia harus bekerja langsung di bawah pengawasan Hadi, di ruangan tanpa jendela, selama satu bulan penuh?"
"Lebih tepatnya, di gudang penyimpanan dokumen yang suhunya selalu diatur dingin agar dokumen tidak rusak," tambahku.
Arkan tertawa lepas. Sebuah tawa yang jarang sekali kudengar. "Naura, terkadang aku takut sekaligus kagum padamu. Kamu jauh lebih kejam daripada aku."
"Itu karena aku belajar dari yang terbaik, Pak Bos," jawabku sambil mengedipkan mata.
Hadi yang berdiri di samping kami hanya bisa menunduk, menahan tawa. "Siap, Pak. Saya akan segera menyiapkan ruang kerja 'istimewa' untuk Pak Dimas."
Hari itu berakhir dengan perasaan yang sangat melegakan. Dimas mungkin akan terus mencari cara untuk menjatuhkan kami, tapi selama Arkan ada di sisiku, dan selama aku punya Arkan untuk diajak bekerja sama, tidak ada hambatan yang tidak bisa kami lalui.
***
Malam harinya, di apartemen, Arkan memelukku dari belakang sambil menatap lampu kota Jakarta dari balik jendela kaca.
"Naura," bisiknya pelan.
"Ya?"
"Sekarang," bisik Arkan dengan nada jahil yang tiba-tiba muncul, "apakah ada keripik pedas lagi di dalam tasmu?"
Aku tertawa. "Tidak ada, Pak Bos. Aku janji."
"Bagus," dia menarikku menuju kamar. "Karena mulai malam ini, saya punya kegiatan lain yang jauh lebih sehat untuk dilakukan bersama kamu."
pokonya terus semangat author