Dimas Saputra seorang pemuda tampan yang sholeh, mendapatkan hati seorang wanita cantik yang kaya raya.
Seorang pemuda yang bekerja di sebuah perusahaan besar milik keluarga Haristian, kini telah memikat hati seorang putri cantik dari pemilik perusahaan tersebut.
Berawal dari kehidupan yang sederhana, membuat dirinya merasa tak pantas untuk mendampingi wanita yang begitu terlihat sempurna. Namun kenyataannya jika yang kuasa sudah berkehendak, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enchya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Di kantor papa Adit...
Seperti biasa, semua orang bekerja dengan baik di kantor itu. Tapi hari ini semua karyawan dibuat terkejut dengan penampilan Amel yang tidak seperti biasanya.
Amel memakai pakaian minim serba ketat, baju ketat dan rok span diatas lutut yang memperlihatkan pahanya. Semua itu Amel lakukan untuk bisa mendapatkan perhatian Dimas. Amel berharap Dimas akan tertarik dengan dirinya yang berpenampilan seperti itu. Padahal sebenarnya Amel sendiri merasa tidak nyaman dengan pakaian serba ketat seperti itu, namun apapun akan Amel lakukan untuk bisa mendapatkan Dimas.
Lain halnya dengan Dimas, dimas sama sekali tidak melirik Amel, bahkan Dimas merasa risih dengan sikap Amel kepada dirinya akhir-akhir ini. Dimas curiga dengan kejadian Amel yang hampir jatuh di tangga kemarin. Karena jelas-jelas di sana tidak ada apa-apa, jadi Dimas berfikir kalau itu semua ada unsur kesengajaan. Dan yang membuat Dimas tambah tidak suka dengan Amel, Amel mengirimkan pesan mengajak Dimas untuk dinner malam nanti di sebuah cafe, dan Dimas sama sekali tidak membalas pesan Amel tersebut.
Dihari itu, saat papa Adit datang dan hendak masuk ke dalam ruangannya, Amel berdiri di luar ruangan. Papa Adit juga ikut terkejut dengan perubahan penampilan Amel.
"Ada apa dengan Amel? tidak biasanya dia berpakaian seperti ini." Ujar papa Adit bicara dalam hati.
Tapi papa Adit tidak menegur Amel, dia hanya berjalan di depan Amel menuju ruangan kerjanya. Dan seperti biasa Amel membungkukkan badannya memberi hormat kepada pimpinan perusahaan.
Setelah papa Adit masuk, Amel melihat Dimas yang akan menaiki tangga. Amel kegirangan, dia tau Dimas akan membersihkan ruangannya, dan Amel langsung masuk dan duduk di kursi kerjanya.
Dimas mengetuk pintu ruangan Amel, setelah di persilahkan, Dimas masuk dan mulai membersihkan ruangan Amel tersebut.
Dimas sengaja melakukan pekerjaannya dengan cepat karena tidak mau berlama-lama di ruangan itu bersama Amel.
Setelah Dimas hampir selesai membersihkan semuanya di ruangan itu Amel berpura-pura mau mengambil buku di rak buku bagian paling atas. Karena Amel tak bisa menjangkaunya Dimas menawarkan diri untuk mengambilkannya.
"Mba Amel butuh bantuan saya?" Ujar Dimas.
"Iya Mas, tolong ambilkan buku ini." Ujar Amel senang, karena memang ini akal-akalan dia biar bisa melihat wajah Dimas dari dekat.
Dimas melakukannya, dan Dimas menyadari tatapan Amel yang begitu intens. Maka dari itu Dimas dengan cepat memberikan buku itu lalu Dimas bersiap untuk keluar ruangan.
Dimas melihat ada yang aneh dengan Amel. Lalu Dimas bersiap-siap hendak melarikan diri dari situ, sebelum Amel melakukan sesuatu.
Dan benar saja saat Dimas mau keluar, tangan Dimas di tahan oleh Amel.
"Mas, sebentar." Ujar Amel menahan tangan Dimas yang hendak keluar.
"Iya mba ada apa?" tanya Dimas menoleh ke arah Amel.
"Mas, temani aku di sini."
"Apa mba?" Dimas pura-pura tidak mendengar ucapan Amel barusan.
"Eeh, em, itu, anu, maksut saya apa kamu sudah selesai membersihkan ruangan saya?" tanya Amel gugup karena mengucapkan hal yang tidak seharusnya di ucapkan itu.
"Sudah mba, semua sudah saya bersihkan, saya permisi dulu mba." Jawab Dimas sambil melangkah pergi.
"Tapi Mass,,,," Ucapan Amel menggantung karena Dimas sudah melangkah jauh.
Dimas memang sengaja pergi dengan langkah yang di percepat dan tidak menghiraukan teriakan Amel.
Amel yang masih berdiri menghentakkan satu kakinya, dia kesal melihat Dimas yang tidak meresponnya. Bahkan Dimas tidak tertarik dengan penampilan barunya yang memang sengaja dia lakukan untuk membuat Dimas menyukainya. Dan yang membuat Amel lebih kesal lagi, Dimas tidak membalas pesannya yang mengajak Dimas dinner malam nanti.
Sesampainya di ruangan lain, Dimas merasa lega bisa melarikan diri dari Amel.
"Alhamdulillah, selamat." Ujar Dimas sambil mengusap dadanya dengan telapak tangannya.
Teman Dimas yang melihat tingkah Dimas itu, menghampiri Dimas dan menepuk pundak Dimas hingga dia terkejut.
"Mas, ngapain kamu di sini?" tanya teman Dimas yang bernama Tono.
"Eh kamu ton, bikin kaget aja. Ini baru selesai membersihkan ruangan di situ." Ujar Dimas sambil menunjuk ke ruangan kerja Amel.
"Lha terus ngapain pakai mengusap dada segala?" tanya Tono masih penasaran dengan tingkah Dimas.
"Ngga,,, ga ada apa-apa." Jawab Dimas sambil tersenyum.
Kemudian mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
.
.
.
Lisa..
Lisa bersama keempat sahabatnya sedang berada di kampus, karena hanya ada satu mata kuliah di hari ini, mereka berencana untuk menjenguk Risky lagi ke rumah sakit.
Seperti biasa mereka berlima ke kantin usai pembelajaran. Di kantin mereka membahas soal rencana liburan mereka ke puncak. Selain itu mereka juga membicarakan acara hari ini untuk menjenguk Risky ke rumah sakit walau sebentar.
Usai makan, mereka berlima berjalan menuju parkiran kampus, dimana mobil Vika terparkir di sana. Vika masuk di bagian kemudi, Lisa di depan sebelah kiri, sedangkan Sela Aulia dan Rere duduk di belakang.
Vika melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. 30 menit perjalanan, mereka sampai di rumah sakit tempat Risky dirawat. Vika memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia di rumah sakit itu.
Mereka berlima masuk dan menuju ke ruangan Risky dirawat. Sesampainya di sana, mereka menatap satu sama lain, mereka merasa sedih karena di sana hanya ada ibunya Risky yang menemani Risky, tidak ada sanak saudaranya yang lain.
Risky masih terbaring tak berdaya di tempat tidur rumah sakit tersebut. Sudah beberapa hari Risky di rawat, namun keadaannya masih tetap sama, Risky belum juga sadarkan diri.
Mereka mendekat ke arah Risky dan ibunya. Ibu Risky yang melihat kedatangan mereka tidak bisa menahan air matanya, ibunya Risky meneteskan air mata, terharu melihat teman-teman anaknya yang peduli dengan dirinya.
"Terima kasih nak, kalian sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Risky."
"sama-sama bu." Jawab mereka bersamaan.
"Bagaimana keadaan Risky bu?" tanya Rere.
"Ya beginilah nak, dia masih belum mau membuka matanya." Jawab ibunya Risky di sela-sela isak tangisnya.
"Yang sabar bu, kita semua hanya bisa membantu do'a, semoga Risky segera sadarkan diri." Ujar Lisa.
"Iya terima kasih nak," Jawab ibunya Risky dengan wajah sendunya.
"Nak Lisa, bolehkah ibu meminta tolong?" kata ibunya Risky lagi.
"Minta tolong apa bu?" jawab Lisa sambil menatap ibunya Risky.
"Tolong nak, tolong sadarkan Risky, buat dia mau untuk membuka matanya." Ujar ibunya Risky memohon kepada Lisa.
"Maksut ibu?" tanya Lisa yang belum bisa mencerna perkataan ibunya Risky.
"Tolong nak, ibu tau betapa Risky sangat mencintaimu. Risky selalu memperhatikan foto-foto kamu saat dia berdiam diri di kamar. Ibu tau kamu wanita yang Risky cintai, tolong nak, tolong sadarkan dia. Ibu percaya dengan kekuatan cinta, Risky akan segera sadarkan diri."
Ucapan ibunya risky itu membuat hati Lisa merasa bersalah, karena selama ini Lisa tak pernah bisa membalas perasaan Risky itu.