"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
Rea semakin kaget. Tak percaya dengan ajakan Dewa.
"Mak-maksud, Mas Dewa?" jawab Rea gagap.
Siapa yang tak gagap diajak seperti itu oleh seorang pria.
Dewa terdiam. Tatapannya semakin lekat pada Rea. Dari mata, turun ke bibir Rea. Tangan Dewa bahkan menyentuh dagu Rea. Membuat hati Rea semakin tak karuan.
Wajah Dewa mendekat. Namun, sebelum sampai bibir Dewa pada bibir Rea, pria itu justru menarik wajahnya. Lalu tertawa. Seolah yang baru ia lakukan adalah lelucon.
"Kamu beneran takut, ya?"
Rea mengembuskan napas lega. Sekaligus bingung. Batinnya sedang berperang tadi, antara membiarkan Dewa melakukan apa yang pria itu inginkan atau menolaknya. Yang ia takutkan bukan kehilangan kegadisan, melainkan jika apa yang ia lakukan dengan Dewa membuahkan seorang anak dalam rahimnya.
Dia belum pernah membahasnya dengan Dewa. Kalau sampai hamil, bagaimana status anak itu nanti. Apakah akan bersama Rea saat berpisah nanti, atau justru diambil Dewa. Entahlah, hal itu yang justru Rea pikirkan.
Dewa kembali memeluk erat Rea. "Aku mungkin bajingan, tapi kamu harus percaya, kalau aku akan menepati janji ...."
Dewa menunduk menatap Rea yang mendongak menatapnya. "Kecuali, kamu ijinkan aku melakukannya."
Kontan Rea mencubit perut Dewa. Sampai pria itu mengaduh.
"Argh!"
"Kenapa dicubit?" tanya Dewa dengan polosnya.
"Soalnya Mas Dewa kalau ngomong nggak difilter," jawab Rea enteng.
"Lah, salahnya di mana. Aku bener, kan? Aku akan nepatin janji aku buat nggak nyentuh kamu, tapi kalau kamu ijinkan aku buat melakukannya, ya aku nggak nolak kalau harus ingkar janji."
Sekali lagi Dewa menjerit. Cubitan Rea kembali mendarat di perutnya.
"Mas Dewa tuh dari awal udah melanggar janji, Mas. Nggak sadar banget sih!" omel Rea.
"Aku? melanggar janji?" Dewa menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, sejak kita nikah Mas Dewa udah melanggar janji. Katanya nggak akan nyentuh aku, tapi habis nikah Mas Dewa seenaknya main peluk, main cium sesukanya." Rea mengingatkan apa yang sudah Dewa lakukan padanya.
Dewa justru tertawa ingat semua. Iya, awalnya hanya akting untuk meyakinkan maminya juga orang-orang kalau pernikahan mereka bukan rekayasa, tapi Dewa justru ketagihan.
Tangan Dewa menyentuh bibir Rea. "Kamu tahu nggak, bibir ini bikin aku candu."
Bukannya bahagia, Rea justru jadi canggung saat Dewa berkata jujur.
Dewa tahu Rea malu, karena itu ia kembali memeluk Rea. Menyembunyikan wajah gadis itu dalam dekapannya.
Untuk sesaat, hanya keheningan yang mengisi ruang di antara mereka. Sampai Dewa berkata, "Kamu udah tahu berita soal aku?"
Dalam dekapan Dewa, Rea mengangguk.
"Kamu lihat juga vidionya?"
Tatapan keduanya bertemu.
Dengan malu-malu, Rea mengangguk lagi.
Dewa terdiam. Menatap Rea dengan aneh.
Rea jadi salah tingkah. Bingung harus bilang apa, karena mengaku melihat vidio Dewa dengan orang lain.
"Tapi aku nggak nonton semuanya kok, cuma dikit ...." Rea berusaha membela diri.
Meski sudah dijelaskan, Dewa tetap menatapnya aneh. Rea jadi takut kalau Dewa marah. Harusnya ia tak mengaku tadi.
"Jadi kamu udah lihat tubuh aku dong?"
Apa?
Otak Rea jadi bingung mencerna ucapan ambigu Dewa. Ya Tuhan, kenapa sih dengan cowok ini?
"Iya, kamu lihat tubuh aku dong. Katanya udah lihat vidio itu. Kamu mau lihat secara langsung, nggak?" goda Dewa.
Lagi-lagi Rea mencubit Dewa. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Dewa sampai teriak kesakitan.
"Ampun, Rea. Aku cuma bercanda."
"Bercandanya nggak lucu, Mas!"
"Iya, maaf ... maaf."
Keduanya kembali berpelukan. Dewa tersenyum sendiri menatap Rea yang ada dalam dekapannya.
Ada perasaan aneh yang ia rasakan. Hatinya tak segalau tadi. Meski masalahnya belum selesai, atau mungkin baru dimulai, tapi Rea membuatnya tetap bisa merasakan ketenangan. Memeluk Rea, membuat perasaannya seolah tak takut lagi kehilangan apa pun di dunia ini, termasuk karirnya.
"Mungkin aku akan kehilangan karirku, tapi kamu jangan khawatir, aku tetap akan membayar sisa uang yang aku janjikan dulu," ujar Dewa tiba-tiba.
Rea langsung mendorong Dewa. "Mas Dewa kenapa ngomong gitu?"
"Memangnya kenapa. Kamu sudah lihat sendiri kan beritanya. Banyak brand memutuskan kerjasama denganku. Bahkan drama yang sudah aku tandatangani kontraknya pun dibatalkan. Karirku sudah berakhir. Meski begitu kamu jangan takut, aku masih punya banyak uang untuk membayar kekurangan yang aku janjikan dulu."
Dulu Dewa mentransfer sebagian bayaran Rea. Sisanya akan ia berikan jika mereka sudah berpisah, sesuai perjanjian.
"Kalau Mas Dewa nggak bayar kekurangan uangnya juga nggak apa. Uang yang dulu Mas Dewa kasih masih banyak, ditambah uang makan yang Mas Dewa beri, belum lagi uang bulanan yang Mas Dewa bilang nafkah kemarin, semua masih ada Mas. Mas kawin yang Mas Dewa kasih, itu juga sangat banyak. Jadi Mas Dewa nggak usah khawatir soal bayaran aku. Aku udah nerima banyak dari Mas Dewa."
"Terima kasih, Rea. Terima kasih sudah mengerti aku. Aku tetap akan membayar apa yang sudah aku janjikan, aku tidak akan ingkar janji untuk yang satu ini."
"Mas ...."
Dewa mengecup kepala Rea. "Terima kasih juga sudah merawat Mami."
"Kenapa Mas Dewa ngomong gitu, merawat Mami itu juga kewajiban aku, Mas. Aku udah anggap Mami kayak ibu aku sendiri. Aku bahkan bahagia bisa deket sama Mami." Yang Rea katakan benar. Ia seperti menemukan kasih sayang seorang ibu lagi sejak mengenal Yunita.
Dewa menyunggingkan senyum. "Kamu jangan terlalu baik, Rea."
Rea mengernyit bingung.
"Iya, jangan terlalu baik ...." Dewa menjeda kalimatnya. "Jangan bikin aku jatuh cinta sama kamu."
Rea tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa diam mematung. Bahkan saat bibir Dewa mulai menyentuh bibirnya, Rea masih diam saja.
Kecupan yang berubah menjadi sebuah pagutan yang dalam. Rea masih terdiam. Membiarkan Dewa melakukan apa yang ia inginkan. Juga, saat tangan Dewa mulai lancang menelusup masuk ke piyama Rea. Menyentuh kulit perut Rea, lalu diam-diam naik ke bagian atas tubuh Rea.
Kali ini bukan Rea yang bingung, justru Dewa yang dibuat bingung dengan sikap diam Rea. Dewa berhenti. Ia melepaskan bibirnya dari bibir Rea, juga menarik tangannya keluar dari piyama Rea.
"Kenapa kamu diam aja, kenapa nggak nolak kayak biasanya?" tanya Dewa dengan bingung.
"Karena aku percaya sama Mas Dewa."
Kini, Dewa yang tercengang dengan jawaban Rea.