Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Beberapa jam sebelum Ezzra membuka pintu apartemen itu dengan sisa kewarasannya, suasana di unit elit milik Elowen Valerio sebenarnya tampak tenang—setidaknya dari luar.
Elowen melangkah masuk dengan perasaan campur aduk setelah kekacauan di kampus. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu saat ia melihat sosok yang paling tidak ingin ia temui sedang duduk di sofa ruang tamunya.
Jeff Feel-Lizzie.
Pria itu duduk dengan punggung tegak, menyesap teh yang ia buat sendiri seolah ia adalah pemilik sah tempat itu.
Jeff mendongak, memberikan senyum hangat—senyum yang selama setahun ini dianggap Elowen sebagai tempat bernaung, namun kini terasa seperti seringai pemangsa.
"Kau pulang, El," ucap Jeff lembut. "Duduklah. Kita perlu bicara baik-baik."
Elowen tidak bergerak. Ia mencengkeram tasnya erat-erat. "Bagaimana kau bisa masuk, Jeff? Aku tidak pernah memberikan kodenya padamu."
"Aku tahu segalanya tentangmu, El. Kau lupa? Aku adalah pelindungmu," Jeff berdiri, melangkah mendekat dengan ekspresi sedih yang dibuat-baik. "Katakan padaku... sejak kapan kau mengkhianatiku?"
Elowen memejamkan mata, merasa sesak oleh rasa bersalah yang kini bercampur dengan ketakutan. "Maafkan aku, Jeff. Ini terjadi... seminggu setelah kejadian di hotel itu. Seminggu setelah aku mencoba mengakhiri hidupku."
Jeff terdiam sejenak, wajahnya tampak berpikir. "Berarti kalian sudah saling mengenal sebelum malam itu? Kau dan Ezzra?"
"Tidak," sanggah Elowen cepat. "mungkin pagi di hotel itu adalah pertama kalinya kami bertemu secara fisik. Aku tahu dia teman mu karena saat aku diberitahu bahwa yang menolongku adalah pewaris pemilik hotel yang sedang menjalani hukuman, aku baru menyadarinya. Tapi aku tidak pernah berniat menjalin hubungan dengannya, Jeff. Semuanya... terjadi begitu saja."
Jeff terdiam. Senyum hangatnya masih di sana, namun sorot matanya berubah menjadi dingin secara drastis. Keheningan yang tercipta terasa sangat mencekam.
"Berarti," suara Jeff merendah, "hampir dua bulan terakhir kau menyelingkuhi aku dengan si brengsek itu? Di belakang punggungku? Saat aku membawakanmu bunga dan menemanimu terapi?"
"Dia tidak brengsek, Jeff," potong Elowen, membela pria yang kini sedang mendekam di sel tahanan karena fitnah pria di depannya.
Jeff terkekeh, sebuah tawa sinis yang hampa. "Dia brengsek, El. Mengambil kekasih temannya sendiri, merusak apa yang sudah kujaga dengan susah payah... jika itu bukan brengsek, lalu apa namanya?"
"Aku yang salah! Aku yang menyerahkan diriku padanya, Jeff! Berhenti menyalahkan Ezzra!" teriak Elowen frustrasi.
"Dia tetap brengsek," sahut Jeff dingin. "Dan kau tetap milikku."
Elowen merasa udara di ruangan itu semakin menipis. Ia tidak bisa lagi berada di ruangan yang sama dengan Jeff. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu apartemennya lebar-lebar.
"Tinggalkan apartemenku, Jeff. Keluar. Kita tidak memiliki hubungan lagi. Semuanya sudah berakhir," ucap Elowen dengan nada mengusir.
Ia berbalik, hendak masuk lebih dalam ke kamarnya untuk mengambil jarak. Namun, itu adalah kesalahan fatal. Jeff bergerak lebih cepat dari bayangan. Dengan satu gerakan tangkas, Jeff membekap mulut Elowen dari belakang menggunakan sapu tangan yang sudah dibasahi cairan kimia berbau tajam.
Obat bius.
Elowen meronta, namun tenaga Jeff jauh lebih kuat. Ia mendorong Elowen masuk ke dalam dan menendang pintu hingga tertutup rapat. Elowen terjatuh ke lantai, kepalanya terasa berputar hebat. Kesadarannya mulai mengabur, dunianya bergoyang seolah ia sedang berada di tengah badai.
"KELUAR...!" rintih Elowen, mencoba merangkak menjauh.
Namun Jeff tidak bergerak. Ia berdiri menjulang di atas Elowen, menatapnya dengan pandangan yang mengerikan.
"Aku sudah menjagamu seperti porselen suci selama setahun ini, Elowen. Aku tidak pernah menyentuhmu karena aku ingin kau sembuh. Dan sekarang, setelah kau memberikan dirimu pada berandal itu... aku meminta hak ku," ucapnya lantang, suaranya menggema penuh kegilaan.
Elowen, dengan sisa kesadarannya yang kian menipis, meraih sebuah vas kunci porselen di atas meja samping. Dengan tenaga terakhirnya, ia berniat menyerang Jeff. "Brengsek...!"
Jeff menghindar dengan mudah. Vas itu pecah berantakan di lantai. Ia menatap Elowen dengan senyum sinis yang murni. "Ayolah... bukankah kau pernah berkata akan memberikannya padaku di waktu yang tepat? Jadi tunggu apa lagi? Waktunya sudah tiba, El."
Kejar-kejaran singkat terjadi di ruang tamu yang kini berantakan. Elowen mencoba menyeret tubuhnya yang terasa seberat timah menuju dapur, mencari senjata apa pun. "Kau menjijikkan, Jeff! Kau monster!"
"Aku monster? Lalu Ezzra apa? Pahlawanmu?" Jeff mencengkeram bahu Elowen, membalikkan tubuhnya dengan kasar hingga punggung gadis itu menghantam dinding. "Berikan apa yang menjadi hakku, El!"
Elowen menatap Jeff dengan kebencian yang mendalam. Ia tahu ia tidak akan bisa menang secara fisik dalam kondisi terbius seperti ini. Namun, ia ingin menghancurkan Jeff dengan satu-satunya senjata yang ia punya: Kebenaran.
"Kau ingin hakmu, brengsek?" Elowen tertawa getir di tengah rasa pusingnya. "Ezzra Velasquez... aku sudah tidur dengannya berkali-kali. Dia sudah mengambil segalanya dariku yang sangat ingin kau dapatkan itu!"
Deg.
Sesuatu dalam diri Jeff seolah meledak. Wajahnya yang rapi mendadak berubah menjadi monster yang haus darah. Tanpa peringatan, Jeff melayangkan tamparan keras ke wajah Elowen, disusul dengan sebuah pukulan mentah di rahangnya.
"AH, KAU JALANG SIALAN!" teriak Jeff gila. Ia kehilangan kendali sepenuhnya. Baginya, Elowen yang suci telah dikotori, dan satu-satunya cara untuk "membersihkannya" adalah dengan menghancurkannya.
"Ya... aku memang jalang!" sahut Elowen, memprovokasi Jeff meski tubuhnya kian lemah.
Jeff kembali menyerang. Ia memukul Elowen seolah gadis itu adalah lawan tanding pria yang sepadan. Namun, di tengah serangan membabi buta itu, Jeff menyadari sesuatu yang aneh.
Elowen, yang biasanya tahu cara melindungi wajahnya, kini justru meringkuk dan melingkarkan tangannya erat-erat di area perutnya.
Jeff berhenti sejenak, napasnya memburu. Matanya tertuju pada tangan Elowen yang mencengkeram perutnya sendiri. "Apa...? Jangan bilang kau... kau hamil?!"
Elowen terdiam, matanya membelalak. Ia sendiri tidak sadar kenapa ia bertindak melindungi perutnya secara insting. Namun, ketakutan yang muncul di wajah Elowen adalah jawaban bagi Jeff.
"TIDAK! TIDAK! TIDAK!" teriakan Jeff menggema, penuh dengan keputusasaan dan amarah yang murni.
Ia menggila lagi. Kali ini, sasarannya bukan lagi wajah Elowen. Jeff melayangkan pukulan dan tendangan tepat ke arah perut Elowen. Ia mengumpat nama Ezzra setiap kali tangannya mendarat di tubuh rapuh itu.
"Sakit..." rintih Elowen.
Obat bius itu membuat otot-ototnya seperti jelly. Ia tidak bisa melawan, tidak bisa lagi merasakan badannya sendiri. Hanya rasa panas dan perih yang luar biasa di perutnya.
Tiba-tiba, cairan merah pekat mulai merembes keluar dari balik dress Elowen, mengalir membasahi lantai. Jeff terdiam. Ia menatap darah itu dengan senyum kecut yang mengerikan.
"Dia benar-benar hamil..." bisik Jeff. "Si brengsek itu benar-benar menanam benihnya di rahimmu."
"AAAAAAAAHHHHHH!" Jeff berteriak sekali lagi, sebelum akhirnya tertawa histeris. "Hahaha! Lihat... lihat, El. Anak itu... sepertinya anak haram itu sudah mati."
Jeff berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia menatap Elowen yang tergeletak tak berdaya di lantai, bersimbah darah dan memar. Ia sengaja membiarkan pintu apartemen sedikit terbuka, memberikan kesempatan bagi sekuriti untuk menemukan "mayat" Elowen nanti.
Sepanjang jalan menuju lift, Jeff tersenyum puas. Di matanya, Elowen sudah mati—atau setidaknya, Elowen yang ia cintai sudah mati bersama anak haram Ezzra. Ia bahkan sudah membayangkan dirinya mengenakan setelan hitam, menghadiri pemakaman Elowen besok dengan akting sedih yang paling sempurna.
Ia tidak tahu, bahwa di dalam sana, jantung Elowen masih berdetak lemah, berjuang untuk tetap hidup demi satu alasan: Pembalasan.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...