**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21—Aliansi Koclak Perang Suci Melawan Sultan Harem
Suasana lapangan setelah pulang sekolah hari itu ramai akan bising-bising dan bisikan. Matahari sudah terbit di atas, terik panas membuat keringat dua remaja itu berjatuhan. Rahmat menatap sang musuh tanpa meremehkan sama sekali.
“Apa kamu serius?”
Lelaki berkacamata itu membetulkan tata letak kacamatanya dengan gerakan dramatis, hingga memantulkan cahaya matahari yang terik. Dialah sosok Alfian. Seseorang yang tidak lama ini menjadi sohib rahmat setelah dia menyelamatkan dia dan teman masa kecilnya—emilia dari penindasan Reno (yang lupa sosok ini bisa cek Bab 58 dan Bab 33 di season 1)
Namun sohib itu kini menjadi musuh besar.
Di belakangnya, barisan siswa yang menamakan diri mereka "GARDA DEPAN ALYA" berdiri dengan pose sok keren, meski beberapa dari mereka sebenarnya sedang menahan keringat karena kepanasan.
“Aku serius, Rahmat!” Seru Alfian sembari menunjuk ke arah Rahmat. “menyelamatkanku dari Reno aku sangat berterima kasih, namun yang ini lain ceritanya!”
“Sudah kubilang aku buat salah apa coba?”
Suasana lapangan kembali menjadi heboh. Kedua remaja itu menjadi pusat perhatian.
“Cukup, Rahmat! Pengkhianatanmu sudah sampai ke batas cakrawala!" seru Alvin dengan suara yang sengaja diberikan, mencoba meniru tokoh antagonis di anime musiman.
Rahmat mengerutkan kening, menatap mantan orang yang dia selamatkan itu. "Pengkhianatan apalagi, coba? Perasaan kemarin kita masih asyik makan ayam geprek bareng.”
"Itu sebelum foto poster itu muncul!"
Alfian menunjuk papan pengumuman digital sekolah dengan dramatis.
"Kamu membonceng Dewi Alya dengan Ducati-mu yang menderu sombong itu... lalu sekarang kamu satu panggung dengan dia dan Kanaya Arcelia si idol nasional? Serakah juga ada batasnya! Kamu mau menguasai seluruh gadis spek nasional di sekolah ini sendirian?!"
"Dosa besar! Eksekusi!" teriak pengikut Alfian dari belakang, sambil mengangkat spanduk bertuliskan KEMBALIKAN BONCENGAN ALYA
Rahmat menghela napas. Oalah jadi masalah itu doang. Sementara seseorang lelaki baru datang dari ufuk barat dengan selusin rombongannya.
Rambut dibelah tengah ala-ala korea, sekilas dia tampan, namun otaknya rada-rada sengklek. Semacam satu jenis dengan Alfian. Pertama dia pakai ikat kepala bertulis “FANS KANAYA ARCELIA NOMOR SATU DI DUNIA!!”
Kedua berjaket yg penuh akan gambar kanaya. Ketampanan itu menghilang karena aura ketololan dia sendiri.
Dan rombongan di belakang gak usah ditanya. Itu adalah perkumpulan fans kubu kanaya.
“ITU BENAR, DIA TIDAK BISA DIMANFAATKAN!”
‘DOSANYA TERLALU BESAR!”
“EKSEKUSI DI TEMPAT!”
Pria berambut belah tengah itu sekarang berdiri di tengah lapangan. Mengikuti alfian. Sontak pria berkacamata itu menoleh.
“Dirimu, rozak ketua sekte pengabdi Kanaya! Apa maumu datang ke sini?! Menghina kami!?
"Menghina?" Rozak menyisir rambut belah tengahnya dengan jari, lalu menunjuk Rahmat dengan gaya menantang langit.
"Musuh dari musuhku adalah temanku, Alfian! Hari ini, Sekte Pengabdi Kanaya dan Garda Depan Alya bersatu demi satu tujuan: Melengserkan si Sultan Ducati ini dari takhta ke-Harem-annya!"
Rahmat melongo. Lapangan SMA Garuda yang tadinya panas karena matahari, kini makin mendidih karena uap kehaluan dua kubu ini.
"Rahmat Pratama!" seru Rozak, suaranya menggelegar layaknya orator demo. "Kamu pikir dengan memegang stang Ducati dan jadi sultan dadakan, kamu bisa memonopoli dua aset berharga sekolah sekaligus? Kamu sudah melanggar Protokol Jenewa Per-Wibu-an pasal 4 ayat 1: Dilarang memborong Waifu di depan umum!"
"Betul!" Alfian menimpali, membetulkan kacamatanya yang melorot karena keringat. "Cukup Alya yang kamu bonceng, jangan bawa-bawa Kanaya ! Itu namanya penimbunan aset negara!"
Lalu Rahmat menatap dua sohibnya itu. Si danu botak pelontos dan raefka si rambut acak-acakan.
“Kalian nggak mau bantuin gue.”
“Sori, Mat. Melawan sekte patah hati itu lebih bahaya daripada lawan bos organisasi hitam," jawab Danu santai.
“Dibilangin juga apa. Alfian dan rozak pasti bakal ngajak dirimu perang (baca bab sebelumnya)”
Rahmat semakin pusing dan notifikasi dari sistem muncul mendadak.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM ANALISIS: ALIANSI KOPLAK]
Target A: Alfian (Garda Depan Alya).
Target B: Rozak (Sekte Kanaya).
Status: Aliansi Sementara (Gencatan Senjata demi Balas Dendam).
Saran: Segera selesaikan, atau reputasi Tuan Rumah sebagai "Normal Human" akan hilang selamanya.
━━━━━━━━━━━━━━━
[Ding!]
[Misi Terbaru terpicu! Kalahkan duo aliansi koplak]
[Tingkat kesulitan sangat mudah!]
[Hadiah
Rp 10.000.000
10.000 coin sistem]
Rahmat menghela napas panjang, menatap ratusan siswa yang mulai mengerumuni lapangan. "Terus mau kalian apa sekarang? Gue pusing dengerin pasal-pasal aneh kalian."
Alfian dan Rozak saling pandang, lalu mengangguk mantap. Mereka mengeluarkan sebuah bola plastik dari balik punggung—bola yang sudah penuh coretan tanda tangan anggota sekte masing-masing.
"Duel Sepak Bola 3 Lawan 10!" seru Rozak jumawa. "Kamu, si plontos Danu, dan Raefka si sad boy. melawan kami berdua plus delapan anggota elit kami! Kalau kami menang, kamu harus menyerahkan kunci Ducati-mu ke OSIS selama seminggu!"
"Dan kamu harus pakai kaos bergambar wajah kami berdua saat latihan nanti!" tambah Alfian dengan seringai kemenangan.
"Woy! Kok gue dibawa-bawa?!" teriak Danu dari pinggir lapangan, masih memegang plastik berisi es teh.
“Aku juga kenapa anjing! Kita gak ada sangkut pautnya!”
Rahmat terkekeh kecil, aura kompetitifnya sedikit terpancing meski lawannya adalah kumpulan orang sengklek.
"Oke, deal. Tapi kalau gue menang, kalian berdua harus jadi 'tim sorak' resmi grup kami di pentas seni nanti. Pakai rumbai-rumbai, gimana?"
Wajah Alfian dan Rozak memucat membayangkan mereka harus menari dengan rumbai-rumbai, tapi demi harga diri sebagai ketua sekte, mereka membusungkan dada. "DEAL!"
Tepat saat peluit ditiup oleh salah satu pengikut Alfian, sebuah suara melengking memecah suasana dari pinggir lapangan.
"KAK RAHMAT! SEMANGAT!"
Semua orang menoleh. Di sana, Bella berdiri dengan seragam SMA Batu Bara-nya yang kontras, melambaikan tangan dengan riang sembari memegang botol air mineral dingin.
Dia terlihat membawa sebungkus plastik gorengan.
Alfian dan Rozak terdiam kaku. Mereka menatap Bella, lalu menatap Rahmat, lalu menatap satu sama lain.
"T-tunggu dulu..." Rozak bergetar. "Itu…seragam itu. Dia dari SMA sebelah SMA Batu bara. Kok dia bisa panggil si bajingan ini kak rahmat?”
"TIGA?!" teriak Alfian histeris hingga kacamatanya jatuh ke rumput. "DIA PUNYA TIGA?! SERANG! JANGAN KASIH AMPUN! DIA BENAR-BENAR MONSTER!"
“APA BAHKAN DIA MANUSIA!?”0
"SERBUUUUU!"
“EKSEKUSI DI TEMPAT!”
Rahmat hanya bisa tertawa sembari menggiring bola plastik itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Pertandingan paling kacau dalam sejarah SMA Garuda pun resmi dimulai.