NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbincangan

Unit apartemen mewah itu mendadak menjelma menjadi penjara bawah tanah yang pengap. Kesunyiannya begitu tajam, hanya dipecahkan oleh suara langkah kaki Erlangga yang menggema ritmis saat ia melintasi lantai marmer menuju dapur.

Kepala Erlangga terasa nyaris meledak. Di dalam dadanya, ada gumpalan emosi yang pekat, bercampur antara amarah, dominasi, dan sesuatu yang menyerupai rasa bersalah, meski ia enggan mengakuinya. Ia membuka pintu kulkas, membiarkan uap dingin menerpa wajahnya sejenak sebelum mengambil dua botol air mineral.

Saat kembali ke ruang tamu, pemandangan itu masih sama. Zea masih di sana, meringkuk di lantai di sudut sofa. Gadis itu memeluk lututnya erat-erat, seolah sedang berusaha melipat dirinya sendiri hingga menghilang dari muka bumi.

Erlangga mengempaskan tubuhnya ke sofa, meletakkan botol-botol itu di atas meja kaca dengan denting yang keras.

"Naik ke sofa," perintah Erlangga dingin.

Zea tetap bergeming. Tidak ada jawaban, bahkan tidak ada pergerakan sekecil pun.

"Aku tidak suka mengulang perintah, Zea. Naik."

"Untuk apa?" suara Zea terdengar lirih, nyaris seperti bisikan angin. "Bukankah di bawah sini tempat yang pantas untukku? Di bawah kakimu?"

Erlangga menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya yang sudah menipis. "Jangan mulai dengan drama ini. Naik ke sofa atau aku yang akan menarikmu ke sini dengan caraku sendiri."

Ancaman itu bekerja. Tubuh Zea menegang kaku. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia berdiri perlahan dan duduk di ujung sofa, mengambil jarak sejauh mungkin dari jangkauan Erlangga.

Erlangga membuka satu botol, meneguk isinya sebelum menyodorkan botol satunya. "Minum. Kamu butuh ini supaya bisa berpikir jernih."

Zea hanya menatap botol itu dengan pandangan kosong. "Berpikir jernih? Setelah apa yang kamu lakukan?, sepertinya kamu yang perlu berfikir jernih?"

"Minum, Zea," ulang Erlangga, suaranya naik satu oktav.

Zea tersentak. Air mata kembali jatuh saat ia meraih botol itu dengan tangan gemetar. Ia meminumnya sedikit, lalu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

"Apakah itu cukup buatmu?" tanya Zea tiba-tiba. Suaranya pelan, namun setiap katanya terasa tajam. "Melihatku seperti ini... apakah egomu sudah kenyang?"

Erlangga diam, matanya menatap tajam profil samping wajah Zea. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan."

"Apa yang harus kamu lakukan?" Zea menoleh, tertawa getir. "Kamu sudah mengambil harga diriku, Erlangga. Kamu merampas hidupku, masa depanku... semuanya. Kamu menghancurkan segalanya."

"Aku akan bertanggung jawab dengan memberimu masa depan yang lebih baik dari yang pernah kamu bayangkan," potong Erlangga cepat. "Fasilitas, kartu kredit, kehidupan yang diinginkan semua wanita. Kamu tinggal sebutkan angkanya."

"Masa depan?" Zea berteriak kecil, suaranya pecah. "Masa depan macam apa yang dibangun di atas reruntuhan harga diri? Kamu pikir aku ini apa? Barang yang bisa kamu rusak lalu kamu bayar ganti ruginya?"

Zea mencengkeram botol air itu begitu erat hingga plastiknya berderit. "Dan sekarang kamu pikir semua bisa selesai karena kamu punya uang? Karena kamu punya kekuasaan?"

"Uang bisa menyelesaikan banyak hal di dunia ini, Zea. Realistislah. Di luar sana, orang saling membunuh demi apa yang aku tawarkan padamu sekarang."

"Tapi uangmu tidak bisa membeli kembali semalam yang lalu!" Zea menatapnya langsung, matanya menyala penuh kebencian. "Kamu pikir kamu bisa beli rasa maluku? Kamu pikir bisa beli ketakutanku setiap kali melihat wajahmu? Harga diriku tidak dijual, Erlangga. Tidak kepada orang sepertimu. Konyol sekali kamu menganggap semuanya punya label harga."

Erlangga terpaku. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Ia menatap Zea dengan tatapan yang sulit diartikan. Selama ini, dunia Erlangga adalah tentang transaksi. Ia terbiasa dikelilingi wanita yang memandang jam tangan mewahnya lebih lama daripada menatap matanya. Wanita-wanita yang akan tersenyum manis hanya dengan satu gesekan kartu hitam, yang mengejarnya demi relasi, demi tas bermerek, atau sekadar demi status di samping seorang Erlangga Mahardika.

Namun, gadis di depannya ini berbeda. Zea menatap tumpukan kemewahan itu seolah-olah itu hanyalah sampah tak berguna. Tidak ada binar serakah di matanya. Tidak ada negosiasi angka. Hanya ada luka dan penolakan mentah terhadap segala sesuatu yang selama ini diagung-agungkan Erlangga sebagai sumber kekuatannya.

Dia benar-benar tidak menginginkan uangku, batin Erlangga bergejolak. Kesadaran itu membuatnya merasa telanjang, seolah senjata utamanya baru saja dipatahkan di depan matanya sendiri.

Setelah keheningan panjang yang menyiksa, Erlangga akhirnya bersandar pada sandaran sofa yang empuk. Ia membuang muka, mencoba mencari kembali otoritasnya yang sempat goyah.

"Sudah puas bicaranya?" tanya Erlangga rendah. "Kamu sudah lebih tenang sekarang setelah memuntahkan semua kebencian itu?"

Zea menyeka air matanya dengan kasar. "Tenang? Aku tidak akan pernah tenang selama aku masih bernapas di ruangan yang sama denganmu."

Erlangga tetap menatap lurus ke depan, suaranya kini terdengar lebih lelah namun tetap dominan. "Kalau begitu, simpan tenagamu. Karena kenyataannya, kamu tidak akan pergi ke mana-mana."

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh pelan ke arah Zea, menyadari bahwa ia harus menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menghadapi wanita yang tidak bisa dibeli ini. "Bisakah kita bicara sekarang? Secara dewasa?"

Zea tidak menjawab, ia hanya memeluk dirinya sendiri, menyadari bahwa meski ia telah melawan dengan kata-kata, ia masih terjebak dalam sangkar emas yang dibangun oleh pria di sampingnya.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!