Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibuat Tak Penting
Elena menatap layar ponselnya dengan perasaan kesal. Sudah ratusan pesan ia kirimkan, mulai dari untaian kata-kata manis yang mengingatkan Axel pada malam-malam mereka, hingga ancaman terselubung bahwa ia akan mengakhiri hidupnya jika Axel tidak muncul di depan pintunya dalam sepuluh menit. Namun hasilnya nihil. Centang satu. Axel benar-benar mematikan ponselnya.
"Brengsek kamu, Axel! Aku tidak bisa diperlakukan seperti ini." Elena berteriak sambil membanting ponselnya ke atas ranjang.
Elena merasa ada yang tidak beres. Biasanya Axel adalah pria yang paling mudah luluh. Cukup dengan satu tetes air mata atau keluhan tentang kepalanya yang pusing, Axel akan meninggalkan rapat penting sekalipun untuk datang membawakannya bubur atau sekadar memijat keningnya. Tapi kali ini Axel menghilang ditelan bumi tepat setelah ia terlihat berjalan berdua dengan Livia di pameran perhiasan tempo hari.
Berita tentang kembalinya pasangan itu sudah menyebar di grup-grup gosip kalangan elit. Foto-foto Axel yang menatap Livia dengan penuh pemujaan di depan etalase berlian membuat ulu hati Elena terasa seperti diremas.
"Kamu pikir kamu bisa membuangku begitu saja setelah semua yang kita lalui? Livia hanya masa lalumu, Axel. Aku adalah masa depan yang kamu pilih di atas ranjang itu."
Elena segera bangkit, memoles wajahnya yang pucat agar terlihat lebih menderita namun tetap cantik paripurna. Ia menyusun rencana. Jika Axel tidak bisa dihubungi lewat ponsel, maka ia akan menjeratnya melalui rasa bersalah yang lebih dalam. Ia harus membuat Axel merasa bahwa tanpanya, Elena akan hancur, dan kehancuran itu akan menjadi dosa abadi bagi Axel.
Sore harinya,
Elena memutuskan untuk keluar dan berkumpul dengan geng sosialitanya di sebuah lounge mewah di pusat kota. Ia butuh validasi. Ia butuh mendengar teman-temannya memujinya dan menghina Livia agar kepercayaan dirinya kembali pulih.
Geng mereka terdiri dari para wanita simpanan kelas atas, model majalah dewasa, dan beberapa putri pengusaha yang hanya tahu cara menghabiskan uang. Di sana ada Laura yang selalu sinis, dan Karen yang merupakan informan tercepat dalam urusan skandal.
"Oh, lihat siapa yang datang. Sang ratu kita," seru Karen saat melihat Elena duduk dengan wajah lesu.
"Axel sedang sibuk dengan ayahnya," jawab Elena cepat sebelum mereka sempat bertanya. "Keluarga Killian sedang mempersiapkan posisi baru untuknya, jadi dia agak sulit dihubungi."
"Oh ya? Tapi bukannya kemarin dia terlihat sangat mesra dengan Livia di pameran perhiasan? Bahkan ada yang bilang Axel hampir membelikan kalung berlian senilai miliaran rupiah untuk Livia."
Wajah Elena menegang, namun ia tetap berusaha tenang. "Livia hanya sedang berusaha merebut kembali apa yang sudah hilang. Axel hanya merasa kasihan padanya. Kalian tahu kan, Axel itu terlalu baik."
Tepat saat itu, seorang pria muda yang dikenal sebagai concierge untuk acara-acara masuk ke dalam lounge. Ia membawa setumpuk amplop undangan elegan. Itu adalah undangan untuk The Killian’s Grand Gala, acara ulang tahunan paling bergengsi yang kali ini kabarnya akan menjadi ajang pengumuman penting bagi masa depan perusahaan.
Satu per satu teman-teman Elena menerima undangan tersebut.
"Wah, aku dapat!" seru Cindy dengan bangga. "Aku harus mulai mencari desainer untuk gaunku."
"Aku juga dapat. Ayahku pasti senang kita masuk daftar tamu VIP," tambah Bella.
Elena sudah siap mengembangkan senyumnya. Ia menjulurkan tangan dengan anggun saat pria itu mendekat ke arahnya. Ia sudah membayangkan akan datang ke acara itu dengan gaun merah yang berani, berdiri di samping Axel, dan menunjukkan pada dunia, terutama pada Livia, siapa pemenang sebenarnya.
Namun pria itu melewati Elena begitu saja. Ia berhenti sejenak, mengecek tablet di tangannya, lalu menutup tumpukan undangan yang tersisa.
"Tunggu," potong Elena, suaranya naik satu oktav. "Mana undanganku?"
"Nama Anda, Nona?"
"Elena Gracia. Kamu tidak tahu siapa aku? Aku tunangan Axel Killian."
Pria itu kembali mengutak-atik tabletnya. Jemarinya bergerak cepat mencari daftar tamu. Keheningan di meja itu mendadak menjadi sangat mencekam. Karen, Sarah, Cindy dan Bella saling lirik.
"Maaf, Nona Elena, nama Anda tidak terdaftar dalam sistem tamu undangan, baik secara pribadi maupun sebagai pendamping Tuan Axel."
Wajah Elena memerah padam. "Periksa lagi. Kamu pasti salah lihat. Mungkin namaku ada di daftar VIP khusus atau di bawah nama keluarga Killian."
"Saya sudah memeriksa seluruh kategori, Nona. Tidak ada nama Elena Gracia. Daftar ini disusun langsung oleh kantor pusat Killian Group dan disetujui oleh Tuan Besar sebagai ketua pelaksana acara."
"Ini penghinaan. Kamu tahu berapa banyak uang yang Axel habiskan untukku? Aku ini bagian dari keluarga itu!" teriak Elena mulai histeris. Ia tidak peduli lagi dengan citra anggunnya. "Kalian semua hanya pesuruh! Cepat berikan satu undangan padaku sekarang, atau aku akan melaporkanmu pada Axel dan kamu akan dipecat!"
Pria itu hanya membungkuk sopan tanpa ekspresi. "Saya hanya menjalankan tugas, Nona. Permisi."
Argh!!! Menyebalkan sekali!
...🍓🍓🍓🍓...
Satu minggu berlalu. Elena mencoba segala cara. Ia mendatangi kantor Axel, namun sekuriti mengatakan bahwa Axel sedang tidak di tempat atau sedang rapat penting yang tidak bisa diganggu. Ia pergi ke rumah Axel, namun gerbang besar itu tetap tertutup rapat untuknya.
Hingga suatu hari, sebuah undangan lain muncul di kalangan sosialita. Kali ini adalah acara amal eksklusif yang diadakan oleh yayasan milik ibunda Livia. Ini adalah acara di mana seluruh koneksi bisnis keluarga Killian akan berkumpul.
Elena kembali berkumpul dengan kelompoknya, berharap kali ini ada kesalahan di acara sebelumnya yang telah diperbaiki. Ia yakin Axel tidak mungkin setega itu padanya selama berhari-hari.
"Kalian dengar tidak? Kabarnya di acara nanti, Axel akan memberikan pidato tentang pendamping hidupnya yang baru," bisik salah seorang teman di meja itu.
"Maksudnya Livia, kan? Jelas sekali," sahut yang lain.
Lagi-lagi, si pembawa pesan undangan datang. Dan lagi-lagi, skenario yang sama terulang. Semua orang di meja itu mendapatkan undangan, kecuali Elena.
"Ini tidak mungkin..." Elena bergumam, suaranya bergetar. "Pasti ada kesalahan sistem. Axel mencintaiku! Dia bilang dia tidak bisa hidup tanpaku!"
Cindy menyesap kopinya, lalu menatap Elena dengan tatapan kasihan yang dibuat-buat. "El, sejujurnya... kami mulai ragu. Apakah kamu benar-benar masih dianggap oleh kalangan atas? Atau jangan-jangan, Axel sudah benar-benar memblokirmu dari hidupnya?"
"Apa maksudmu?" tanya Elena tajam.
"Maksudku, lihat dirimu. Kamu datang ke sini dengan tas musim lalu, wajahmu kusam, dan kamu bahkan tidak tahu kabar terbaru tentang posisi wakil direktur Axel. Kamu seperti orang asing di lingkaran kita sendiri," ujar Cindy pedas. "Kalau kamu memang 'prioritas' Axel, kamu tidak akan duduk di sini mengemis undangan. Kamu seharusnya yang membagikan undangan itu pada kami."
Elena merasa dunia di sekelilingnya mulai runtuh. Kata-kata Cindy menusuk tepat di pusat rasa takutnya. Ia bukan lagi sang ratu yang dipuja. Ia kini hanyalah seorang wanita yang mulai kehilangan pegangannya pada kemewahan.
"Kalian semua... kalian akan menyesal telah meragukanku!" teriak Elena sambil berdiri. "Aku akan datang ke acara itu! Dengan atau tanpa undangan! Kalian lihat saja nanti!"
Ia berlari keluar, air mata kemarahan mengalir di pipinya. Ia merogoh ponselnya, mencoba menelepon Axel untuk ke-500 kalinya hari itu. Namun nomornya ternyata diblokir.
Dunia Elena gelap seketika. Elena tidak pernah tahu bahwa undangan amal eksklusif ini hanya fiktif belaka. Undangan yang betulan hanya undangan The Killian’s Grand Gala, alias ulang tahun Killian Grup.
Ini ulah Livia agar Elena di cemooh oleh teman-teman sosialitanya sendiri.
Bersambung.
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭