"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.
Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?
Atau ia justru ikut terjerumus juga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LIMA
Malam itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Jam dinding menunjukkan pukul 01.18 ketika Adelia membuka matanya untuk kesekian kalinya. Ia menghela napas panjang, menatap plafon, berusaha memejamkan mata kembali. Namun, setiap kali ia mencoba tidur, wajah Bastian Erlangga-senyumannya, tatapannya, dan cara lelaki itu menatapnya terlalu lama-muncul begitu jelas.
Kenapa sih aku kepikiran terus?
Ia menggigit bibirnya pelan, gelisah.
Ia menoleh ke sisi kanan. Lukas sudah tertidur pulas dengan napas yang tenang dan teratur. Dada pria itu naik turun dengan ritme stabil, tanda kelelahan berat setelah hari panjangnya. Adelia tersenyum kecil, mengusap rambut suaminya sekilas. Ia tidak ingin membangunkan Lukas hanya karena kegelisahannya sendiri.
Namun, pikirannya tetap berputar tanpa henti.
Bastian yang memujinya.
Bastian yang berbicara terlalu pribadi padanya.
Bastian yang duduk terlalu dekat dengannya.
Dan yang paling mengganggu-sentuhan tangannya beberapa kali di meja makan tadi.
Adelia meneguk ludah, dadanya terasa berat.
Akhirnya ia pelan-pelan bangkit dari kasur, mengenakan cardigan tipis lalu melangkah keluar kamar dengan langkah selembut mungkin agar tidak membangunkan Lukas.
Lorong lantai atas gelap, hanya diterangi lampu malam kecil di ujung tangga. Suasana rumah terasa berbeda dibanding siang hari. Lebih sunyi. Lebih dalam.
Lebih penuh bayangan.
Saat menginjak anak tangga pertama, Adelia sempat berhenti. Ia menarik napas panjang sebelum menuruni tangga perlahan-niatnya hanya satu untuk minum air dingin agar bisa tidur.
Namun, begitu sampai di pertengahan tangga, langkahnya otomatis terhenti.
Di ruang keluarga yang remang, Bastian duduk di sofa dengan lampu meja menyala lembut di sampingnya.
Bahunya tegap, wajahnya menatap televisi yang sudah dimatikan, seolah sedang melamun.
Bastian menoleh begitu mendengar suara langkah kecil di tangga.
"Oh?" suaranya tenang. "Adel? Kamu belum tidur?"
Adelia spontan merapikan cardigannya. "Eh... saya mau ambil minum, Pa. Papa juga belum tidur?"
Bastian tersenyum hangat, senyum yang... membuat Adelia merasa sulit menebak maksud yang sebenarnya.
"Belum, Papa memang jarang bisa tidur awal. Kamu turun sini sebentar! Temani Papa sebentar, ya?"
Adelia ragu. Tapi, menolak secara langsung pada papa mertua... rasanya tidak sopan. Akhirnya ia mengangguk kecil.
"Sebentar aja ya, Pa?" ujarnya sambil melangkah turun.
Begitu ia duduk di sofa, Bastian langsung menggeser duduknya sedikit tidak terlalu mencolok, tapi cukup terasa bagi Adelia. Jarak mereka hanya dipisahkan seukuran lengan.
Bastian mengambil kendi yang sudah ada di meja dan menuangkan air ke dua gelas. "Papa memang suka begadang. Dulu, mamanya Lukas selalu marah-marah kalau Papa tidur larut. Sekarang... ya sudahlah. Rumah kosong bikin Papa susah tidur."
Adelia mengangguk pelan. "Saya ikut sedih dengarnya, Pa. Kehilangan pasangan pasti berat."
Bastian menatap Adelia lama terlalu lama. "Makanya Papa senang bisa dekat kalian, Papa butuh suasana baru."
Adelia tersenyum sopan sambil menatap gelas di tangannya. Ia ingin bangkit dan kembali ke kamar, tapi Bastian kembali membuka percakapan.
"Kamu kenapa turun malam-malam gini? Susah tidur?" tanyanya.
"Iya... sedikit," jawab Adelia, berusaha ringan.
"Kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu?"
Bastian mencondongkan tubuhnya sedikit, nada suaranya makin pelan namun akrab. "Papa lihat kamu beberapa kali kelihatan tegang waktu makan tadi."
Adelia tercengang. Ia menunduk cepat, menggeleng. "Nggak apa-apa, Pa. Aku cuma lagi mikirin banyak hal."
Bastian tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan menantunya dengan tatapan yang sulit ditebak. Tatapan itu bukan sekadar rasa iba.
Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang membuat Adelia ingin berdiri dan pergi-tapi tubuhnya justru kaku.
Kemudian, dengan nada yang terlalu pribadi untuk percakapan tengah malam seperti itu, Bastian kembali bicara. "Papa tadi sempat mikir... Lukas sama kamu udah menikah beberapa bulan, kan?"
Adelia mengangguk pelan. "Iya."
"Tapi... kok belum ada tanda-tanda cucu buat Papa?"
Suara Bastian datar, tapi nadanya menyelidik.
Pipi Adelia memanas.
"Pa..." Ia meletakkan gelasnya perlahan. "Maaf ya, masalah itu... belum waktunya dibahas. Saya sama Mas Lukas lagi menikmati masa awal pernikahan dulu."
Bastian tersenyum tipis, tatapannya tak lepas dari wajah Adelia. "Papa cuma kepikiran. Kamu wanita yang cantik, sehat, Lukas juga... ya, Lukas itu pria yang kuat. Papa yakin kalian berdua tinggal tunggu waktu."
Adelia menelan ludah, merasa tidak nyaman.
Lalu, entah sengaja atau tidak, tangan Bastian menyentuh punggung tangannya ketika mengambil gelas di meja. Sentuhan itu hanya sepersekian detik, tapi cukup membuat napas Adelia tercekat.
"Oh, maaf!" ucap Bastian sambil tersenyum-senyum yang justru membuat Adelia semakin tidak tenang. "Papa nggak lihat tadi tangan kamu di situ."
Adelia langsung berdiri. "Pa, saya... saya mau ke dapur bentar."
Bastian mendongak menatapnya. "Del..."
Adelia menahan napas.
"Kalau kamu butuh teman cerita... jangan ragu datang ke Papa! Apa pun yang kamu rasakan... Papa siap dengerin."
Kalimat itu terdengar biasa, tapi tatapan mata Bastian berbeda. Kamar lampu temaram membuat suasana semakin tegang, seolah kata-katanya mengandung makna lain yang Adelia tidak berani tafsirkan.
Adelia mengangguk cepat. "Saya ke dapur dulu, Pa."
Ia segera berjalan pergi bahkan tanpa menoleh lagi.
Namun, saat ia melangkah menjauhi ruang keluarga, ia bisa merasakan satu hal dengan jelas bahwa mata Bastian mengikuti langkahnya.
Dan entah kenapa, bulu kuduknya meremang.
÷÷÷
Dapur rumah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu kuning kecil di pojok ruangan memantulkan bayangan panjang di dinding. Adelia berdiri di dekat wastafel, memegangi gelas air yang baru saja ia kosongkan perlahan. Air dingin itu seharusnya membuat jantungnya tenang, tapi nyatanya tubuhnya masih bergetar kecil.
Ia menghembuskan napas panjang, mencoba mengatur diri.
Tenang, Del... kamu cuma capek. Pikiran kamu lagi
kacau. Jangan kebawa suasana!
Namun, kata-kata itu sama sekali tidak membantu.
Bayangan Bastian yang duduk di ruang keluarga barusan masih menempel kuat di benaknya-tatapannya, cara bicara yang terlalu lembut, pertanyaan-pertanyaan pribadi... semuanya terasa seperti tekanan halus yang membuat napasnya sesak.
Adelia memejamkan mata, menundukkan kepala.
Dan tiba-tiba-
Seolah ruangan berubah.
Ia mendengar langkah seseorang mendekat dari belakang. Nafas hangat terasa di dekat tengkuknya. Dan seakan-akan ada lengan yang meraih pinggangnya dari belakang-bukan menyentuh, tapi cukup dekat hingga membuat kulitnya merinding seolah disentuh angin yang terlalu hangat.
Lalu suara itu muncul. Suara berat, dalam, terlalu akrab.
"Kenapa kamu tegang banget kalau Papa ada di dekat kamu, Del...?"
Adelia terhenyak, matanya membesar, degup jantungnya meledak.
"Ngg-nggak..." suaranya tercekat.
Bayangan wajah Bastian muncul di sampingnya, terlalu dekat.
"Kamu nggak nyaman... atau kamu takut?"
"Jangan...!" seru Adelia spontan.