NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:65k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desas desus kematian Mbah Sanur

"Eh, dengar-dengar Mbah Sanur, dukun sakti mandraguna dari desa sebelah meninggal bertepatan dengan meninggalnya Seno." Cerita salah satu warga.

"Katanya dia mati mengganskan." Sahut lainnya.

"Iya, padahal ada yang melihat, sehari sebelumnya, dia sempat ke rumah Pak Sugeng untuk mengobati Seno."

Beberapa warga yang sedang duduk di warung kecil Bu Rati langsung menoleh.

"Serius kamu?" Tanya seorang pria sambil menaruh gelas kopinya.

"Iya, aku dengar dari orang desa sebelah." Jawab warga itu pelan.

"Mbah Sanur datang ke rumah Pak Sugeng. Aku sempat melihatnya."

"Terus?" Tanya yang lain penasaran.

Orang itu mendekat sedikit, menurunkan suaranya.

Beberapa orang mulai memperhatikan dengan serius.

"Besok paginya, dia ditemukan sudah meninggal."

"Bagaimana meninggalnya?" Tanya seseorang lagi.

Warga itu menggeleng pelan, wajahnya terlihat ngeri.

"Katanya… mengerikan."

"Di tertikam oleh parang miliknya sendiri." Beberapa orang langsung merinding.

Suasana warung mendadak sunyi.

Salah satu warga akhirnya berbisik pelan.

"Kalau begitu, jangan-jangan ada hubungannya dengan Seno."

Yang lain hanya saling berpandangan. Tak ada yang berani menjawab.

Menjelang sore hari, suasana di balai desa terlihat begitu ramai. Warga mulai berdatangan satu per satu setelah Pak Warsito memberi kabar jika mereka akan mengatakan pertemuan, rapat. Untuk membahas kejadian desa.

Di bagian depan ruangan, Pak Desa sudah duduk di kursinya. Di sampingnya ada Pak Warsito selaku RT, Pak Yuda, dan beberapa tokoh warga lainnya.

Suasana sempat riuh oleh bisik-bisik warga, sampai akhirnya Pak Warsito berdiri dan mengangkat tangan memberi isyarat agar semua tenang.

"Bapak-bapak… tolong tenang dulu." Katanya.

Perlahan suara percakapan mereda.

Pak Warsito lalu menoleh ke arah Pak Desa.

"Pak," Katanya dengan suara jelas.

"Kita semua tahu keadaan desa kita sekarang sedang tidak baik-baik saja. Sudah tiga pemuda meninggal dengan cara yang tidak wajar."

Beberapa warga langsung mengangguk setuju.

"Saya sebagai RT merasa perlu meminta arahan dari panjenengan." Lanjut Pak Warsito.

"Kira-kira langkah apa yang sebaiknya kita ambil demi keamanan warga desa."

Pak Desa tampak mengangguk pelan, namun sebelum ia sempat berbicara, seorang lelaki paruh baya berdiri dari deretan kursi warga.

Ia adalah ayah Sapri.

Wajahnya terlihat lelah dan penuh kesedihan.

"Pak Desa." Katanya dengan suara berat.

"Kami para orang tua ingin keamanan desa diperketat."

Beberapa warga menoleh ke arahnya.

"Anak saya, Sapri, sudah jadi korban" Ujarnya.

Tak jauh dari situ, ayah Herman juga ikut berdiri.

"Iya, Pak." katanya lirih.

"Anak saya juga."

Suasana balai desa mendadak terasa semakin berat.

"Kami tidak ingin apa yang menimpa Sapri, Herman, dan Seno, terjadi pada anak-anak yang lain." Lanjut ayah Herman dengan suara yang tertahan.

Beberapa warga langsung mengangguk setuju.

"Betul itu."

"Iya, keamanan harus diperketat."

Bisik-bisik persetujuan mulai terdengar di seluruh ruangan.

Kini semua mata tertuju pada Pak Desa, menunggu keputusan yang akan ia ambil.

Tapi, belum sempat Pak Desa membuka mulut untuk berbicara, tiba-tiba terdengar suara perempuan.

"Lalu bagaimana dengan anak saya?" Suara itu lantang dan bergetar.

Semua orang langsung menoleh.

"Bagaimana dengan kematian Aning?" Teriaknya lagi.

Beberapa warga langsung saling berpandangan.

"Apakah kematiannya tidak perlu diusut? Dibiarkan saja terkubur tanpa tahu penyebabnya!"

Dia adalah Bu Darsia. Untuk pertama kalinya sejak kematian anaknya, ia keluar dari rumah.

Suasana balai desa mendadak sunyi. Tak ada yang berbicara. Semua hanya menatap wajah Bu Darsia yang dipenuhi kemarahan dan kesedihan.

Tak lama kemudian, ayah Herman yang sejak tadi duduk di depan berdehem pelan.

"Bu Darsia…" Katanya.

"Tapi kematian Aning itu sudah jelas."

Beberapa warga menoleh ke arahnya.

"Itu kemungkinan besar pencurian, para penjahat tahu dia pulang dari pasar malam dan jualannya laku keras, jadi dia di cegat untuk di rampok." Lanjutnya.

"Begitu kata polisi waktu itu."

Bu Darsia langsung menatap tajam ke arahnya.

Ayah Herman kembali melanjutkan.

"Sementara kematian Herman dan Sapri sampai sekarang belum diketahui penyebabnya."

Beberapa warga mulai berbisik pelan.

Namun wajah Bu Darsia justru semakin tegang.

"Jelas dari mana?" Katanya lirih namun penuh tekanan.

"Anak saya ditemukan mati di dengan tragis! Sedang polisi hanya menebak saja! Dan kalian semua melupakan kematiannya!" Matanya memandang satu per satu warga yang ada di balai desa.

Balai desa sunyi setelah ucapan Bu Darsia menggema di ruangan itu. Wajah para warga terlihat tegang. Beberapa menunduk, yang lain saling berpandangan tanpa berani berbicara.

Pak Desa akhirnya mengangkat tangannya.

"Bu Darsia, tolong tenang dulu." Katanya dengan suara berat namun berusaha lembut.

"Silakan duduk dulu, Bu."

Namun Bu Darsia masih berdiri dengan napas yang naik turun.

Melihat keadaan itu, Pak Warsito segera berdiri dari kursinya dan mendekat.

"Bu Darsia, mari duduk dulu." ujarnya pelan sambil menenangkan.

"Kita semua di sini juga ikut berduka atas kematian Aning."

Beberapa warga perempuan yang hadir di balai desa ikut berdiri untuk menenangkan.

Pak Desa menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara.

"Bapak-bapak dan ibu-ibu." Katanya sambil memandang seluruh warga yang hadir.

"Untuk kematian Aning, sebenarnya kasus itu sudah ditangani oleh pihak polisi."

Beberapa warga mendengarkan dengan serius.

"Dari keterangan yang ada, kemungkinan besar itu adalah kasus perampokan." Lanjutnya.

"Apalagi waktu itu Aning pulang dari pasar malam dan membawa hasil jualan."

Pak Desa berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Dan menurut kabar dari pihak kepolisian, pelakunya kemungkinan orang luar desa. Jadi perkara itu sudah menjadi urusan polisi."

Warga hanya diam mendengarkan.

"Sementara kematian Sapri, Herman, dan Seno." Lanjut Pak Desa dengan wajah serius,

"Sampai sekarang memang masih menjadi tanda tanya."

Beberapa orang langsung mengangguk pelan.

"Karena itu, untuk mencegah kejadian yang tidak kita inginkan terulang kembali." Kata Pak Desa tegas,

"saya meminta agar keamanan desa diperketat."

Ia lalu menoleh ke arah para lelaki yang memenuhi balai desa.

"Mulai malam ini, para pria di desa ini akan melakukan ronda malam secara bergilir."

Beberapa warga langsung saling berpandangan.

"Setiap malam akan ada beberapa orang yang berjaga sampai pagi."

Pak Warsito mengangguk setuju.

"Iya, Pak Desa benar." Katanya.

"Nanti saya yang akan mengatur jadwalnya."

Beberapa warga mulai menyetujui dengan anggukan.

"Betul itu."

Namun Bu Darsia hanya duduk diam. Tatapannya kosong.

Seolah masih menyimpan satu keyakinan dalam hatinya.

Bahwa kematian Aning seperti di tutupi oleh beberapa orang. Seperti mereka sengaja menguburnya tanpa ingin lagi membuka kematian anak perempuan semata wayangnya itu.

1
May Maya
KLO jd ibu nya aning pasti jd depresi
Hani Hadianti
ijin hadirr🙏
Mega Arum
kenapa tomo.. awal2 tomo trlihat baik, bahkan pintar agama..., tp tomo dan bpknya seakan2 dalang dr kematian Aning.. lanjuut thor,
Skay Skayzz: waduhh ada apa dgn mas tomo weee
total 1 replies
Yati Susilawati
pak desa, ditunggu aning tuh... 🤣🤣
kimiatie
jalan cerita yang bagus dan penulisan yang mantap 👍👍👍
kimiatie
menunggu update nya thor💪
kimiatie
kenapa tak panggil polisi sahaja...pak RT nya kenapa??????
kimiatie
hanya itu yang mampu oak warsito lakukan😂😂 betul tu ...mati kubur sahaja
kimiatie
begitu lah manusia akan berasa kuat di hadapan yang lemah tapi akan terjadi sebaliknya bila berhadapan lawan yang lebih kuat
kimiatie
itulah bak kata pepatah " kerana mulut badan binasa "
kimiatie
kenapa tiada tindakan lanjut...mahu sampai bila menahan bu darsia...kerja kepala desa Rt atau yang berpangkat tiada tindakan
Nurr Tika
minta maaf itu mudah tapi hati yg udah terluka tidak mudah untuk melupakanya
Mur Wati
eh pekok yg bikin ulah siapa sebelum nya hah ngatain laknat kelakuan mu laknat 😡
Maya Mariza Tarigan
best
Sandy Nasruddin Rozaq
pak ustadznya kemana ya?
nurul supiati
pantesan kepala desa nya juga ikutan ya jelas takuttt lah
Mamake Nayla
wah...jgn2 kepala desa nya ini tersangka nya jg
Mamake Nayla: metong jg akhirnya nanti buat penghabisan🤭🤭
total 2 replies
Mamake Nayla
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
kimiatie
banyak juga yang memperkosa aning...kalau aku jadi ibunya juga akan ku lakukan apa sahaja untuk balas dendam
Kenzo Andius Haryo P
siapa lg yg mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!