NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Pagi itu, udara di gang sempit itu terasa lebih lembap dari biasanya. Sisa hujan semalam masih menggenang di jalanan yang berlubang. Dika terbangun saat azan subuh berkumandang. Matanya perih, namun tekadnya sudah bulat. Ia tidak ingin menghabiskan satu hari lagi di bawah bayang-bayang Allandra Ryuga.

Dika mulai memasukkan sisa barang-barang penting ke dalam tas ransel lusuhnya. Ia bergerak sepelan mungkin, tidak ingin derit lantai kayu membangunkan Dinda yang butuh istirahat total. Namun, saat jarum jam menunjukkan pukul tujuh, Dika mulai merasa ada yang janggal. Biasanya, sekacau apa pun keadaan, Dinda adalah orang pertama yang bangun untuk menyiapkan air minum atau sekadar melipat selimut.

"Kak? Kak Dinda?" panggil Dika pelan dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit.

Tidak ada jawaban. Dika melangkah masuk. Ia melihat kakaknya masih meringkuk di balik selimut tebal bermotif bunga yang sudah memudar warnanya. Dika menghela napas, mengira kakaknya hanya kelelahan luar biasa setelah prosesi pemakaman Dita yang menguras emosi.

"Mungkin Kakak butuh tidur lebih lama," gumam Dika.

Ia pun beranjak ke dapur kecil mereka, menyalakan kompor gas satu tungku dan menggoreng nasi sisa semalam dengan bumbu seadanya. Harum nasi goreng memenuhi ruangan sempit itu. Namun, hingga pukul delapan, pintu kamar Dinda tetap tak bergeming.

Perasaan tidak enak mulai merayap di tengkuk Dika. Ia meletakkan piring di meja kayu, lalu kembali ke kamar.

"Kak, bangun. Sudah jam delapan. Kita harus siap-siap," ucap Dika sambil mengguncang bahu Dinda pelan.

Seketika, Dika menarik tangannya kembali. Kulit kakaknya terasa membara. Dinda tidak bangun, ia justru semakin merapatkan selimutnya. Tubuhnya bergetar hebat, giginya gemeletuk menahan dingin yang amat sangat meski cuaca pagi itu mulai menghangat.

"Kak Dinda! Kak!" Dika menyibak selimut itu. Wajah Dinda pucat pasi, namun pipinya merona merah karena demam tinggi. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.

"Sakit... Dita... dingin..." racau Dinda dalam ketidaksadarannya.

Dika panik. Bayangan Dita yang terbujur kaku di rumah sakit kembali menghantam ingatannya. Ketakutan luar biasa menyergapnya—ketakutan bahwa ia akan kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa.

"Nggak, Kak. Jangan sekarang. Kakak harus kuat!" suara Dika pecah.

Tanpa pikir panjang, Dika berlari keluar rumah. Ia tidak peduli lagi dengan tas-tas yang sudah ia kemas. Yang ada di otaknya hanya bagaimana membawa Dinda ke puskesmas secepatnya.

***

Baru saja Dika menginjakkan kaki di teras depan, langkahnya terhenti. Sebuah mobil sedan mewah hitam—mobil yang sangat ia kenal—sudah terparkir di depan gang sempit itu. Allandra Ryuga berdiri di sana, masih dengan setelan jas yang sama dengan kemarin, nampak seolah ia tidak tidur sepanjang malam.

Dika tidak menghiraukan Alan. Ia melewati pria itu begitu saja, berlari menuju rumah Pak RT yang berada di seberang. "Pak! Pak RT! Tolong, Kak Dinda sakit parah! Badannya panas sekali!" teriak Dika kalap.

Alan, yang mendengar teriakan Dika, langsung memasang raut wajah tegang. Tanpa permisi, ia melangkah masuk ke dalam kontrakan sempit itu. Bau nasi goreng dan aroma obat-obatan menyambutnya. Ia menemukan Dinda di kamar, terbaring lemah dengan napas yang memburu.

"Dinda..." gumam Alan, tangannya hendak menyentuh kening Dinda.

"KELUAR!"

Dika kembali ke dalam bersama seorang tetangganya, Mas Bowo, yang membawa kunci motor. Melihat Alan berada di dalam kamar kakaknya, amarah Dika meledak.

"Siapa yang izinin kamu masuk?! Keluar dari rumahku sekarang!" Dika mendorong bahu Alan dengan kasar. "Kamu nggak punya hak di sini!"

"Dika, lihat kondisi kakakmu! Dia butuh rumah sakit, bukan cuma puskesmas biasa!" balas Alan, suaranya meninggi karena cemas.

"Aku nggak butuh saranmu! Mas Bowo, tolong bantu saya angkat Kak Dinda ke motor," perintah Dika pada tetangganya.

Mas Bowo tampak ragu. Ia menatap Dinda yang menggigil, lalu menatap motor bebeknya di luar. "Dik, ini bahaya kalau naik motor. Kakakmu lemas banget, bisa jatuh di jalan. Apalagi dia menggigil begitu."

"Bawa dia pakai mobilku, Dika. Cepat!" Alan menyodorkan kunci mobilnya, matanya memohon. "Jangan korbankan nyawa kakakmu demi egomu. Aku mohon."

***

Dinda tiba-tiba mengerang keras, memegangi perutnya sambil terisak dalam tidurnya. "Sakit... hancur... Ayah..."

Suara rintihan itu seperti belati bagi Dika. Ia menatap kakaknya yang malang, lalu menatap motor Mas Bowo, dan terakhir menatap mobil Alan yang nyaman. Logikanya bertarung melawan harga dirinya. Ia sangat membenci pria ini, tapi ia lebih takut melihat Dinda mati.

"Dika, ayolah. Nanti saja marahnya. Sekarang yang penting Kak Dinda," bujuk Mas Bowo pelan.

Dika mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Bawa dia," desis Dika, suaranya nyaris tak terdengar. "Bawa dia ke rumah sakit terdekat. Tapi jangan harap ini mengubah apa pun."

Alan tidak membuang waktu. Ia langsung menggendong tubuh Dinda yang terasa panas membara. Ia membawanya ke mobil dengan hati-hati, merebahkannya di kursi belakang yang empuk.

Alan menoleh pada Dika yang berdiri mematung di teras. "Masuk, Dika. Kita berangkat sekarang."

Dika menatap pintu mobil yang terbuka, lalu menatap Alan dengan pandangan penuh kebencian yang murni. "Aku nggak akan pernah sudi duduk di satu mobil dengan orang yang sudah merusak kakakku."

Dika berpaling ke arah Mas Bowo. "Mas, aku ikut naik motor Mas Bowo saja. Kita buntuti mobil itu dari belakang."

"Tapi Dik, ini jauh—"

"Aku nggak peduli! Jalan, Mas!" bentak Dika.

Mobil Alan meluncur cepat keluar dari pemukiman kumuh itu, diikuti oleh motor tua Mas Bowo yang dipacu kencang oleh Dika. Di dalam mobil, Alan sesekali melirik Dinda melalui spion tengah. Ia menggenggam kemudi dengan perasaan hancur. Ia tahu Dinda sakit bukan hanya karena kelelahan fisik, tapi karena tekanan mental yang ia berikan.

***

Sesampainya di IGD, Dinda langsung dilarikan ke ruang observasi. Dika sampai beberapa menit kemudian, napasnya tersengal, debu jalanan menempel di wajahnya yang kuyu. Ia langsung menghambur ke depan pintu ruangan, namun tertahan oleh suster.

Alan berdiri beberapa meter di belakangnya, tampak seperti orang asing yang tak dianggap namun enggan pergi.

"Keluarga pasien?" tanya seorang perawat.

"Saya adiknya," jawab Dika cepat.

"Kakak Anda mengalami syok sepsis ringan akibat infeksi yang tidak tertangani dan kelelahan mental yang ekstrim. Demamnya mencapai 40 derajat Celsius. Kami harus melakukan observasi ketat," jelas perawat tersebut.

Dika terduduk di kursi tunggu koridor, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa gagal lagi. Baru kemarin ia berjanji akan menjaga Dinda, tapi hari ini Dinda justru tumbang.

Alan mendekat perlahan, mencoba meletakkan segelas air mineral di samping Dika. "Minumlah. Kau butuh tenaga untuk menjaganya."

Dika menepis gelas itu hingga jatuh dan airnya tumpah ke lantai rumah sakit yang bersih. Ia berdiri dan mencengkeram kerah jas mahal Alan, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Dengar ya, Tuan Besar," desis Dika, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Jangan berpura-pura jadi pahlawan. Kakakku sakit karena kamu. Dia menggigil karena ketakutan setiap kali ingat apa yang kamu lakukan padanya. Kalau kamu benar-benar punya hati, pergi dari sini. Jangan buat dia makin sakit karena harus melihat wajahmu saat dia bangun nanti."

Alan menatap mata Dika yang penuh luka. "Aku tidak akan pergi sampai dia sadar, Dika. Kau boleh membenciku, kau boleh memukulku, tapi aku tidak akan membiarkan Dinda sendirian lagi."

"Dia nggak sendirian! Dia punya aku!" teriak Dika. "Pergi! Pergi sekarang atau aku akan buat keributan di sini!"

Beberapa petugas keamanan mulai memperhatikan mereka. Alan menghela napas, ia melepaskan cengkeraman tangan Dika perlahan.

"Aku akan menunggu di lobi. Jika ada apa-apa, hubungi perawat. Semuanya sudah aku tanggung," ucap Alan pelan sebelum akhirnya berbalik jalan menjauh.

Dika kembali duduk, air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia menatap pintu ruangan tempat Dinda berjuang. Di dalam ranselnya, masih ada buku harian Dita. Ia teringat tulisan Dita tentang keinginan untuk berakhir agar kakak-kakaknya tidak menderita.

"Maafin Abang, Ta... Abang nggak bisa jaga Kak Dinda," isak Dika dalam kesunyian koridor yang dingin.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!