Dirumah sakit Camilla bertemu Tante Itoh. tantenya yang kebetulan bekerja disana. Tiba-tiba tanpa sepengetahuan Camilla, Tante Itoh merencanakan pernikahan Camilla dengan anak temannya yang merupakan seorang dokter yang bekerja di Belanda. Yang dimana pernikahan mereka harus segera terjadi secepatnya.
mengapa Tante Itoh bersikeras menikahkan Camilla dengan teman anaknya?
baca terus sampai habis jika ingin mengetahui kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella cantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ba 23
*Besoknya, Vondel park, Amsterdam. Suhu 4 derajat.*
"Udah take 15 mas, masa nggak dapet-dapet" Camilla ngerengek sambil cek hasil rekaman di kamera. Pipinya udah merah karena dingin, hidungnya juga.
Raffa berdiri di depan danau beku, pake coat item, syal dililit kenceng sampe dagu. Mukanya datar kayak patung.
"Apanya yang salah?"
"Mas ekspresinya! Ini vlog 'Morning Date di Vondelpark', masa muka Mas kayak mau visite pasien ICU" ucap Camilla sambil sibuk ngatur ulang tripod.
"Coba senyum dikit aja, mas. Dikit aja. Se-milimeter."
Raffa tarik napas.
"Saya nggak bisa senyum dipaksa."
"Bisa kok! Kemaren pas aku peluk juga Mas senyum." ledek Camilla.
"Bukan senyum. Itu... kejang otot." Raffa tetep ngeles. Gengsi.
Camilla mendekat, nyopot sarung tangan rajutan warna cream yang dia pake, terus dipakein ke tangan Raffa yang telanjang.
"Tuh, biar nggak kaku. Sekarang coba, kalau aku bilang 'keju', Mas senyum ya?"
"Keju nggak lucu, ganti kata deh mending."
Camilla Tidak mendengarkan apa yang dikatakan Raffa.
"Kejuuuu" Camilla udah ngarahin kamera. "Satu... dua..."
"Keju" Raffa nyebut datar. Muka datar. Mata datar. Patung.
Camilla ngedrop bahunya.
"Ya Allah mas dokteeeer!"
Tapi camilla nggak nyerah. Dia maju, jingkat, terus...cup.
Kecup pipi Raffa. Cepet. Cuma sedetik. Bunyi.
Klik. Kamera ngejepret otomatis karena timer.
Hening.
Raffa bengong. Tangannya yang pake sarung tangan Camilla langsung naik ke pipi yang barusan dikecup. Matanya nggak kedip.
Camilla yang tadinya mau ngakak, jadi salting sendiri.
"Itu... itu biar Mas senyum! Teknik syuting! Biar natural!"
Raffa masih diem. Terus pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Nggak 2mm, nggak 5mm. Banyak. Senyum beneran. Mata ikut nyipit dikit.
Camilla nunjuk layar kamera
"NAH ITU! Tahan mas, tahan! Ya ampun senyumnya Mas bagus banget!"
Klik. Klik. Klik.
Hasil fotonya: Raffa senyum malu-malu, pipi merah entah karena dingin atau apa, salju turun tipis, dan sarung tangan cream Camilla kegedean di tangannya.
Camilla loncat-loncat.
"DAPET! DAPET MAS! INI BAKAL JADI THUMBNAIL!"
Raffa baru sadar, dia pegangin pipinya dari tadi. Cepet-cepet nurunin tangan, dehem, balik datar lagi.
"Udah, Dingin. Pulang ayok"
"Ih mas, kok balik datar lagi sih" Camilla beresin tripod sambil cemberut gemes. "Tadi lucu tau." sambung Camilla senyum ledek
Raffa jalan duluan, pura-pura nggak denger. Camilla ngejar, gandeng lengan Raffa, nyender.
Raffa kaku sedetik, terus tangannya yang pake sarung tangan Camilla pelan-pelan masuk ke saku coat... bareng sama tangan Camilla yang juga lagi kedinginan.
Di dalem saku, jari mereka ketemu. Dingin ketemu dingin.
Raffa nggak ngomong. Camilla juga nggak ngomong. Tapi jalan mereka jadi pelan banget, padahal tram udah nunggu.
Kamera yang digantung di leher Camilla masih rekam. Nggak sengaja.
Yang kerekam: suara sepatu di atas salju, napas berdua yang ngebul, sama suara Raffa pelan banget, hampir nggak kedengeran...
"...tadi jangan di-upload ya yang kecupnya."
Camilla noleh, senyum jahil.
"Nggak janji, mas dokter."
Raffa ngelirik, terus... ngeremes jari Camilla pelan di dalem saku. Balas dendam.
Camilla kaget, pipinya merah lagi. Kali ini bukan karena dingin.
"hehe" ketawa kecil camilla
"Apus ah, malu aku kalau sampe itu di upload"
"udah suami istri mas, ngapain malu ihh!"
"t-tapi..."
"sttttt!! Bawel." ucap Camilla seraya tangannya menutup mulut suaminya