Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Yasmin keluar dari ruang ICU setelah melihat jemari Medina bergerak pelan dan suara lirih dari Medina. Monitor jantung yang sejak tadi berbunyi stabil kini menunjukkan ritme yang lebih kuat.
Ia menyuruh Rendra memanggil dokter untuk memeriksa Medina.
Tak lama kemudian, seorang dokter dan perawat masuk. Mereka memeriksa respons mata Medina, mengecek tekanan darah, serta refleks tubuhnya. Medina mengerjap pelan, menatap sekeliling dengan pandangan kosong.
"The patient is fully conscious. The operation was successful. Now we focus on recovery." jelas dokter itu.
(Pasien sudah sadar sepenuhnya. Operasinya berhasil. Sekarang kita fokus pemulihan)
Yasmin menutup mulutnya, air mata luruh tanpa bisa ditahan. Ardan merangkul bahu istrinya, napasnya bergetar menahan haru.
"Thank you dokter."
Dokter itu mengangguk lalu meninggalkan ruangan. Perawat segera menyiapkan ruangan rawat inap untuk pasien Medina.
“Alhamdulillah… menantu kita selamat,” lirih Ardan.
Medina menggerakkan tangannya perlahan. Pandangannya turun ke perutnya. Alisnya berkerut saat menyadari perut yang dulu besar kini telah mengempis.
“Bun…” suaranya lemah. “Bayiku… sudah lahir, ya? Prematur?”
Yasmin tercekat. Dadanya sesak. Ia sempat berniat menyembunyikan kenyataan pahit itu, setidaknya sampai kondisi Medina benar-benar stabil. Namun Ardan menggeleng pelan, memberi isyarat tegas.
Medina berhak tahu.
Yasmin menggenggam tangan Medina dengan erat. “Sayang… dengarkan bunda baik-baik.”
Jeda itu terasa menyiksa.
“Bayinya… tidak bisa diselamatkan.”
Kata-kata itu jatuh seperti palu. Mata Medina membesar, lalu berkaca-kaca. Bibirnya bergetar hebat.
“Ti… tidak selamat?” suaranya nyaris tak terdengar.
Air mata mengalir deras di pipinya. Isak itu berubah menjadi tangisan yang tertahan, penuh luka dan kehilangan.
Rendra yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya melangkah maju, ingin sekali memeluk istrinya.
Namun Medina memalingkan wajah.
“Jangan sentuh aku,” ucapnya lirih, namun tegas.
Langkah Rendra terhenti. Tangannya menggantung di udara. Kesalahan dan pengkhianatan yang pernah ia lakukan kini kembali menampar dirinya sendiri.
Beberapa jam kemudian, Medina dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Yasmin hampir tak pernah meninggalkan sisinya. Ia selalu menemani Medina.
Saat ini, ia menyuapi bubur dengan sabar, memperhatikan setiap gerak dan napas Medina.
“Besok, kalau kondisi kamu sudah lebih baik,” ujar Yasmin lembut,
“Kita pulang aja ke Indonesia, ya sayang. Kamu nggak betah kan di sini?”
Medina hanya mengangguk pelan.
“Medina… kangen sama bunda.”
Kalimat itu membuat Yasmin tak mampu lagi menahan air matanya. Ia memeluk Medina erat, seperti memeluk anak perempuannya sendiri.
“Maafkan bunda ya, sayang. Mulai sekarang bunda akan selalu bersama Medina.”
“Tapi… bunda kan masih bekerja?”
“Bunda akan ajukan resign,” jawab Yasmin mantap.
“Biar bunda bisa selalu di sisi kamu. Maafkan bunda yang selama ini terlalu sibuk.”
Medina tersenyum tipis, lalu suaranya bergetar.
“Maafkan Medina… tidak bisa menjaga cucu bunda.”
Yasmin menggeleng cepat. Ia mengusap rambut Medina penuh kasih.
“Ssst… bukan salah kamu. Semua ini takdir Allah. Jangan pernah anggap ini sebagai kesialan. Allah pasti mengganti dengan yang lebih baik. Mungkin… bayi itu yang akan menolong kamu nanti di akhirat.”
Medina kembali menangis, memeluk Yasmin erat.
Dari balik pintu, Rendra hanya bisa memandangi mereka dalam diam. Dadanya terasa sesak melihat Medina bahkan tak mau menoleh ke arahnya.
“Mungkin perlu waktu,” gumamnya pahit. “Tapi entah… sampai kapan.”
Beberapa hari berlalu. Medina akhirnya diizinkan pulang. Yasmin membawa menantu kesayangannya itu kembali ke Indonesia, bersama Rendra—yang kini akan berada sepenuhnya dalam pengawasan Yasmin dan Ardan.
.
.
Di tempat lain.
Vanessa membanting vas bunga hingga pecah berkeping-keping di lantai penthouse kosong itu.
“Aaakhhh!” jeritnya histeris.
“Ini semua gara-gara bocah itu! Semua milikku hilang! Karierku hancur karena dia, keluarga Rendra—dan Rendra!”
Dita, asistennya, mencoba mendekat. “Tenangkan dirimu Nes, kita masih bisa—”
“Apa salahku, Dit?!” bentak Vanessa tajam.
“Aku sudah menjalin hubungan dengan Rendra bahkan sebelum dia menikah! Apa itu salahku? Bukankah perempuan itu yang merebut kekasihku?!”
Ia tertawa miris, lalu kembali menjerit frustasi. Ia bahkan menjambak kasar rambutnya hingga kusut tak beraturan.
“Sialan! Sekarang semuanya diambil! Penthouse ku, butik ku, bahkan aku di keluarkan dari agensi—kini habis semua Dit!”
Dita hanya bisa terdiam, menatap wanita yang dulu dipuja-puja dunia, kini terjerembap oleh keserakahannya sendiri.
Vanessa dan Rendra, kini sama-sama tengah menjalani karmanya sendiri. Bukan masalah jika orang jatuh cinta. Hanya, bagaimana cara mereka menjalaninya, apa masih dalam jalan yang lurus atau sudah keluar jalur. Yang pasti, apa yang di lakukan mereka berdua tetap salah.
...----------------...