NovelToon NovelToon
Beyond Blessed

Beyond Blessed

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:970.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Upi1612

-TAMAT-

Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.


Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.

Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.

Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BB 23 - Penantian Sia-Sia

Petugas keamanan kantor buru-buru menghampiri Gus Faiz. Ia bertubuh besar, bertotot, dan bertenaga sangat kuat. Wajahnya yang seram membuat dia semakin terlihat menakutkan.

“Iya, Pak. Tangkap saja dia!” seru Yuni. Dia sangat bersyukur melihat seseorang yang akan membantunya mengusir Gus Faiz. Yuni benar-benar tidak mau lagi berhubungan dengan Akbar atau Robby, suaminya.

“Tante, tolong, ini semua untuk Akbar. Akbar kecelakaan, Tante!” seru Gus Faiz.

Petugas keamanan itu langsung mencekal tangan Gus Faiz. Gus Faiz meronta-ronta minta di lepaskan. Namun, petugas keamanan itu lebih kuat dibanding dirinya. Sepertinya Ini karena efek Gus Faiz yang juga kelelahan.

“Tante, saya mohon tolong Akbar. Akbar koma di rumah sakit dan membutuhkan banyak darah. Dia juga butuh Tante di sampingnya!” seru Gus Faiz.

Kali ini Yuni menghampiri Gus Faiz. Petugas keamanan mengendurkan tangannya, Gus Faiz buru-buru melepaskan diri. Dia menatap Yuni dengan mata bersungguh-sungguh. Dia benar-benar sangat ingin menolong Akbar, dia tidak mau kehilangan sahabat untuk kedua kalinya. Benar-benar tidak mau.

PLAKKK!

Satu tamparan mendarat di pipi Gus Faiz. Gus Faiz memegangi pipinya, selain perih, dia sangat bingung akan tindakan Yuni yang alih-alih menanyakan bagaimana keadaan Akbar, justru menamparnya.

“T-tante?” tanya Gus Faiz bingung.

“Apa lagi kali ini yang dilakukan Akbar kali ini agar saya kembali ke rumah? Katakan padanya, cara bercanda dia benar-benar keterlaluan! Bawa dia, Pak!” seru Yuni.

Tiba-tiba seorang petugas keamanan datang lagi. Kini ada dua orang yang siap membawa Gus Faiz pergi. Mereka dengan sigap memegangi Gus Faiz. Gus Faiz kembali meronta.

“Tolong datang ke Rumah Sakit Sumber Bahagia, lantai 3, kamar mawar nomor 1. Om Robby tidak mau datang, satu-satunya yang bisa menolong Akbar adalah tante!” seru Gus Faiz.

Yuni hanya diam di tempatnya. Di satu sisi dia takut Akbar membohonginya lagi, di sisi lain dia melihat kesungguhan di mata Gus Faiz. Gus Faiz terlihat seperti seseorang yang tidak punya tampang untuk berbohong.

Akbar memang kerap kali mendatangi Yuni dengan berbagai alasan agar Yuni mau kembali ke rumah dan kembali bersama dengan Akbar dan Robby. Akbar selalu meminta Yuni untuk kembali ke rumah tanpa lelah. Hingga Yuni geram dan justru membenci Akbar.

Kedua petugas keamanan membalik tubuh Gus Faiz. Gus Faiz terus menoleh ke belakang.

“Tante! Jangan sampai Tante menyesal! Saya mohon datanglah ke Rumah Sakit Sumber Bahagia, lantai 3, kamar mawar nomor 1!” seru Gus Faiz.

Yuni hanya menyilangkan tangan di depan dada.

“Maafkan saya, Bu Yuni. Saya benar-benar minta maaf.” kata Sang Resepsionis dengan tidak enak hati.

Dalam hati, Sang Resepsionis ingin mengatakan kalau Gus Faiz terlihat sangat bersungguh-sungguh, ingin rasanya dia menyuruh Yuni untuk datang ke rumah sakit yang diberikan Gus Faiz, namun Yuni terlihat sangat marah, dia tidak berani mengatakan hal tersebut.

Setelah menerima penolakan, air mata Gus Faiz mengalir deras. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa. Yuni terlihat tidak mempercayainya, dan Robby tidak mau ikut campur urusan Akbar. Gus Faiz tidak bisa menunggu Yuni karena khawatir terjadi sesuatu pada Akbar di rumah sakit saat dia tidak bisa berada di sisinya.

Gus Faizpun hendak pergi. Dia merogoh kantong celananya. Dia tidak menemukan sepeserpun uang di sana. Dia tidak membawa dompet saat ke sini, ponsel diapun, diberikan Rizki pengurus yang pemilik loker pada saat Gus Faiz dan Aaron berlari keluar pondok.

Diapun mencari sebuah konter ponsel yang ada di dekat rumah sakit dengan berjalan kaki. Setelah berjalan jauh, diapun akhirnya menemukan sebuah konter ponsel. Karena dia banar-benar membutuhkan uang saat itu juga untuk ke rumah sakit dan untuk mengurus administrasi rumah sakit milik Akbar.

“Mas, saya ingin menggadaikan ponsel saya. Tapi saya mohon jangan dijual. Saya akan kembali mengambil ponsel ini.” kata Gus Faiz.

“Wah, tidak bisa, Dek.” kata petugas konter.

“Saya mohon, Mas. Saya butuh sekali uang. Tolong berikan saya waktu satu minggu. Kalau satu minggu saya tidak datang, saya ikhlas kalau ponsel saya dijual. Saya baru membelinya bulan lalu.” kata Gus Faiz.

“Lima ratus ribu bagaimana?” tanya petugas konter.

“Mas tolonglah, saya perlu untuk biaya rumah sakit. Tambahkan, jangan lima ratus ribu.” kata Gus Faiz.

“Kalau tidak mau ya sudah, tidak apa-apa. Mas cari konter yang lain saja.” kata petugas konter.

Gus Faiz tidak punya pilihan lain. Dia membeli ponsel itu seharga 4juta, namun dia harus rela menjual dengan harga 500rb. “Baiklah, Mas. Tapi tolong dalam satu minggu ponsel saya jangan diapa-apakan apa lagi dijual ya.” kata Gus Faiz.

“Tapi kamu harus kembalikan 1juta.” kata petugas konter.

Gus Faiz beristighfar dalam hati. “Baik, Mas.” katanya.

“Mas, boleh saya meminta pulpen dan kertas?” tanya Gus Faiz.

Petugas konter memberikan ponsel dan secarik kertas kecil.

“Terima kasih.” Gus Faiz buru-buru mencatat nomor Rizki. Teman sekaligus pengurus kepercayaannya di pondok. Selain itu, hanya Rizki pengurus yang diperbolehkan memegang ponsel selama di pondok.

Petugas konter pun mengambilkan uang. Gus Faiz langsung memesan ojek online dari ponselnya sebelum memberikan ponsel itu pada petugas konter.

“Ini, Mas.” kata petugas sambil menyerahkan uang.

“Terima kasih.” kata Gus Faiz.

Ojek onlinepun datang. Gus Faiz buru-buru naik, dan pergi ke rumah sakit. Seperti biasa dia meminta pengemudi untuk melajukan motornya dengan cepat. Sesampainya di rumah sakit dia pun membayar dan langsung berlari ke atas, ke kamar Akbar.

Belum sempat Gus Faiz sampai di ruangan Akbar, seorang perawat datang menghampirinya.

“Mas, keluarga Akbar kan?” tanya suster itu.

Gus Faiz mengangguk.

“Tolong urus administrasi pasien dulu ya.” katanya.

Gus Faiz mengangguk. Dia mengekori perawat itu untuk mengurus administrasi Akbar.

“Mas, boleh lihat KTP-nya?” tanya bagian administrasi.

“Saya tidak bawa KTP, Bu.” kata Gus Faiz.

“Mohon maaf kami tidak bisa memprosesnya kalau begitu.” kata bagian administrasi.

“Saya mohon, nanti saya akan ke pondok untuk mengambilnya.” kata Gus Faiz.

“Kalau begitu nanti saja ya, Mas. Kalau sudah ada KTP-nya.” kata Bagian Administrasi.

“Baik.” kata Gus Faiz.

Gus Faiz kembali menghampiri Akbar. Dia berjalan cepat hingga sampai di kamar Akbar. Di kamar Akbar ada seorang dokter yang sedang bertugas memeriksa Akbar.

"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Gus Faiz.

"Kondisinya semakin buruk. Kita hanya bisa berdoa agar pasien bisa mendapat sebuah pertolongan dari Allah." kata Dokter.

Gus Faiz terdiam.

"Saya pamit dulu." kata Dokter.

Gus Faiz mengangguk. "Terima kasih, Dok." kata Gus Faiz.

Dokter menepuk bahu Gus Faiz menegarkan. Lalu pergi ke luar ruangan.

“Akbar..” panggil Gus Faiz di samping Akbar.

“M-maafkan saya, Bar. Saya memang teman yang tidak berguna.” kata Gus Faiz.

Gus Faiz membacakan surat yasin yang sudah dihafalnya di luar kepala dengan harapan jika Akbar bisa cepat sembuh dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga cepat diambil oleh-Nya dengan tenang.

Lambat-lambat jari Akbar bergerak. Gus Faiz mendongak. Mengamati wajah Akbar. Dan benar saja, Akbar membuka mata. Gus Faiz buru-buru berdiri.

“Bar..” panggil Gus Faiz lirih.

Wajah Akbar sangat pucat, Akbar melepaskan selang oksigen dari mulutnya. Gus Faiz merasakan dejavu, dia kembali mengingat Ilham, namun dia buru-buru beristighfar dalam hati.

“Iz?” tanyanya. “Ma-ma? P-papa?” tanyanya.

Gus Faiz benar-benar tak kuasa, dia sangat bingung bagaimana menjelaskan pada Akbar kalau dia tidak berhasil membawa Mama dan Papanya kembali.

“G-gak dateng?” tanya Akbar. Dia memejamkan mata.

“Bar!” seru Gus Faiz mengguncang tubuh Akbar.

Akbar membuka mata. Gus Faiz bersyukur mendapati Akbar yang kembali membuka mata. “Maafkan saya. Tapi saya yakin mereka pasti akan datang.” kata Gus Faiz.

1
bunda syifa
bukan nya Nindy udah berdamai sama semua orang termasuk juga ayah nya pas masih d rumah sakit y Thor, kn waktu Nindy minta maaf sama ayah nya, ayahnya lagi d musholla rumah sakit
Ati Rohati: cuma aku baca yang terakhir
total 2 replies
bunda syifa
bukan nya yg bawa Nindy jalan" itu Ulfa y Thor
bunda syifa
bener sih, ibarat kata yg kecelakaan lagi sakarat tapi harus nunggu ambulans dulu yg masih d telfon trus berjalan k TKP, yg ada bukan tertolong malah meninggal duluan yg kecelakaan sebelum sampai rumah sakit karena udah kehabisan darah
bunda syifa
penulis kn ngetik Gus, bukan nulis d buka satu" kayak jaman dulu🤦🤦
bunda syifa
dan yg lebih d sayangkan lagi adalah qm Ulfa, padahal melihat dengan mata kepalanya sendiri segimana cinta nya Gus Faiz sama Nindy tetap aja rasa irinya membuat dia menginginkan Gus Faiz bahkan sampai Gus Faiz dn Nindy menikah
bunda syifa
lah banyak banget rasa iri mu mbak, kasih sayang orang tua udah qm kuasai sendiri, sekarang ada orang lain peduli sama Nindy pengen qm ambil jg😒😒
bunda syifa
bukan nya klo sandal emang ada pasangan nya y Bu, kiri sama kanan, masak iya mau d pakai cuma sebelah aja 😅😅😅
bunda syifa
ternyata emang dari awal si Ulfa tetap ular y Thor, aq pikir sempat berubah gt meskipun sebentar
Momy Haikal
segitu panik nya faiz ketika Nindy pergi sampai tidur yak nyenyak makan tak enak
Momy Haikal
aduh padahal nanggung itu
Momy Haikal
umi anakmu di aniaya😂
Momy Haikal
dari sini abah tau seberapa besar dua orang insan ini saling mencintai
Momy Haikal
lah kok takut 🤣🤣🤣😂
Momy Haikal
🤣😂🤣😂😂😂😂😂😂
Momy Haikal
ihh gemezzzzin
Momy Haikal
berarti faiz sebenarnya sudah suka sama Nindy sebagai gadis tirai sebelum faiz tau kalaw gadis yg dijodohkan Ilham adalah orang yang sama
Momy Haikal
🤣😂🤣 Nindy lucu bgd ya
Momy Haikal
o jadi ini mula nya arum takut liat mata faiz
Momy Haikal
gak aku baca surat nya.gakk kuattt😭😭😭😭😭
Momy Haikal
😭😭😭😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!