Gimana ya rasanya punya empat kakak yang bad boy? Ditambah satu sahabat dari kecil yang sama bad boy nya?
Itu yang Clarissa rasakan. Awalnya gadis itu merasa senang, karena ia merasa terlindungi dengan adanya cowok-cowok itu. Tapi lama kelamaan ia merasa terkekang karena sifat protektif kakak dan sahabatnya itu. Apalagi saat Clarissa jatuh hati kepada seorang laki-laki yang awalnya adalah musuh bebuyutannya.
Akankah Clarissa diijinkan untuk merasakan manisnya jatuh cinta di masa putih abu-abu ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kdk_pingetania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Pahit
Darrel Pov
Gue ngebawa Adit ke taman sekolah. Kali ini ada sesuatu yang pengen gue omongin sama dia.
"Tumben lo ngajakin gue kesini?" tanya Adit.
"Gue mau ngasi tau sesuatu. Lo tau kan Si Roy?" tanya gue.
"Tau, Roy yang ngajak lo taruhan itu kan?" tanya Adit.
"Iya, kemarin dia telpon gue, dan ternyata dia masih inget sama taruhannya," jelas gue.
"Emang lo belum bilang, kalau lo nyerah?" tanya Adit.
"Gue udah berkali-kali bilang ke lo, gue gak mau nyerah," kata gue.
"Lo itu batu banget," kata Adit.
"Lo kasi usul lain kek," kata gue.
"Udah nggak ada cara lain, lo itu taruhin perasaan cewek, perasaan Clarissa. Clarissa itu beda dari cewek lain, jadi jangan lo mainin!" tiba tiba gue mendengar suara benda jatuh, gue pun balik badan. Alangkah terkejutnya saat gue melihat siapa orang itu.
Clarissa. Dia ada di sini, mendengar semua pembicaraan gue. Gue ingin menghampirinya, tapi dia malah lari dan gue melihat matanya basah. Udah dua kali gue buat dia nangis.
Gue mengambil kotak yang tadi di jatuhkan Rissa. Gue dikejutkan lagi dengan isinya. Dia kesini ingin minta maaf sama gue, tapi gue malah nyakitin dia.
"Gue udah bilangkan sama lo!" kata Radit.
"Argh...," gue berteriak frustasi.
"Mending sekarang lo kejar dia," tanpa basa-basi gue langsung ngejar Rissa.
Gue berlari menuju sekolah. Saat sampai di sekolah gue langsung ke kelas Clarissa.
Bug...
Satu bogeman mampir ke pipi kanan gue. Gue meringis pelan. Gue menatap ke arah orang memukul gue. Ternyata dia Bryon.
"Kenapa lo buat adik gue nangis?" tanya Bryon.
"Ini semua salah paham," satu bogeman lagi mampir di pipi kiri gue.
"Salah paham apa? Mulai sekarang, lo gak boleh deketin adik gue!" Bryon meninggalkan gue yang sedang meringis.
Gue segera berdiri dan mengambil kotak yang sempat jatuh tadi.
Gue berjalan pelan menuju UKS. Sesampainya di sana, lagi-lagi gue dikejutkan dengan suatu hal. Rissa lagi pelukan sama William. Gue berusaha mengontrol rasa cemburu gue, pelan-pelan gue mendekat ke pintu UKS.
"Gue bakalan lupain dia, gue benci dia, gue benci Darrel Bramasta," gue menggempalkan tangan gue, berusaha menahan emosi gue.
"Lo harus jauhin dia, biar perlu lo lupain dia," dengan emosi yang membuncang, gue pergi dari tempat ini. Gue ingin sekali menghajar seseorang.
Tanpa gue sadari. Gue menarik seseorang dan langsung menghajarnya hingga babak belur.
"Apa yang kamu perbuat?" tanya seseorang. Dari suaranya, kayaknya perempuan. Gue mendongak.
"Ikut saya ke BK," gue hanya mengikuti perempuan itu.
***
Clarissa Pov
Gue berlari sekencang kencangnya. Setelah gue mendengar omongan Darrel. Gue menangis sekencang-kencangnya. Gue menabrak seseorang. Dia Liam. Gue jadi merasa dejavu.
"Lo kenapa?"
"Gue mau ke UKS, anterin gue," Liam pun mengantarkan gue ke UKS.
Disana gue menceritakan semuanya. Tanpa gue sadari Kak Bryon mendengar semua percakapan kami, lalu pergi entah kemana.
Gue masih gak percaya ternyata Darrel mainin perasaan gue. Gue nggak tahu kalau Darrel bisa sejahat itu. Gue kira dia tulus sama gue. Ternyata semuanya salah.
Gue bakalan coba buat menghapus dia dari hati gue. Gue bakal coba. Walau nantinya gue bakal menyakiti diri gue sendiri.
***
Gue berjalan menyusuri koridor sekolah. Sudah tiga hari gue tidak melihat Darrel. Gue memutuskan menanyakan kepada sekretaris kelasnya.
Gue memanggil seorang perempuan setelah sampai di kelas Darrel.
"Ada apa?" tanya perempuan itu.
"Darrelnya ada?" tanya gue.
"Bukannya Darrel udah pindah sekolah?" tanyanya balik. Gue pun mengernyitkan kening.
"Kenapa pindah?" tanya gue.
"Gak tau," gue pun pergi dari kelas tersebut.
Apa mungkin dia hanya mempermainkan gue? Kenapa setelah semua masalah ini, dia langsung pergi? Menghilang tanpa jejak? Kenapa? Baiklah, jika dia bisa meninggalkan gue, gue juga bisa. Gue akan melupakannya.
Gue berusaha menahan air mata, supaya tak keluar. Untuk apa gue menangisi orang yang gak nganggap gue ada? Bukannya itu hanya buang-buang waktu dan tenaga? Gue segera masuk kelas, karena bel telah berbunyi.
***
Author Pov
Seorang laki-laki sedang menunggu penerbangan di salah satu bandara. Ia akan berangkat ke Amerika, tempat nenek dan kakeknya tinggal.
Ia berjalan pelan sambil membawa satu koper ke pesawat, karena sebentar lagi pesawat itu akan terbang.
Laki-laki itu terus-menerus menatak kotak dengan bungkus kado bergambar jantung. Dia tersenyum tipis, walau hatinya sedang sakit. Tapi dia pasti akan tersenyum melihat apapun yang cewek itu berikan padanya.
Pesawat pun terbang meninggalkan kenangan yang ia pernah rasakan. Kenangan bahagia dan sedih. Semua kenangan itu dia tinggalkan. Tapi dia bertekad akan kembali. Dia pasti kembali untuk seseorang yang mungkin akan melupakannya suatu hari nanti.
Perempuan cantik, yang sudah berhasil merebut hatinya. Perempuan yang sudah berhasil membuatnya merasakan jatuh cinta, merasakan jantung yang berdetak cepat dan merasakan cemburu yang luar biasa.
Ia pasti akan mengingatnya selalu. Ia pasti tidak bisa melupakan perempuan tersebut. Perempuan dengan kadar kenyolotan yang luar biasa.