Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.
Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.
Mari berteman, ig : Risasaputri790
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Binar menatap sebal ke arah Angkasa
yang sedang duduk di sofa sebelahnya. Posisi Binar masih seperti sebelumnya
yaitu berbaring di sofa dengan kaki kanan ditumpu oleh bantal.
“Kenapa? Aku tampan sekali ya?”
Tanya Angkasa saat menyadari Binar yang sedari tadi terus menetapnya.s
“Hehh pede sekali” gerutu Binar
menjawab pertanyaan Angkasa yang kepedean.
“Trus apa?”
“Apanya yang apa?” Binar balik
bertanya
“Kenapa trus menatapku?”
“Memangnya tidak boleh? Untuk apa
diciptakan mata kalo tidak boleh menatap?”
Angkasa tersenyum mendengar jawaban
Binar
“Ahh benar juga, kalo gitu
lanjutkan”
“Apa yang dilanjutkan?” Tanya Binar
bingung
Angkasa menghela napas pelan,
“Menatapku, tadi katanya untuk apa diciptakan mata jika tidak boleh menatap.
Sekarang lanjutkan, kamu bisa menatapku sepuasnya” jelas Angkasa diakhiri
dengan senyuman manis untuk Binar.
Binar menatap tidak percaya ke arah
Angkasa,
“Kenapa ada orang sepercaya diri
ini?” Binar bertanya –tanya dalam hati. Dengan cepat Binar memalingkan wajahnya
dari Angkasa.
Angkasa yang melihat pergerakan
Binar pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mengerjai Binar
adalah kegiatan baru yang dia senangi sekarang, bagi Angkasa melihat wajah
Binar yang kesal seperti ini adalah suatu pencapaian.
“Aku mau minta maaf” suara Angkasa
terdengar lagi setelah beberapa saat terjadi keheningan diantara keduanya.
“Maaf untuk apa?” Tanya Binar dengan
wajah yang masih enggan menoleh ke arah Angkasa.
“Untuk janji yang belum bisa ditepati”
Binar mengerutkan dahinya mendengar
ucapan Angkasa, mencoba mengingat – ingat janji apa yang belum ditepati
Angkasa.
“Janji apa?” tanyanya kemudian
setelah merasa tidak menemukan janji yang dibuat Angkasa.
"Membawa ayahku menemui
pamanmu”
Mendengar itu mengingatkan kembali
Binar pada kejadian satu minggu yang lalu saat Angkasa datang ke rumah pamannya
dan meminta izin untuk menikahinya. Binar ingat saat itu Angkasa berjanji untuk
membawa orang tuanya datang ke rumah paman untuk membicarakan perihal
pernikahan mereka.
“Ohh itu, bukan masalah. Pamanku
juga pasti mengerti”
Binar menolehkan kembali wajahnya ke
arah Angkasa, diangkatnya kepala dan tubuhnya dari posisi berbaring di sofa
dengan bantuan kedua tanganya untuk menopang.
Angkasa yang melihat Binar berusaha
bangun pun segera meletakkan laptop yang sedari tadi berada dipangkuannya ke
meja dan mendekat ke Binar untuk membantunya duduk.
“Kenapa tidak minta tolong?” omel
Angkasa pada Binar
“Aku hanya berusaha untuk duduk
bukannya menaiki tangga atau yang lainnya”
Angkasa menghela napas mendengar
jawaban Binar, “Dasar keras kepala” gumamnya
“Walaupun hanya duduk, kaki mu belum
benar-benar pulih jadi harus hati – hati.”
“Iya – iya, setelah ini bakalan trus
hati – hati”
Angkasa memegang kaki Binar lalu
memindahkannya ke bawah dengan perlahan.
“Sekarang sudah selesai RICEnya, jadi
boleh aku makan apelnya lagi?”
Pinta Binar dengan menujukkan wajah
memohonnya pada Angkasa yang masih berjongkok di depan Binar.
Angkasa menghela napas, “Apel itu
lagi, kamu benar – benar menyukainya?” Tanya Angkasa masih tidak percaya dan
Binar hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
“Makanlah apel sepuasmu nak, ini
masih ada banyak apel” suara laki – laki tua mengagetkan Binar dan Angkasa lalu
menolehkan wajah mereka ke asal suara. Dan disanalah tampak ayah Angkasa
berdiri dengan tangan kanan mengangkat keatas menunjukkan sekantong apel merah
yang dibawanya.
“Ayah?” Angkasa keheranan ketika
melihat sang ayah telah berada di dalam rumahnya.
“Kenapa wajah kalian seperti melihat
hantu? Tidak ada yang salah kan ketika seorang ayah mengunjungi anak dan calon
mantunya” ucap ayah Angkasa yang sedang berjalan ke arah kedua sejoli yang
masih kaget.
“Bagaimana keadaanmu Binar?”
tanyanya setelah duduk di sofa
“Alhamdulillah sudah cukup membaik
paman” jawab Binar sementara Angkasa sudah beralih dari posisi sebelumnya dan
ikut duduk di sofa tepat sebelah Binar.
“Syukurlah, kamu harus menjaga
kesehatan agar lekas sembuh kembali.”
Binar tersenyum dan mengangguk,
“Bagaimana keadaan paman?”
“Kabar baik, paman sudah cukup sehat
dan sudah siap untuk hadir di acara pernikahan kalian nanti” jawab ayah Angkasa
“Bagaimana jantung ayah?” Tanya Angkasa
“Ayah sudah bilang tadi, semuanya
baik.” Jawab ayah Angkasa lagi meyakinkan anaknya.
“Ahh iya, hampir saja ayah lupa.
Ayah sudah datang ke rumah paman Binar dan membicarakan pernikahan kalian”
“Kapan?!” Tanya Angkasa terkejut,
karena sebelumnya Angkasa belum membicarakan masalah ini dengan ayahnya.
Angkasa juga belum memberitahukan kepada ayahnya untuk datang ke rumah paman
Binar. Bagaimana mungkin ayahnya bisa berinisiatif datang tanpa memberitahunya
terlebih dahulu.
“Kemarin” jawab ayah Angkasa enteng
tanpa beban,
Sedang Binar hanya diam tidak tau
mau bereaksi seperti apa “Ayah dan anak yang unik” pikir Binar dalam hati.
“Kenapa tidak memberitahuku terlebih
dahulu?” protes Angkasa
“Kenapa? Aku ayah dari mempelai laki
–laki, jadi memang sudah tugasku untuk datang dan membicarakan pernikahan ke
rumah calon besan. Lagi pula kamu juga masih sibuk harus menjaga Binar di
rumah. Ahh sudahlah tidak perlu di perbesarkan yang penting urusan pernikahan
kalian sudah ayah bereskan”
“Apa yang ayah bereskan?”
Ayah Angkasa tersenyum simpul, “Kami
sudah memilih tanggal pernikahan kalian”
“Apa?!!” Angkasa dan Binar terkaget
“Kenapa ayah selalu melakukan apapun
semau ayah tanpa mempertimbangkannya dengan kami. Ayah, yang mau menikah itu
kami bukan ayah!”
“Ayah tahu, tapi disini ayah hanya
ingin membantu meringankan kalian”
“Tidakkah ayah tau Binar belum
sepenuhnya membaik”
“Iya tahu, karena itu ayah dan paman
Binar memilih bulan depan sebagai bulan pernikahan kalian.”
“Bulan depan? Itu terlalu cepat. Bagaimana
kalo sampai saat itu Binar belum benar – benar membaik?”
“Hei – hei tenanglah Angkasa, kenapa
kamu begitu khawatir Binar saja masih tampak tenang. Iya kan nak?” Tanya ayah
Angkasa sembari menatap ke arah Binar. Dan Binar hanya bisa menjawab dengan
senyum yang sedikit terpaksa.
Angkasa menangkupkan kedua telapak
tangannya ke wajah lalu menghela napas berat,
“Baiklah, tapi jika sampai pada
waktunya dan Binar belum pulih sepenuhnya aku tidak akan segan untuk
membatalkan pernikahan”
Ayah Angkasa mengangkat kedua bahu
dan tangannya “Baiklah” jawabnya enteng.
Dan Binar pun merasa semakin pusing
mendengar percakapan ayah dan anak ini.
“Ya ampun, like father like a son. Semuanya
bisa bikin gila” gumamnya
Tbc.
Hallo apa kabar semuanya, jangan lupa like, komen dan votenya ya ^^
Sebel deh lihat nya