NovelToon NovelToon
Romeo Love Story

Romeo Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta setelah menikah / Cintapertama
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: ryuuka20

Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.

Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.

Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Masalah Tina dan Romeo

Tina sedang menatap layar ponselnya sambil mengulurkan tangan untuk mengambil gelas teh hangat yang sudah ditaruh di mejanya. Setelah selesai mengajar dan membersihkan kelas seperti biasa, ia memilih untuk menunggu Romeo di kafe yang terletak tepat di seberang sekolah—tempat yang mereka sering kunjungi saat ingin berbincang sebentar sebelum pulang.

Tiba-tiba ada suara yang membuatnya terkejut sedikit.

"Hey... Tina kita ketemu lagi ya..."

Tina mengangkat kepala dan melihat Jovan menghampirinya dengan senyum tipis, tangannya masih menyentuh gagang pintu kafe yang baru saja ia buka. Ia segera menutup layar ponsel dan menyesuaikan posisinya di kursi yang terletak di sudut paling dalam kafe, jauh dari keramaian.

Jovan menyilangkan tangan di atas meja, matanya penuh dengan rasa penasaran yang jelas terlihat. "Romeo lagi lembur?" Suaranya lembut tapi cukup keras untuk terdengar di tengah kebisingan kecil kafe yang mulai ramai karena malam menjelang.

Tina mengangguk pelan, matanya tidak bisa berhenti melirik layar ponsel yang terletak di sebelah gelas tehnya. Layarnya tetap hitam kecuali ikon waktu yang terus berjalan.

"Iyaa... enggak juga... nanti aja dia kesini..." Jawabannya terdengar sedikit ragu, jari-jarinya secara tidak sengaja menggaruk permukaan meja kayu.

Dia terus berharap ada getaran atau suara notifikasi yang memberitahu pesan dari Romeo—apakah dia akan menjemputnya atau tidak hari ini.

Jovan menatapnya dengan pandangan yang seolah sudah tahu jawabannya. Ia mengangkat cangkir kopinya ke bibir, menyedot secangkir kecil sebelum menurunkannya kembali.

"Romeo lembur dia.... gak akan dibales chat Lo...." Suaranya tenang tapi penuh keyakinan.

Waktu terus berlalu dan hari sudah mulai gelap. Cahaya neon di luar kafe menyala terang, sementara di dalam tempat semakin ramai. Tina masih terus menatap ponselnya—belum ada satu pun balasan dari Romeo. Jovan mendekatkan kursinya sedikit lebih dekat, wajahnya menunjukkan rasa khawatir.

 "Udahlah Tina, dia itu cuma urus kerjaannya aja. Lo pulang sama gue aja ya...." Ucapnya lembut, seperti mencoba menghibur tanpa menyakitkan perasaan Tina.

Tina tiba-tiba berdiri dengan cepat dari kursinya, kursinya bergoyang sedikit karena gaya geraknya yang kasar. Bibirnya menekuk ke bawah dalam ekspresi kesal, setelah beberapa kali menggesek layar ponsel yang tetap tak menunjukkan notifikasi baru.

"Gue bisa sendiri." Suaranya terdengar tegas dan sedikit tinggi, membuat beberapa pelanggan di sekitarnya melirik ke arah mereka. Tanpa menoleh kembali, ia berjalan cepat menuju pintu keluar kafe, langkahnya tergesa-gesa di atas lantai ubin.

Di luar kafe, malam sudah menyelimuti jalanan—cahaya lampu jalan menerangi trotoar yang mulai ramai dengan orang yang pulang kerja. Tina segera mengeluarkan ponselnya, mengetuk layar dengan jari yang sedikit gemetar untuk memesan taksi.

"Tina.... Lo pulang sama gue ya." Jovan mengejarnya dengan cepat, napasnya sedikit terengah karena berlari. "Gak baik cewek sendirian pulang, udah malam juga dan jalan ramai banget."

Namun Tina tetap fokus pada layar ponselnya, mengabaikan suara Jovan yang semakin dekat di belakangnya. Saat ia berjalan maju sambil menatap ponsel, tubuhnya tidak sengaja menyenggol seseorang yang sedang berjalan ke arah berlawanan.

Kakinya terpeleset pada tepi trotoar, membuatnya hampir terjatuh ke jalan. Dengan cepat, Jovan menjulurkan tangan dan menahan pinggang Tina dengan kuat, menariknya kembali ke posisi yang stabil. Ia membungkus lengan di sekitar tubuh Tina untuk menjaganya agar tidak terjatuh lebih jauh.

Di kejauhan, Romeo yang baru saja keluar dari mobilnya segera memeriksa ponsel—wajahnya langsung memerah saat melihat pesan yang belum terbacanya. Ia mengangkat kepala dan melihat ke arah Tina, yang kini berada di pelukan Jovan. Tanpa berpikir panjang, ia segera bergegas menghampiri mereka dengan langkah besar.

"Romeo?" Tina menyentak dan mengangkat kepala, mata besar terpaku pada wajah suaminya yang tampak marah.

Jovan melepaskan pelukannya dari Tina dan menghadapkan diri ke Romeo. "Lo gimana sih? Dia pulang sendirian dan nungguin Lo sampe sekarang." Suaranya penuh kekhawatiran dan sedikit kesal.

Namun Romeo tak mengucapkan sepatah kata pun kepada Jovan. Ia langsung menarik tangan Tina dengan kuat, matanya hanya tertuju pada wajah istrinya.

"Ayo, naik ke mobil." Ucapnya dengan nada yang tidak bisa ditentang, lalu membawanya cepat-cepat ke arah mobil yang sudah diparkir di pinggir jalan.

Jovan berdiri diam di pinggir jalan, menyaksikan mobil Romeo perlahan mulai bergerak menjauh dari kafe. Ia mengangkat dagunya perlahan, dengan menyeringai melintas di wajahnya.

"Romeo sampai kapanpun Lo gak akan pernah bisa dapatkan Tina." Suaranya terdengar rendah tapi jelas, seolah berbicara langsung pada bayangan mobil yang sudah mulai menghilang di kejauhan. Ia menginjakkan kaki ke tanah dengan kuat, matanya menatap jalan yang sudah diputar oleh mobil Romeo. "Gue akan lakukan apapun agar Lo jauh dari Tina...."

"Walaupun Lo bisa nikahin Tina, tapi gue bisa lakukan apapun agar Lo bisa lebih jauh dan tidak bisa mementingkan yang lebih penting dari sekedar jadi bawahan gue..."

Kemudian ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan tangan sebelum berbalik kembali ke arah kafe. Cahaya neon di depan pintu kafe menerangi wajahnya yang kini tampak serius dan penuh tekad, seolah sudah membuat keputusan yang tidak bisa diubah.

...****************...

Romeo belum sepenuhnya menyadari bahwa perasaannya terhadap Jovan lebih dari sekadar rasa khawatir biasa—ia sedang cemburu. Kenangan masa SMP mereka kembali membayangi pikirannya, terutama saat ingat bagaimana Jovan sering menggoda Tina hingga gadis itu menangis.

Di masa itu, Romeo sering datang terlambat, menjadi "pahlawan kesiangan" yang tidak bisa sepenuhnya melindungi Tina dari gangguan Jovan. Hal ini terus membekas di pikirannya, menciptakan ketakutan bahwa Jovan mungkin akan kembali mengganggu Tina bahkan saat mereka sudah dewasa.

Perasaan cemburu yang tersembunyi ini membuat Romeo berpikir bahwa Jovan masih memiliki niat buruk terhadap Tina. Meskipun tak ada tanda-tanda nyata bahwa Jovan akan bertindak seperti dulu, firasat buruk Romeo tetap menguasai pikirannya.

Dia merasa ada ancaman yang tak terlihat, dan tanpa sadar, perasaan cemburunya mulai merusak komunikasi antara dirinya dan Tina. Setiap tawa dan obrolan antara Tina dan Jovan terasa seperti peringatan bagi Romeo, seolah-olah Jovan akan menyakiti Tina lagi.

Namun, Romeo belum benar-benar mampu mengungkapkan perasaannya ini. Ia merasa khawatir bukan hanya karena masa lalu, tetapi juga karena takut gagal melindungi Tina seperti yang terjadi saat mereka SMP.

Cemburunya muncul bukan hanya karena pertemuan Tina dan Jovan, tapi juga dari rasa tak berdaya yang dulu pernah ia rasakan ketika melihat Tina terluka tanpa bisa membantunya lebih banyak.

Romeo tampak selalu sibuk belakangan ini—setiap paginya langsung pergi sebelum matahari benar-benar terbit, dan pulangnya hanya ketika malam sudah menjelang. Ketika ia ada di rumah, tangannya selalu terjepit pada laptop atau ponselnya, fokus pada pekerjaan yang tampaknya tidak pernah selesai.

Jika ada yang harus dia bicara, katanya selalu singkat dan hanya sebatas kebutuhan—seperti menanyakan makan apa atau kapan nenek akan minum obat. Tidak ada lagi candaan atau obrolan panjang seperti dulu, bahkan saat mereka berdua duduk bersebelahan di ruang tamu. Udara di sekitar mereka jadi terasa sepi dan renggang, berbeda dengan kehangatan yang biasanya ada.

Romeo

(online)

Tina

08:10

Lo kenapa?

08:10

Jangan marah

Romeo

08:11

Tin, gue minta maaf. Gue gak maksud marah. Gue takut Jovan ganggu lo lagi kayak dulu. Gue tau ini kedengeran konyol, tapi itu yang gue rasain.

Tina

08:12

Ouh jadi Lo cemburu?

08:12

Reo, lo gak perlu cemburu. Jovan udah berubah. Gue juga udah gede, gue bisa jaga diri gue sendiri. Gue cuma pengen lo percaya sama gue.

Romeo

08:13

Gue gak cemburu

08:14

Cuma khawatir aja sebenernya, sama dia yang agak mencurigakan

08:14

Gue percaya sama lo, Na Tapi gue juga gak bisa ngilangin rasa khawatir ini begitu aja. Mungkin gue butuh waktu buat nerima semuanya.

Tina

08:17

Gue ngerti. Kita semua punya rasa takut kita masing-masing. Gue juga takut kehilangan lo, Reo. Makanya gue pengen kita lebih terbuka lagi satu sama lain

Romeo

08:17

Makasih na

08:17

Gue mau kelarin dulu

08:17

Nanti gue pulang

...****************...

Tina menatap ponselnya setelah percakapan dengan Romeo, merasa ada sesuatu yang masih menggantung di dalam hatinya. Meskipun mereka sudah berbincang untuk mencoba saling mengerti, ia tetap merasakan adanya jarak yang sulit untuk dihilangkan.

Bagi nya, hubungan mereka yang dimulai sejak awal sebagai perjodohan yang diatur oleh keluarga, membuat rasa kedekatan itu tidak semudah yang dibayangkan.

Romeo mungkin adalah orang yang baik, perhatian, dan bertanggung jawab, tapi Tina selalu merasa bahwa dirinya dan Romeo seperti dua orang asing yang hanya menjalani hidup bersama tanpa benar-benar menyatu menjadi satu kesatuan.

Dalam benak Tina, pernikahan mereka hanya sekadar kewajiban—sebuah kontrak sosial yang harus dijalankan dengan baik. Sementara itu, ia melihat Romeo sebagai seseorang yang lebih fokus pada kehidupannya sendiri dan pekerjaannya, daripada benar-benar memahami apa yang ia rasakan setiap hari.

Meskipun Tina tahu bahwa Romeo telah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga hubungan ini, perasaan terjebak dalam sebuah pernikahan yang bukan merupakan pilihan hatinya seringkali menghantui pikirannya.

Saat memikirkan pertemuan barunya dengan Jovan, Tina merasa sedikit nostalgia yang muncul dalam dirinya. Bukan karena ia masih memiliki perasaan khusus untuk Jovan, melainkan karena pertemuan itu mengingatkannya pada masa-masa sebelum ia menikah dengan Romeo.

Saat itu, hidupnya terasa lebih bebas dan ringan, tanpa adanya beban tanggung jawab besar seperti yang ia rasakan sekarang. Mungkin itulah yang membuatnya merasa sejenak bisa lepas dari semua tekanan yang selama ini menghimpitnya.

Di sisi lain, Tina juga tidak pernah berniat untuk menyakiti Romeo. Ia tahu bahwa Romeo mencintainya dengan tulus, meskipun ia tidak yakin apakah perasaan itu sepenuhnya terbalas dengan cara yang sama.

Ada saat-saat dimana Tina berharap mereka bisa lebih jujur membicarakan perasaan masing-masing, bukan hanya terjebak dalam hubungan yang hanya terlihat baik di mata orang luar namun terasa hampa dan kosong di dalamnya.

"Apa Romeo juga merasakan hal yang sama seperti aku?" pikir Tina dalam hati, mata nya masih menatap layar ponsel yang sudah gelap. "Atau dia memang benar-benar menjalani semua ini dengan sepenuh hati dan kesediaan?"

Namun, yang paling membuatnya bingung adalah Romeo selalu tampak tenang dan penuh tanggung jawab dalam setiap hal yang ia lakukan. Seolah-olah bagi Romeo, hidup ini hanya tentang menjalankan kewajiban-kewajiban yang ada tanpa pernah merasa terbebani.

Tina tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam hati Romeo—apakah ia juga merasa terjebak dalam perjodohan seperti dirinya, atau mungkin Romeo sudah benar-benar melampaui perasaan itu dan kini mencintainya dengan tulus.

Tina menghela napas panjang, merasa bimbang dengan situasi yang sedang ia alami. Dia sadar bahwa pernikahan mereka tidak hanya sebatas cinta atau kewajiban semata, tapi juga tentang bagaimana mereka bisa saling memahami dan tumbuh bersama menjadi pasangan yang utuh.

Namun, di dalam hatinya yang terdalam, Tina masih meragukan apakah mereka benar-benar bisa mencapai titik itu dan membangun hubungan yang penuh kedekatan serta kebahagiaan.

1
Ria Irawati
itu salah satunya.. jangan genit, jangan lupa diri.🤭
pojok_kulon
Masalah kayak gitu sebenarnya menjadi cepat teratasi kalau saling terbuka dan jujur...
pojok_kulon
Semangat Romeo
pojok_kulon
Doa istri akan diijabah i sama Allah
pojok_kulon
Hmmmm perhatian banget sih Tina
pojok_kulon
Benar itu Romeo kamu harus semangat, perusahaan bukan cuma satu
Ria Irawati
etdah bukan main si Tina 🤣
pojok_kulon
Betul Reo..biarkan bobrok saja
pojok_kulon
Keluar saja lah Reo.. Perusahaan bukan cuma satu. Perusahan yang sudah nggak sehat gitu ngapain dipertahankan
Ria Irawati
bagus Romeo langsung to the point. cemburu? jelas pasti ada lah rasa cemburu itu. tapi kalo pasangan jujur cemburu tidak di liputi dengan rasa sakit hati.
Ria Irawati
bagus nih Romeo punya temen gk memandang sebelah mata.
pojok_kulon
orang gila Jovan pling itu
only siskaa
gamauuu plisssss kalo gw Uda tantrumm dluan
pojok_kulon
itu urusan kamu..memang apa urusannya sama Romeo
pojok_kulon
Dasar otak cuma isinya perbuatan jahat
pojok_kulon
Panas ya
Ria Irawati
dateng² numpang makan. enak bener dah😂
pojok_kulon
enaknya punya saudara yang bisa diajak sharing
pojok_kulon
Janji ya
Suo
Perasaan aku gak enak pls semoga ga ada masalah lagi😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!