Di lanjutkan season 2.
Mohon maaf jika up nya sedikit ya, soalnya author nulis 2 judul. 🙏🙏🙏
Moli adalah seorang gadis SMA yang periang. namun di balik cerianya itu Dia adalah seorang gadis yang sangat kesepian.
hingga suatu ketika Dia beretemu dengan seseorang yang lelaki yang masih duduk di bangku SMP bernama Yoga. Seiring berjalannya waktu mereka mulai akrab.
namun di sisi lain. hubungannya dengan sang kekasih (Diki) justru mulai retak karena kedatangan wanita lain. wanita yang telah lama mengenal Diki dari kecil.
Hubungan Moli dan Diki pada akhirnya merenggang. sementara Moli kini mulai terbiasa dengan kehadiran Yoga yang menurutnya bisa membuat dirinya selalu tersenyum menggantikan ruang sepi yang selama ini terjadi.
penasara.??? yukk langsung aja kepo in???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duapuluhtiga
Yoga memilih bangkit dari tempat duduknya di ruang makan setelah melihat kedatangan Diki. Sepertinya dengan seperti ini Ia bisa menghindari perkelahian lagi dengannya. Harusnya pukulan itu menghantam lebih keras hari ini, apa lagi mengingat sebuah luka merah yang tergambar di pipi Moli. Namun Yoga masih tersadar akan perasaan Santi. Ia tak mau Mamanya terlibat hingga lebih lanjut.
“Nggak selesaiin dulu sarapannya Ga?” tanya Santi ketika Yoga pergi meninggalkan satu piring nasi goreng yang masih utuh. Mungkin baru satu suapan Ia lakukan.
“Nggak Ma, udah kenyang lihat penampakan!”
Walaupun merasa tersindir Diki lebih memilih diam dan duduk menikmati nasi goreng buatan Mamanya. Kelihatannya Diki juga mencoba menghindari sebuah masalah seperti kemarin.
Pagi itu suasana sekolah lumayan menegangkan. Video mesum itu ternyata sudah tersebar di seluruh sekolahan SMAN 68. Setiap pasang mata yang lewat langsung melirik sinis pada Lia yang masih kebingungan.
“Apa sih lo lihat lihat?!” semprotnya pada dua pasang mata yang memicingnya sinis. Lalu Lia masuk ke dalam kelas dan seisi kelas itu memberi tatapan aneh padanya.
“Mereka kenapa sih?” batin Lia dan lebih memilih acuh dan diam di kursi bangkunya menunggu Diki.
Moli yang baru datang juga tak lepas dari lirikan beberapa murid yang melewati koridor. Posisi yang masih sebagai kekasih Diki tentu saja Moli juga ikut menjadi pusat perhatian mereka.
“Moli!”
Seseorang memanggilnya dari arah jam sebelas. Dengan wajah serius Mia dan Fani menghampiri Moli yang terbengong.
“Lo udah lihat video nya kan?” bisik Fani pada telinga Moli.
“Udah, kenapa?”
Moli terlihat lebih tenang ketika di ingatkan lagi tentang video yang semalam membuatnya menangis itu. Moli sudah tak peduli lagi tentang itu. Ia tak ingin rasa sakit hatinya terus berlarut laru. Bukankah lebih baik lepaskan saja?
“Ih kok lo biasa aja sih?” senggol Mia.
Mereka nggak tahu aja dengan kejadian
semalam ketika Fani mengirim pesan itu apa yang terjadi selanjutnya. Ponsel Moli lah yang sudah menjadi korbannya. Benda itu terjatuh dari ketinggian sekitar 5 meter hingga hancur menjadi tiga bagian. Ngeri nggak tuh? Moli bersikap biasa karena sekarang hati nya sudah lebih tenang, apalagi Yoga sempat menghiburnya.
“Nggak usah di bahas, masuk kelas aja yuk.” ajak Moli.
Namun Mia dan Fani mengajaknya pergi ke taman belakang sekolah. Mia menyeret lengan Moli yang masih berdiri seperti tiang listrik.
“Duduk dulu sini.”
“Ada apa sih?”
“Jangan bilang lo belum tahu berita heboh hari ini??”
Moli menyipitkan mata, menatap kedua sahabatnya yang pagi ini bertingkah aneh tak jauh dari beberapa murid lainnya yang tadi sempat meliriknya hingga membuatnya merasa risih. “Apaan emang?”
Mia dan Fani menepuk jidat masing masing ketika melihat tampang polos Moli yang memang ternyata belum tahu apa apa.
“Kok bisa sih Mol lo nggak tahu? Padahal juga gue udah kirim berita heboh itu ke elo kan?” semprot Fani yang meraup wajahnya sendiri karena gemas dengan Moli.
“Udah deh, langsung cerita aja, nggak usah berbelit belit.” Sewot Moli menepuk paha kedua sabatnya.
Mia mendengus menarik nafas panjang. “Sini gue jelasin.” saur Mia. “Video itu ternyata sudah tersebar ke seluruh sekolah kita.”
“What??? Serius lo?” teriak Moli hingga air liurnya sedikit muncrat.
“Nah loh, kaget kan lo.”
“Heran deh, kok lo bisa nggak tahu sih?”
“Pantesan tadi banyak yang ngelirik ke gue.” Moli manggut manggut mengerti.
“Eh Mol!” Fani menepuk pundak Moli. “Lo kok kelihatannya nggak marah sih? Padahal Diki kan masih pacar elo?”
Moli mendesah bersender pada pundak Mia.
“Gue udah mutusin buat nggak peduli, capek gue.”
Kedua sahabatnya hanya membulatkan bibir berbentuk O.
“Gue jadi penasaran, kira kira siapa ya yang ngirim video itu?”
Mereka bertiga saling tatap. Jika tak ada yang menyebarkan nggak mungkin kan jadi se heboh ini.
“Bukan elo kan Mol?” Mia nyengir menatap Moli yang di balas dengan sebuah pelototan mata bulat nya.
“Sembarangan! Biar pun mereka udah jahat sama gue, tapi bukan berarti harus di bales dengan cara begituan.”
“Ya barang kali karena lo sakit hati gitu.” celetuk Fani “Lagian lo kok bisa santuy gitu, kan aneh.”
“Bener juga ya, kok lo cuma diem aja mereka berbuat begitu si Mol?”
“Intinya nggak penting buat gue!”
Moli berdiri dan hendak pergi ke kelas namun langkahnya terhenti ketika melihat Diki dan Lia berjalan menuju ruang KEPSEK. Bakal jadi berita bersejarah nih di sekolah ini. Moli masih menatap mereka dari kejauhan dan hingga Diki pun menoleh padanya dengan tatapan penuh penyesalan. Entah sebuah penyesalan karena perbuatan mesum itu atau menyesal karena menyakiti hati Moli.
“Wah bakal di hukum berat tuh mereka.” ceplos Fani dengan tangan merangkul pundak Moli yang sedikit bergetar.
Walaupun sebenarnya Video itu hanya menampilkan sebuah adegan ciuman namun bukan berarti sesuatu yang wajar. Apa lagi ketika adegan itu memperlihatkan kebuasan Lia yang terus menggerayah pada Diki dengan posisi berdiri. Bahkan dengan bodohnya mereka melakukan itu di tempat umum. Memang Gila!
Moli mendesah seperti terlepas dari sebuah beban yang menimpa hidupnya. Ada kelegaan tersendiri dalam hatinya. Mungkin ini jalan Tuhan yang tepat telah memisahkan hubungan antara Diki dan Moli.
Mia mengusap pundak Moli. “Lo baik baik aja kan?”
Moli mengangguk kemudian pergi memalingkan wajahnya dari Diki yang sudah masuk keruang KEPSEK.
“Kalian tidak punya rasa malu atau gimana?” Pak Dodit selaku kepala sekolah SMN 68 menggebrak mejanya. Ada kekecewaan yang tergambar di wajahnya.
“Ma... maaf Pak... kita nggak segaja.”
“Nggak sengaja kamu bilang?! Di tempat umun kalian berbuat hal tak senonoh seperti itu, memalukan!” Pak Dodit terus berceramah panjang lebar sementara mereka berdua hanya tertunduk dalam diam.
“Kalian saya skors 2 hari, dan orang tua kalian akan saya panggil kesini!”
“Tapi Pak.”
“Keluar sekarang!”
Dengan wajah yang masih tertunduk mereka berdua pun keluar dari ruang Kepala sekolah. Diki merasa malu pada apa yang telah di perbuatnya, apa lagi sampai satu sekolahan mengetahui tentang itu termasuk juga Moli. Tapi lain halnya dengan Lia, dari raut wajahnya Ia tak begitu memusingkan perkara ini. Justru dengan ada nya kasus ini akan lebih mudah untuknya membuat hubungan
Diki dan Moli berakhir.
“Maafin aku ya Dik, kalau bukan karena aku, kamu nggak akan di skors.” ucap Lia sebelum Diki masuk ke dalam Mobil.
“Nggak papa, bukan sepenuhnya salah kamu kok, yuk pulang.”
Kalau boleh memilih, tak ingin rasanya untuk pulang ke rumah. Apa yang akan kedua orang tuanya katakan nanti? Memarahi, menasehati atau justru tak peduli. Diki sendiri masih belum percaya dengan apa yang sedang menimpa diri nya. Ia teringat saat mulut lantangnya menuduh Moli berselingkuh, bukankah saat itu hati Moli pasti sangat tersakiti? Ini mungkin balasan untuk dirinya yang tega menyakiti Moli kala itu. Seandainya saja Ia tak mengedepankan keegoisannya, mungkin hubungannya saat ini masih baik baik saja, apakah semua karena Lia?
Diki menoleh sekilas melihat Lia yang terdiam menatap lurus ke depan. Memang jika saja tak ada Lia semua ini tak akan terjadi. Kehadirannya justru membuat masa lalu bersamanya masuk ke kehidupannya kembali. Bodoh! Terlalu bodoh! Betapa sulitnya saat hendak melupakannya, lalu ketika Dia hadir justru membuat hati yang baru tumbuh menjauh dari nya.
Mobil itu langsung Ia masukkan ke dalam garasi. Tak ada kata untuk Lia hingga Diki masuk ke dalam rumah. Wajahnya tertunduk ketika Papa dan Mama nya sudah ada di ruang tamu menunggunya. Mereka berdua duduk di sova dengan badan gemetar seolah akan ada badai yang menghantam mereka.
“Maksudnya ini apa? Kenapa kalian berbuat seperti ini?”
Yudha yang sudah berkecamuk amarah langsung memberondong pertanyaan hingga menyodorkan ponselnya tepat beberapa senti di depan wajah Yoga. Yudha begitu kecewa dengan perbuatan anak semata wayang nya itu. Seorang anak yang di anggapnya tak pernah neko neko justru sekarang berulah hingga membuatnya mengelus dada.
“Keterlaluan kalian!” Yudha melempar ponsel yang masih memutar adegan itu tepat di dada Diki.
Santi yang mulai panik hanya bisa mengusap pundak Yudha yang terus memarahi dua insan yang sedari tadi hanya tertunduk tanpa suara. “Udah Pa, kita omongin masalah ini baik baik, kasihan mereka.”
“Nggak perlu di kasihani! Biar mereka berfikir!”
Yoga yang baru selesai memarkirkan motornya di halaman terkejut mendengar suara keras itu. Perlahan Ia membuka pintu, Yoga berdiri dengan heran melihat keluarganya yang begitu sepaneng seperti hendak bertempur, Yudha yang berdiri dengan berkacak pinggang menatap Diki dan Lia yang terduduk di sova sementara Santi masih setia mengusap pundak Yudha.
“Kamu udah bikin malu keluarga! Mencoreng nama baik Papa! Apa jadinya kalau berita seperti ini tersebar luas ke semua orang? Mikir nggak kamu!” bentak Yudha lagi. Kali ini tangannya sampai menggembeleng kepala Diki.
“Sabar Pa, kamu lagi emosi, kasihan mereka. udah...” Santi masih berusaha meredakan amarah suaminya itu.
Yoga yang biasanya tak pernah mau ikut campur urusan mereka. Kini hati nya tersentuh ketika melihat wajah Yudha memerah karena kekecewaan yang di lakukan Diki. “Udah Pa, Yoga antar masuk yuk.”
Yoga memegang pundak Yudha menuntun masuk ke kamar supaya amarahnya tak terus berlanjut. Entah karena apa, dengan mudahnya Yudha mau saja di tuntun Yoga menuju kamar. Ini pertama kalinya Yoga mengucap kata Pa, walau hanya sepotong tapi bisa membuat hati Yudha begitu tenang. Sebuah kata yang tulus.
Sementara Yoga dan Papanya sudah masuk ke kamar. Santi langsung mendekati Diki dan Lia. “Maafin Diki Ma...” Diki memeluk santi dengan tubuh bergetar karena sisa tertekan amarah dari Yudha.
“Iya nggak papa, kamu istirahat, biar Mama yang anterin Lia pulang.”
“Iya Ma...”
“Kamu di anter Mama ya, aku capek.”
Lia mengangguk saja. Merengek pada Diki bukanlah saat nya sekarang. Intinya rencana menghancurkan hubungan antara Diki dan Moli mulai dekat dengan keberhasilan. Ya walaupun Ia sudah kena marah habis habisan oleh Om Yudha. Tapi tak apalah, yang penting hasil. Masa bodo dengan skandalnya sekarang, pada intinya yang utama adalah mendapatkan Diki.
****
maaf update nya nggak teratur waktunya... maklum mak mak 😆😆😆
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
semoga jd novel terbaik 😍😍😍
maaf ya thor kalau aq kasih kritikan ✌️✌️✌️
semoga lebih teliti lagi ya thor
Truss hubungan nya Ama season 1 apa?
Jangan lupa mampir di cerita saya yang berjudul Cinta Abdinegara dan Putih Abu-Abu di tunggu feedback nya 🤗🤗🤗
Terimakasih 🙏🙏🙏