Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?
Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.
Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 terimakasih: Usaha kita
"El kamu gimana?"
"gak tau nih, Raka gak jelas, ditanya jawabannya hah, heh, hoh terus."
"apasih, malah bercanda." aku memukul pergelangan tangan El.
"aduh, orang memang betul kok."
"kamu mah gak becus."
"yaudah deh, kalau kakak sendiri gimana?"
"sama, Ana gak mau."
"nah kan, yaudah berarti kita berdua sama."
"sama apa?" aku menyipitkan kedua mataku.
"sama-sama gak becus, hahaha."
Lihatlah, lihatlah itu jiwa-jiwa bebas milik El, penuh kejahilan yang jenaka, begitu bahagia saat menyaksikan aku berhasil dibuatnya kesal.
"kamu duduk gak!" hampir saja tanduk seribuku keluar dibuatnya.
"iya, iya, bercanda aja pun."
"menurut kamu kakak bercanda?"
"maaf..."
"aduh gimana ini."
Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, bukan karena pusing, melainkan karena benakku kusut tak bertepi. Aku tersesat dalam tanya "bagaimana caranya menjahit kembali dua insan yang justru berusaha memutus benang merah mereka sendiri?" jalan seperti apa harus kutempuh untuk melunakkan hati Ana yang telah mengeras, seteguh batu yang enggan disentuh air?
Di saat kebimbangan memuncak, sebuah tangan tiba-tiba menyentuh kepalaku.
“Eh?” Aku menoleh samar.
“Tenang saja, Kak,” ucapnya lirih. “El punya ide. Soal Raka, biarkan El yang mengurusnya.”
Barulah kusadari, ini adalah sentuhan pertamanya. Hatiku sempat bergetar, menyimpan sekelumit ragu, seolah menolak tanpa suara. Namun tubuhku memilih diam, menyerah pada hangat yang sederhana. Tanpa dipaksa, tanpa disadari, aku pun mempercayai kata-kata bocah kecil itu, seolah keyakinan memang sedang menitipkan diri padanya.
"eh btw, kak, kita sedang berada di luar nih, kakak gak takut ada yang curiga?"
"curiga kenapa."
"yakan..."
Kedua bola matanya bergulir ke sana kemari, gelisah, tak sanggup berlabuh lama pada tatapanku. Aku tahu, di sana tersimpan sebuah pesan yang ingin ia sampaikan, namun keraguan membungkam, takut kata-katanya hanya akan kuterima dengan tawa, bukan dengan hati.
"apa?"
"ga jadi deh."
"bilang aja."
"oh ini, nanti jadi kan? kita ketemu setelah pulang sekolah?"
"pasti! kamu awas aja lari ya."
"tenang aja kak, El mana suka bohong."
"sekarang saja lagi bohong." aku memutar badan malas.
"loh kok bohong?"
"mau ngomong apa tadi?" tuturku lirih menyelipkan nada marah.
"kita berdua aja disini kayak orang pacaran. Kakak gak takut?"
"takut kenapa?" aku kembali menghadap kearah dia. "kita kan gak pacaran."
"justru itu, El tahu kakak tidak suka terkena gosip."
"aman aja, semua orang tahu kok, kakak andil bagian dalam pengurusan OSIS."
"kalau gitu, boleh sering-sering dong."
Tanpa sengaja pandanganku tertumbuk pada wajahnya. Aku tak tahu, saat itu ia tengah berbicara dengan ketulusan atau sekadar melafalkan kata-kata indah layaknya sajak Aksa, yang manis namun mungkin hampa. Aku pun terdiam, larut dalam termenung, bingung merangkai kata, tak satu pun terasa pantas untuk diucapkan.
"hahaha, El juga bercanda kak."
"kalau ada alasannya gak papa kok."
"serius?"
Celaka! aku keceplosan. Mengapa justru di saat genting otak dan mulutku memilih saling berkhianat? dadaku sesak menahan malu, rasanya wajahku hendak meledak, membara oleh panas yang tak tahu harus kusembunyikan ke mana.
"Jangan lontarkan satu dialogpun Pia!" suara hatiku berkecamuk.
"nanti El buat rapat sering-sering lah."
"ngawur!"
Aku segera berlalu, meninggalkan El beserta tawanya dan sepotong kecil harga diriku yang tertinggal di sana, masih dipertaruhkan oleh rasa malu.
.
.
.
Sepulang sekolah
"ngapain ada Raka di sini?"
"hmmm...aku juga gak tau."
Aku salah, benar-benar salah. Dasar Pia bodoh! mengapa aku tidak bertanya lebih dulu kepada El mengenai konsep idenya?
Apa-apaan ide konyolmu itu, bocah? kamu bukan menyatukan dua insan, tapi mempertemukan api dengan bensin. Lihatlah, aku bahkan tak berani menatap wajah Ana, rasanya seperti sedang berhadapan dengan Dewi Kematian yang sibuk merapalkan mantra kutukan khusus untuk kami berdua, tanpa jeda, tanpa ampun.
"kenapa kamu gak tau?"
"hmmm...mungkin El membawa temannya agar tidak datang sendiri?"
"kenapa Raka?"
"dia tidak punya teman lagi?"
"akal-akalan kalian sungguh konyol."
"hehehe." Sudahlah, hari ini aku sudah menanggung malu dua kali lipat dari jatah harian. Apa pun keadaannya, tawa karier solusinya.
Sebagai informasi penting bagi umat manusia. Kami sempat duduk dalam keheningan canggung selama beberapa menit, sunyi yang cukup lama untuk membuat aku menyesali seluruh keputusan hidupku. Hingga akhirnya El, dengan keberanian yang entah datang dari mana, membuka topik pembicaraan.
“Wah, lucu sekali jepitan rambut ini.”
“Hahaha, iya.”
Bodoh. Bodoh. El bodoh. Basa-basimu sudah basi!
“Ayo kita buat video di sudut sana.”
Aku langsung tercengang. Kali ini rencana apalagi yang kau simpan, bocah? tolong jangan bertingkah aneh. Nyawaku sudah di ujung tanduk, apa kau tak melihat genggaman tangan Ana di pergelangan tanganku? sekuat baja, seolah ia sedang memastikan aku tidak sempat kabur sebelum eksekusi dimulai.
"ayo kak Pia."
Aku benar-benar menghargai keteguhan hatimu, wahai bocah. Kau sama sekali tak gentar meski Ana menatap dengan tatapan sejuta silet, tatapan yang rasanya sanggup menguliti mental orang dewasa dalam hitungan detik.
Dengan santai, kau bahkan melepaskan genggaman Ana dari tanganku lalu menyeretku pergi, menjauh, meninggalkan mereka berdua seolah adegan tadi hanyalah drama TV yang sudah tamat. Selamat, aku bangga padamu.
"Akhirnya!"
"akhirnya apa hah!"
Di sudut ruangan ini, aku menumpahkan seluruh kekesalanku, dan tubuh El tentu saja menjadi samsak gratis buatku. Apa pun yang bisa dipukul, dicubit, atau ditepuk pasti aku lakukan dengan lapang dada.
"Bodoh! pikiranmu dititipkan kemana sih? kalau Ana makin marah dan hubungan mereka benar-benar tamat, kamu mau tanggung jawab?”
"aduh, aduh, kak stop sakit."
Namun karena aku mencintaimu lebih besar daripada amarahku sendiri, aku memilih menyerah, demi kemanusiaan dan masa depan.
"kakak tenang saja, aku sudah briefing Raka, kakak lihat saja ending cerita kita hari ini. Kakak jangan fokus kepada mereka saja, aku bagaimana? Katanya mau buat kenangan bersamaku."
Yatuhannn... selamatkan aku dari harimau licik ini, aku tidak sanggup.
"kamu ini, semalam nolaknya keras banget."
"kalau untuk kakak apa yang enggak, hehehe."
"gombal terus, kalau ada duta gombal kakak yakin deh kamu menang."
"gombal aku limited edition kak, cuman boleh kakak yang dengar."
"alah, alah."
"eh btw kak."
El memberi isyarat kepadaku, lewat lirikan mata yang singkat namun sarat akan makna.
Saat aku menoleh, tersuguh pemandangan indah bagaikan cuplikan serial drama Korea. Raka berlutut di hadapan Ana, bukan dalam posisi merendah hingga kehilangan harga diri, melainkan sebagai cara memastikan Ana tahu cinta yang ia simpan di dalam hati begitu besar. Sebesar itu hingga ia tak ragu memperlakukan Ana layaknya seorang permaisuri.
Sekilas, sebuah tanya menyelinap di benakku "El, kapan ya kau bisa seperti itu?" namun segera kutepis. Aku harus mengerti, setiap orang memiliki bahasanya sendiri dalam mengungkapkan cinta.
.
.
.
"kak maaf ya El belum bisa se-keren Raka."
"hmmm... El, mari kita sudahi permainan ini."
"hah?"