Konten di novel ini tidak mengandung bawang bombay. Yang ada cuma cabe-cabean dan terong -terongan. Othor nulis ini untuk seseruan aja sambil menghalu bilu.
"Wo Ai Ni. Aku tresno karo kowe, Sha"
Satria, laki-laki bucin, yang terpaksa menikahi adik angkatnya demi sebuah bakti dan balas budi pada ayah dan ibu angkatnya yang sudah menopang hidupnya sedari kecil sejak ditinggal ayah kandungnya ke pangkuan Illahi.
Sementara di sisi lain, dia tak mungkin meninggalkan kekasih hati yang sudah lama menjalin hubungan cinta dengannya, dan sudah saling mengikat janji untuk ke pelaminan.
Dapatkah dia bertahan dengan prinsip hidupnya bahwa menikah hanya berdasarkan cinta, bukan karena terpaksa. Namun mana yang akan dia pilih akhirnya. Membayar hutang budi atau menikahi kekasih hati?
Damn! I love You
IG : novianti_maura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianti Maura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 Tresno karo kowe
PoV Danisha.
Apa yang terjadi siang tadi, jujur, itu sangat menohokku. Mendapati kenyataan Bang satria sudah menikah lagi dengan wanita lain membuat hati ku terasa perih.
Sebenarnya saat itu aku tak tahan ingin menamparnya, memukulnya, bahkan menendang KO si Jeki nya yang ku yakin akan membuatnya menyesal karena telah mengkhianatiku.
Namun tidak ku lakukan. Aku tidak akan mempermalukan diri sendiri karena aku sadar aku bukan pemilik hatinya.
Ya, aku bukan pemilik hatinya, walaupun hampir setengah hatiku kini sudah menjadi miliknya.
Ini semua terjadi karena kesalahanku, karena kehadiranku yang terpaksa muncul diantara Bang Satria dan
kekasihnya.
Bukan salah Bang Satria. Dia laki-laki yang hanya berusaha mempertahankan cintanya dengan cara menikahi kekasihnya diam-diam tanpa sepengetahuanku.
Ku lempar jauh pandanganku dari atas balkon kamar ini. Dan ku hela nafasku yang terasa berat diantara dinginnya angin malam ini. Sudah sangat larut.
Ku yakin Bang Satria pulang malam lagi seperti kebiasaannya selama satu bulan ini. Dia selalu pulang diatas jam sepuluh malam. Dan kini aku tahu penyebabnya, karena sebulan ini dia sangat sibuk membagi waktunya bersama istri keduanya itu.
Terlebih lagi hari ini, mungkin dia tak pulang karena harus menenangkan maduku yang mengamuk karena kejadian siang tadi.
Tak apa lah, karena wanita itu yang lebih berhak memiliki Bang Satria.
Sedangkan aku? Hanya hama pengganggu yang hadir diantara mereka dan mungkin sama sekali tak ada artinya bagi Bang Satria.
Kini ku tekadkan dalam hati, akan membuang jauh-jauh perasaan ku pada Bang satria. Dan tetap dengan keputusanku akan berpisah darinya begitu bayi yang aku kandung ini lahir.
Dan setelah itu aku akan pergi jauh-jauh dari kehidupan Bang Satria dan mungkin akan pergi dari kota ini bersama anakku. Itu Tak lama lagi, hanya dalam hitungan bulan saja seiring dengan usia kandunganku di bulan ke- empat ini.
“Sha...?”
Tiba-tiba ku dengar suara Bang Satria dari dalam kamarku. Dia pulang?
“Sha...” panggilnya lagi, kali ini suara nya sangat dekat dan ku tebak pasti dia ada di belakang punggungku.
PoV Satria.
Kepulanganku dari apartement Anna masih menyisakan beban berat di hati dan benakku.
Anna masih belum puas mendengar alasanku menikahi Danisha dan menyembunyikannya selama ini darinya. Dia masih bertahan dengan keinginannya memintaku menceraikan Danisha secepatnya. Dan akupun masih bertahan untuk tidak akan mengabulkannya.
Memang masih ada satu penjelasan yang belum aku tuntaskan padanya. Namun itu sengaja tak aku utarakan. Tentang kesepakatan ku dengan Danisha, bahwa aku dan Sha akan bercerai setelah Sha melahirkan bayi yang di kandungnya.
Mungkin jika hal itu aku beritahukan padanya Anna bisa mengerti dan aku yakin dia akan lapang dada menerima Sha sebagai istri pertama ku.
Tapi tidak, biarlah kesepakatan itu menjadi sebuah rahasia antara aku dan Danisha. Dan kini, dengan begitu cerobohnya justru aku yang melanggarnya sendiri.
Danisha, aku tahu hari ini kamu terluka, Sha. Lantaran aku. Aku tahu itu dari sorot matamu yang penuh kekecewaan ketika menatapku tadi. Diam mu itu adalah marah mu. Aku tahu Sha. Aku sangat mengenal sifat mu yang satu itu.
Aku mengutuk diriku sendiri. Jahat nya aku. Hanya dalam hitungan beberapa menit saja mampu membuat dua hati wanita yang aku sayangi terluka sangat dalam.
Aku menyesal. Namun inilah konsekwensi yang harus aku hadapi sekarang, akibat kesalahanku sendiri.
Di depan kamar Danisha aku kini. Berdiri di depan pintunya yang tertutup rapat. Aku tahu ada dia di dalamnya. Karena sebelumnya aku melihat mobil merah miliknya terparkir rapi di garasi.
Ku ketuk beberapa kali pintunya. Namun tak ada sahutan dari dalam. Aku tekan gagang pintunya, ternyata tak terkunci.
Ku dorong perlahan pintu putih itu lalu selangkah demi selangkah aku masuki kamarnya yang pasti berantak....Oh tidak, kali ini kamar nya sangat rapi, semua barangnya tersusun dan tertata teratur di tempatnya masing-masing. Tumben.
“Sha?” ku panggil namanya. Namun tak ada sahutan. Kemana anak itu?
Ku langkahkan lagi lebih dalam dan ku edarkan ke seluruh ruangan kamarnya. Tak juga tampak sosok Danisha.
Seketika bola mata ku terarah pada pintu balkon yang terbuka. Tirai nya yang berwarna putih melambai-lambai tertiup angin malam. Pasti Sha ada di sana, tebakku.
Ku putuskan untuk melangkah menuju teras balkon. Ku singkap tirai putih yang masih melambai-lambai kasar.
Dan benar saja. Ada Danisha di sana tengah berdiri menyandarkan pinggulnya pada sisi pagar balkon sambil membuang pandangannya lurus ke depan, dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.
Aku yakin dia kedinginan di terpa angin malam di pukul sebelas malam ini apalagi dengan baju tidur babydoll nya yang hanya sebatas paha dan tanpa lengan kian mencetak tubuh semampainya yang ku perhatikan semakin berisi dan melebar.
Mungkin karena kehamilannya yang kian membesar. Namun justru aku menyukai perubahan bentuk badan Sha kini. Terlihat lebih seksi dimataku.
Ku hampiri dirinya yang bergeming, aku yakini dia belum menyadari kehadiranku di belakang punggungnya.
“Sha,” panggil ku lirih. Sha hanya menoleh padaku, sekilas dan enggan. Lalu kembali melemparkan pandangannya lurus ke depan.
Aku sejajarkan tubuh ku berdiri tepat di sampingnya. Sengaja aku mendekat hingga bahu kami pun merapat. Ku pikir dia akan menghindar, ternyata tidak.
Ku lirik wajahnya lewat ekor mataku. Tampak sangat datar dan tanpa ekspresi.
Ku lihat tangannya mulai bergerak mengelus-elus lengannya. Dia kedinginan, aku tahu.
Tanpa minta ijinnya terlebih dahulu langsung saja aku lingkarkan tanganku pada bahunya. Syukurlah dia tak menolak. Malah makin merapatkan bahunya ke dadaku.
“Dingin, Sha?” tanyaku sementara ku usap-usap bahu telanjangnya mengantarkan kehangatan lewat kulit telapak tanganku. Dia mengangguk tanpa menoleh padaku.
“Kita masuk, yuk. Ntar kamu masuk angin loh,” ajakku lembut. Namun dia hanya menggeleng pelan.
Kembali ku usap-usap lembut bahunya tak kubiarkan hembusan angin dingin menyengatnya.
“Aku minta maaf, Sha,” ucapku lirih.
Kembali dia menggeleng. “Abang minta maaf untuk apa? Abang gak salah, kok.”
“Aku salah, Sha. Aku sudah melanggar kesepakatan kita. Aku berkhianat,”
Danisha menoleh dan menatapku lamat. Wajahnya sangat dekat dengan ku, hingga aku dapat menangkap dengan jelas sinar kekecewaan disana. Namun dia berusaha tutupi itu dengan senyum yang tampak sekali dipaksakan.
“Gak ada kepakatan apapun yang abang langgar. Abang berhak untuk nikah sama pacar abang kapanpun juga walaupun tanpa ijin dari Sha,“ ucapnya lembut namun suaranya terdengar bergetar.
Untukku itu bukan sebuah pernyataan, namun lebih kepada sindiran dan protes keras dari Sha.
Sepintar apapun kamu menyembunyikan kemarahanmu tapi tetap saja aku tahu, Sha.
“Gak, Sha. Aku jahat. Aku bukan laki-laki yang baik. Dan bukan suami yang setia,” kutukku pada diri sendiri.
Malu rasanya mengangkat wajahku, hingga aku tertunduk dalam.
“Abang jangan bilang gitu. Yang jahat di sini tuh aku. Justru Sha yang jadi orang ketiga dalam hubungan Abang sama Mbak Anna. Kalo ada pelakor diantara kita ya itu Sha orangnya, Bang. Soal kesepakatan kita itu udah ga ada artinya lagi. Abang anggap aja gak pernah ada kesepakatan apapun diantara kita. Tapi untuk Sha, itu akan tetap Sha simpan dalam hati untuk ngingetin Sha bahwa kita akan bercerai begitu anak Sha lahir. Dan Sha harus bersiap-siap untuk itu. Sha bener-bener gak mau jadi beban siapapun lagi.”
Aku menggeleng lemah mendengar untaian kalimatnya yang begitu tenangnya dia ucapkan. Rasanya tak percaya jika kalimat itu terlontar dari bibirnya.
Kenapa begitu ikhlasnya kamu menyalahkan diri mu sendiri, Sha. Padahal disini jelas-jelas aku yang tak bisa menjaga amanat dari mu dan dari orang tua kita.
“Silahkan teruskan hubungan Abang dengan Mbak Anna, Bang. Jangan merasa terganggu dengan adanya Sha diantara kalian. Abang dan Sha Cuma terikat di atas buku nikah yang mungkin tinggal hitungan beberapa bulan lagi berakhir. Tapi soal hati, kita gak saling mengikat,“ lanjut Sha lagi masih dengan suaranya yang tenang dan datar.
“Sha, jangan bilang gitu dong. Aku kok jadi sedih ya dengernya,” lirihku.
Danisha hanya bergedik sesaat, “Tinggal lima bulan lagi Bang, abis itu abang terbebas dari Sha.”
Aku makin tertunduk dalam. Aku benar-benar tak ingin Sha selalu berpikir bahwa dirinya adalah beban untukku. Itu terdengar seperti sebuah doktrin untuk dirinya sendiri.
“Tapi boleh kan abang tetap anggap anak kamu itu anak aku juga? Aku pengen banget punya anak, Sha. Umurku udah kepala tiga soalnya,” pintaku memohon.
“Boleh dong, Bang. Sampe kapanpun abang tetep abangnya Sha. Anak Sha ya anak abang juga,“ jawab Sha dengan senyuman manisnya seraya mengusap-usap perutnya berulang-ulang.
Ya ampun, sumpah mi apah. Hatiku jadi meleleh lihat Sha mengelus-elus lembut perutnya yang sudah tampak membuncit.
Untukku adegan itu Jauh lebih menggairahkan dibanding adegan film Miyabi.
“Terus bagusnya aku di panggil apa ya sama si Junior ini? Daddy? Atau Ayah?” tanganku tergerak ikut mengelus-elus perut Sha, ikut merasakan ada kehidupan di dalamnya.
“Tampang kayak abang masih cocok di panggil Oppa, kok.” Jawaban Sha membuatku menautkan alis,
“Enak aja, tarikan masih kenceng gini masa di panggil kakek,” protes ku karena tak ikhlas dengan sebutan itu.
“Hihihi, dasar katro. Oppa in korean, Bang. Artinya Kakang Mas,” seru Sha disela gelak ringannya yang menampilkan deretan gigi nya yang putih dan rapi.
Gemesh aku, Sha, pengen ta’ cip0k ae
“Oooow itu. Aduh gak banget, Sha. Panggil ayah aja kali ya, lebih maskuline gitu dengernya. Kalo dipanggil Daddy takutnya yang namanya dedi pada nyahut semua.”
Lagi lagi Sha tergelak menanggapi ocehan unfaedah ku yang sebenarnya hanya untuk menenangkan jantungku sendiri yang masih kebat kebit tak menentu.
“Baiklah, Sugar dad,” Akhirnya nada suara Sha kembali ke aslinya. Ceria disertai bola mata yang berbinar-binar menatapku.
“Saranghaeyo, Mommy Sha,“ ucap ku lembut. Entah benar atau salah aku mengucapkannya karena aku tak pernah makan kimchi.
“Ai shiteru,” balas Sha.
“Wo ai ni.” Giliran aku dong tak mau kalah. Aku beri yang rasa fuyunghai.
“Ich liebe dich.” Tuh kan, Sha pake bahasa moyangnya.
“Aku tresno karo kowe.” Nah loh, aku pake bahasa asal Ibu ku, lebih ndeso tapi sedep sampe ditelinga.
Sha tertawa geli sambil melingkarkan lengannya ke pinggangku. Merengkuh tubuhku erat dan meletakkan kepalanya di dadaku.
Duuh, Makin kebat kebit jantungku ini, Danisha ku sayang.
Haiii... Salam sehat selalu.
Enjoy it yah gaess...
Ojo lali, Like, Vote, Favorite, KriSar di komen ya
Happy Reading.
gak bakal gue hapus dari favorite.. dadaaaah jeki and jeko😁😁😁😁😁
Salute utk Author...🏆🏆🏆
Ide cerita nya mengalir dengan brilliant....👏🏼👏🏼👏🏼🏆🏆
Author plus plus pluuuuss...
Salute sy....
Cerita yg keren abiez...
eeehh.... Bang Sat masih aja ngajak Anna...
emang bener2 gak punya perasaan tuh Bang Sat
Seru abiez nih...
Lanjut Thor...